• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.6 Analisis Instrumen Penelitian

3.6.1 Silabus, RPP dan Lembar Petunjuk Praktikum

Validitas RPP diukur berdasarkan construct validity dengan pertimbangan ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun. Para ahli dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2.

Validator menjawab pertanyaan dengan memberi skor sesuai rubrik validasi (skor tertinggi=4 dan skor terendah=1). Kemudian jumlahnya dikonsultasikan dengan Tabel 3.2 untuk menentukan kriteria kelayakan media.

Tabel 3.2 Rentang dan Kriteria Kualitatif Uji Kelayakan Silabus, RPP dan Lembar Petunjuk Praktikum

Rentang Kriteria Kualitatif

78 ≤ skor ≤ 96 Sangat layak

60 ≤ skor ≤ 77 Layak

42 ≤ skor ≤ 59 Kurang Layak 24 ≤ skor ≤ 41 Tidak Layak

Berdasarkan perhitungan validitas silabus, RPP dan lembar petunjuk praktikum diperoleh hasil seperti Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Validitas Silabus, RPP dan Lembar Petunjuk Praktikum Jumlah Skor Kriteria

Validator I 86 Sangat layak

Validator II 80 Sangat layak

Hasil tersebut menunjukkan bahwa silabus, RPP dan lembar petunjuk praktikum dengan pendekatan proses bervisi SETS dapat digunakan untuk penelitian, karena dari kedua validator diperoleh kriteria sangat layak. Hasil validasi dapat dilihat pada Lampiran 36.

3.6.2 Tes

3.6.2.1 Validitas Soal

Perangkat soal tes harus memenuhi validitas isi dan validitas butir soal. Soal tes memenuhi validitas isi (content validity) apabila materinya telah disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku. Penyusunan kisi-kisi soal berdasarkan kurikulum sebagai pedoman dalam pembuatan soal tes, kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2.

Validator menjawab pertanyaan dengan memberi skor sesuai rubrik validasi (skor tertinggi=4 dan skor terendah=1). Kemudian jumlahnya dikonsultasikan dengan Tabel 3.4 untuk menentukan kriteria kelayakan media.

Tabel 3.4 Rentang dan Kriteria Kualitatif Uji Kelayakan Soal

Rentang Kriteria kualitatif

38 ≤ skor ≤ 46 Sangat layak 29 ≤ skor ≤ 37 Layak

20 ≤ skor ≤ 28 Kurang Layak

11 ≤ skor ≤ 19 Tidak Layak

Berdasarkan perhitungan validitas soal diperoleh hasil seperti Tabel 3.5. Tabel 3.5 Validitas Soal

Jumlah Skor Kriteria

Validator I 38 Sangat Layak

Validator II 34 Layak

Hasil tersebut menunjukkan bahwa soal untuk mengukur keterampilan proses sains siswa dapat digunakan untuk penelitian, karena dari kedua validator diperoleh kriteria sangat layak dan layak. Hasil validasi dapat dilihat pada Lampiran 36.

Selain validitas konstruk, dilakukan juga perhitungan validitas butir. Menurut Arikunto (2006: 79), validitas butir dihitung menggunakan rumus korelasi point biserial yaitu:

q p S M M r t t p pbis   Keterangan:

= Koefisien korelasi point biserial

Mp = Skor rata-rata kelas yang menjawab benar butir soal yang bersangkutan Mt = Skor rata-rata total

p = Proporsi siswa yang menjawab benar butir soal yang bersangkutan q = Proporsi siswa yang menjawab salah butir soal yang bersangkutan St = Standar deviasi skor total

kemudian digunakan untuk mencari signifikasi ( ) dengan rumus:

√ √

Rumus tersebut memperoleh besar thitung, kemudian besar thitung

dibandingkan dengan ttabel.

1. Item-item yang mempunyai thitung lebih besar dari ttabel termasuk item yang valid.

2. Item-item yang mempunyai thitung kurang dari ttabel termasuk item yang tidak valid, maka perlu direvisi atau tidak digunakan.

pbis

r

pbis

Setelah dilakukan perhitungan validitas tiap-tiap butir soal dihitung dengan menggunakan rumus korelasi point biseral kemudian dikonsultasikan dengan α = 5% diperoleh t tabel = 1,7.

Berdasarkan perhitungan validitas soal (Lampiran 17) hasilnya disajikan dalam Tabel 3.6 berikut.

Tabel 3.6 Validitas Butir Soal Uji Coba Soal

Kriteria Nomor Soal Jumlah

Butir Soal Valid 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15 16, 17, 18, 19, 20 20 Tidak Valid 0 Jumlah 20

(Sumber: Data yang diolah)

Keterangan: Data selengkapnya disajikan pada Lampiran 17

Berdasarkan kriteria validitas ada 20 soal yang dinyatakan valid. Soal yang valid tersebut mencakup keseluruhan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dan memuat aspek KPS yang akan diukur.

