6.1 Aplikasi Tapak 6.1.1 Aplikasi Zoning
Pada objek rancang pembagian zoning di sesuaikan dengan fungsi masing-masing bangunan, dimana gedung pagelaran yang merupakan area public di letakkan di depan. Peletakan panggung outdoor juga masih mengikuti konsep pembagian zoning yang sudah ada, yaitu diletakkan pada area dekat jalan raya, selain memliki sifat public, panggung outdoor juga difungsikan sebagai plaza yang dapat di manfaatkan oleh pengunjung dan seniman.
Peletakan objek pada area public selain gedung pagelaran juga di letakkan pada bagian belakang gedung pagelaran, yaitu gedung pengembangan yang difungsikan sebgai tempat pelatihan bagi para pengunjung dan seniman.
Pada site bagian belakang memiliki tingkat kebisingan yang rendah, hal tersebut dapat dimanfaatkan sebgai area private, dimana area private pada objek rancang merupakan tempat istirahat bagi para seniman yang datang dari luar kota (Wisma Seniman). Area parkir pada objrk rancang diletakkan pada space antar bnagunan (antara gedung pagelaran dan gedung pengembangan). Aplikasi zoning dapat dilihat pada gambar 6.1
Gambar 6.1 Apilkasi Zoning Sumber : Analisa Penulis, 2012
Area Private Area Publik
Area Publik
Area Publik Parkir
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
65 6.1.2 Aplikasi Tatanan Masa
Penataan masa pada objek rancang menggunakan bentuk memanjang kebelakang, hal ini di lakukan karena tuntutan dari bentuk site yang memanjang kebelakang. Penataan yang seperti ini mengaharuskan bangunan yang berada pada site memiliki orientasi dua arah hadap yaitu menghadap ke jalan raya dan menghadap sesuai dengan bentuk site.
Penataan objek rancang yang memanjang kebelakang memiliki akses jalan dua arah pada salah satu sisi site. Penataan masa disini disesuaikan dengan fungsi dan aktifitas pengguna bangunan, dimana bangunan utama diletakkan pada bagian depan. Serta bangunan penunjang diletakkan setelah bangunan utama serta bangunan penunjang lainnya yaitu wisma seniman diletakkan di bagian belakang site. Aplikasi tatanan masa dapat dilihat dapat dilihat ada gambar 6.2
Wisma Seniman
Gd. Pengembangan
Gd. Pagelaran
Panggung Outdoor
Gambar 6.2 Apilkasi Tatanan Masa Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
66 6.1.2 Aplikasi Entr ance
Entrance bangunan sudah akan disambut sebuah sculpture yang menarik dengan bahan kayu, yang mencerminkan sebuah nilai budaya. Diberikan pula sebuah open gate yang juga dijadikan sebagai penangkap bagi para pengendara atau pejalan kaki dari luar site.
Entrance diletakkan sesuai dengan konsep yang telah dianalisa, yaitu diletakkan pada area Jalan Jagir. Pertimbangan peletakan di sesuaikan oleh mudah atau tidaknya pencapaian untuk menuju ke area entrance, keleluasaan pengamatan pada objek rancang serta kepadatan kendaraan di area dekat site. Untuk dapat melihat aplikasi entrance dapat dilihat pada gambar 6.3 dan 6.4.
Gambar 6.3 Apilkasi Entrance Sumber : Analisa Penulis 2012
Entrance Exit
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
67 6.2 Aplikasi Bentuk Dan Tampilan 6.2.1 Aplikasi Bentuk
Penggunaan bentuk bangunan dengan pendekatan tangible metaphore yaitu lebih menekankan pada kesamaan bentuk bangunan dengan konsep tampilan visual bangunan itu sendiri, penerapannya dapat terlihat dari perancangan bentuk atau aplikasi bentuk. Penggunaan pendekatan tangible mathapore dapat dilihat pada gambar 6.5.
Gambar 6.4 Apilkasi Entrance Sumber : Analisa Penulis 2012
Gambar 6.5 Apilkasi Pendekatan Tangible Methapore Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
68
Penggunaan bentuk tapal kuda pada gedung pagelaran sangat mempengaruhi arah hadap penonton. Bentuk ini memiliki sudut kenyamanan penglihatan untuk menyaksikan suatu pagelaran di panggung. Bentuk tapal kuda memiliki sudut ± 60º dari bangku penonton ke panggung.
6.2.2 Aplikasi Tampilan Bangunan
Tampilan bangunan menggunakan gaya arsitektural colonial, mengingat filosofi kebudayaan ludruk yang berawal dari jaman penjajahan Belanda. Maka dari itu penggunaan arsitektur colonial masih ada benang merah dengan kebuayaan ludruk itu sendiri.
Penggunaan kolom besar dapat terliahat pada bagian depan facade bangunan. Jendela – jendela besar juga digunakan pada objek rancang yang berfungsi sebagai bukaan dan tempat masuknya cahaya. Serta pemberian teras yang besar yang merupakan cirri bangunan colonial juga terdapat pada objek rancang. Atap perisai ditempatkan pada area gedung pagelaran. Untuk dapat melihat tampilan Gd. Pagelaran lihat gambar 6.6 dan 6.7.
