Siklus 2 Pertemuan Pertama
2. Siklus 2 pertemuan kedua
Pertemuan kedua ini peneliti mengambil tema sekolah
Pembelajaran dilaksanakan pukul 07.00-09.30 WIB. Setelah
bel berbunyi sebelum mulai pembelajaran biasanya anak
berbaris rapi di depan kelas, setelah itu satu persatu anak
masuk kelas dengan berhitung, kegiatan berlanjut di dalam
kelas. Setelah anak masuk ke kelas dan duduk di tempat
masing-masing kegiatan dilanjutkan dengan berdoa bersama
yang dipimpin oleh guru. Selanjutnya guru mengabsen anak
dengan menyebutkan mana anak, bagi anak disebutkan
namanya guru meninta anak mengangkat tangan dan
berkata “saya bu guru”.
Berikutnya peneliti mengajak anak bernyanyi untuk
mengawali hari agar tetap semangat. Kegiatan dilanjutkan
dengan kegiatan fisik motorik. Kegiatan yang akan
dilakukan adalah menedang bola kearah tujuan. Sebelum
mulai kegiatan guru dan anak membuat aturan saat bermain
bola di halaman. Kegiatan dimulai dengan anak di minta
untuk mencari teman sebagai pasangan saat bermain.
Selanjutnya anak diminta berbaris bersaling berhadapan
dengan jarak tertentu, kemudian pelakukan gerakan
pemanasan terlebih dahulu. Baru setelah itu anak
menendang secara bergantian dengan teman yang ada di
Kegiatan berikutnya, anak-anak diminta masuk kembali
ke dalam kelas dan minum untuk melepas lelah.
Kegiatanpun dilanjutkan dengan guru mengajak anak untuk
memperhalikan lingkungan sekitar sekolah. Setelah itu
anak diminta untuk menyebutkan apa saja benda yang ada
ditemukan disekitar lingkungan sekolah. Selanjutnya guru
menggambar lingkungan sekolah dengan benda-benda yang
telah disebutkan dan guru juga meminta anta untuk
menyebutkan bersama-sama benda tersebut.
Kegiatan selanjutnya peneliti menceritakan tentang
“jangan membuang sampah sembarangan”. Sebelum mulai
bercerita peneliti menyebutkan terlebih dahulu tokoh-tokoh
yang akan dimainkan dalam cerita (Guru, Tina, dan Doni).
Tet……tet…..tet…….
Bel tanda istirahat berbunyi, anak-anak segera
pergi ke luar kelas untuk mencuci tangan. Setelah
memcuci tanggan anak-anak makan bekal yang dibawa
dari rumah.
Doni dan Tina segera membuka bekal mereka.
Tina : Doni kamu bawa bekal apa? Kalau aku bawa
roti.
Doni : Aku bawa pisang.
Doni dan Tina segera menghabiskan bekal mereka.
bungkus roti ke tempat sampah. Tapi Doni tidak, kulit
pisang hanya dilempar dan tidak dibuang di tempat
sampah.
Pada waktu bermain tiba-tiba… Bruuk….. Doni : Aduh…aduh… sakit.
Tina segera menolong Doni dan membawa ke
ruang guru.
Guru : Lho, ada apa Doni?
Doni : Saya tadi jatuh, terpeleset kulit pisang.
Tina : Iya bu guru, tadi Doni membuang kutil
pisangnya sembarangan.
Sambil mengobati luka Doni ibu guru menasehati
Doni.
Guru : Besok lagi kalau habis makan sampahnya
dibuang di tempat sampah ya? Agar
sekolah kita bersih dan tidak anak yang
jatuh terpeleset lagi.
Doni : Iya bu guru besok Doni akan membuang
sampah pada tempatnya.
Ketika peneliti sedang bercerita anak sangat berantusias
untuk mendengarkan. Ada juga anak yang menebak-nebak
bagaimana cerita selanjutnya dan penasaran bagaimana
kelanjutan ceritanya. Ketika cerita berakhir banyak anak
Setelah peneliti selesai bercerita, guru memberikan
ringkasan cerita agar anak lebih mudah untuk memahami
cerita, baru kemudian anak-anak diminta untuk
menceritakan kembali cerita yang telah disampaikan. Guru
meminta 2-3 anak maju giliran maju ke depan kelas untuk
bercerita. Banyak anak yang ingin maju kedepan untuk
bercerita, tetapi tidak semua anak yang maju kedepan lancar
bercerita, ada beberapa anak yang masih lupa dengan alur
ceritanya sehingga guru juga haru ssedikit membatu anak.
