• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Siklus I

Pada siklus I kegiatan yang dilakukan yaitu membuat perencanaan, melakukan tindakan beserta observasi dan refleksi. Materi pembelajaran yang akan dipelajari pada siklus I adalah mengidentifikasi alat pelindung diri (APD), Menggunakan alat pelindung diri sesuai resiko terhadap gangguan kesehatan, melakukan penyiapan dan pemeliharaan alat pelindung diri, dan identifikasi rambu-rambu keselamatan kerja. Penjabaran kegiatan pada siklus I dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perencanaan

Perencanaan pada siklus I yaitu peneliti berkoordinasi dengan guru pengampu mata pelajaran K3LH. Koordinasi yang dilakukan membahas hal-hal yang terkait tentang model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation, rencana pelaksanaan pebelajaran (RPP), materi

pembelajaran, soal pretest, lembar observasi dan pembagian kelompok

b. Tindakan dan Observasi

Tindakan pada siklus I dilakukan selama dua kali pertemuan, pertemuan pertama dilakukan pada hari senin, tanggal 5 mei 2014 pukul 08.30 sampai 11.00 dan dilanjutkan pada hari senin, 12 mei 2014 pukul 08.30 sampai 11.00.

1) Kegiatan Awal

a) Peneliti membuka pelajaran dengan memberikan salam dan berdoa

b) Peneliti mengecek kesiapan siswa serta absensi kehadiran c) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran

2) Kegiatan Inti

Sebelum memulai menjelaskan materi pembelajaran peneliti memberikan soal pretest yang bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa sebelum dilakukan perlakukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation, serta untuk menganalisis butir soal yang dilakukan dengan menggunakan validitas dan reliabilitas. Untuk mengerjakan soal pretest peserta didik diberikan waktu selama 40 menit.

Selesai mengerjakan soal Pretest peneliti mengevaluasi hasil Investigasi dengan tujuan untuk menilai keaktifan peserta didik. Peneliti membagi kelompok dan membagi topik masing-masing kelompok. Kegiatan ini berlangsung diluar dari jam pelajaran, pada hari jumat, 02 mei 2014.

Kemudian, peneliti menyampaikan sedikit materi tentang pengertian K3LH beserta alat pelindung diri (APD) sesuai SOP.

Ketika peneliti menjelaskan materi, masih banyak peserta didik yang belum memperhatikan penjelasan peneliti sehingga suasana belajar menjadi tidak kondusif, peserta didik terlihat acuh terhadap materi yang disampaikan oleh peneliti dan hanya beberapa peserta didik yang bertanya tentang materi K3LH.

Peneliti mengarahkan peserta didik untuk membentuk kelompok sesuai dengan pembagian anggota di pertemuan sebelumnya dan menginvestigasi tugas kelompok yang sudah diberikan.

Tabel 6. Grup belajar pada siklus I

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

 FAG  ATWS  ADH  AMA  APP  KFF  DWA  EHB  FNS  FS  MA  GNS  HAW  IR  IAI

Kelompok 4 Kelompok 5 Kelompok 6

 MMF  JRS  KJJP  MFAN  MM  SAS  MWR  PDP  RDFAP  RW  TCS  RYK  RY  SR  THB

Setiap kelompok mendiskusikan topik yang telah diberikan, kelompok 1 dan 2 membahas tentang identifikasi rambu-rambu keselamatan kerja, kelompok 3 dan 4 membahas materi persiapan alat pelindung diri (APD) sebelum memulai pekerjaan, dan kelompok 5 dan 6 membahas materi tentang pemeliharaan alat pelindung diri (APD).

Hasil diskusi yang telah dibahas setiap kelompoknya kemudian dipresentasikan didepan kelas sesuai dengan materi, ketua kelompok bertanggung jawab atas anggotanya saat presentasi

bertanya kepada kelompok yang sedang mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Kelompok lain diperbolehkan memberikan pendapat atau saran terkait tentang materi yang disampaikan. 3) Kegiatan Akhir

Setelah kelompok 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 selesai mempresentasikan hasil diskusinya, peneliti mengevaluasi dan menyimpulkan hasil pembelajaran, kemudian peneliti memberikan soal posttest sebagai alat ukur pemahaman peserta didik.

