PEMERINGKATAN PRIORITAS KEBIJAKAN (AHP)
TOTAL BIAYA INVESTAS
6.4 Simulasi Titik Kitis Agroindustri Kerapu Budi Daya
Simulasi yang dilakukan pada subbab 6.1 lebih banyak membahas pengaruh perubahan berbagai variabel terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh pembenihan, pembesaran atau pascapanen dalam industri budi daya perikanan kerapu. Dalam sub bab ini dibahas tingkat ke-kritisan variabel tersebut terhadap output yang dihasilkan (dalam hal ini tingkat keuntungan usaha). Indikator utama yang digunakan untuk menilai kekritisan industri budi daya perikanan kerapu adalah tidak tercapainya keuntungan karena biaya yang dikeluarkan melebihi pendapatan yang diperoleh. Titik kritis variabel industri budi daya perikanan kerapu dilakukan untuk masing-masing subsistem usaha dan juga sistem secara keseluruhan.
6.4.1 Titik kritis pembenihan kerapu.
Variabel yang menentukan tingkat keuntungan pembenihan kerapu terdiri atas variabel teknis (produksi) dan variabel ekonomi terutama harga input maupun harga jual produk. Sejalan dengan variabel yang digunakan dalam simulasi sebelumnya, maka titik kritis dianalisis melalui simulasi untuk variabel teknis, yaitu tingkat fekunditas induk, persentase induk memijah, dan tingkat sintasan benih. Selain itu dianalisis juga titik kritis untuk variabel ekonomis yang terdiri dari harga jual benih dan harga pakan benih. Simulasi dilakukan dengan menetapkan tingkat keuntungan total sama dengan nol pada “objective” simulasi. Melalui proses simulasi ini dapat diketahui pada titik mana variabel-variabel itu mengakibatkan keuntungan sama bengan nol, dengan asumsi variabel lain pada kondisi normal.
Hasil simulasi dengan menggunakan model MAGRIPU dapat dilihat pada Lampiran 45 hingga 49. Secara keseluruhan, hasil simulasi titik kritis variabel pembenihan dapat dilihat pada Tabel 50.
Tabel 50 Hasil simulasi penghitungan titik kritis variabel pembenihan pada tingkat keuntungan pembenihan sama dengan nol
No Variabel Titik Kritis Keterangan
1 Fekunditas induk 221.011 Jumlah butir telur minimum per induk ikan.
2 Persentase induk memijah 2,95 Persentase minimum jumlah induk memijah dari populasi tersedia.
3 Sintasan benih 2,36 Persentase minimum
jumlah benih bertahan hidup.
4 Harga jual benih per ekor Rp 3.063,- Harga jual benih minimum per ekor untuk memperoleh keuntungan pembenihan. 5 Biaya pakan benih per ekor Rp 4.584,- Biaya pakan maksimal per
ekor benih selama pemeliharaan.
Dari Tabel 50 dapat dilihat bahwa usaha pembenihan akan mencapai kondiisi kritis, yaitu keuntungan mencapai titik nol apabila variabel-variabel yang disebutkan di atas mencapai titik kritis. Penghitungan titik kritis ini sebagaimana dapat dilihat pada lampiran hasil penghitungan, diperoleh dengan mengasumsikan variabel lainnya dalam keadaan normal. Kondisi normal
fekunditas induk adalah 1.500.000 butir / ekor, persentase induk memijah 20%, sintasan benih 16%, harga jual benih Rp 6.000,-, atau biaya pakan per ekor benih Rp 1.692,-.
6.4.2 Titik kritis pembesaran kerapu
Variabel-variabel yang digunakan dalam simulasi penghitungan titik kritis pembesaran kerapu terdiri dari tingkat sintasan ikan, padat penebaran, harga pakan ikan, harga benih, dan harga jual ikan. Titik kritis tersebut adalah pada titik mana masing-masing variabel akan mengakibatkan tingkat keuntungan pembesaran sama dengan nol, sedangkan variabel lainnnya diasumsikan pada kondisi normal. Penghitungan titik kritis tersebut dilakukan melalui simulasi dengan menggunakan model MAGRIPU yang dapat dilihat pada Lampiran 50 hingga Lampiran 54.
