• Tidak ada hasil yang ditemukan

Esok harinya, saat panen padi akan dimulai, pemilik ladang dengan pawang sebagai pennnpin menyiapkan tempat di 1adang yang

B. SISTEM KEPEMIMPINAN TRADISIONAL SUKUBANGSA

PEKAL DI DESA SffiAK KECAMATAN IPUH

Mengawali pembahasan pada bab ini tidak keliru kiranya menempatkan konsep gedang begele dalam sistem kepemimpinan tradisional sukubangsa Pekal di Desa Sibak sebagai bagian dari kerifan lokal masyarakat pendukungnya. Hal tersebut terutama didasarkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan tradisional, sebagai bagian dari kebudayaan lokal yang kemudian dipraktikkan oleh masyarakat Desa Sibak, merupakan buah dari pemikiran dan perenungan para warga des a dalam menata kehidupan sosial kem�yarakatan. 14Kenyataan kemudian 14 Perubahan adalah keniscayaan dala m kehidupan manusia. Perubahan­ perubahan yang t eijadi bukan saja berhubungan dengan lingkungan fisik, tetapi juga dengan budaya manusia. Hubungan erat antara man usia dan lingkungan kehidupan fisiknya itulah yang melahirkan buda ya manus ia. Budaya lahir karena kemampuan manusia mensiasati lingkungan hidupnya agar t etap layak untuk ditinggali waktu demi waktu. Kebudayaan dipandang sebagai manifestasi kehi du pan s etiap orang atau kelompok orang yang s elalu mengubah alam Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan s etiap orang atau kelo mpok dalam menentukan h ari depannya. Kebudayaan merupakan aktivitas yang dapat diarahkan dan direncanakan Peursen (1976:10-11). Oleh sebab itu, dituntut adanya kemampuan, kreativitas, dan penemuan-penemuan

membuktikan hingga konteks kehiduJEl kekinian bahwa, di tengah kegamangan banyak warga desa di Kecamatan lpuh untuk menerapkan konsep kepemimpinan tradisional, sehingga kemudian meninggalkan serta menggantinya dengan konsep yang dianggap lebih relefan dan modem, masyarakat Des a Sibak tetap eksis mewarisi pemikiran kolektif generasi terdahulu mereka.

Dalam sejumlah kepustakaan, kearifan lokal sering diidentikkan dengan

local wisdom,

atau yang lebih tepat

local knowledge.

Kearifan lokal idealnya lebih pas disebut penemuan/temuan tradisi

(invention of

tradition).

Buku

The Invention of Tradition

yang dieditori oleh Eric Hobsbawm dan Terence Ranger

(1983)

menggunakan istilah tersebut. Hobsbawm dalam buku tadi menguraikan

"invented tradition"

sebagai seperangkat praktik, yang biasanya ditentukan oleh aturan-aturan yang berterima secara jelas atau samar-samar maupun suatu ritual atau sifat simbolik, yang ingin menanamkan nilai-nilai dan norma-norma perilaku tertentu melalui pengulangan, yang secara otomatis mengimplikasikan adanya kesinambungan dengan masa lalu. Dari definisi di atas, kearifan lokal memiliki ciri berrnatra tiga waktu, yaitu masa lalu, sekarang dan masa depan, sehingga dimungkinkan ada upaya sambung-menyambung dan

sutwing

kehidupan manusia dalam seting dan konteks yang berubah-ubah sesuai zamannya. Di sini yang dipentingkan adalah bagaimana kearifan lokal dapat memberikan kebermafaatan yang berlcelanjutan bagi masyarakat seluas-luasnya yang mef!iadi pendukung kebudayaan setempat.

Mengacu pada perspektif tersebut, realitas yang sebenamya adalah masa kini

(present)

dengan segala permasalahan yang dihadapkan kepada manusia di dalam lingkungan hidupnya. Masa kini sebagai realitas adalah basil interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Bila perubahan lingkungan fisik membuat manusia hams mensiasatinya dan melahirlcan budaya-budaya yang terns menerus disesuaikan, maka perubahan-perubahan budaya itu juga mesti disiasati demi keberlangsungan hidup manusia. Dengan pengakuan terhadap perubahan sebagai keniscayaan dan kemampuan manusia mensiasati lingkungan dan budayanya, maka kearifan lokal

(local wisdom)

bisa mendapatkan tempatnya sebagai bagian dari siasat kebudayaan itu.

