E. Teori Cognitive-Affective Personality System
3. Sistem Kepribadian Cognitive-Affective
Untuk memecahkan paradoks konsistensi yang klasik, Mischel dan Shoda (Mischel, 2004; Mischel & Shoda, 1995, 1998, 1999; Shoda & Mischel, 1996, 1998) menawarkan sistem kepribadian kognitif-afektif (cognitive-affective personality system atau disebut juga cognitive-affective processing system – CAPS) yang menjelaskan keberagaman dalam berbagai situasi dan juga stabilitas dari perilaku dalam diri seseorang. Kurangnya konsistensi yang terlihat dari perilaku seseorang tidak disebabkan oleh eror yang bersifat acak ataupun situasi. Akan tetapi, perilaku yang berpotensi untuk dapat diprediksi, yang merefleksikan pola variasi stabil di dalam diri seseorang. Sistem kepribadian kognitif-afektif
memprediksikan bahwa perilaku seseorang akan berubah dari satu situasi ke situasi lainnya.
Mischel dan Shoda (Mischel, 1999, 2004; Mischel & Ayduk, 2002; Shoda, LeeTiernan & Mischel, 2002) percaya bahwa variasi dalam perilaku dapat dikonseptualisasikan dalam kerangka berpikir berikut: apabila A, maka X; tetapi apabila B, maka Y. Sebagai contoh, apabila Mark diprovokasi oleh istrinya, maka ia akan bereaksi agresif. Akan tetapi, saat “apabila” berubah, begitu juga dengan “maka”. Apabila Mark diprovokasi oleh atasannya, maka ia akan bereaksi dengan kepatuhan. Perilaku Mark terlihat tidak konsisten karena ia bereaksi berbeda pada stimulus yang sama. Akan tetapi, Mischel dan Shoda berargumen bahwa diprovokasi oleh dua orang yang berbeda tidak menyusun stimulus yang sama.
Teori ini mengindikasikan bahwa perilaku adalah percabangan dari sifat kepribadian global yang stabil. Apabila perilaku adalah hasil dari sifat global, maka hanya ada sedikit variasi individual dalam perilaku. Dengan perkataan lain, Mark akan bereaksi dalam bentuk yang sama terhadap provokasi, tanpa memperhatikan situasi spesifik. Akan tetapi, pola variasi yang bertahan lama pada Mark menunjukkan kurang memadainya teori situasi dari teori sifat. Pola variasinya adalah ciri khas kepribadian dalam bentuk perilaku, yaitu bentuk yang konsisten dari variasi perilakunya dalam situasi tertentu (Shoda, LeeTiernan & Mischel, 2002). Kepribadiannya mempunyai ciri khas yang bersifat stabil dalam berbagai situasi walaupun saat perilakunya berubah. Mischel (1999) percaya bahwa teori kepribadian yang memadai harus “berusaha memprediksi dan menjelaskan ciri khas kepribadian tersebut daripada mengeliminasi atau tidak menghiraukannya”.
a) Prediksi Perilaku
Kita telah mengedepankan bahwa teori yang efektif harus dapat disebutkan dalam kerangka kerja apabila-maka, tetapi Mischel (1999, 2004) adalah satu dari sedikit pakar teori kepribadian yang melakukannya. Posisi teoritis dasarnya dalam memprediksi dan menjelaskan dipaparkan sebagai berikut, “Apabila kepribadian
adalah sistem yang stabil yang memproses informasi mengenai situasi internal ataupun eksternal, maka mengikuti hal tersebut, saat individu menghadapi situasi yang berbeda, perilakunya akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya”. Mischel mengasumsikan bahwa kepribadian mempunyai stabilitas yang bersifat sementara dan perilaku dapat bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya. Ia juga mengasumsikan bahwa prediksi dari perilaku berada pada pengetahuan mengenai bagaimana dan kapan berbagai unit kognitif-afektif diaktivasi. Unit ini meliputi pengodean, ekspektasi, keyakinan, kompetensi, rancangan dan strategi regulasi diri, serta afek dan tujuan.
b) Variabel Situasi
Mischel yakin bahwa pengaruh relatif dari variabel situasi dan kualitas pribadi dapat ditentukan dengan mengobservasi keseragaman atau perbedaan dari reaksi manusia dalam suatu situasi tertentu. Saat orang-orang yang berbeda berperilaku dalam cara yang serupa – misalnya, saat menonton adegan emosional dalam film yang menarik – variabel situasi lebih kuat daripada karakterisktik pribadi. Pada sisi lain, kejadian yang terlihat sama, dapat menghasilkan reaksi yang sangat berbeda-beda karena kualitas pribadi mengalahkan variabel situasional. Sebagai contoh, beberapa pekerja dapat sama-sama dipecat dari pekerjaannya, tetapi perbedaan individu akan mengakibatkan perilaku yang berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan untuk bekerja yang dipersepsikan oleh pekerja-pekerja tersebut, keyakinan mereka atas tingkat keterampilan mereka, dan persepsi atas kemampuan untuk mencari pekerjaan baru.
