DAFTAR GAMBAR
JENIS KEGIATAN
6. Sistem Kerja Dalam Proses Perancangan Lanskap
Setelah semua aturan dan standar gambar dilengkapi maka masuklah pada mekanisme pelaksanaan kerja dalam proses perancangannya itu sendiri. Pada saat proyek telah deal menjadi pekerjaan SFA secepatnya dalam lingkungan SFA sendiri mengadakan rapat intern. Rapat ini dilakukan untuk menetapkan Project Leader (PL) dan teamwork. Jumlah anggota teamwork serta staf bidang apa saja yang menjadi anggota disesuaikan dengan kebutuhan, skala proyek, tingkat kerumitan dan aplikasi komputer apa saja yang sekiranya dibutuhkan.
Pasca teamwork terbentuk maka PL mulai mendistribusikan tugas pada anggota tim. Tahap pertama adalah menstandarkan layer tiap gambar yang masuk dari pihak lain misalnya masterplan, survey bangunan dan lainnya. Layer awal dig anti nama dan disesuikan menurut gambar. Sistem penamaan seperti yang telah dijelaskan, di bagian awal menggunakan “L_” yang menandakan Landscape. Tahap selanjutnya menghapus elemen gambar atau layer yang tidak begitu dibutuhkan.
Tahap selanjutnya melakukan survei lapang lebih lanjut (site visit) dan melengkapi data-data survei. Lalu melakukan review dan analisis atas Masterplan atau desain sebelumnya serta analisis tapak yang mencakup aspek fisik, biofisik, sosial-budaya dan lainnya. Jika ada review yang membuat perubahan desain atau rencana maka diadakan meeting klien atas usulan perubahan tersebut. Saat perubahan disepakati maka proses dilanjutkan pada tahap konsep desain.
Gambar 4. Sistem Kerja dalam Proses Perancangan (Hasil Analisis dan SFA, 2008)
Proyek deal dan proses perancangan
dimulai
Penentuan Project Leader (PL)
Site visit and crossing check, review dan koreksi
terhadap masterplan Mengoreksi layer cad
dari klien distandarkan sesuai sistem SFA
Rapat intern SFA
Pembentukan project team
Meeting dengan klien atas
hasil review dan koreksi
Desain konsep (concept design/CD)
Penyempurnaan konsep oleh
director design, PL, director SFA, director SF-UK serta meeting
dengan klien
Pengembangan desain (Design
development/DD)
Pengembangan desain (Design
development/DD)
Pembuatan gambar kerja (Production
documentation/PD)
Project costing untuk tiap printing
Rapat dan evaluasi kerja bulanan
Konsep awal desain berasal dari director design dan disempurnakan dengan diskusi intern antara director design, PL, serta direktur SFA. Pada saat muncul konsep maka dilanjutkan dengan diskusi bersama pihak direktur SF UK. Diskusi ini sebagai penyempurna konsep desain sebelumnya. Dalam tahap ini dihasilkan Masterplan atas hasil review dan konsep desain yang telah dilakukan. Untuk memperkuat konsep maka dibuat gambar ilustrasi baik sketsa maupun 3D oleh desainer grafik. Setelah semua lengkap maka diadakan meeting lanjutan dengan klien.
Dalam kegiatan meeting dengan klien umumnya akan terjadi perubahan-perubahan desain walau skalanya kecil. Proses selanjutanya yaitu pengembangan desain dan pembuatan kerja malalui proses kerja seperti sebelumnya.
Setiap mekanisme kerja proyek harus dilengkapi dengan drawing list yang berisi keseluruhan daftar jenis gambar dari gambar umum sampai gambar detail (Lampiran 2). Setiap tahapan kerja yang melakukan printing wajib mengisi project costing yaitu rincian berapa banyak kertas dan ukurannya yang sudah ditetapkan harganya oleh SFA sebagai acuan pengeluaran biaya operasional khususnya printing. Pengisian project costing dikoordinasikan setiap anggota tim kepada PL yang nantinya dilaporkan pada sekretaris SFA.
