A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan keterampilan proses sains peserta didik pada kelas yang menggunakan model pembelajaran discovery learning dengan kelas yang tidak menggunakan model disocvery learning jika nilai UAS dikendalikan secara statistik. Namun, berdasarkan hasil lembar observasi dan angket menunjukkan bahwa keterampilan proses sains peserta didik lebih baik dibandingkan kelas kontrol.
B. Implikasi
Implikasi dari hasil penelitian ini memberikan dampak positif bagi guru maupun peserta didik. Bagi guru, hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan gambaran mengenai model yang disarankan oleh pemerintah dalam Kurikulum 2013 edisi revisi, salah satunya model discovery learning. Sedangkan dampak positif bagi peserta didik ialah meningkatkan keterampilan proses sains meskipun tidak secara signifikan dan meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Sehingga, kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik menjadi lebih baik dari sebelumnya.
83 C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahsan yang diperoleh, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Pengukuran keterampilan proses sains peserta didik dengan model discovery learning sebaiknya dilakukan pada materi yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dari larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Sehingga, keterampilan proses sains peserta didik akan lebih terlihat.
2. Observer yang digunakan untuk mengamati keterampilan proses sains peserta didik sebaiknya menggunakan orang yang sama, hal ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan keterampilan proses sains peserta didik dari pengamatan pertama hingga pengamatan selanjutnya.
3. Apabila dilakukan penelitian yang serupa, sebaiknya tipe penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas (PTK), dimana dalam penelitian tersebut menggunakan beberapa siklus, sehingga hasil yang diperoleh akan lebih terlihat perbedaannya.
84
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2014). Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Aditama.
Aktamis, H.,& Ergin, O. (2008). The effect of scientific process skills education on students’ scientific creativity, science attitudes and academic achievements. Asia-Pacific Forum on ScienceLearning and Teaching, 4, 1-21.
Astuti, S.R. (2016). Pengembangan Instrumen Penilaian Terintegrasi untuk
Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis dan Keterampilan Proses Sains Kimia SMA Kelas X pada Materi Larutan Elektrolit. Tesis magister, tidak diterbitkan, Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta
Alex, A.M., & Olobusuyi, F.M. (2013). Guided-discovery Learning Strategy and Senior School Students Performance in Mathematics in Ejigbo, Nigeria. Journal of Education and Practice, 4, 82-89.
Arifin, Z. (2012). Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Aydin, A. (2013). Representation of science process skills in the chemistry
curricula for grades 10, 11 and 12 / turkey. International Journal of Education and Practice, 5, 51-63.
Bailer, J., Ramig, J.E., & Ramsey, J.M. (2006). Teaching Science Process Skills. Michigan: Milestone.
Balim, A.G. (2009). The effects of discovery learning on students’ succes and inquiry learning skills. Eurasian Journal of Educational Research, 35, 1-20. Bird, T. (1987). Kimia Fisika untuk Universitas. Jakarta: Gramedia.
Carin, A.A., & Sund, R.B. (1989). Teaching Science Through Discovery. United States of America: Merrill.
Dahar, R.W., & Liliasari. (1986). Buku Materi Pokok Pengelolaan Pengajaran Kimia. Jakarta: Depdikbud.
Dewi, R., Supriyanti, F.M.T., & Dwiyanti, G. (2016). Analisis penguasaan konsep larutan elektrolit-nonelektrolit siswa menggunakan siklus belajar hipotesis deduktif. EduChemia, 2, 98-109.
85
Djaali., & Muldjono, P. (2008). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Eggen, P., & Kauchak, D. (2012). Strategies and Models for Teachers: Teaching Content and Thinking Skills. United States of America: Pearson.
Hanafiah., & Suhana, C. (2012). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Hartono, R. (2013). Ragam Model Mengajar yang Mudah Diterima Murid. Yogyakarta: Diva Press.
Heru, K., & Richie, E. (2015). Pengaruh model pembelajaran instad terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif fisika di sma. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 2, 202-211.
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Irianto, A. (2009). Statistik: Konsep Dasar & Aplikasinya. Jakarta: Kencana. Keil, C., Haney, J. & Zoffel, J. (2009). Improvements in student achievement and science process skills using environmental health science problem-based learning curricula. Electronic Journal of Science Education, 13, 2-18.
McMurry, John, dkk. (2010). Fundamentals of General, Organic, and Biological Chemistry. United States of America: Pearson Education.
Prasetyo, B., & Jannah, L.M. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Purnomo, Y.W. (2011). Keefektifan model penemuan terbimbing dan cooperative learning pada pembelajaran matematika. Jurnal Kependidikan, 1, 37-54. Ratumanan, T.G. (2015). Inovasi Pembelajaran Mengembangkan Kompetensi Peserta Didik secara Optimal. Yogyakarta: Ombak.
Rauf, R.A.A., Rasul, M.D., Mansor, A.N., et al. (2013). Inculcation of science process skills in a science classroom. Asian Social Science, 9, 47-57.
86
Rezba, R.J., Sprague, C., McDonnough, J.T., et al. (2007). Leraning & Assesing Science Process Skills. United States of America: Kendall/Hunt Publishing Company.
Saefuddin, H.A., & Ika, B. (2015). Pembelajaran Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sahertian, P.A. (2000). Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sani, R.A. (2016). Penilaian Autentik. Jakarta: Bumi Aksara.
Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sastrohamidjojo, H. (2010). Kimia Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sheeba, M.N. (2013). An anatomy of science process skills in the light of the challenges to realize science instruction leading to global excellence in education. Educationia Confab, 2, 108-123.
Sholeh, M. (2014). Metodologi Pembelajaran Kontemporer. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara
Subana., Rahadi., M., & Sudrajat. (2010). Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Sudjana. (2002). Desain dan Analisis Eksperimen. Bandung: Tarsito Bandung. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan, R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. (2005). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukarna, I.M. (2003). Kimia Dasar 1. Yogyakarta: Jica.
Sundayana, R. (2014). Statistika Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Suprihatiningrum, J. (2014). Strategi Pembelajaran Teori & Aplikasi. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.
87
Suprijono, A. (2011). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyanti, R.D. (2010). Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu. Trianto. (2013). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan
Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara.
Udo, M.F. (2010). Effect of guided-discovery, student- centred demonstration and the expository instructional strategies on students’ performance in chemistry. An International Multi-Disciplinary Journal, 4, 389-398.
Usman, M.U., & Setiawati, L. (1993). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Widoyoko, E.P. (2016). Evaluasi Program Pembelajaran Panduan Praktiks Bagi Pendidik dan Calon Pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zeidan, A.H. &Jayosi, M.R. (2015). Science process skills and attitudes toward science among palestinian secondary school students. World journal of Education, 5, 13-24.