REFORMULASI POLA KEMITRAAN PETANI TEBU-PABRIK GULA
SISTEM BELI PUTUS Konsep Dasar Beli Putus Tebu
Gula tebu terbentuk pada proses metabolisme tanaman tebu. Penerapan teknik budidaya dan ketepatan saat panen menentukan kandungan gula yang ada dalam batang tebu. Untuk mewujudkan hasil gula kristal, diperlukan peranan pabrik gula untuk memproses batang tebu. Artinya hasil gula juga dipengaruhi oleh kinerja PG. Kinerja petani menerapkan budidaya tebu dan kinerja PG menggiling tebu, adalah dua faktor yang saling mempengaruhi hasil gula dari tebu yang digiling.
Bunga Rampai "Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Komoditas Perkebunan"
| 139
Dari uraian di atas, maka idealnya penentuan rendemen tebu petani harus dilakukan dengan menghindarkan petani dari inefisiensi operasional PG. Hal ini akan dapat tercapai jika rendemen dapat ditetapkan bukan dari hasil riel gula yang dihasilkan setelah digiling tetapi ditetapkan sebelum digiling. Selain itu untuk memberikan rasa keadilan bagi tiap petani, maka rendemen harus dihitung per individu petani dengan menerapkan analisis rendemen individu (ARI). Tidak lagi ditetapkan rendemen secara kolektif untuk berbagai mutu tebu (rendemen hamparan). Hal tersebut menghindarkan petani dari inefisiensi yang mungkin timbul, petani dapat menjual tebu dan menerima harga sesuai dengan mutunya dan selanjutnya tanggung jawab penuh dari proses dan pemasaran di pihak pabrik. Dengan cara ini dapat diharapkan pihak pabrik akan berusaha meningkatkan kinerjanya agar tidak terjadi inefisiensi dalam proses. Prinsip tidak saling merugikan juga dipertimbangkan dalam sistem beli putus tebu. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: 1. Formulasi harga tebu harus dibuat berdasarkan kepentingan bersama dengan hasil saling menguntungkan petani dan pabrik gula.
2. Harga tebu dalam Sistem Beli Putus ditetapkan berdasarkan kualitas tebu.
3. Indikator kualitas tebu adalah rendemen.
4. Rendemen ditetapkan melalui pengukuran secara individu (Analisi Rendemen Individu).
5. Penghitungan rendemen harus dapat dilakukan sebelum tebu masuk proses pengolahan.
6. Metode penetapan rendemen harus dilakukan dengan teknik pengambilan sample yang dapat mewakili tebu yang akan diukur rendemennya.
7. Dalam pelaksanaan di lapangan, metode dan teknik yang dipilih harus dapat dikerjakan secara mudah, praktis dan transparan. 8. Perlu adanya penetapan angka konstanta kinerja pabrik sebagai
penentu rndemen tebu petani. Salah satu yang tersedia adalah FR yang harus ditetapkan dalam bentuk Surat Keputusan yang menjadi payung hukum bagi semua stake holder. Besarnya FR
harus mampu memberikan hasil rendemen tebu petani sesuai dengan hak petani tetapi masih dalam jangkauan kondisi riel pabrik gula yang menggiling tebu petani.
