Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah
6.4. Simpulan dan Rekomendasi
6.4.1. Simpulan
Dari analisis dan pembahasan didapatkan beberapa simpulan sebagai berikut:
1. Variabel realisasi APBD Fungsi Ekonomi, variabel realisasi APBD Fungsi Pendidikan, dan variabel realisasi APBD Fungsi Kesehatan berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia, hasil ini juga sesuai dengan hipotesis penelitian yang telah dirumuskan bahwa ketiga variabel diatas berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap peningkatan IPM;
2. Variabel Realisasi APBD Fungsi Ekonomi memiliki nilai koefisien regresi yang bernilai negatif. Angka tersebut mengindikasikan bahwa secara parsial variabel pengeluaran sektor kesehatan berpengaruh negatif dan siginifikan terhadap perubahan tigkat IPM di Provinsi Sulawesi Utara. bahwa adanya pengaruh negatif antara pengeluaran pemerintah sektor ekonomi terhadap peningkatan IPM. Hal tersebut dimungkinkan karena belanja pemerintah daerah pada fungsi ekonomi tidak banyak yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat, dan kebanyakan hanya berkutat pada belanja pegawai saja tidak banyak yang dipergunakan untuk belanja modal;
3. Alokasi belanja pemerintah pada fungsi pendidikan mempunyai pengaruh yang secara parsial tidak begitu signifikan, terhadap pertumbuhan IPM pada pemerintah daerah lingkup Sulawesi Utara. Hal tersebut mungkin dikarenakan pengeluaran di dalam fungsi pendidikan tidak secara langsung berdampak pada peningkatan output. Belanja di sektor pendidikan merupakan investasi yang memiliki jangka yang panjang untuk mendorong tumbuhnya komponen pendukung IPM yaitu HLS dan RLS;
4. Nilai koefisien regresi variabel realisasi APBD Fungsi Kesehatan bernilai positif. Hal ini menjelaskan bahwa secara parsial ada pengaruh signifikan antara belanja fungsi kesehatan pemerintah daerah di Sulawesi Utara terhadap peningkatan IPM, dimana belanja fungsi kesehatan akan berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan IPM di Sulawesi Utara. Hasil ini membuktikan bahwa belanja pemerintah daerah pada fungsi pendidikan berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan yang positif terhadap peningkatan IPM. Secara riil jaminan pelayanan kesehatan masyarakat yang baik akan meningkatkan tingkat usia harapan hidup setiap orang, dan secara langsung
1. Dari data yang ada dalam kurun 5 tahun terakhir, nilai Indeks Pembangunan Manusia Lingkup regional Provinsi Sulawesi Utara cukup sangat tinggi. Hal tersebut merupakan pencapaian atas hasil pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Anggaran belanja yang telah dialokasikan dan direalisasikan pemerintah daerah telah memberikan kontribusi yang baik dalam peningakatan pembangunan manusia Lingkup Provinsi Sulawesi Utara dan diharapkan pula dapat memberikan dampak positif tidak hanya pada peningkatan IPM, tapi juga berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
5.
6.4.2. Rekomendasi
Berdasarkan analisis pembahasan dan simpulan, maka dapat disampaikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Belanja Fungsi Ekonomi pada pemerintah daerah, bisa difokuskan untuk kegiatan yang secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan dan belanja per kapita di daerah, atau dengan kata lain bisa berdampak terhadap peningkatan Pendapatan Regional bruto yang akan meningkatkan belanja/ konsumsi per kapita masyarakat.
2. Demikian juga untuk belanja pada Fungsi Pendidikan, bisa difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung pada peningkatan tingkat lama sekolah dan rata-rata lama sekolah di wilayah masing-masing. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan dengan bantuan pendidikan secara langsung maupun peningkatan beasiswa pendidikan yang bisa dengan mudah didapat oleh masyarakat secara luas;
3. Peningkatan jaminan kesehatan yang sudah bagus di Sulawesi Utara, perlu dipertahankan dan mungkin untuk ditingkatkan dengan akses pelayanan kesehatan yang secara mudah didapat oleh masyarakat dengan mudah, terutama untuk penanganan penyakit tidak menular (PTM) yang ada di masyarakat yang berbahaya.