Sebelum mengakhiri proses pembelajaran peneliti

memberikan informasi terkait tentang materi yang akan dibahas di pertemuan selanjutnya, kemudian peneliti memberikan tugas kelompok untuk mencari materi di pertemuan yang akan datang tersebut.

c. Refleksi

Refleksi dilakukan ketika selesai pembelajaran pada siklus I bersama guru dan observer, kegiatan refleksi yang dilakukan yaitu memaparkan hasil dari tindakan siklus I terkait tentang kreativitas, emosional dan keaktifan peserta didik.

Tindakan pada siklus I dilakukan secara optimal namun hasil yang diperoleh masih tidak sesuai dengan harapan, masih banyak

peserta didik yang tidak memahami pembelajaran tentang Group

Investigation, dan juga belum lancar dalam menyampaikan materi kepada kelompok lainnya. Peserta didik terlihat tidak ada keinginan untuk aktif bertanya dan mengeluarkan pendapat, mereka lebih memilih bertanya kepada teman dari pada bertanya kepada guru.

Pemikiran siswa pun hanya sebatas dalam kelas, siswa belum berfikir secara kreatif, blum dapat mengendalikan emosional dan belum aktif selama proses pembelajaran. Media yang digunakan siswa hanya sebatas pengetahuan atau keterbiasaan siswa sebelum melakukan

proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group

Investigation. 1) Hasil Observasi

Hasil Observasi proses tindakan pembelajaran siklus I dengan menggunakan lembar observasi siswa dapat dilihat pada tabel 7, 8 dan 9

Tabel 7. Data kreativitas siswa (siklus I)

No Aspek Penilaian Hasil Pengamatan Presentase SB B K SK

1

Mempertimbangkan

informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pikiran terbuka

1 12 13 4 43,33%

2

Membangun keterkaitan, khususnya antara hal-hal yang berbeda

0 12 15 3 40% 3 Menghubung-hubungkan

berbagai hal dengan bebas 1 12 13 4 43,33% 4

Menerapkan imajinasi pada setiap situasi untuk

menghasilkan hal baru dan berbeda

0 12 15 3 40%

5 Mendengarkan intuisi 6 14 8 2 66,67% Pada aspek penilaian data kreativitas nomor 1 yaitu mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pikiran terbuka hanya 1 siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, sedangkan siswa lainnya hanya diam dan masih takut untuk mengajukan ide kreatifnya. Hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa untuk tampil atau mengeluarkan pendapatnya di hadapan

membangun keterkaitan, khususnya antara hal-hal yang berbeda dan menerapkan imajinasi pada setiap situasi, presentase pada aspek ini mendapat skor 40% siswa yang dikatakan baik. Dalam hal ini siswa juga masih takut untuk mengungkapkan atau tidak dapat menganalisis gagasan pada pelajaran. Pada aspek penilaian nomor 3 tentang menghubung-hubungkan berbagai hal dengan bebas skor

yang didapat sama dengan aspek penilaian tentang

mempertimbangkan informasi baru.

Dari hasil presentase deskripsi pada tabel 7 dapat diketahui bahwa dari 30 siswa yang mendapat skor kriteria 4 (sangat baik) yaitu hanya 8 siswa yang memiliki ide baru, menguhung-hubungkan berbagai hal dan mendengarkan intuisi pada saat menjelaskan materi pembelajaran tentang alat pelindung diri K3LH, delapan siswa tersebut sangat berantusias untuk aktif saat proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan aspek penilaian mendengarkan intuisi sudah mencapai presentase sebesar 66,67%.