Gambar 6.6 Apilkasi Tampak Gd. Pagelaran Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
69
Pada gedung pengembangan menggunakan atap pelana dan tidak lagi terkesan colonial, karena yang lebih ditonjolkan kesan colonial adalah gedung pagelaran indoor. Tampilan gedung pengembangan banyak me ggunakan warna-warna tanah (cokelat). Gedung pengembangan dapat dilihat pada gambar 6.8 dan 6.9.
Gambar 6.7 Apilkasi Tampak Gd. Pagelaran Sumber : Analisa Penulis 2012
Gambar 6.8 Apilkasi Tampak Gd. Pengembangan Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
70 6.2.3 Aplikasi Ruang Luar
Dari pintu masuk pengunjung disambut dengan sebuah panggung pagelaran outdoor. Maksud diberikannya sebuah panggung outdoor dalam objek rancang adalah memberikan kesan selamat datang untuk pengunjung, karena jika pengunjung langsung disuguhkan dengan bangunan yang berdiri tegak langsung di depan akan memberikan kesan kaku. Disamping itu juga panggung outdoor dapat difungsikan sebagai plaza untuk tempat berkumpul para seniman dan pengunjung.
Letak panggung outdoor tidak sejajar dengan permukaan tanah asli, melainkan masuk ke dalam tanah sedalam 2,5m, hal ini dimasukkan agar ada barier di sekitar panggung, karena jika dilihat letak panggung yang berada didepan site berdekatan dengan jalan raya yang memilki tingkat kebisingan tinggi. Panggung outdoor disini juga digunakan sebagai point of view dari objek rancang. Untuk melihat bentuk panggung outdoor dapat dilihat gambar 6.10.
Gambar 6.9 Apilkasi Tampak Gd. Pengembangan Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
71
Jika dilihat dari mata burung, maka akan terlihat bahwa site ini dominan dengan bentuk yang melengkung sebagai elemen pembentuk sirkulasi dan ruang luarnya. Hal ini guna untuk penyeimbang, yang dimana bentuk bangunannya sudah cenderung kaku, maka elemen ruang luarnya diberikan unsur melengkung, dengan open space yang cukup. Open space pada site juga dimanfaatkan sebagai area pagelaran outdoor, yang dapat dijadikan point of view pada site, karena skalanya yang besar dan memiliki bentuk amphitheatre. Sedangkan pada area belakang, ruang luar akan diberikan beberapa gazebo, untuk melengkapi fasilitas
Gambar 6.10 Apilkasi Ruang Luar ( Panggung Outdoor) Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
72
wisma seniman yang ada. Bird eye view lihat gambar 6.11, dan ruang luar yang difungsikan untuk gazebo lihat gambar 6.12.
6.2.4 Aplikasi Ruang Dalam
Secara pembagian zoning ruang dalamnya, obyek rancang memiliki pembagian berdasarkan massanya. Hanya saja pada bangunan utamanya, fasilitas pagelaran, digabung dengan fasilitas pengelola dan fasilitas service, dan area publik hal ini dikarenakan letak bangunan yang berada di area depan site, sehingga untuk mempermudah para akses penghubung antar area pengelola
Gambar 6.11 Bird Eye View Sumber : Analisa Penulis 2012
Gambar 6.12 Gazebo Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
73
dengan area pagelaran. Meskipun berada pada satu massa, tetapi area pengelola dan service hanya berada di sisi sayap bangunan saja, sehingga tidak perlu memasuki area inti dari bangunan. Pembagian area ruang dalam gedung pagelaran dapat dilihat pada gambar 6.13.
Area pagelaran yang menjadi fungsi utama objek rancang memilki kesan tradsional. Diberikannya ukiran-ukiran pada interior pangung menjadikan kesan tradisional yang sangat erat hubungannya dengan kebudayaan ludruk, untuk lebih jelasnya lihat gambar 6.14
Ar ea Ser vice Ar ea Publik Ar ea Publik
Gambar 6.13 Zoning Area Ruang Dalam Sumber : Analisa Penulis 2012
Gambar 6.14 Interior Panggung Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
74
Untuk massa gedung pengembangan, area ruang dalamnya diberikan sebuah patio. Pemberian patio ini selain untuk memberikan view penghubung antar ruang luar dengan ruang dalam, juga untuk memperlancar sirkulasi udara ke dalam bangunan. Lobby yang berada di depan selain sebagai tempat penerima juga dapat digunakan sebagai tempat latihan terbuka. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 6.15.
Sebagai bangunan yang difungsikan untuk pengembangan maka, pada gedung pengembangan banayak terdapat empat latihan. Tempat latihan yang terdapat pada gedung pengembangan yaitu latihan tari, latihan musik, latihan drama monolog. Latihan tari dibagi dua kategori yaitu lartihan tari dewasa dan latihan tari anak-anak, dimana dinagi menjadi dua ruangan. Untuk lebih jelasnya ruang interior latihan dapat dilihat pada gambar 6.14.
Gambar 6.15 Zoning Gedung Pengembangan Sumber : Analisa Penulis 2012
Gambar 6.16 Interior Ruang latihan Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
75
Wisma seniman yang memiliki fungsi sebagai tempat transit para seniman yang akan tampil pada pagelaran ludruk. Wisma seniman merupakan area private mengingat tempat ini digunakan untuk beristirahat. Interior ruang istirahat seniman dapat dilihat pada gambar 6.17
Gambar 6.17 Interior Ruang Tidur Wisma Seniman Sumber : Analisa Penulis 2012
Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
76