Sehingga nantinya dapat lebih meningkatkan jaminan kesehatan bagi masyarakat dan juga meningkatkan usia harapan hidup.
KANWIL DJPb PROVINSI SULAWESI UTARA
111
7.1. Kesimpulan
1. Kebijakan fiskal sebagai alat pemerintah untuk mencapai sasaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pusat dan daerah dalam memastikan efektivitasnya dengan tiga fungsi utamanya sebagai alat alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Visi Pemerintah Provinsi Sulawesi adalah terwujudnya Sulawesi Utara Berdikari Dalam Ekonomi, Berdaulat dalam Politik, dan Berkepribadian dalam Budaya, hal pertama yang harus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan fiskal yang efektif dan efisien adalah daerah harus memetakan terlebih dahulu tantangan-tantangan daerah yang dihadapi baik dari sisi ekonomi, sosial-kependudukan, serta tantangan wilayahnya, sehingga intervensi kebijakan fiskal melalui program prioritas dapat secara langsung menjawab tantangan daerah yang dihadapi.
2. Masa pandemik covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah yang menimbulkan dampak yang luar biasa, upaya penanganan penanggulangan penyebaran Covid-19 telah menyebabkan terbatasnya mobilitas dan kegiatan ekonomi sehingga meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dan gelombang pertumbuhan ekonomi yang kontraktif di dunia, Penurunan penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), adalah salah dampak dari berkurangnya kegiatan produktif masyarakat akibat melemahnya kondisi ekonomi daerah dan nasional.
3. Ekonomi Sulawesi Utara pada tahun 2021 tumbuh sebesar 4,16%. Pertumbuhan ini berada di atas nasional (3,69%), Pertumbuhan Ekonomi secara Year-on-Year pada triwulan 4 2021 mencapai 3,38%, hal ini meningkat dari triwulan sebelumnya yang bernilai 3,15%. Sedangkan secara Triwulan ke Triwulan (Q-TO-Q) pada triwulan 4 ini meningkat senilai 7,91% dari triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 1,82%, pertumbuhan tertinggi pada sektor lapangan usaha adalah dari sektor konstruksi, yaitu 0.91%. Sedangkan dari pengeluaran disumbang tertinggi dari Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 2,64%.
4. Perhitungan inflasi di regional Sulawesi Utara ada pada dua kota, yaitu Kota Manado dan Kota Kotamobagu. Inflasi Tahunan di Kota Manado berada pada angka 2,65% dan Kota Kotamobagu pada angka 2,51%. Inflasi pada kedua kota ini lebih tinggi daripada nasional (1,87%). Kota Manado telah mencatatkan inflasi lebih tinggi dari nasional sejak bulan januari 2021. Sedangkan Kota Kotamobagu mulai lebih tinggi dari nasional pada bulan april 2021 dan sempat dibawah nasional kembali pada bulan november 2021 namun di bulan desember kembali lebih tinggi dari nasional.
5. Indeks IPM Sulawesi Utara menunjukkan angka di atas indeks IPM Nasional dalam enam tahun berturut-turut 2018-2021, yaitu sebesar 73,30 dan nasional sebesar 72,29.
KANWIL DJPb PROVINSI SULAWESI UTARA
113
Di antara provinsi di pulau Sulawesi pun IPM Sulawesi Utara masih tertinggi Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat di Sulawesi Utara telah memiliki harapan hidup waktu lahir, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok. Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Utara. Tantangan Sulawesi Utara ke depan adalah bagaimana Pemerintah Daerah meningkatkan indikator pendidikan dan kesehatan secara merata di seluruh kabupaten/kota.
6. Dari sisi Pendapatan Negara realisai APBN di Sulawesi Utara menunjukan tren kenaikan dibandingkan 2 periode yang sama tahun sebelumnya. Kebijakan pemulihan perekonomian di Sulut menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi capaian penerimaan. Penerimaan Perpajakan yang berasal dari Pajak Dalam Negeri dan Pajak Perdagangan Internasional mampu membukukan realisasi diatas 100 persen.
Demikian halnya dengan PNBP juga mampu menorehkan capaian hingga 106 persen.