Selama tahapan kerja pihak SFA melakukan rapat intern semua staf SFA yang dijadwalkan setiap bulan sekali biasanya dilakukan pada hari di dalam minggu keempat setiap bulannya. Rapat ini merupakan rapat evaluasi kinerja setiap tim proyek. Dalam meeting ini pula ditetapkan target kerja setiap staf sehingga setiap staf mengetahui secara jelas apa yang harus dikerjakan dan kapan harus diselesaikan.
Sistem ini berjalan cukup baik dan lancar, cukup berperan mendukung keberhasilan kerja. Tetapi ada kendala tentang periode rapat yang tidak pasti harinya serta aplikasi standar yang cukup tinggi akan memunculkan banyak revisi yang akan membutuhkan waktu lebih lama. Di tengah proses pengerjaan kadang terjadi perubahan anggota tim kerja, biasanya terpaksa menambah anggota karena batas target gambar yang cukup banyak dan belum dapat ditangani oleh anggota sebelumnya. Perbedaan waktu 6 jam antara Indonesia dengan UK kadang menjadi kendala koordinasi antara staf dengan pimpinan UK.
Proses Perancangan Proyek
Kegiatan magang yang dilaksanakan selama 16 minggu ini terbagi menjadi dua alokasi waktu dan dua proyek. Proyek pertama adalah perancangan Streetscape Kawasan Alam Sutera Fase II yang membutuhkan alokasi waktu kurang lebih 13 minggu. Proyek kedua adalah perancangan Panorama Resort Marketing Office Park yang membutuhkan alokasi waktu sekitar delapan minggu. Proses perancangan kedua proyek tersebut mengikuti standar proses perancangan yang telah ditetapkan oleh SFA yang meliputi tahap persiapan, tahap riset dan analisa, tahap konsep desain, tahap pengembangan desain dan tahap pembuatan gambar kerja. Dalam masing-masing tahapan akan muncul pengembangan masing-masing tahapan tersebut yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing proyek. Pengembangan dari masing-masing tahapan berdasarkan kebutuhan dan kondisi, biasanya pengembangan ini akan membutuhkan waktu yang lebih banyak sehingga akan terjadi prubahan jadwal target tahapan.
Dalam proses pelaksanaan tiap tahapan akan ditemui beberapa hal yang menjadi kendala. Kendala-kendala tersebut dapat berasal dari dalam perusahaan sendiri maupun dari pihak luar. Beberapa faktor akan mempengaruhi tahapan tertentu sehingga pada tahapan tersebut harus dikerjakan berulang-ulang dan keluar dari jadwal. Sebelum sampai pada klien, semua produk harus sudah melalui tahapan revisi baik dari direktur UK, direktur Asia, manajer proyek dan manajer desain. Semua produk dari masing-masing tahapan diatur jadwal penyelesainnya, dimana produk tiap tahapan tersebut harus selesai pada waktu yang telah ditentukan sebelum jadwal rapat dengan klien.
Perancangan Streetscape Kawasan Alam Sutera Fase II (A115) Kondisi Umum Kawasan Alam Sutera
Alam Sutera merupakan bentuk pengembangan suburban revolusioner di daerah Tangerang. Konsep pembangunannya ditujukan untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat dengan berorientasi pada peningkatan pola kehidupan yang tidak saja hanya dengan fokus pada bangunan tetapi juga dengan penyediaan sejumlah gaya kehidupan baru dengan fasilitasnya dan berbasis pada alam. Alam Sutera merupakan suatu kawasan yang mengacu pada konsep kota baru yang menyediakan fasilitas seperti halnya sebuah kota yaitu perumahan (housing/residential), area perdagangan (market/commercial area), perkantoran (office), sekolah (public school), taman (park), dan beberapa fasilitas lainnya. (http://www.alamsutera.com, 22 Juni 2008).
Satu hal yang menjadi komitmen kuat dari pembangunan kawasan ini adalah komitmen untuk menjaga kelestarian alam dengan menyediakan lingkungan dan komunitas yang nyaman dan sehat. PT. Alam Sutera Realty sebagai developer Alam Sutera juga menyediakan 40% dari total residential area sebagai kawasan hijau dan konsep landscaping, termasuk pada kawasan lanskap jalan di Alam Sutera. Proyek pelaksanaan pembangunan Alam Sutera terbagi menjadi dua fase. Fase pertama telah selesai dibangun, dan SFA ambil bagian pada perancangan proyek fase kedua dalam spesifikasi perancangan lanskap jalan (streetscape), sedangkan masterplan Alam Sutera sendiri dibuat oleh konsultan yang bernama Forrec Canada.