Menelisik pengertian kearifan lokal, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat pengertian kamus tentang istilah itu. Dalam pengertian kamus, kearifan lokal

(local wisdom)

terdiri dari dua kata,

barn. Manusia tidak hanya membiarkan diri dalam kehidupan lama melainkan dituntut mencari jalan baru dalam mencapai k ehidupan yang lebih manusiawi.

yaitu kearifan

(w isdom)

dan lokal

(local).

Dalam Kamus Jnggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadily,

local

berarti setempat, sedangkan

w isdom

(kearifan) sama dengan kebijaksanaan Kearifan lokal secara sederhana dapat diartikan sebagai kebijaksanaan lokal. Secara filosofts , kearifan lokal dapat diartikan sebagai sistem pengetahuan masyarakat lokal atau pribumi

( indigenous knowledge

systems)

yang bersifat empirik dan pragmatis. Bersifat empirik karena hasil olahan masyarakat secara lokal berangkat dari fakta-fakta yang teijadi di sekeliling kehidupan mereka. Bertujuan pragmatis karena seluruh konsep yang tetbangun sebagai basil olah pikir dalam sistem pengetahuan itu bertujuan untuk pemecahan masalah sehari-hari

(daily

problem solving).

Dalam pengertian yang lebih luas, kearifan lokal dapat dipahami sebagai berikut:

"Local w isdom is the knowledge that discovered or

acquired by local people through the accumulation of

experiences in trials and integrated w ith the

understanding of surround dingnature and culture.

'Traditional knowledge, indigenous knowledge, and

local knowledge generally refer to the matured

long-standing traditions and practices of certain regional,

indi genous, or local communities. Traditional knowledge

also encompasses the local, knowledge, and teachings of

these communities. In many cases, traditional

knowledge has been orally passed for generations from

person to person. Some forms of traditional

knowledge are expressed through stories, legends,

folklore, rituals, songs, and even laws. Other forms of

traditional knowledge are often expressed through difforen

tJneans."

Dari definisi-definisi itu dapat dipahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai jiwa dari budaya lokal. Hal itu dapat dilihat dari ekspresi kearifan lokal dalam kehidupan setiap hari karena telah terinternalisasi dengan sangat baik. Tiap bagian dari kehidupan masyarakat lokal diarahkan secara arif berdasarkan sistem pengetahuan mereka, dimana

tidak hanya bennanfaat dalam aktifitas keseharian dan internksi dengan sesama saja, tetapi juga dalam situasi-situasi yang tidak terduga seperti bencana yang dating tiba-tiba. Berangkat dari semua itu, kearifan lokal adalah persoalan identitas. Sebagai sistem pengetahuan lokal, ia membedakan suatu masyarnkat lokal dengan rnasyarakat lokal yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari tipe-tipe kearifan lokal yang

dapat ditelusuri: \

1. Kearifan lokal dalam hubungan dengan makanan

2. Kearifan lokal dalam hubungan dengan pengobatan \

3. Kearifan lokal dalam hubungan dengan sistem kepemimpinan 4. Kearifan lokal dalam hubungan dengan perumahan

5. Kearifan lokal dalam hubungan dengan pakaian 6. Kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia

7. Kearifan lokal dalam hubungan produksi

Bila ada sistem pengetahuan lokal, maka ada juga sistem pengetahuan global. Apabila sistem pengetahuan lokal merupakan kategori pembeda antara suatu komunitas lokal dengan komunitas lokal yang lain, maka sistem pengetahuan global berupaya mengatasi semua pengetahuan lokal dan menjadikan semua masyarakat lokal terintegrasi ke dalam satu sistem pengetahuan saja. Apabila sistem pengetahuan lokal muncul dalam bentuk mitos-mitos tradisional, maka sistem pengetahuan global muncul pula dalam mitos-mitoo modem

Definisi tentang pembangunan akan terus mengalami perubahan, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Tetapi pada umurrmya, pembangunan diartikan sebagai suatu proses perubahan dari kondisi yang tidak baik menjadi yang lebih baik Indikator-indikator yang menunjukkan suatu kondisi tidak baik tidak ditentukan begitu saja, tetapi ada prosesnya tersendiri. Dalam perspektif pembangunan secara umum, pembangunan ekonomi mendapatkan porsi yang lebih karena indikator kemajuan suatu negara adalah pertumbuhan ekonomi yang baik Namun, untuk memahami pembangunan ekonomi, mesti melibatkan perspektif politik. Hal itu disebabkan karena pe rumusan kebijakan pembangunan merupakan proses politik yang melibatkan beragam aktor - mulai dari negara, birokrat, politisi, pengusaha, lembaga swadaya masyarakat hingga masyarnkat itu sendiri - dengan beragam kepentingan pula, yang interaksinya bisa jadi saling berbenturan. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mengatasi konflik tersebut, para aktor dituntut melakukan berbagai negosiasi dan kompromi.