Sambil mendengarkan dan mengamati anak bercerita
peneliti mencatat nilai yang akan diberikan kepada anak
agar peneliti bisa mengisi lembar observasi yang telah
dibuat sebagai alat penilaian perkembangan anak.
Kegiatan selanjutnya adalah menggambar lingkungan
sekolah dengan melihat contoh gambar yang telah dibuat
oleh guru. Setelah kegiatan berakhir kegiatan dilanjutkan
istirahat, sebelum istirahat anak-anak antri untuk cuci
tangan baru kemudian anak makan bekal bersama. Bagi
anak yang selesai makan mereka dapat cuci tangan bisa
bermain bebas di halaman bersama teman-temannya.
Kegiatan akhir, dalam kegiatan kali ini peneliti mengisi
dengan kegiatan tanya jawab mengenai cerita “jangan membuang sampah sembarangan”. Karena banyak anak
cukup banyak pula anak yang berhasil menjawab
pertanyaan dengan tepat. Setelah semua anak mendapat
giliran menjawab guru mengakhiri dengan menanyakan
perasaan anak setelah seharian belajar dan memberikan
kesimpulan dari cerita tersebut. Kegiatan diakhiri dengan
berdoa yang dipimpin oleh guru serta nyanyian penutup
untuk pulang. Anak-anak pulang dan memberikan salam.
Di bawah ini adalah tabel dan grafik kemampan
berbicara anak kelompok A di TK Kanisius Gendongan
pada siklus 2 pertemuan kedua.
Tabel 7. Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A di TK Kanisius Gendongan Siklus 2 Pertemuan Kedua
Kategori Frekuensi %
Baik (Skor ≽ 7) 17 85%
Cukup (Skor 5-6) 3 15%
Kurang (Skor 3-4) 0 0%
Grafik 6. Kemampuan Berbicara Anak TK Kanisius Gendongan Pada Tahap Siklus 2 Pertemuan Kedua
4.3.2.3. Observasi
Berikut ini adalah data hasil observasi kemampuan
berbicara anak pada tahap siklus 2:
Tabel 8. Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A di TK Kanisius Gendongan Pada Siklus 2
Kategori Penilaian Kemampuan berbicara Siklus 2 Pertemuan 1 Pertemuan 2 Frekuensi % Frekuensi % Baik (Skor ≽ 7) 15 75% 17 85% Cukup (Skor 5-6) 4 20% 3 15% Kurang (Skor 3-4) 1 5% 0 0% Total 20 100% 20 100% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Baik Cukup Kurang
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Baik Cukup Kurang
Siklus 2 Pertemuan 1 Siklus 2 Pertemuan 2
Grafik 7. Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A di TK Kanisius Gendongan Pada Siklus 2
Berdasarkan tabel di atas pada siklus 2 pertemuan
pertama diperoleh data sebesar 75% dalam kategori baik
dengan jumlah 15 anak, 20% kategori cukup ada 4 anak dan
5% dalam kategori kurang hanya dengan jumlah 1 anak
anak saja. Sedangkan pada pertemuan kedua, data yang
diperoleh mencapai 85% masuk dalam kategori baik dengan
jumlah 17 anak, 15% dalam kategori cukup serta dalam
ketegori kurang 0% yang berarti tidak anak anak yang
masuk dalam kategori tersebut. Menurut hasil data yang
diperoleh pada siklus 2 dapat dilihat bahwa kemampuan
berbicara anak kelompok A di TK Kanisius Gendongan
sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan
4.3.2.4. Refleksi
Proses pembelajaraan pada siklus 2 ini berjalan dengan
baik, kekurangan dalam pembelajaran sebelumnya dapat
ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Jika dilihat dari data
hasil pengamatan, kemampuan berbicara anak kelompok A di
TK Kanisius Gendongan ini sudah meningkat dan mencapai
taget yaitu sebesar 85% yang berarti 17 anak telah mencapai
kategori baik dan hanya 3 anak yang kemampuan
berbicaranya masuk dalam ketegori cukup. Penggunaan
boneka jari sebagai media juga pembelajaran juga
mempengaruhi peningkatan kemampuan anak, anak
berantusias untuk mengikuti pembelajaran. Adanya reward
juga membuat anak lebih termotivasi untuk mengikuti
pembelajaran dengan baik. Peningkatan kemampuan