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan yang dilakukan SFA adalah dengan perumusan dan penyusunan proposal yang mencakup tujuan, program dan informasi mengenai perancangan streetscape Alam Sutera. Proposal ini berisi tentang profil perusahaan, informasi yang menjadi isu pada proyek yang diproposalkan, pendekatan-pendekatan yang diterapkan pada desain, tahapan kerja dan lingkup tahapan yang dilakukan, tim kerja serta penawaran harga dan kontrak kerja. Dalam proyek ini SFA bekerjasama dengan pihak lain yang terkait yaitu Engineer baik untuk drainase maupun konstruksi.
b. Tahap Riset dan Analisa (Research and Appraisal)
Tahap riset dan analisa meliputi kegiatan inventarisasi tapak, analisis tapak serta review terhadap masterplan yang ada.
Inventarisasi Tapak
Inventarisasi dilakukan oleh tim dari SFA dengan survei lapang maupun dengan strudi pustaka. Hasil inventarisasi berupa foto tapak dan beberapa peta inventarisasi yang memberikan informasi mengenai topografi, view, tata guna lahan, penyebaran vegetasi, drainase dan konteks kultural (Tabel 10).
Tabel 10. Inventarisasi Tapak Alam Sutera Fase II
Aspek Hasil Inventarisasi Produk
Fisik
Batas kawasan
- Utara jalan toll Jakarta-Merak
- Timur Alam Sutera interchange (tahap konstruksi)
peta lokasi dan batas wilayah - Selatan Alam Sutera fase I
- Barat sungai Cisadane
Luas kawasan 239 Ha
Topografi
- Open water level < 14
- Depression area level 15-16 peta topografi
- Low area level 16-17
- Higher area level > 21 Iklim
- Suhu 23 °C - 33 °C -
- Curah hujan 1.475 mm -
Tata guna lahan tapak dan sekitar tapak
pemukiman, pabrik, jalan, areal pertanian dan pemakaman
foto tapak Utilitas saluran listrik tegangan tinggi peta lokasi Drainase terdapat saluran air alami (water
course) menuju ke arah Utara
peta lokasi
Biofisik Flora
- Pohon Caesalpinia sappan, Cocos nucifera, Albizia falcataria,Linea grandis, dan beberapa pohon lainnya
peta penyebaran vegetasi, foto vegetasi eksisting
- Semak berbagai macam semak liar
- Sawah padi dan beberapa jenis tanaman palawija lainnya
Data Fisik
Lokasi proyek perancangan streetscape ini berada pada area Alam Sutera Fase II. Kawasan ini berada di sebelah Selatan jalan tol Jakarta-Merak, jalan tol ini menjadi batas area di sebelah Utara. Kawasan ini menyatu dengan lokasi Alam Sutera Fase I sebagai batas tapak di sebelah Selatannya. Lalu di sebelah Barat kawasan ini dibatasi oleh aliran sungai Cisadane, sedangkan di sebelah Timur dibatasi oleh interchange Alam Sutera yang sedang pada tahap konstruksi (Gambar 3-4). Batas lokasi sebagai kawasan perancangan didasarkan atas perbedaan tata guna lahan dan kepemilikan lahan (Gambar 5-7).
Pada peta tapak eksisting (Gambar 8) dapat dilihat adanya beberapa elemen tapak eksisting. Topografi tapak perancangan relatif fluktuatif. Level tapak cenderung lebih rendah menuju arah Utara. Dalam survei di lapang terlihat level jalan tol lebih tinggi daripada level tapak yang dekat dengan jalan tol. Jalan tol berada pada level 19 sedangkan level tapak di sekitarnya berada pada level kurang dari 19. terdapat utilitas berupa saluran listrik tegangan tinggi dari arah Utara ke Selatan pada tapak. Pada tapak juga mengalir saluran drainase alami (water course) sebagai sumber pengairan utama pada tapak terutama untuk areal persawahan (Gambar 8 dan 10). Terdapat jalan eksisting berupa jalan setapak untuk pejalan kaki di sepanjang tapak (Gambar 11).