Tabel 8. Data emosional siswa (siklus I)

No Aspek Penilaian Hasil Pengamatan Presentase SB B K SK 1 Empati 0 18 12 0 60% 2 Mengungkapkan dan memahami 0 18 12 0 60% 3 Mengendalikan amarah 0 18 12 0 60% 4 Kemandirian 1 9 10 10 33,33% 5 Kemampuan menyesuaikan diri 1 12 15 2 43,33% 6 Disukai 1 12 15 2 43,33% 7 Kemampuan memecahkan masalah 0 18 12 0 60% 8 Ketekunan 6 14 8 2 66,67% 9 Kesetiakawanan 0 12 18 0 40% 10 Keramahan 1 12 15 2 43,33%

Menurut data hasil penelitian emosional pada siklus I, siswa yang mendapat skor 4 (sanagt baik) yaitu dalam aspek penilaian kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, ketekunan dan keramahan, ke emapat siswa tersebut dikatakan emosional saat membahas materi rambu keselamatan kerja, sehingga pada materi tersebut mengajarkan tentang ketekunan dan kemandirian atau sikap tanggap pada rambu-rambu K3LH. Untuk aspek penilaian empati,

mengungkapkan dan memahami, mengendalikan amarah,

kemampuan memecahkan masalah dan sikap hormat mendapatkan rerato skor sebanyak 60%, hal ini disebabkan karena tidak adanya pembiasaan dari guru untuk melatih sikap siswa. Pada aspek penilaian kemandirian siswa mendapatkan rerata skor 33,33%, hal ini dikarenakan guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran, sehingga dalam hal ini kemandirian siswa kurang terlatih. Pada aspek penilaian kesetiakawanan mendapatkan rerata skor 40%, hal ini disebabkan karena masih banyak siswa mementingkan tugas diri sentiri. Pada aspek yang mendapatkan skor 43,33% yaitu kemempuan menyesuaikan diri disukai dan keramahan, hal ini disebabkan masih banyak siswa tidak bertanggung jawab atau menganggap remeh materi pembelajaran. Pada aspek penilaian ketekunan yang mendapatkan rerata skor 66,67%, hal ini disebabkan kurangnya kemampuan guru dalam mengolah kelas saat pembelajaran berlangsung.

Tabel 9. Data keaktifan siswa (siklus I)

No Aspek Penilaian Hasil Pengamatan Presentase SB B K SK

1

Perhatian Siswa

TerhadapPenjelasan Guru dan Kelompok Lain

0 18 12 0 60% 2 Keaktifan Mencatat Materi 1 9 10 10 33,33% 3 Keaktifan Bertanya 1 13 13 3 46,67% 4 Keaktifan Menjawab

Pertanyaan 0 12 15 3 40% 5

Keaktifan Berdiskusi Dengan Kelompok Maupun Kelompok Lain

0 18 12 0 60%

6

Keaktifan Kerjasama Dengan Kelompok Maupun Kelompok Lain 1 12 15 2 43,33% 7 Keaktifan Mengajukan Pendapat 1 12 13 4 43,33% 8 Mendengarkan Presentasi Kelompok Lain 0 12 18 0 40% 9 Kemampuan Menyampaikan

Hasil Materi Diskusi. 1 12 15 2 43,33% 10 Bersemangat dalam

mengikuti pelajaran 6 14 8 2 66,67% Dari hasil presentase deskripsi pada tabel 4 dapat diketahui bahwa dari 30 siswa yang mendapat skor kriteria 3 (baik) dan 4 (sangat baik) terdapat pada indikator penilaian tentang keaktifan peserta didik dalam memperhatikan penjelasan guru dan kelompok lain sebanyak 18 peserta didik atau 60% dari jumlah siswa, keaktifan mencatat materi 10 peserta didik atau 33,33% dari jumlah siswa, keaktifan bertanya 14 peserta didik atau 46,67% dari jumlah siswa, keaktifan menjawab pertanyaan 12 peserta didik atau 40% dari jumlah siswa, keaktifan berdiskusi kelompok dan kelompok lain 18 peserta didik atau 60% dari jumlah siswa, keaktifan kerjasama kelompok dan kelompok lain 13 peserta didik atau 43,33% dari jumlah siswa, keaktifan mengajukan pendapat 13 peserta didik atau 43,33% dari jumlah siswa, keaktifan mendengar presentasi kelompok

lain 12 peserta didik atau 40% dari jumlah siswa, kemampuan menyampaikan materi hasil diskusi 13 peserta didik atau 43,33% dari jumlah siswa, dan keaktifan untuk bersemangat dalam mengikuti pelajaran 20 peserta didik atau 66,67% dari jumlah siswa. Hanya 11 siswa yang mendapatkan skor penilaian 4 (sangat baik) hal ini disbabkan masih banyak siswa lainnya kurang pembiasaan saat proses pembelajaran khusunya pada materi K3LH.