3.6.2.2 Daya Pembeda

Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana butir soal mampu membedakan anak yang pandai dan anak kurang pandai berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi nilai daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan anak yang pandai dan yang kurang pandai.

Cara menentukan daya pembeda adalah sebagai berikut:

a. Seluruh peserta tes diurutkan mulai dari yang mendapat skor teratas sampai terbawah.

b. Seluruh siswa tes dibagi dua yaitu kelompok atas dan kelompok bawah dikarenakan jumlah siswa uji coba kurang dari 100.

c. Menghitung tingkat kesukaran soal dengan rumus:

Keterangan:

D = daya pembeda

BA = banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar BB = banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar JA = banyaknya siswa pada kelompok atas

JB =banyaknya siswa pada kelompok bawah

Kriteria daya beda soal diklasifikasikan seperti ditampilkan dalam Tabel 3.7 berikut:

Tabel 3.7 Kriteria Daya Beda Soal (Arikunto, 2006: 218)

Skor daya beda Kategori

0,70 < D ≤ 1,00 0,40 < D ≤ 0,70 0,20 < D ≤ 0,40 0,00 < D ≤ 0,20 Sangat baik Baik Cukup Jelek

Hasil analisis daya beda soal uji coba disajikan pada Tabel 3.8. Tabel 3.8. Daya Beda Soal Uji Coba

Kriteria Nomor Soal Jumlah

Butir Soal Sangat jelek Jelek 0 3 ,4, 5, 6, 8, 9, 14, 15, 18, 19, 20 0 11 Cukup 1, 2, 10, 13, 16 5 Baik Sangat Baik 7, 11, 12, 17 0 4 Jumlah 20

(Sumber: Data yang diolah)

3.6.2.3 Taraf Kesukaran

Untuk menentukan tingkat kesukaran soal digunakan rumus sebagai berikut (Arikunto, 2006:207).

Keterangan :

P = Indeks kesukaran,

B = Banyaknya peserta didik yang menjawab soal itu dengan benar, dan JS = Jumlah seluruh peserta didik peserta tes.

Untuk menginterpretasikan taraf kesukaran dapat digunakan kriteria sebagai berikut:

a. Soal dengan 0,0 ≤ TK < 0,3 adalah soal sukar. b. Soal dengan 0,3 ≤ TK < 0,7 adalah soal sedang. c. Soal dengan 0,7 ≤ TK ≤ 1,0 adalah soal mudah.

Berdasarkan perhitungan indeks kesukaran pada Lampiran 17, jumlah butir soal dan nomor soal dengan kriteria sukar, sedang dan mudah dapat dilihat pada Tabel 3.9.

Tabel 3.9. Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba Kriteria

Indeks Kesukaran Nomor Soal

Jumlah Butir Soal Sukar 3, 4, 7, 13, 16, 17 6 Sedang 1, 2, 9, 10, 11, 12, 15, 18, 19, 20 10 Mudah 5, 6, 8, 14 4 Jumlah 20

(Sumber: Data yang diolah)

3.6.2.4 Reliabilitas

Reliabilitas menunjuk kepada keajegan pengukuran. Keajegan suatu hasil tes adalah apabila dengan tes yang sama diberikan kepada kelompok siswa yang berbeda akan memberikan hasil yang relatif sama. Jadi, berapa kalipun dilakukan tes dengan instrumen yang reliabel akan memberikan data yang sama (Arikunto, 2006: 178).

Sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat menunjukkan hasil yang relatif, jika tes tersebut digunakan pada kesempatan yang lain. Rumus yang digunakan adalah rumus KR-21.

r11=[ k k 1] [1

M k M kVt ]

Jika r11 > rtabel maka tes tersebut dikatakan reliabel Keterangan :

r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan k = banyaknya butir soal

m = skor rata-rata Vt = varians total (Arikunto, 2006: 189)

Rekapitulasi hasil analisis yang telah dilakukan semua soal dinyatakan reliabel dengan nilai r= 0,6 (artinya keajegan tes ini cukup). Hasil selengkapnya terdapat pada Lampiran 18.

Sebagai alat evaluasi, soal-soal tes harus memiliki karakteristik atau syarat-syarat sebagai alat evaluasi yang baik diantaranya harus memenuhi syarat validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda serta sesuai dengan tujuan

pembelajaran yang akan diukur. Berdasarkan syarat tersebut yang digunakan dalam penelitian adalah soal yang dinyatakan valid, dan mempunyai daya beda dengan kriteria cukup dan baik. Soal yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.10.