Dalam kerangka politik pemerintahan lokal, nilai-nilai kepemimpinan tradisional kiranya tetap harus diupayakan mendapatkan tempat yang layak, baik oleh masyarakat pemiliknya maupun oleh pihak pemerintah. Investasi pemikiran komunal demi pertumbuhan kehidupan yang lebih baik dalam berbagai aspek adalah lebih penting untuk dipraktikkan dalam suatu tindakan berkelanjutan bagi masa depan manusia yang menjadi inti dari kearifan masyarakat lokal. Oleh karena itu, menjadi miris dalam paradigma dimaksud ketika dalam beberapa kasus, bukan saja sistem pengetahuan lokal masyarakat yang terpinggirkan, tetapi juga masyarakat lokal s�ara fisik dipinggirkan atau direloka-;i dengan alasan pembangunan. Apalagi, dengan alasan investasi pula, keamanan menjadi faktor penting dalam pembangunan, yang pada gilirannya juga berdampak bagi kepercayaan satu kelompok masyarakat untuk mempertahankan identitas lokal-traditional mereka. Struktur pengamanan dibangun sampai ke pelosok-pelosok desa dengan melibatkan aparat-aparat negara yang cenderung tidak memahami cara­ cara masyarakat lokal menyelesaikan sengketa di antara mereka.

Kiranya, apabila masyarakat Desa Sibak terorganisir dengan baik dan mendapatkan tempatnya dalam menentukan dan mengatus sistem pemerintahan, sistem sosial dan budaya, maka berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat ini akan bertahan menyambut masa depan. Olth karena itu, masyarakat Desa Sibak akan terus mampu membuktikan bahwa masyarakat lokal-traditional telah lama menjadi basis pertempuran antara masyarakat vs negara, sialisme vs kapitalisme. Secara sosio-historis terbukti bahwa kehidupan warga Desa Sibak berbasis sistem kepemimpinan kerakyatan (praktiknya mendahului istilah). Hak dan kewenangan para warga yang terkelompok ke dalam kaum dikelola s�ara komunal-demokrtatis serta berpondasikan semangat egalitarian dan pemerataan. Ketentuan-ketentuan adat tidak mengenal kepemilikan pribadi yang mutlak temadap peran dan fungsinya dalam struktur pemerintahan desa, sehingga relatif dapat dapat mencegah terjadinya berbagai ketimpangan sosial maupun politik dalam kehidupan bermasyarakat.

1. Konsep Gedang Begele

Secara bahasa, kata gedang dalam ungkapan gedang begele berarti

besar sementara kata begele berarti bergilir, sehingga ungkapan tersebut lengkapnya berarti besar bergilir . Dalam pengucapan sehari-hari, oleh masyarakat Desa Sibak kata gedang sering ditambah dengan awalan di

dan akhiran kan, sehingga kata tersebut mel1iadi di-gedang-kan. Kata

digedangkan memiliki arti yang sama dan sepadan dengan di-besar-kan.

dengan menambahkan akhiran

ran

di akhir kata

begele,

sehingga kata tersebut menjadi

be-gele-ran.

Kata

begeleran

sepadan dengan kata

bergiliran.

Pooa masyarakat Pekal di Desa sibak biasa lahir pemyataan bahwa

gedang karena digedangkan.15 Pemyataan tersebut mengacu pada setiap

pribadi yang kemudian didaulat menjadi pemimpin serta menduduki satu jabatan di tengah masyarakat. Maknanya adalah, tidak ada satu orang pun warga Desa Siook yang kemudian besar atau dianggap memiliki kebesaran karena memimpin serta memangku satu j aootan, tampa bantuan, duktmgan dan persetujuan dari masyarakat secara umum. Seorang pemimpin tersebut besar

(gedang)

karena dibesarkan

(digedangkan)

oleh masyarakat. Pemahaman tersebut tertanam dalam fikiran masyarakat Desa Sibak, tidak hanya pada masyarakat awam, namun juga oleh setiap indifidu yang sedang duduk p:tda satu jabatan tertentu. Selanjutnya, dalam kata

begele

(bergilir) atau

begeleran

(bergiliran) dalam ungkapan

gedang begele

terkooung makna bahwa konsep besar atau kebesaran yang diberikan oleh masyarakat kep:tda seseorang yang kemudian didaulat sebagai pemimpin, tidaklah bersifat selaman ya. Artinya, jabatan yang kemudian mengantrukan seseorang menjadi besar adalah bersifat sementara, yang p:tda gilirannya akan dilepas dan diberikan kembali kepada masyarakat. Oleh karena itu, konsep

gedang

(besar) untuk seorang pemimpin dan mekanisme

begele

(bergilir) dalam proses pergantian pemimpin sebagaimana tersirat melalui ungkapan

gedang begele,

merupakan konseptual-teoritis yang kemudian menjadi milik serta kewenangan penuh dari masyarakat Desa Sibak Secara keseluruhan.