Kota Manado sebagai kontributor utama penerimaan perpajakan di Sulut, sebagai pusat bisnis di Sulut dimana sebagian besar pengusaha terdaftar di kota ini
7. Belanja Pemerintah Pusat di Sulawesi Utara untuk tahun 2021 mengalami kenaikan 5 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan alokasi terbesar terdapat pada belanja modal yang mencapai 42 persen, sedangkan alokasi belanja barang turun sebesar 8 persen.
Dari sisi realisasi belanja, masing-masing jenis belanja telah mencatatkan realisasi diatas 93 persen. Persentase realisasi terbesar adalah Belanja Bantuan Sosial dengan realisasi sebesar 99,81 persen yang dimaksimalkan untuk pemulihan ekonomi dampak Covid-19, Hingga akhir 2021, total belanja pemerintah pusat yang disalurkan melalui 41 K/L sebanyak Rp9.871,67 miliar atau sebesar 95,11 persen dari total pagu 2021
8. DAU Sulut tahun 2021 turun sebesar 1,90 persen dari tahun sebelumnya, penurunan ini sebagai bentuk penyesuaian alokasi DAU secara nasional dalam rangka realokasi dan refocusing APBN, ealisasi DBH Sulut tahun 2021 mengalami kenaikan hingga sebesar 57,67 persen dibandingkan tahun anggaran yang lalu, DAK Fisik dialokasikan dalam APBN TA 2021 di lingkup Kanwil Ditjen Perbendaharaan Sulut sebesar Rp1.482,55 miliar, naik Rp77.87 miliar atau 5,25 persen dari alokasi tahun 2020, Realisasi Dana Insentif Daerah di Sulawesi Utara pada tahun 2021 adalah sebesar Rp447,84 persen dan telah terealisasi 100 persen. Alokasi DID di tahun 2021 lebih rendah 16,02 persen dibandingkan tahun 2020, Dana Desa dialokasikan dalam APBN TA 2021 untuk lingkup Kanwil DJPb Prov. Sulut sebesar Rp1.227,04 miliar, naik 0,09 persen jika dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp1.223,96 miliar. Dana Desa tersebut dialokasikan untuk 1.506
1. Utara, defisit APBN sampai dengan 31 Desember 2021 adalah sebesar Rp18,489.79 miliar. Defisit ini lebih tinggi 936,04 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp17.553,75 miliar.
2. Penyaluran kredit belum secara optimal menyentuh debitur-debitur yang menggali sektor unggulan di Sulawesi Utara (Sektor perkebunan dan perikanan). Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan pencanangan sektor-sektor unggulan di Sulawesi Utara yakni sektor Perikanan dan Perkebunan. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan dilapangan diperoleh informasi bahwa pembiayaan KUR sektor perikanan lebih didominasi nelayan modern yang telah memiliki modal dan peralatan pendukung yang besar dan kurang menyentuh secara optimal kepada nelayan tradisional.
3. Realisasi Pendapatan tahun 2021 mengalami pertumbuhan 9,6 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan realisasi Belanja tahun 2021 mengalami penurunan 5,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, realisasi pendapatan daerah sampai dengan Triwulan IV 2021 secara agregat telah mencapai 93,1 persen dari target yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Transfer serta Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Realisasi Belanja Daerah Pemda lingkup Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2021 sebesar Rp15.199 miliar atau 86,7 persen dari pagu anggaran, turun 5,3 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya
4. Sampai dengan triwulan IV 2021 APBD Sulut mengalami surplus sebesar Rp1.182,3 miliar, secara umum disebabkan oleh pendapatan daerah yang lebih besar dari belanja daerah. Secara khusus penyebab surplus adalah adanya peningkatan realisasi pajak dan adanya efisiensi belanja pada beberapa pos belanja daerah sebagai bentuk refocusing dan realokasi anggaran dalam rangka penanganan pandemi Covid-19..
5. Pendapatan negara konsolidasian di tahun 2021 naik 8,3 persen dibanding tahun 2020 dengan nilai Rp21.162 miliar, demikian juga dengan belanja konsolidasian mengalami kenaikan 13,4 persen di banding tahun 2020 dengan total nilai Rp27.952 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya pertumbuhan berbagai sektor perekonomian di Sulawesi Utara, hal ini menjadi catatan positif keberhasilan pemerintah pusat maupun daerah dalam menangani dampak pandemi Covid-19.
