NERACA AWAL PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR
XII. SISTEM DAN PROSEDUR PENILAIAN BARANG DAERAH
a. penilaian barang milik daerah dilakukan dalam rangka pengamanan dan
penyusunan neraca daerah;
b. penilaian barang milik daerah berpedoman pada standar akuntansi
Kabupaten Aceh Timur;
c. kegiatan penilaian barang milik daerah harus didukung dengan data yang
akurat atas seluruh kepemilikan barang milik daerah yang tercatat dalam daftar inventarisasi barang milik daerah; dan
d. penilaian barang milik daerah selain dipergunakan untuk penyusunan
neraca daerah, juga dapat dipergunakan dalam rangka pencatatan, inventarisasi, pemanfaatan, pemindahtanganan dan inventarisasi.
Pelaksanaan Penilaian Barang Milik Daerah
a. pelaksanaan penilaian barang milik daerah dilakukan oleh Tim yang
ditetapkan dengan Keputusan Bupati dan dapat melibatkan lembaga independen bersertifikat dibidang penilaian aset;
b. lembaga independen bersertifikat dibidang penilaian aset adalah
perusahaan penilai yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. Tim penilai kompeten ditetapkan dengan Keputusan Bupati Aceh Timur.
Ketentuan Khusus
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa untuk penetapan nilai barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca Kabupaten Aceh Timur dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Adapun ketentuan yang ditetapkan dalam Standar Akuntansi Pemerintahan untuk penetapan nilai barang milik pemerintah adalah dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Tanah
Tanah dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan mencakup harga pembelian atau biaya pengadaan tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya pematangan, pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai. Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, apabila penilaian tanah dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan, maka nilai tanah didasarkan pada nilai wajar/harga taksiran pada saat perolehan. Nilai wajar yang dimaksud adalah harga perolehan jika tanah tersebut dibeli setahun atau kurang dari tanggal neraca awal. Jika tanah diperoleh lebih dari 1 (satu) tahun sebelum tanggal neraca awal, maka nilai wajar tanah ditentukan dengan menggunakan rata-rata harga jual beli tanah antar pihak-pihak independen di sekitar tanggal neraca tersebut untuk jenis tanah yang sama. Apabila tidak terdapat nilai pasar maka dapat menggunakan NJOP terakhir.
b. Gedung dan Bangunan
Gedung dan bangunan dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian gedung dan bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan.
Biaya perolehan gedung dan bangunan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tersebut.
Jika gedung dan bangunan diperoleh melalui kontrak, biaya perolehan meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan serta jasa konsultan.
Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, apabila penilaian dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai gedung dan bangunan didasarkan pada nilai wajar/harga taksiran pada saat perolehan. Nilai wajar yang dimaksud adalah harga perolehan jika gedung dan bangunan tersebut dibeli setahun atau kurang dari tanggal neraca awal. Jika gedung dan bangunan diperoleh lebih dari 1 (satu) tahun sebelum tanggal neraca awal, maka nilai wajar gedung dan bangunan ditentukan dengan menggunakan NJOP terakhir. Jika terdapat alasan tidak menggunakan NJOP maka dapat digunakan dengan nilai taksiran oleh tim penilai yang kompeten yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dengan memperhitungkan faktor penyusutan.
c. Peralatan dan Mesin
Peralatan dan mesin dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan ini meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.
Biaya perolehan peralatan dan mesin yang diperoleh melalui kontrak meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan dan jasa konsultan.
Biaya perolehan peralatan dan mesin yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan dan semua biaya lainnya
yang terjadi berkenaan dengan pembangunan peralatan dan mesin tersebut.
Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, apabila penilaian dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai peralatan dan mesin didasarkan pada nilai wajar/harga taksiran pada saat perolehan. Nilai wajar yang dimaksud adalah harga perolehan jika peralatan dan mesin tersebut dibeli setahun atau kurang dari tanggal neraca awal. Jika peralatan dan mesin diperoleh lebih dari 1 (satu) tahun sebelum tanggal neraca awal maka ditentukan dengan membandingkannya dengan harga pasar peralatan dan mesin yang sejenis dalam kondisi yang sama. Apabila harga pasar tidak tersedia, maka digunakan nilai taksiran oleh tim penilai yang kompeten yang
dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dengan
memperhitungkan faktor penyusutan.
d. Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Jalan, irigasi, dan jaringan dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan untuk jalan, irigasi, dan jaringan yang diperoleh melalui kontrak meliputi biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, biaya pengosongan, dan pembongkaran bangunan lama. Biaya perolehan untuk jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun secara swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan lama untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, apabila penilaian dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan, maka digunakan nilai taksiran oleh tim penilai yang kompeten yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dengan memperhitungkan fungsi dan kondisi aset.
e. Aset Tetap Lainnya
Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut sampai siap pakai.
Biaya perolehan aset tetap lainnya yang diperoleh melalui kontrak meliputi pengeluaran nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan serta biaya perizinan.
Biaya perolehan aset tetap lainnya yang diadakan melalui swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, dan jasa konsultan.
Untuk aset lainnya dalam bentuk aset bersejarah dicatat dalam kuantitasnya tanpa nilai, misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah monumen dan aset tersebut tidak disajikan dalam neraca namun dicatat dalam catatan atas laporan keuangan. Biaya untuk perolehan, konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut. Biaya tersebut termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan.
Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, apabila penilaian dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan, maka digunakan nilai wajar/nilai taksiran jika aset tersebut dibeli pada tanggal neraca. Penilaian nilai wajar tersebut ditentukan oleh tim penilai yang kompeten yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dengan memperhitungkan fungsi dan kondisi aset.
f. Konstruksi dalam Pengerjaan
Konstruksi dalam pengerjaan dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan konstruksi dalam pengerjaan yang dikerjakan secara swakelola meliputi:
1) biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi yang
mencakup biaya pekerja lapangan termasuk penyelia, biaya bahan, pemindahan sarana, peralatan dan bahan-bahan dari dan ke lokasi konstruksi, penyewaan sarana dan peralatan serta biaya rancangan dan bantuan teknis yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi; dan
2) biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan umumnya dan dapat
dialokasikan ke konstruksi tersebut mencakup biaya asuransi, biaya rancangan dan bantuan teknis yang secara tidak langsung berhubungan dengan konstruksi tertentu, dan biaya-biaya lain yang dapat diidentifikasikan untuk kegiatan konstruksi yang bersangkutan seperti biaya inspeksi. Biaya perolehan konstruksi dalam pengerjaan yang dikerjakan melalui kontrak, meliputi:
a) termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan
dengan tingkat penyelesaian pekerjaan; dan
b) pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga
sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi.
Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, dokumen sumber untuk mencatat nilai konstruksi dalam pengerjaan ini adalah akumulasi seluruh nilai Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) atau surat yang dipersamakan yang telah dikeluarkan untuk aset tetap yang bersangkutan sampai dengan tanggal neraca.
g. Aset Tak Berwujud
Dokumen sumber yang digunakan untuk menentukan nilai aset tak berwujud atau aset lainnya adalah SP2D untuk belanja modal non fisik setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang tidak dapat dikapitalisir.