Menurut Hj. Zainul,

16

konsep

gedang begele

merepresentasikan pemahaman kolektif masyarakat Des a Sibak terhadap eksistensi mereka, terutama terkait dengan sistem kepemimpinan di tengah masyarakat,

15 Kata pekal dalam bahas a orang Pekal lebih diartikan kepada mengkal, yang berkonotasi pada jenis buah yang belum masak, atau lebih tepatnya setengah masak Menurut Suyudi (2004) kata "mengkal" mengacu pada bahasa dan pola budaya campuran dari beberapa kebudayaan yang diambil setengah-setengah, diantaranya Minangkabau di Sumatern Barat, Palembang, Bengkulu Kota dan Ja mbi. Ciri khas dialek Pekal Ipuh yang sulit dituliskan adalah h uruf U yang dibaca agak melandai. Untuk penulisan dalam bahasa Indonesia ditambahkan huruf "e" t api tidak dibaca kental sehingga mirip bunyi huruf "ue". Ciri umum lainnya, huruf "r" menjadi "h"; kurang = kuhang, orang= uhang dan huruf "h" diakhir kata menjadi seperti memanah = manak, rumah = umak Bahasa Pekal juga cenderung berpola MD (menerangkan diterangkan) terutama untuk kata s anggahan seperti lamo idok, tau idok, terimo idok yang artinya tidak lama, tidak tahu dan tidak terima. D ialek P ekal betbeda-beda di tiap-tiap daerah.

16

Ketua B adan Musyawarah Adat Kecamatan lpuh Kabupaten Muko-Muko, perwakilan dari Des aS ibak, wawancara t ang gal 25 April 2011.

baik dalam konteks kehidupan beradat-berdesa maupun dalam konteks kehidupan beragama (syara'). Pooa praktiknya, konsep tersebut

terealisasi dalam kehidupan politik tradisional masyarakat serta

menandai proses pergiliran dan pergantian dari beberapa unsur

pemimpin tersebut atas beberapa jabatan yang ada. Menjadi bagian dari

kearifan lokal

(lolwl geniu)

masyarakat konsep tersebut lahir melalui

proses pengamatan dan pembelajaran generasi terdahulu masyarakat Desa sibak pada khususnya serta masyarakat sukubangsa Pekal pada umumnya temadap berbagai fenomena yang secara natural-alamiah berlangsung di alam sekitar mereka.

Secara sosial, melalui konsep

gedang begele

masyarakat Desa Sibak memperkenalkan identitas kolektif mereka sebagai masyarakat adat kepada masyarakat luar, sekaligus membuktikan bahwa mereka memilki komitmen yang kuat untuk mempertahankan ketentuan­ ketentuan adat yang telah mereka miliki sejak lama. Sebagaiman diakui oleh Kanadi, S.Sos.,17 masyarakat Desa Sibak telah mampu

membuktikan bahwa kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah secara admistratif tidak mesti menghapuskan norma-norma adat yang dimilki oleh satu kelompok masyarakat. Dengan metodologi yang tepat, kedua sistem hukum tersebut sebenamya dapat dipraktikkan secara bersamaan serta bersifat saling mengisi dan melengkapi di tengah kehidupan termasyarakat.

Secara implisit, konsep kepemimpinan

gedang begele

pada proses pergiliran dan pergantian unsur pemimpin sebagaimana diterapkan oleh masyarakat Desa Sibak mengisayaratkan semangat dan kesadaran yang dimiliki oleh setiap kelompok kaum yang ada untuk secra bergilir dan bergantian menduduki setiap tingkatan jabatan guna tegaknya nilai-nilai keadilan di tengah masarakat. Sebagaiman diterapkan hingga konteks kehidupan sekarang, keteradaan seorang pemimpin di tengah masyarakat Desa Sibak terklasifiasi pada beberapa jabatan funsional dalam konteks kewenangan menurut konsep adat, 18 kewenangan 17 Camat K ecamata Ipuh Kabupaten Mukomuko, wawancara tang gal 25 April

2011.