6. Surplus/defisit konsolidasian tahun 2021 provinsi Sulut adalah sebesar minus Rp6.789 miliar. Nilai defisit tersebut sebagian besar berasal dari APBN dan sisanya dari APBD.
Hal ini karena APBN berperan sebagai fungsi distribusi. Pemerintah Pusat di wilayah Provinsi Sulut mencatatkan defisit sebesar Rp18.666 miliar sedangkan Gabungan Pemerintah Daerah Sulut juga masih mencatatkan defisit sebesar Rp1.858 miliar.
Defisit konsolidasian 2021 naik 33 persen dari defisit tahun sebelumnya
7. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Sulawesi Utara secara kumulatif pada tahun 2021 berada pada nilai Rp. 142,60 Triliun. Sedangkan Atas Dasar Harga Konstan, ADHK
KANWIL DJPb PROVINSI SULAWESI UTARA
115
(2010) secara kumulatif berada pada nilai Rp. 91,79 Triliun. Pada triwulan IV sendiri, PDRB-ADHB Sulawesi Utara berada pada nilai Rp. 38,88 Triliun dan PDRB-ADHK pada nilai Rp. 24,68 Triliun.
8. Berdasarkan data BPS Provinsi Sulawesi Utara, kontribusi pendapatan dari sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Utara sejak tahun 2017 s.d. 2021 menunjukkan dominasi. Pada tahun 2021, sektor ini menyumbang pendapatan daerah sebesar Rp30,059 triliun atau 21,08% dari total PDRB Provinsi Sulawesi Utara dan meningkat 26,78% sejak tahun 2017. Dalam menjaga konsistensi kontribusi pendapatan dari sektor Pertanian, Perikanan dan Kehutanan sebagai sumber utama PDRB Provinsi Sulawesi Utara, dukungan pembiayaan terus diupayakan, baik dari alokasi anggaran yang bersumber dari APBN maupun dari APBD.
9. Nilai Tukar Petani (NTP) umum di regional Sulawesi Utara pada bulan Desember 2021 berada pada angka 110,51. Nilai ini turun dari nilai sebelumnya sebanyak -0,26%.
Indeks Harga yang dibayar petani (lb) mengalami kenaikan 1,39% menjadi senilai 109,76 dari sebelumnya 108,25. Sedangkan Indeks harga yang diterima petani juga mengalami kenaikan 1,12% menjadi 121,30 dari sebelumnya 119,95. Nilai Tukar Nelayan pada Desember 2021 di Sulawesi Utara berada pada angka 107,04. Nilai ini naik 1,51%
dari periode sebelumnya (105,45). Nilai ini dibentuk dari sub sektor perikanan tangkap sebesar 107,83 dan sub sektor budidaya 98,38.
10. Ekonomi Sulawesi Utara tahun 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 4,16 persen.
Dari sisi produksi, sebanyak 16 lapangan usaha tumbuh positif, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 12,72 persen. Sementara dari sisi pengeluaran hampir semua komponen tumbuh, kecuali pada Komponen PK-P. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 9,23 persen. Kondisi ekonomi daerah dan berbagai tantangan dan prospek perekonomian Provinsi Sulawesi Utara di tahun 2021, memberikan arah kebijakan terhadap pendapatan daerah yang menjadi salah satu dasar penentuan pagu anggaran sementara di seluruh perangkat daerah.
11. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus berkomitmen melaksanakan pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, salah satunya adalah di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) lewat pengembangan Destinasi Super Prioritas (DPSP) Manado - Bitung – Likupang, di Provinsi Sulawesi Utara terdapat pembangunan Bendungan Kuwil Kawangkoan. Pembangunan bendungan ini merupakan bagian dari
7.2. Rekomendasi
sektor pariwisata menjadi salah satu program unggulan daerah. Sektor pariwisata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan lapangan kerja dan menjadi multiplier effect untuk pengembangan sektor perekonomian yang lain, Hal ini ditandai dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara mengalami peningkatan yang signifikan sejak tahun 2016. Peningkatan ini berdampak pada konsumsi, kebutuhan jasa dan produksi industri pariwisata yang menggeser komponen-komponen yang lainnya
13. Perekonomian Indonesia 2021 diperakirakan akan terus membaik didukung kemajuan penanganan COVID-19 termasuk vaksinasi, pemulihan ekonomi global, serta stimulus dan penguatan kebijakan, Sebagai bagian dari dukungan kebijakan yang akan direncanakan tahun 2021-2026, telah ditetapkan target makro untuk tahun 2022 s.d.