Hasil penghitungan titik kritis untuk pembesaran kerapu dapat dilihat pada Tabel 51.
Tabel 51 Hasil simulasi penghitungan titik kritis variabel pembesaran kerapu pada tingkat keuntungan pembesaran sama dengan nol.
No Variabel Titik Kritis Keterangan
1 Padat penebaran (ekor/ KJA)
43,79 Jumlah ikan ditebar minimum per KJA. 2 Sintasan ikan 21,26 % Persentase minimum
jumlah ikan bertahan hidup. 3 Harga benih per ekor Rp 25.244,- Harga beli maksimum
benih untuk memperoleh keuntungan budi daya. 4 Harga jual kerapu per ekor Rp 21.419,- Harga jual minimum per
ekor untuk memperoleh keuntungan budi daya. 5 Biaya pakan per ekor Rp 30.044,- Biaya pakan maksimal per
ekor ikan selama pemeliharaan.
Dari Tabel 51 dapat dilihat bahwa usaha pembesaran akan mencapai kondisi kritis apabila variabel-variabel yang disebutkan di atas mencapai titik sebagaimana terlihat pada tabel tersebut. Penghitungan titik kritis ini dilakukan secara satu persatu dengan mengasumsikan variabel lainnya dalam keadaan normal. Kondisi normal padat penebaran diasumsikan 500 ekor / KJA, sintasan
ikan pada 80%, harga benih Rp 6.000,-, harga jual kerapu Rp 40.000,-/ekor, atau biaya pakan per ekor Rp 10.800,-.
6.4.2 Titik kritis pascapanen kerapu
Variabel-variabel yang digunakan dalam simulasi penghitungan titik kritis pascapanen kerapu terdiri atas tingkat sintasan ikan, padat penebaran, harga pakan ikan, dan harga jual ikan. Titik kritis tersebut adalah pada titik mana masing-masing variabel akan mengakibatkan tingkat keuntungan pascapanen sama dengan nol, sedangkan variabel lainnya diasumsikan pada kondisi normal. Penghitungan titik kritis tersebut dilakukan melalui simulasi dengan menggunakan model MAGRIPU yang perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 55 hingga Lampiran 59.
Hasil penghitungan titik kritis untuk pascapanen kerapu dapat dilihat pada Tabel 52.
Tabel 52 Hasil simulasi penghitungan titik kritis variabel pascapanen kerapu pada tingkat keuntungan pascapanen sama dengan nol.
No Variabel Titik Kritis Keterangan
1 Padat penebaran (ekor/ KJA)
141,67 Jumlah minimum ikan ditebar per KJA.
2 Sintasan ikan 22,67% Persentase minimum jumlah ikan bertahan hidup.
3 Harga beli kerapu per ekor Rp 48.604,- Harga beli ikan maksimum untuk memperoleh
keuntungan pascapanen. 4 Harga jual kerapu per ekor Rp 51.424,- Harga jual minimum per ekor kerapu pascapanen. 5 Biaya pakan per ekor Rp 13.604,- Biaya pakan maksimal per
ekor ikan selama pemeliharaan.
Tabel 52 menunjukkan bahwa usaha pascapanen kerapu akan mencapai kondisi kritis apabila variabel-variabel yang disebutkan di atas mencapai titik sebagaimana terlihat pada tabel tersebut. Penghitungan titik kritis ini dilakukan secara satu persatu. Pada saat melakukan penghitungan titik kritis untuk salah satu variabel, maka variabel lainnya diasumsikan dalam keadaan normal. Kondisi normal padat penebaran adalah 500 ekor / KJA, sintasan ikan pada 80%, harga beli kerapu Rp 40.000,-, harga jual kerapu Rp 60.000,-/ekor, atau biaya pakan per ekor Rp 10.800,-.