• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan pustaka

2. Sikap

a. Pengertian sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmojo, 2003). Sikap adalah kondisi mental yang kompleks yang melibatkan keyakinan dan perasaan, serta disposisi untuk bertindak secara tertentu (free online dictionary). Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud disini adalah kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya respon (Azwar, 2007). Sikap juga dapat diartikan sebagai kecenderungan yang relatif stabil, dimiliki seseorang dalam bereaksi (baik reaksi positif maupun negatif) terhadap dirinya sendiri, orang lain, benda, situasi atau kondisi sekitarnya (Mappiere, 1999). Sikap tumbuh diawali dari pengetahuam yang dipersepsikan sebagai suatu hak yang baik (positif) maupun tidak baik (negatif), kemudian diterapkan ke dalam dirinya

b. Komponen sikap

Struktur sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang, yaitu (Azwar.S, 2007) :

1) Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif

commit to user

8

berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu, dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem kontroversial.

2) Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Komponen sikap inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin bisa mengubah sikap seseorang. Komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.

c. Tingkatan sikap

Sikap terdiri dari beberapa tingkatan (Notoatmojo, 2003) : 1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

commit to user

9

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3) Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4) Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. d. Sifat sikap

Sikap dapat pula bersikap positif dan dapat pula bersifat negatif (Azwar, 2007).

1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, menghargai objek tertentu.

2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.

e. Ciri-ciri sikap

1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan hidup.

2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu.

commit to user

10

3) Sikap tidak berdiri sendiri, tapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek.

4) Objek sikap merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan suatu hal.

5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. (Azwar, 2007).

f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (Azwar, 2007) antara lain:

1) Pengalaman pribadi

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. 2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

3) Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.

4) Media massa

Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual

commit to user

11

disampaikan secara objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumen. 5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan, tidaklah mengherankan jika pada akhirnya konsep tersebut mempengaruhi sikap.

6) Faktor emosional

Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

g. Cara pengukuran sikap

Pengukuran sikap dapat dinilai melalui pernyataan sikap berupa rangkaian kalimat yang menyatakan sesuatu mengenai objek sikap yang hendak diungkap. Pernyataan sikap positif berisi kalimat yang bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan sikap negatif berisi hal-hal yang tidak mendukung maupun kontra terhadap objek sikap. Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang unfavourable.

Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favourable dan unfavourable dalam jumlah yang

commit to user

12

seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak mendukung sama sekali objek sikap (Azwar, 2007).

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden melalui kuesioner (Notoatmojo, 2003).

3. Sikap seksual pranikah remaja

Sikap seksual adalah respon seksual yang diberikan oleh seseorang setelah melihat, mendengar atau membaca informasi serta pemberitaan, gambar-gambar yang berbau porno dalam wujud suatu orientasi atau kecenderungan dalam bertindak. Sikap yang dimaksud adalah sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah (Bungin, 2001). Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat dan pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan pernyataan hipotesis kemudian dinyatakan pendapat responden melalui kuesioner (Notoadmojo, 2003). Kuesioner mengacu pada skala likert dengan bentuk jawaban pertanyaan atau pernyataan terdiri dari jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju (Hidayat, 2007). Sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Azwar, 2009):

commit to user

13

a. Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu.

b. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,membenci, tidak menyukai objek tertentu.

Menurut Thurstone, dkk (dalam Azwar, 2005), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sedangkan menurut Berkowitz (dalam Azwar, 2005), sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Menurut Bird dan Keith (1994), premarital sex adalah salah satu bentuk sexual intercourse yang dilakukan oleh pasangan yang keduanya tidak terikat dalam pernikahan. Seks adalah bukan hanya hubungan intim, ekspresi dari seksualitas dapat terkait dengan banyak perilaku lain. Berikut ini adalah bentuk-bentuk sikap seksual dijelaskan oleh Dianawati A (2006) terdiri dari 2:

a. Hubungan seksual

Hubungan seksual yaitu masuknya penis ke dalam vagina. Bila terjadi ejakulasi (pengeluaran cairan mani yang di dalamnya terdapat jutaan sperma) dengan posisi alat kelamin laki-laki berada dalam vagina memudahkan pertemuan sperma dan sel telur yang menyebabkan terjadinya pembuahan atau kehamilan. (Sarwono. 2002). Hubungan seksual biasa disebut senggama atau coitus.