Dilihat dari data observasi peserta didik menunjukkan bahwa tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation belum menghasilkan nilai yang optimal. Masih banyak siswa yang belum ikut serta untuk mengikuti jalannya proses tindakan pada siklus I terutama pada kemandirian dan keaktifan mencatat materi, masih tergolong sangat rendah yaitu hanya 10 peserta didik yang mendapat nilai baik, sedangkan nilai tertinggi yaitu pada keaktifan bersemangat dalam mengikuti pelajaran, ketekunan dan selalu mendengarkan intuisi yaitu sebanyak 20 peserta didik atau 66,67%. Data tersebut akan menjadi bahan refleksi dan diadakan suatu perbaikan untuk siklus ke II.

2) Hasil Belajar

60%

40%

Tuntas

Hasil belajar siswa diperoleh dari nilai posttest pada siklus I, hasil data posttest diikuti sebanyak 30 peserta didik. Tabel 7 merupakan hasil belajar peserta didik.

Tabel 10. Hasil Belajar siklus I

No Nama Siswa (Inisial) Nilai KKM

1 ATWS 76 Tuntas

2 ADH 48 Tidak Tuntas 3 AMA 52 Tidak Tuntas

4 APP 84 Tuntas

5 DWA 76 Tuntas

6 EHB 56 Tidak Tuntas

7 FNS 80 Tuntas

8 FAG 76 Tuntas

9 FS 48 Tidak Tuntas

10 GNS 80 Tuntas

11 HAW 52 Tidak Tuntas 12 IR 48 Tidak Tuntas

13 IAI 76 Tuntas

14 JRS 76 Tuntas

15 KFF 80 Tuntas

16 KJJP 76 Tuntas

17 MFAN 72 Tidak Tuntas

18 MA 84 Tuntas 19 MM 60 Tidak Tuntas 20 MF 64 Tidak Tuntas 21 MWR 52 Tidak Tuntas 22 PDP 80 Tuntas 23 RDFAP 80 Tuntas 24 RW 84 Tuntas 25 RYK 80 Tuntas 26 RY 80 Tuntas

27 SAS 72 Tidak Tuntas

28 SR 84 Tuntas

29 THB 56 Tidak Tuntas

30 TCS 88 Tuntas

Berdasarkan tabel 7 dan diagram hasil posttest Siklus 1 dapat diketahui bahwa dari 30 siswa di kelas X Teknik Pemesinan 2 SMK Muhammadiyah Yogyakarta yang mendapat nilai yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau memperoleh nilai

≥ 75 dan dikatakan tuntas sebanyak 18 (delapan belas) siswa atau

tersebut dikatakan tidak tuntas. Dari hasil posttest 1 nilai tertinggi yang diperoleh adalah 88 dan nilai terendah yang diperoleh ialah 48. Jumlah nilai rata-rata (mean) pada hasil posttest 1 adalah 70,66.

Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dalam siklus yang pertama ini belum bisa dikatakan berhasil dikarenakan belum menunjukkan kriteria nilai yang diharapkan, meskipun dalam penggunaan metode ini sudah terlihat pengaruhnya, namun hasilnya masih belum efektif. Dengan demikian, untuk meningkatkan keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ini maka peneliti dan guru bersepakat untuk memperbaiki metode ini dan melanjutkan ke tahap siklus II.

Berdasarkan hasil diskusi dengan guru pengampu K3LH, disepakati beberapa perubahan yang nantinya akan dilaksanakan pada siklus II yaitu dengan mengubah anggota kelompok dari yang sebelumnya berdasarkan nilai Posttest 1 dan menambah waktu untuk mempresentasikan hasil diskusi dari tiap anggota kelompok.

Dokumen terkait