Di awal kariernya, Mischel mengadakan suatu studi yang menunjukkan bahwa interaksi antara situasi dan berbagai kualitas pribadi adalah determinan yang penting untuk perilaku. Sebagai contoh, dalam salah satu studi, Mischel dan Ervin Staub (1965) melihat kondisi yang memengaruhi pilihan seseorang atas suatu hadiah, dan menemukan bahwa situasi dan ekspektasi seseorang atas kesuksesan sama-sama penting. Peneliti pada awalnya meminta anak laki-laki kelas 8 untuk menilai ekspektasi mereka atas kesuksesan dalam tugas penalaran
verbal dan informasi umum. Kemudian, setelah para murid mengerjakan beberapa permasalahan, beberapa murid diberitahukan bahwa mereka telah berhasil mengerjakan permasalahan tersebut; beberapa diberitahukan bahwa mereka telah gagal; dan kelompok ketiga tidak mendapatkan informasi apa pun. Aak-anak ini kemudian diminta untuk memilih antara hadiah yang langsung diberikan, tidak terlalu bernilai, dan tidak berkaitan; dengan hadiah yang ditunda pemberiannya, lebih bernilai, dan berkaitan. Konsisten dengan teori interaksi Mischel, murid-murid yang telah diberitahukan bahwa mereka berhasil dalam tugas serupa yang diberikan sebelumnya, akan lebih memilih untuk menunggu hadiah yang lebih bernilai dan berkaitan dengan peforma mereka; mereka yang diinformasikan telah gagal pada tugas sebelumnya cenderung memilih hadiah langsung yang tidak terlalu bernilai; dan mereka yang tidak menerima umpan-balik dari tugas sebelumnya akan membuat keputusan berdasarkan ekspektasi awal mereka mengenai kesuksesan; yaitu murid-murid dalam kelompok tanpa informasi yang pada awalnya mempunyai ekspektasi yang tinggi atas kesuksesan, akan membuat keputusan yang serupa dengan mereka yang percaya bahwa mereka telah berhasil; sementara mereka yang pada awalnya mempunyai ekspektasi yang rendah atas kesuksesan membuat keputusan yang serupa dengan mereka yang percaya bahwa mereka telah gagal. Hal ini menunjukkan bagaimana umpan-balik situasional berinteraksi dengan ekspektasi atas kesuksesan untuk mempengaruhi pilihan hadiah.
Mischel dan koleganya juga telah menunjukkan bahwa anak-anak dapat menggunakan proses kognitif mereka untuk mengubah situasi yang sulit menjadi lebih mudah. Sebagai contoh, Mischel dan Ebbe B. Ebbesen (1970) menemukan bahwa beberapa anak mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka untuk mengubah kegiatan menunggu yang tidak menyenangkan untuk suatu hadiah menjadi situasi yang lebih menyenangkan. Dalam penelitian penundaan-kepuasan ini, anak-anak taman kanak-kanak diberitahukan bahwa mereka akan menerima suatu hadiah kecil setelah periode waktu yang singkat, tetapi hadiah yang lebih besar akan diberikan apabila mereka dapat menunggu lebih lama. Anak-anak yang
memikirkan hadiahnya, memiliki kesulitan untuk menunggu; sementara anak-anak yang mampu menunggu paling lama, menggunakan bergbagai bentuk distraksi diri untuk menghindari memikirkan hadiahnya. Mereka tidak mau melihat ke arah hadiah, menutup mata, atau menyanyi, untuk mengubah situasi menunggu yang tidak menyenagkan menjadi situasi yang lebih menyaenangkan. Hasil penelitian ini dan yang lainnya, mengarahkan Mischel untuk menyuimpulakn bahwa, baik situsi ataupun komponen kognitif-afektif yang beragam dari perilaku mempunyai peranan dalam menentukan perilaku.