Tentu saja hubungan seksual atau yang disebut bersetubuh yang benar menurut etika, moral dan agama adalah jika dilakukan melalui sebuah ikatan pernikahan antara laki-laki dan perempuan

commit to user

14

yang dilandasi oleh rasa cinta. Dengan bersetubuh, dua orang akan menjadi satu secara fisik dan emosional. Inilah yang disebut pemenuhan dorongan seksual dalam arti yang sebenarnya. Perilaku seksual seperti ini tidak akan menimbulkan rasa ketakutan terhadap penyakit menular seksual, resiko kehamilan di luar nikah atau berdosa (Yanti, 2011).

b. Selain hubungan seksual 1) Masturbasi

Adalah menyentuh, menggosok dan meraba bagian tubuh sendiri yang peka sehingga menimbulkan rasa menyenangkan untuk mendapat kepuasan seksual (orgasme) baik tanpa menggunakan alat maupun menggunakan alat.

Biasanya masturbasi dilakukan pada bagian tubuh yang sensitif, namun tidak sama pada masing-masing orang. Secara medis masturbasi tidak akan mengganggu kesehatan juga tidak menimbulkan risiko fisik. Pengaruh masturbasi biasanya bersifat psikologis seperti rasa bersalah, berdosa, dan rendah diri karena melakukan hal-hal yang tidak disetujui oleh agama dan nilai-nilai budaya sehingga jika sering dilakukan akan menyebabkan terganggunya konsentrasi pada remaja tertentu (Sarwono, 2002).

2) Onani

Onani mempunyai arti sama dengan masturbasi, namun istilah ini diperuntukkan bagi laki-laki. Istilah onani lainnya

commit to user

15

yang dipakai dengan arti sama yaitu swalayan, ngocok, automanipulatif, dan sebagainya (Sarwono, 2002).

3) Oral seks

Adalah melakukan rangsangan dengan mulut pada organ seks pasangannya. Pada pelaku laki-laki disebut cunnilingus, jika perempuan disebut fellatio.

4) Anal seks

Adalah hubungan seksual yang dilakukan dengan memasukkan penis ke anus atau dubur. Aktivitas seperti ini sangat berbahaya, karena anus mengandung banyak bakteri penyakit.

5) Petting

Petting adalah melakukan hubungan seksual dengan atau tanpa pakaian tetapi tanpa melakukan penetrasi penis ke dalam vagina, jadi sebatas digesekkan saja ke alat kelamin perempuan.

Ada pula yang mengatakan petting sebagai bercumbu berat. Biasanya dilakukan sebagai pemanasan sebelum melakukan hubungan seks. Walaupun tanpa melepaskan pakaian, petting tetap dapat menimbulkan kehamilan tidak diinginkan karena sperma tetap bisa masuk ke dalam rahim, karena ketika terangsang perempuan akan mengeluarkan cairan yang mempermudah masuknya sperma ke dalam rahim, sedangkan sperma itu sendiri memiliki kekuatan untuk berenang masuk ke dalam rahim jika tertumpah pada celana

commit to user

16

dalam yang dikenakan perempuan, apalagi jika langsung mengenai bibir kemaluan. (Yanti, 2011).

c. Dampak Hubungan Seks Pranikah

Hubungan seks bebas tentu saja akan memiliki pengaruh buruk, baik bagi individu yang melakukannya maupun bagi pihak lain, apalagi jika sampai kepada melakukan hubungan seksual. Depkes RI (2001 dalam Sarwono, 2002) menyebutkan beberapa pengaruh buruk seks pranikah atau seks bebas itu, antara lain: 1) Bagi remaja

a) Remaja pria menjadi tidak perjaka dan remaja wanita menjadi tidak perawan.