2026 sebagai acuan dalam mewujudkan sasaran pembangunan daerah.
1. Mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara agar mampu memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam menjadi kawasan budidaya melalui pengembangan wilayah sebagaimana yang sudah di kasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi Sulawesi Utara adalah dengan luasan 745.291 Ha.
2. Pemerintah Daerah agar mampu menjaga nilai inflasi terkendali sehingga beli masyarakat tetap terjaga, Mendorong peningkatan Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing yang semakin menurun melalui kemudahan dalam perijinan.
3. Melihat dampak Pandemi COVID-19 tidak hanya pada masalah kesehatan melainkan juga semua aspek dalam kehidupan ikut terdampak termasuk perekonomian, agar pemeritah mengambil langkah yang tepat dalam penanggulangan pandemi covid 19 dengan memperhatikan kehidupan perekonomian di masyarakat
4. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengadopsi budaya global yang positif dan produktif serta meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya bahasa, adat, tradisi, lai-nilai kearifan lokal yang bersifat positif sebagai perekat rasa persaudaraan, menekan berkembangnya intoleransi.
5. Memaksimalkan perananan BLU, Meski telah berstatus BLU penuh, satker BLU masih mengandalkan APBN. Kondisi ideal yang diharapkan adalah kenaikan target PNBP lebih besar dibandingkan kenaikan Pagu RM yang mendorong efektifitas dan performa BLU sekaligus mengurangi beban APBN.
6. Peningkatan peranan Pemerintah daerah khususnya dalam hal Penyaluran kredit
KANWIL DJPb PROVINSI SULAWESI UTARA
117
belum secara optimal menyentuh debitur-debitur yang menggali sektor unggulan di Sulawesi Utara (Sektor perkebunan dan perikanan).
7. Pemerintah Daerah agar mampu memaksimalkan Pendapatan Asli Daerah yang diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan utama bagi pemerintahan daerah, karena hal ini berarti pemerintah daerah didorong untuk dapat meningkatkan kemandirian keuangannya.
8. Melihat Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan menempati sektor lapangan usaha penyumbang terbesar terhadap PDRB di Sulawesi Utara, pemerintah Sulawesi Utara agar mampu mengembangkan sektor sektor perekonomian lainnya sehingga tidak hanya bertumpuh pada ketiga sektor tersebut.
9. Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam pengembangan sektor potensial melalui pendidikan dan pelatihan, sehingga mampu meningkatkan daya saing, pemanfaatan teknologi.
10. Belanja Fungsi Ekonomi pada pemerintah daerah, bisa difokuskan untuk kegiatan yang secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan dan belanja per kapita di daerah, atau dengan kata lain bisa berdampak terhadap peningkatan Pendapatan Regional bruto yang akan meningkatkan belanja/ konsumsi per kapita masyarakat 11. Demikian juga untuk belanja pada Fungsi Pendidikan, bisa difokuskan pada
kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung pada peningkatan tingkat lama sekolah dan rata-rata lama sekolah di wilayah masing-masing. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan dengan bantuan pendidikan secara langsung maupun peningkatan beasiswa pendidikan yang bisa dengan mudah didapat oleh masyarakat secara luas
12. Peningkatan jaminan kesehatan yang sudah bagus di Sulawesi Utara, perlu dipertahankan dan mungkin untuk ditingkatkan dengan akses pelayanan kesehatan yang secara mudah didapat oleh masyarakat dengan mudah, terutama untuk penanganan penyakit tidak menular (PTM) yang ada di masyarakat yang berbahaya.
Sehingga nantinya dapat lebih meningkatkan jaminan kesehatan bagi masyarakat dan juga meningkatkan usia harapan hidup.