berbicara anak dapat dilihat dari data di bawah ini :
Tabel 9. Rekapitulasi Data Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A di TK Kanisius Gendongan Pada Siklus 1 Siklus 2
Kategori Penilaian Kemampuan berbicara Siklus 1 Siklus 2 % % Baik (Skor ≽ 7) 22.5% 80% Cukup (Skor 5-6) 37.5% 17.5% Kurang (Skor 3-4) 40% 2.5% Total 100% 100%
Grafik 8. Rekapitulasi Dtaa Kemampuan Berbicara Anak Kelompok A di TK Kanisius Gendongan Pada Siklus 1 Siklus 2
Data di atas menunjukkan bahwa adanya paningkatan
kemampuan berbicara pada anak kelompok A di TK Kanisius
Gedongan. Jika dilihat dari hasil rata-rata menunjukkan
bahwa siklus 1 ada 22.5% masuk dalam kategori baik, 37.5%
dalam kategori cukup dan 40% dalam kategori kurang. Hal
ini meningkat dikarenakan hasil dari siklus 2 ditunjukkan
dengan ada 80% masuk dalam ketegori baik, dan 17.% masuk
dalam kategori cukup, sedangkan kategori kurang hanya ada
2.5%. Karena hasil data pada siklus 2 ini menunjukkan
bahwa telah tercapainya indikator keberhasilan maka dengan
demikian penelitian ini dikatakan berhasil. 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00%
Baik Cukup Kurang
Siklus 1 Siklus 2
4.4. Pembahasan
Keterampilan berbicara merupakan hal yang sangat penting untuk
dikembangkan sejak anak usia dini, karena berbicara merupakan salah satu
aspek dari keterampilan berbahasa yang sangat penting bagi
perkembangan anak. Apabila anak memiliki kemampuan berbicara dengan
baik, maka anak akan terampil dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya secara lancar.
Pembelajaran di TK harus dilakukan dengan menyenangkan. Dengan
menggunakan media yang menarik maka anak akan lebih senang tertarik
untuk mengikuti pembelajaran. Guru mengembangkan kemampuan bahasa
anak dengan menggunakan media yang dapat meningkatkan
perkembangan kemampuan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis
(Moeslichatoen 2004). Dalam hal ini penggunaan boneka jari efektif
digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat
dari Gunawan (2010) boneka dapat menjadikan pengalihan perhatian anak
sekaligus media berekspresi atau menyatakan perasaannya, bahwa boneka
bisa mendorong tumbuhnya fantasi dan imajinasi anak.
Berdasarkan hasil penelitian dari siklus 1 dan siklus 2 menunjukkan
bahwa penggunaan boneka jari dapat meningkatkan kemampuan berbicara
anak kelompok A di TK Kanisius Gendongan. Hasil data di siklus 1 secara
umum, keterampilan berbicara anak pada kategori kurang sebesar 40% .
Sedangkan hasil data siklus 2 secara umum, keterampilan berbicara anak
pada kategori baik sebesar 80%.
hasil penilaian pada kondisi awal, siklus 1 maupun siklus 2. Perubahan ini
terjadi karena beberapa sebab, beberapa sebab diantaranya: penggunaan
media boneka jari dalam kegiatan bercakap-cakap membuat anak
bersemangat untuk mengikuti pembelajaran, anak memperhatikan guru
saat guru mengajar. Anak menjadi lebih mudah untuk menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh guru. Pada siklus 2 guru memberikan
reward berupa stiker bintang yang lebih besar bagi anak-anak yang
mengikuti pembelajaran dengan baik dan juga dapat menjawab pertanyaan
yang diberikan guru.
Menurut uraian di atas tentang peraan reward sesuai dengan pendapat
Nurbiana Dhieni (2005) yang menyatakan bahwa dalam kegiatan
pembelajaran akan lebih baik apabila guru memberikan reinforcement
(penguat), reward (pujian, hadiah), stimulasi dan model atau contoh yang
baik dari orang dewasa agar keterampilan berbicaranya dapat berkembang
secara maksimal.
Dari semua uraian dan toeri di atas, peneliti menyimpulkan bahwa