b) Menambah risiko tertularnya penyakit menular seksual (PMS).

c) Remaja putri terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguguran kandungan yang tidak aman, infeksi organ reproduksi, anemia, kemandulan dan kematian karena perdarahan.

d) Trauma kejiwaan (depresi, rendah diri, rasa berdosa, hilang harapan masa depan).

e) Kemungkinan hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan kerja.

commit to user

17 2) Bagi keluarga

a) Menimbulkan aib keluarga.

b) Menimbulkan beban ekonomi keluarga.

c) Pengaruh kejiwaan bagi anak yang dilahirkan akibat tekanan dari masyarakat di lingkungannya (ejekan).

3) Bagi masyarakat

a) Meningkatnya remaja putus sekolah sehingga kualitas masyarakat menurun.

b) Meningkatnya angka kematian ibu dan bayi.

c) Menambah beban ekonomi masyarakat, sehingga derajat kesehatan menurun.

Hal-hal yang mendorong remaja melakukan seks bebas di antaranya: faktor mis-persepsi terhadap pacaran: bentuk penyaluran kasih sayang yang salah dalam pacaran, faktor religiusitas: kehidupan iman yang tidak baik, faktor kematangan biologis (Saroha Pinem, 2009).

4. Remaja

a. Pengertian

Remaja menurut World Health Organization (WHO) adalah periode usia antara 10 sampai 19 tahun, sedangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan kaum muda (youth) untuk usia antara 15 sampai 24 tahun (Kusmiran, 2011). Remaja adalah masa transisi antara anak-anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh

commit to user

18

(growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologi serta kognitif (Soetjiningsih, 2007).

Masa remaja atau adolesen merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa muda. Masa remaja adalah suatu bagian dari proses tumbuh kembang yang berkesinambungan sejak saat konsepsi sampai mencapai dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan besar dan cepat dalam proses pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial atau tingkah laku serta hormonal (Narendra, 2002).

Masa remaja adalah fase pertumbuhan dan perkembangan saat individu mencapai usia 10-19 tahun. Dalam rentang waktu ini terjadi pertumbuhan fisik yang cepat, termasuk pertumbuhan serta kematangan dari fungsi organ reproduksi. Seiring dengan pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perubahan jiwa. Remaja menjadi individu yang sensitif, mudah menangis, mudah cemas, frustasi, tetapi juga mudah tertawa. Perubahan emosi menjadikan remaja sebagai individu yang agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan. Remaja mulai mampu berpikir abstrak, senang mengkritik, dan ingin mengetahui hal yang baru (Sarwono, 2002).

World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual, ada tiga kriteria yaitu biologis, psikologik, dan sosial ekonomi, dengan batasan usia antara 10-20

commit to user

19

tahun, yang secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut :

1) Individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

2) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.

3) Terjadi peralihan dari ketergantungan social-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri (Sarwono, 2002).

b. Tahap perkembangan remaja

Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan ada 3 tahap perkembangan remaja :

1) Remaja awal (early adolenscence) (13-14 tahun)

Remaja tahap ini masih terheran-heran akan perubahan pada tubuhnya sendiri dan dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu, mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis dan mudah terangsang secara erotis. Selain itu kendali terhadap “ego” berkurang menyebabkan remaja sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa.

commit to user

20

2) Remaja madya (middle adolenscence) (15-17 tahun)

Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan, ia senang kalau banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan “narcistic”, yaitu mencintai diri sendiri dengan menyukai teman yang punya sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu mereka berada pada kondisi kebingungan saat harus memilih (peka atau tidak peduli, optimis atau pesimis dan sebagainya). Remaja pria berusaha membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri saat kanak-kanak) dengan mempererat hubungan dengan teman.

Dokumen terkait