18

Terutama teikait dengan keharusan bagi mas yarakat Des a Sibak untuk juga memakai beberapa istilah jabatan pada sist em pemerintahan desa, seperti Kepala Desa, Sekretaris D esa, Kepala Urusan (KAU R) Pemerintahan, K epala Urusan (KAUR) Pembangunan dan Kepala Urusan (KAUR) Umum, yaitu berdasarkan ketentuan pemerintah, maka beberapa i stilah jabatan dalam kont eks adat, yaitu Kepala Desa atau Kepala Dusun pada kehidupan masa lalu, Alegan, Peman g ku Gedang , Pem angku Kecik dan Pung gawa, temyata kemudian digunakan secara bersamaan. Oleh karena itu, bagi m as yarakat Desa Sibak adalah hal yang bi asa untuk meny ebut S ekdes dengan sebutan Alegan, men yebut KAUR Pemerintahan dengan sebutan Pemangku Gedang,

menurut hukum agama (syara') serta kewenangan berdarkan pemahaman supranatural-tradisi Berdasarkan kewenangan memmlt

konsep adat, masyarakat Desa Sibak memiliki struktur pemimpin yang didasarkan pada beberapa tingkatan, yaitu Datuk Bangso Radin untuk menyebut jabatan Kepala Desa, Alegan untuk menyebut Sekretaris Desa, Pemangku Besar untuk menyebut Kepala Urusan Pemerintahan, Pemangku Kecik untuk menyebut Kepala Urusan Pembangunan dan Pl.lllggawa l.llltuk istilah jabatan Kepela Urusan Umum. Sementara itu, pada konteks kehidupan keagamaan (syara'), yang akrap diistilahkan denggan perrangkat syara' masyarakat Desa Sibak memiliki istilah jabatan hnam!Khadi sebagai pemimpin struktur perangkat syara', Imam, Khatib, Bilal, Saihl dan Imam Jumat.

Berdasarkan konsep

gedang begele,

lima jabatan pada konteks kehidupan beradat-berdesa dan beragama tersebut terisi secara bergiliran

(begele)

oleh perwakilan dari lima kaum yang ada pada masyarakat Desa Sibak, yaitu Kaum 14.1, Kaum 14.2, Kaum Melalu Gedang, Kaum Melayu Kecik serta Kaum Air Pisang. Setiap kaum memiliki keempatan yang sam a l.llltuk duduk pada satu j abatan tertentu, yang diperoleh secara bergiliran berdasarkan periodesasi waktu yang telah ditetapkan. Sebagai pennisalan, apabila anggota kaum 14.1 yang duduk pada jabatan kepala desa (bergelar Datuk Ban�o Radin) pada konteks adat dan hnam pada konteks syara', maka jabatan

a/egan atau sekretaris

desa dan jabatan Khatib akan diisi oleh anggota kaum 14.2. Selanjutnya,

jabatan pemangku gedang

atau Kepala Urusan Pemerintahan dan

jabatan Bilal akan diduduki oleh anggota Kaum Melayu Gedang serta jabatan

Pemangku Kecik atau Kepala Urusan Pembanguna

dan jabatan Saih akan diisi oleh anggota Kaum Melayu Kecik Terakhir, jabatan

Penggawa

atau Kepala Urusan Umum dan jabatan Imam Jumat akan

diduduki oleh anggota Kaum Air Pisang.19 Sebagaimana terlihat pada hagan-hagan berikut, yang menunjukkan hirarki kepemimpinan pada aspek pemerintahan desa, pada aspek kepemimpinan berdasarkan ketentuan syara', pada aspek kepemimpinan berdasarkan kewenangan adat dan pada aspek kepemimpinan dukun nagari di Desa Sibak.

menyebut KAUR Pembangunan dengan sebutan Pemangku kecik dan menyebut KAUR Umum de ngan sebutan Punggawa.

19 Berdas aikan k onsep kepemimpinan tradisional masy arak at Desa S ibak memilki istilah kepala desa (gelar D atuk Bangso Radin) ootuk j abatan kepala desa seba gaimana ditetapk an oleh pemerintah, istilah Ale gan untuk Se kdes, istilah Pemangku Gedang untuk KAU R P emerintahan, i stilah Pemangku Kecik untuk KAUR Pembangunan dan istil ah Penggawa untuk Kaur Umum

l

.!

Bagan 1

Struktur Jabatan/Kepemimpinan Desa K""'

U

Desa

Sekdes (Pegawai Negeri)

u