c) Unit Kognitif-Afektif
Pada tahun 1973, Mischel menawarkan rangkaian dari lima variabel manusia yang saling bertumpukan dan relatif stabil, yang berinteraksi dengan situasi untuk menentukan perilaku. Penelitian selama hampir lebih dari 30 tahun tersebut membuat Mischel dan rekan-rekannya memperluas konsepsi mereka atas variabel-variabel ini, yang mereka sebut dengan unit-unit kognitif-afektif (Mischel 1999, 2004; Mischel & Ayduk, 2002; Mischel & Shoda, 1995, 1998, 1999). Variabel manusia ini bergeser dari penekanan atas apa yang dimiliki oleh seseorang (misalnya, sifat global) menjadi apa yang dilakukan seseorang dalam situasi tertentu. Apa yang dilakukan seseorang meliputi kualitas kognitif dan afektif, seperti berpikir, membuat rencana, merasa, dan mengevaluasi; tidak hanya sekedar tindakan.
Unit-unit kognitif-afektif meliputi semua aspek psikologis, sosial, dan fisiologis dari manusia yang menyebabkan mereka berinteraksi dengan lingkungan mereka dengan pola variasi yang relatif stabil. Unit-unit ini meliputi (1) strategi encoding, (2) kompetensi dan strategi regulasi diri, (3) ekspektasi dan keyakinan, (4) tujuan dan nilai, serta (5) respons afektif.
a. Strategi Encoding
Satu unit kognitif-afektif penting yang paling memengaruhi perilaku adalah konstruk personal dari seseorang dan strategi encoding, yaitu cara manusia mengatagorisasikan informasi yang diterima dari stimulus eksternal. Manusia
menggunakan proses kognitif untuk mengubah stimulus ini menjadi konstruk personal, termasuk konsep diri, pandangan mereka termasuk orang lain, dan cara mereka melihat dunia. Orang yang berbeda melakukan encoding yang berbeda terhadap peristiwa yang sama, yang menjelaskan adanya perbedaan individual dalam konstruk personal. Selain itu, orang yang sama dapat melakukan encoding yang berbeda atas peristiwa yang sama dalam situasi yang berbeda. Stimulus input akan berubah secara substansial oleh apa yang secara selektif diperhatikan orang-orang, bagaimana mereka menginterpretasikan pengalaman mereka, dan cara mereka mengatagorisasikan input-input tersebut.
b. Kompetensi dan Strategi Regulasi Diri
Keyakinan kita atas apa yang dapat kita lakukan berkaitan dengan kompetensi kita. Mischel (1990) menggunakan istilah kompetensi untuk merujuk pada beragam informasi yang kita dapatkan mengenai dunia dan hubungan kita dengannya. Dengan mengobservasi perilaku kita sendiri dan perilaku orang lain, kita belajar apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan dalam situasi tertentu. Mischel setuju dengan Bandura bahwa kita tidak memperhatikan semua stimulus yang ada dalam lingkungan kita, melainkan secara selektif mengonstruksi atau membangun dunia nyata versi kita sendiri. Oleh karena itu, kita mendapatkan seperangkat keyakinan mengenai kemampuan dan performa kita, sering kali tanpa melakukan performa tersebut secara aktual.
Serupa dengan hal tersebut, Mischel yakin bahwa manusia menggunakan strategi regulasi diri untuk mengontrol perilaku mereka melalui tujuan yang diberikan pada diri sendiri dan konsekuensi yang dibuat diri sendiri. Manusia tidak membutuhkan penghargaan dan hukuman yang bersifat eksternal untuk membentuk perilaku; mereka dapat menentukan tujuan untuk diri mereka sendiri dan kemudiam memberikan penghargaan atau kritik pada dirinya sendiri berkaitan dengan apakah perilaku tersebut menggerakan mereka kearah tujuan-tujuan tersebut. Sistem regulasi diri manusia membuat mereka mampu untuk merencanakan, memulai, dan mempertahankan perilaku, bahkan ketika dukungan
lemah atau tidak ada sama sekali. Walaupun begitu, tujuan yang tidak tepat dan strategi yang tidak efektif dapat meningkatkan kecemasan dan berakibat pada kegagalan.
c. Ekspektasi dan Keyakinan
Situasi apa pun akan menghasilkan banyak potesni perilaku, tetapi bagaimana manusia berperilaku bergantung pada ekspektasi dan keyakinan spesifik mereka mengenai konsekuensi dari masing-masing kemungkinan perilaku yang berbeda-beda. Pengetahuan atas hipotesis atau keyakian seseorang mengenai hasil dari situasi apa pun adalah prediktor yang lebih baik atas perilaku daripada pengetahuan mengenai kemampuan mereka untuk melakukan perilaku (Mischel dkk., 2002).