Tabel 3.10 Soal yang Digunakan untuk Evaluasi Kriteria

Soal Nomor Soal

Jumlah Butir Soal Dipakai 1, 2, 7, 10, 11, 12, 16, 17 8 Diperbaiki 3, 4, 5, 6, 8, 9, 13, 14, 15, 18, 19, 20 12 Dibuang 0 Jumlah 20 3.6.3 Lembar Observasi

3.6.3.1 Lembar Observasi Penilaian Keterampilan Proses Sains 3.6.3.1.1 Validitas

Validitas (Arikunto, 2006: 168) lembar observasi diukur berdasarkan construct validity dengan pertimbangan ahli. Para ahli diminta pendapatnya

tentang instrumen yang telah disusun. Para ahli dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2.

Validator menjawab pertanyaan dengan memberi skor sesuai rubrik validasi (skor tertinggi=4 dan skor terendah=1). Kemudian jumlahnya dikonsultasikan dengan Tabel 3.11 untuk menentukan kriteria kelayakan media.

Tabel 3.11 Rentang dan Kriteria Kualitatif Uji Kelayakan Lembar Observasi

Rentang Kriteria kualitatif

30 ≤ skor ≤ 36 Sangat Layak 23 ≤ skor ≤ 29 Layak

16 ≤ skor ≤ 22 Kurang Layak

Berdasarkan perhitungan validitas lembar observasi diperoleh hasil seperti Tabel 3.12.

Tabel 3.12 Validitas Lembar Observasi Jumlah Skor Kriteria

Validator I 33 Sangat layak

Validator II 31 Sangat layak

Hasil tersebut menunjukkan bahwa lembar observasi dapat digunakan untuk penelitian, karena dari kedua validator diperoleh kriteria sangat layak. Hasil validasi dapat dilihat pada Lampiran 36.

3.6.3.1.2 Reliabilitas

Reliabilitas lembar observasi menggunakan kesepakatan antara 2 pengamat yang diukur dengan korelasi peringkat.

Keterangan:

b : Beda peringkat antara pengamat pertama dan kedua N : Jumlah responden

Perhitungan reliabilitas pada lembar observasi untuk penilaian keterampilan proses sains menghasilkan harga r sebesar 0,9. Kriteria reliabel instrumen yaitu, suatu soal disebut reliabel bila harga r lebih besar daripada r tabel untuk n=20 yaitu 0,444, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lembar observasi ini reliabel. Perhitungan reliabilitas lembar observasi untuk penilaian keterampilan proses sains dapat dilihat pada Lampiran 26.

3.6.3.2 Lembar Observasi Afektif 3.6.3.2.1 Validitas

Validitas lembar observasi diukur berdasarkan construct validity dengan pertimbangan ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun. Para ahli dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2.

Validator menjawab pertanyaan dengan memberi skor sesuai rubrik validasi (skor tertinggi=4 dan skor terendah=1). Kemudian dicari nilai rata-ratanya dan dikonsultasikan dengan Tabel 3.13 untuk menentukan kriteria kelayakan media.

Tabel 3.13 Rentang dan Kriteria Kualitatif Uji Kelayakan Lembar Observasi

Rentang Kriteria kualitatif

30 ≤ skor ≤ 36 Sangat layak

23 ≤ skor ≤ 29 Layak 16 ≤ skor ≤ 22 Kurang Layak

9 ≤ skor ≤ 15 Tidak Layak

Berdasarkan perhitungan validitas lembar observasi diperoleh hasil seperti Tabel 3.14.

Tabel 3.14 Validitas Lembar Observasi Afektif Jumlah Skor Kriteria

Validator I 33 Sangat layak

Validator II 31 Sangat layak

Hasil tersebut menunjukkan bahwa lembar observasi dapat digunakan untuk penelitian, karena dari kedua validator diperoleh kriteria sangat layak. Hasil validasi dapat dilihat pada Lampiran 36.

3.6.3.2.2 Reliabilitas

Reliabilitas lembar observasi menggunakan kesepakatan antara 2 pengamat yang diukur dengan korelasi peringkat Spearman (Arikunto, 2006:278).

Keterangan:

b : Beda peringkat antara pengamat pertama dan kedua N : Jumlah responden

Perhitungan reliabilitas pada lembar observasi ranah afektif menghasilkan harga r sebesar 0,5. Kriteria reliabel instrumen yaitu, suatu soal disebut reliabel bila harga r lebih besar daripada r tabel untuk n=20 yaitu 0,444, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lembar observasi ranah afektif penelitian ini reliabel. Perhitungan reliabilitas lembar observasi ranah afektif dapat dilihat pada Lampiran 31.

3.6.4 Angket