Tata guna lahan eksisting tapak terbagi menjadi penggunaan sebagai areal pertanian (sawah), jalan, pemakaman, serta area perairan (water course). Sedangkan konteks kultural sekitar tapak adalah pabrik/industri, perumahan/pemukiman, jalan tol dan jalur saluran listrik tegangan tinggi (Gambar 11 dan 12).
Data Biofisik
Inventarisasi mengenai vegetasi pada tapak tidak dilakukan secara detail menyeluruh pada tapak. Identifikasi dilakukan terutama terhadap pohon eksisting. Pada tapak terdapat kumpulan pohon, kumpulan semak serta kumpulan pohon dengan semak. Tanaman lain yang ada pada tapak termasuk juga tanaman padi yang ada pada areal persawahan. Terdapat beberapa jenis spesies lokal pohon besar yang dominan antara lain Caesalpinia sappan, Cocos nucifera, Albizia
falcataria, Linea grandis. Sedangkan jenis semak yang ada merupakan sekumpulan semak liar (Gambar 9).
Analisis Tapak
Kegiatan ini merupakan kegiatan menganalisis apa saja yang dapat diinformasikan oleh tapak baik itu karakteristik, bentuk dan sifat tertentu yang pada akhirnya didapat berbagai macam potensi/peluang serta kendala dari karakteristik, bentuk dan sifat tertentu tersebut.
Analisis Topografi
Topografi pada tapak ini relatif tidak mempunyai perbedaan level yang cukup ekstrim. Level semakin rendah menuju ke arah Utara. Level tertinggi pada tapak adalah level 21 dan level terendah tapak pada level 14. Topografi tapak dikelompokkan menjadi 4 macam berdasarkan penggolongan level yaitu open water area (<14), depression area (15-16), low area (16-17) dan higher area (> 21) (Gambar 13). Hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil Analisis Topografi Tapak Alam Sutera Fase II
Klasifikasi Potensi Kendala Solusi
Open water Level < 14 sumber pengairan lokal rawan banjir/tergenang perluasan area penampungan air Depression area Level 15 – 16
area penampung air (local water
chatchment)
level di area ini lebih rendah dari level jalan tol area level 14-16 dijadikan danau buatan Low area Level 16 – 17 daerah pemanfaatan peruntukan bangunan
tata guna lahan eksisting bermacam-macam
pengelompokan berdasar nilai density bangunan pada level yang sesuai
Higher area
Level > 21
sebagai highest
point
Secara umum kondisi topografi tidak begitu menimbulkan banyak kendala. Perbedaan level tidak begitu ekstrim karena secara umum level tertinggi berada di Selatan tapak dan semakin rendah menuju ke Utara. Walaupun demikian terdapat kendala utama yang dihadapi mengenai topografi tapak yaitu keadaan diamana level jalan tol yang lebih tinggi dari level tapak di sebelah Utara. Pada area dekat jalan tol umumnya berada pada level dibawah 16 sedangkan jalan tol berada pada level 19. Hal ini dapat menimbulkan masalah pada tapak tersebut khususnya masalah banjir atau tergenang air karena level area tersebut relatif lebih rendah diantara level area di sekitarnya dan air akan mengalir menuju ke area ini. Masalah ini dapat diatasi dengan metode fill ataupun dengan membuat danau buatan sebagai area penampung air.
Analisis Drainase
Dalam proses menganalisis masalah drainase pada tapak sangat berkaitan dengan kondisi topografi tapak (Tabel 12). Hal ini berhubungan dengan aliran drainase yang dipengaruhi oleh perbedaan level.
Tabel 12. Hasil Analisis Aspek Drainase Tapak Alam Sutera Fase II
Klasifikasi Level Potensi Kendala Solusi
water course bervariasi sebagai media aliran drainase utama tapak
parit ini tidak dapat menampung semua aliran air
distribusi air dengan saluran air buatan
open water <14 sebagai sumber
air alami
rawan banjir karena berada pada level rendah
antisipasi dengan perluasan area tangkapan air area prone to flooding 15 - 17 area tangkapan air pada tapak
area rawan tergenang air
danau buatan sebagai penampung air
Sumber data : SFA (2008)
Pada peta analisis drainase yang ditunjukkan oleh Gambar 14 diketahui bahwa aliran drainase pada tapak tersebut mengikuti aliran air eksisting dan level
tapak. Air dari beberapa area yang berada pada level tinggi akan mengalir ke level yang lebih rendah, kemudian menyatu menjadi satu aliran melalui parit alami.