Dari pengalaman sebelumnya dan dengan mengobservasi orang lain, manusia belajar untuk melakukan perilaku-perilaku yang mereka harapkan akan menghasilkan pencapaian yang paling bernilai secara subjektif. Saat seseorang tidak mempunyai informasi mengenai apa yang dapat diharapkan dari suatu perilaku, orang tersebut akan melakukan perilaku yang mendapat penguatan yang paling besar pada situasi yang mirip di masa lalu. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang belum pernah mengikuti GER, sebagian dipengaruhi oleh bagaimana perilaku dalam persiapan ujian yang sebelumnya menghasilan pencapaian yang paling bernilai. Seorang mahasiswa yang sebelumnya mendapatkan penguatan setelah menggunakan teknik relaksasi diri dalam mempersiapkan diri untuk ujian, akan memiliki ekspektasi bahwa teknik yang sama akan membantunya berhasil dalam GRE. Mischel (1999. 2004) merujuk tipe ekspektasi ini sebagai ekspektasi perilaku-hasil.
Mischel juga mengidentifikasi tipe kedua dari ekspektasi – ekspektasi stimulus-hasil, yang merujuk pada banyak kondisi stimulus yang memengaruhi kemungkinan konsekuensi atau pola perilaku apa pun. Ekspektasi stimulus-hasil membantu kita memprediksi apa kejadian yang mungkin terjadi, yang mengikuti suatu stimulus tertentu. Mungkin contoh yang paling jelas adalah ekspektasi atas
petir yang keras dan tidak menyenangkan mengikuti penampakan dari kilat (stimulus).
Mischel (1990) yakin bahwa satu alasan untuk ketidakkonsistenan perilaku adalah pada ketidakmampuan kita untuk memprediksi perilaku orang lain. Kita hanya mempunyai sedikit keraguan salam mengatribusikan sifat kepribadian pada orang lain, namun saat kita melihat bahwa perilaku mereka tidak konsisten dengan sifat-sifat ini, kita menjadi kurang yakin mengenai bagaimana harus bereaksi pada mereka. Perilaku kita akan konsisten dari situasi satu ke situasi lainnya, sampai pada tahap ketika ekspektasi kita tidak berubah. Permasalahannya, ekspektasi kita tidak bersifat konstan; yaitu berubah karena kita dapat mendiskriminasikan dan mengevaluasi berbagai potensi penguatan dalam situasi tertentu (Mischel & Ayduk, 2002).
d. Tujuan dan Nilai
Manusia tidak bereaksi secara pasif pada situasi, tetapi secara aktif dan terarah pada tujuan-tujuan. Mereka merumuskan tujuan, merancang rencana untuk mencapai tujuan, dan kemudian menciptakan situasi mereka sendiri. Tujuan, nilai, dan preferensi subjektif dari orang-orang merepresentasikan unit kognitif-afektif yang keempat. Nilai, tujuan, dan minat, bersama dengan kompetensi, adalah beberapa dari unit kognitif-afektif yang bersifat stabil. Satu alsan atas konsistensi ini adalah aspek menimbulkan emosi yang dimiliki unit-unit ini.
e. Respons Afektif
Respons afektif meliputi emosi, perasaan, dan reaksi fisiologis. Mischel melihat respons afektif tidak dapat dipisahkan dari kognisi dan menilai unit-unit kognitif-afektif yang saling terkait lebih dasar daripada unit kognitif-afektif lainnya. Oleh karena itu, respons efektif tidak hadir sendirian. Tidak hanya dapat dipisahkan dari proses kognitif, respons afektif juga memengaruhi masing-masing dari unit kognitif-afektif lainnya.
Kesimpulannya, unit-unit kognitif-afektif yang saling berkaitan, berkontribusi pada perilaku saat berinteraksi dengan sifat kepribadian yang stabil dan lingkungan yang reseptif. Aspek-aspek yang terpenting dari variabel ini meliputi (1) strategi encoding, atau bagaimana orang memandang atau mengatagorisasikan suatu kejadian; (2) kompetensi dan strategi regulasi diri, atau apa yang dapat orang lakukan serta strategi dan rencana mereka untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan; (3) keyakian mengenai suatu situasi serta ekspektasi perilaku-hasil dan stimulus-hasil; (4) tujuan, nilai, dan preferensi yang subjektif, yang menentukan sebagian dari perhatian selektif terhadap suatu kejadian ; serta (5) respons afektif, termasuk perasaan dan emosi, dan juga afek yang menyertai reaksi fisiologis.