Selama ini biaya produksi tebu dianggap proporsinya sama dengan bagian gula yang diperoleh dalam sistem bagi hasil. Oleh sebab itu sistem beli putus tebu menggunakan rumus dasar harga tebu berdasarkan konsep bagi hasil sebagai berikut (Puslitbangbun, 2011):
Harga tebu = (gula bagian petani x harga gula) + (tetes bagian petani x harga tetes)
Jika rumus ini diterjemahkan dengan bagi hasil maka harga per ton tebu dapat dirumuskan sebagai berikut :
Harga tebu = 1.000 {(0,66 x R x harga gula) + (2,5% x harga tetes)}
Mutu tebu yang dihasilkan petani dicerminkan oleh Nilai Nira Perahan Pertama (NNPP). NNPP ini dihitung dengan mengukur angka brix dan pol tebu. Perhitungan dengan Metode Jombang adalah
NNPP = pol – 0,4 (brix – pol), sementara itu potensi rendemen tebu
dipengaruhi oleh Kadar Nira Tebu (KNT). Dalam Metode Jombang
Potensi Rendemen = NNPP x KNT. Nilai inilah yang
menggambarkan besarnya gula yang seharusnya dihasilkan oleh petani. Di lapangan penentuan rendemen sebelum giling dapat dilakukan dengan metode perhitungan lain. Umumnya pabrik gula membuat kesepakatan dengan petani dalam mengitung rendemen dari contoh tebu yang diambil. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam penetapan rendemen tebu sebelum digiling adalah pengambilan sample tebu dari truk atau sekelompok truk yang akan diukur rendemennya. Pada prinsipnya contoh tebu harus dapat mewakili sejumlah tebu yang akan diukur rendemennya. Pengambilan contoh tebu dapat langsung diambil dari atas trus atau pada saat tebu dibongkar di meja tebu. Pengambilan dapat dilakukan secara manual atau dengan alat yang dikenal dengan Core Sampler. Rumus standar Metode Jombang sebagai berikut:
Bunga Rampai "Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Komoditas Perkebunan"
| 141
Rs = NNPP x FR
Potensi Rendemen = NNPP x KNT x 100
FR = KNT x HPB Total/100 x PSHK/ 100 x WR/100
Efisiensi gilingan = HPB Total/100 x PSHK/ 100
Efisiensi pengolahan = WR = Rendemen efektif % Rendemen
pabrik
Rendemen efektif = hablur % tebu
Rendemen pabrik = nilai nira mentah x (nira mentah % tebu)
Hasil Observasi Kaji Terap Sistem Beli Putus
Observasi kaji terap sistem beli putus tebu yang dilakukan oleh Puslitbangbun (2011) pada tiga perusahaan yang mengelola pabrik gula menunjukkan bahwa penetapan rendemen berdasarkan hasil analisis rendemen individu petani masih beragam baik dari segi fasilitas pengukuran rendemen maupun tata kelola data hasil pengukuran sebagai dasar penetapan rendemen. Berikut ini dikemukakan hasil observasi di ketiga perusahaan PG tersebut.
Pabrik Gula Bunga Mayang Lampung dengan Core Sampler
Pabrik gula Bunga Mayang pada tahun giling 2010 mulai melakukan sistem penentuan rendemen tebu sebelum tebu digiling. Rendemen diukur dengan cara mengambil sample tebu dari atas truk dengan alat core sampler. Sample tebu yang telah diambil selanjutnya diukur brix dan polnya sebagai dasar menghitung rendemen sementara. Pada awalnya pengukuran brix dan pol dilakukan secara manual sebagai dasar untuk melakukan pengukuran secara cepat dengan alat NIR (Near Infra Red). Pada tahun giling 2011 sedang dilakukan tahap pengisian data untuk kalibrasi alat pengukuran Brix dan Pol tebu dengan metode NIR. Dengan NIR pengukuran brix dan pol dilakukan secara cepat setelah nira tebu contoh diambil. Pada prinsipnya core sampler adalah salah satu cara pengambilan contoh tebu dari sekumpulan tebu yang berada di atas truk pengangkut. Urutan pekerjaan pengukuran Rendemen dengan Core Sampler adalah sebagai berikut :
1. Pengambilan contoh dengan alat Core Sampler dengan kemiringan ± 60⁰. Contoh tebu yang diambil 3-5 kg
2. Contoh tebu yang telah diambil dihancurkan dengan Shcredder (dicacah)
3. Contoh ditimbang
4. Contoh diperah dengan hidrolik press tekanan 2.500 psi untuk memperoleh perahan nira setara dengan gilingan I pada pabrik gula sehingga nira yang keluar setara dengan Nira Perahan Pertama (NPP)
5. Nira ditimbang untuk menghitung kadar nira perahan pertama (KNPP)
6. Pengukuran brix dan pol dari nira sample.
Spesifikasi alat yang digunakan sebagai berikut: 1. Core Sampler Honiron 701
2. Shredder Honiron 702
3. Motor 60 HP, 45 kw 1770 rpm 2,5-3 menit per sampler 4. Kapasitas alat setara untuk 2.500 tcd
5. Alat pemerah tebu cacah tipe hidrolik press tekanan 300 kg/cm2 (2500 psi)
6. Faktor perah 60-70%
Perhitungan rendemen dari hasil pengukuran menggunakan rumus : Rendemen(Rs) = NNPP x KNPP x Faktor kristal x 100 NNPP = pol – 0,4 (brix – pol)