Limpahan air berasal dari area yang berada pada level lebih tinggi. Yang menjadi kendala adalah estimasi limpahan air yang berlebihan setelah dilakukan pengembangan tapak yang tidak dapat tertampung oleh area tangkapan air yang ada. Pada beberapa area limpahan air ada yang tidak tertampung oleh parit sehingga air akan mengalir terus ke level yang lebih rendah yang pada akhirnya bermuara pada tapak sebelah Utara dekat dengan jalan tol (Gambar 14). Jika hal ini tidak diantisipasi dengan area tangkapan air yang sesuai maka akan menyebabkan banjir yang jika meluap akan mengganggu kedaan jalan tol. Oleh karena itu perlu perluasan area tangkapan air misalnya dengan membangun danau buatan yang mengikuti level eksisting. Batas level area tangkapan air sementara disesuaikan dengan keadaan level area batas Utara yaitu pada level 15-17 dimana level tersebut berpotensi terkena luapan banjir. Luasannya diperhitungkan sesuai dengan limpahan air sehingga banjir dapat dihindari, luasan area tangkapan air ini dihitung oleh ahli drainase.
Analisis Vegetasi
Keadaan tapak tergolong area terbuka dimana penutupan vegetasi tidak mendominasi. Sebagian besar pemanfaatan tapak adalah sebagai areal persawahan. Vegetasi lain seperti pohon dan semak tersebar secara acak dan umumnya hidup secara berkelompok, tidak hanya satu spesies namun dalam satu kelompok juga terdapat kombinasi antar beberapa spesies (Gambar 15).
Tidak ada kendala yang berarti mengenai jenis vegetasi yang ada, kendala yang muncul adalah pada penyebaran vegetasi karena dominasi oleh sawah maka tapak ini tergolong menjadi lahan terbuka yang cukup panas. Potensi yang dapat dimunculkan adalah mengenai spesies vegetasi lokal yang ada yang dapat dijadikan vegetasi pendukung dalam konsep pengembangan tapak nantinya khususnya dalam perancangan lanskap jalan. Beberapa spesies pohon eksisting yang teridentifikasi pada saat survey lapang antara lain Caesalpinia sappan, Cocos nucifera, Albizia falcataria, Linea grandis.
Analisis views
Pada peta analisis view (Gambar 16) didapat titik pandang terhadap sawah dan kelompok pohon. Pada level tertinggi yaitu level 21 yang merupakan highest point dari titik ini kita dapat melihat view kelompok pohon. Good view pada tapak didominasi view dari sawah dan kelompok pohon.
Analisis Konteks Kultural
Konteks kultural/budaya sekitar tapak dapat diklasifikasikan terhadap beberapa macam pemanfaatan lahan yang ada antara lain pemukiman (residential), areal pabrik dan industri (employment), pemakaman (cemetery) dan saluran listrik tegangan tinggi (high voltage transmition). Secara spasial data tersebut dapat dilihat pada Gambar 17.
Masing-masing konteks terhadap klasifikasi di atas memunculkan potensi dan kendala. Hal ini berkaitan dengan hubungan terhadap faktor diluar kondisi tapak itu sendiri. Analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Analisis Konteks Kultural Tapak Alam Sutera Fase II
Klasifikasi Potensi Kendala Solusi
pemukiman (residential) potensi konsumen integrasi dengan konsep
pengembangan tapak kadang sulit
penyesuian dengan kondisi pemukiman sekitar tapak dengan konsep pengembangan pabrik dan industri
(employment)
dekat area industri potensi pasar besar
dampak polusi asap dan limbah
buffer area
pemakaman (cemetery) sulit dalam
perubahan
pemanfaatan lahan
dilestarikan dan dijaga tata guna lahannya saluran listrik tegangan
tinggi (high voltage
transmition).
bahaya tegangan tinggi
buffer area