• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Kliring

Dalam dokumen RAMA JUNI TAMBUNAN F3309092 (Halaman 53-64)

BAB II Landasan Teoritis dan Pembahasan

4. Sistem Kliring

Saat ini penyelenggaraan kliring lokal di Indonesia dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) macam sistem kliring, yaitu :

i. Sistem Manual

Saat ini pengaturan mengenai sistem manual terdapat dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 2/7/DASP tanggal 24 Februari 2000 perihal Penyelenggaraan Kliring Lokal Secara Manual. Pada sistem

commit to user

39 Manual, pelaksanaan fungsi-fungsi kliring seluruhnya dilakukan secara manual, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1) Perhitungan kliring dan pemilahan/penyampaian warkat

dilakukan oleh semua peserta;

2) Pembuatan dan pencocokan rincian Daftar Warkat Kliring, penyusunan Neraca Kliring serta pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan oleh Peserta;

3) Penyusunan Neraca Kliring Penyerahan dan Pengembalian

Gabungan dilakukan oleh Penyelenggara;

4) Identitas peserta menggunakan nomor urut kelompok;

5) Menggunakan warkat baku, namun dapat menggunakan standar

kertas sekuriti yang lebih rendah bila dibandingkan dengan warkat baku pada sistem otomasi dan elektronik;

6) Kesalahan perhitungan lebih sering terjadi;

7) Memiliki wakil peserta sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang

mempunyai kewenangan untuk membuat, mengubah dan

menandatangani Daftar Warkat Kliring Penyerahan/

Pengembalian, Neraca Kliring Penyerahan/Pengembalian, Bilyet Saldo Kliring serta menandatangani dan mencantumkan nama jelas sebagai tanda terima pada Daftar Warkat Kliring Penyerahan/Pengembalian yang diterima dari peserta lain.

commit to user

40 ii. Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL)

1) Perangkat yang diperlukan

Untuk menjalankan program SOKL diperlukan perangkat yaitu 1 buah PC IBM Compatible, minimal PC seri 486 DX dengan Hardisk minimal 100 Mega Byte dan 1 buah printer.

2) Mekanisme SOKL

a) Proses kliring penyerahan

i. Untuk menjalankan proses ini Cabang masuk ke dalam menu Kliring Penyerahan. Dalam menu ini berisi 7 menu pilihan. Pada saat mengisi data Cabang diminta untuk mengisi sandi bank kantor sebagai bank peserta kliring yang akan menyerahkan warkat.

ii. Selanjutnya Cabang harus mengisi data mengenai warkat yang akan dikliringkan. Setelah selesai pengisian data warkat petugas kliring harus memeriksa kembali untuk menghindarkan pengisian data yang keliru/salah. Bila

sudah benar kemudian melakukan Rekam untuk

menyimpan data yang sudah diisi dengan benar.

iii. Data warkat yang akan diserahkan ke bank penyelenggara kliring harus sesuai antara total manual dengan perhitungan dalam komputer. Untuk menguji kebenaran yang telah dilakukan, petugas kliring harus mengisi menu Bukti Penyerahan Rekaman Warkat Kliring Penyerahan.

commit to user

41 Apabila total lembar dan total nominal yang dimasukkan sudah benar, petugas kliring harus membuat disket kliring jika sebagai peserta kliring langsung dan atau disket transfer jika status sebagai cabang pembantu.

iv. Setelah selesai membuat disket kliring atau transfer, petugas kliring diminta untuk mebuat laporan melalui menu laporan kliring lokal penyerahan, yaitu daftar rincian warkat debet dan kredit yang diserahkan dengan total lembar dan nominal, daftar rincian warkat debet dan kredit yang diterima dengan total lembar dan nominal.

v. Apabila Cabang Bank BNI mempunyai kantor cabang

pembantu, maka disket yang dibuat oleh Cabang Pembantu warkat harus digabung di kantor cabang induknya.

b) Kliring Pengembalian

i. Untuk melakukan proses ini Cabang yang akan

mengembaliakn warkat ke Bank penyelenggara kliring harus mengisi data kliring pengembalian.

ii. Apabila ada warkat yang ditolak cabang harus mengisi pada data tolakan sampai dengan penolakannya.

iii. Selanjutnya cabang melakukan:

(a) Rekam data, untuk menyimpan data yang sudah diisi dengan benar.

commit to user

42 (b) Koreksi data, untuk mengoreksi data yang saat itu

sedang proses isi data bila ada.

(c) Batal data, untuk membatalkan data yang saat itu sedang proses isi data bila perlu.

(d) Cabang melakukan rekam disket untuk data warkat yang akan diserahkan kepada bank penyelenggara kliring. Untuk penyerahan data itu antara jumlah nominal yang dihitung secara manual dengan perhitungan dalam computer harus sama.

(e) Apabila total lembar dan total nominal warkat yang enter ke dalam computer sudah benar, maka cabang melanjutkan proses lainnya yaitu membuat disket kliring atau disket transfer bila sebagai kantor cabang pembantu.

(f) Membuat atau mencetak laporan-laporan yang

diperlukan yaitu: i) Laporan kredit ii) Laporan debet

iii) Cetak Surat Keterangan Penolakan (SKP)

(g) Bagi kantor cabang pembantu penyerahan disket transfer ke penyelenggara kliring harus digabung lebih dahulu dengan kantor cabang induknya.

commit to user

43 c. Sistem Otomasi

1) Dalam pelaksanaan kliring secara otomasi semua

anggota/peserta kliring hanya menyerahkan warkat kliring kepada lembaga kliring yang selanjutnya akan disortir dan diproses oleh lembaga kliring BI. Selanjutnya akan disortir dan diproses oleh lembaga kliring Bank Indonesia dengan computer.

2) Agar lembaga kliring (Bank Indonesia) dapat melakukan sortir dan memprosesnya, warkat-warkat kliring tersebut harus memuat informasi berupa kode-kode yang dicetak dengan MIRC. Karena itu setiap warkat kliring yang diserahkan ke lembaga kliring harus memuat informasi lengkap dengan MIRC (Magnetic Ink Character Recognition), yaitu:

a) Nomor seri warkat b) Sandi bank peserta, diisi:

i. Sandi Bank BNI (000)

ii. Sandi cabang (3 digit) iii. Cek digit (1 digit)

c) Nomor rekening nasabah (10 digit + 1 cek digit) d) Kode transaksi (2 digit)

e) Nominal warkat (14 digit)

Informasi diatas pada saat warkat Cek, Bilyet Giro akan diserahkan, dijual kepada nasabah terlebih dahulu harus

commit to user

44 dicetak, kecuali nominal warkat yang akan diisi pada saat akan dikliringkan. Sedangkan nota debet maupun nota kredit harus dicetak secara lengkap. Untuk keperluan tersebut diperhatikan mesin MIRC Encoder yang dapat mencetak informasi diatas. 3) Setiap cabang yang berdomisili di daerah kliring otomasi

dilengkapi dengan- 2 unit MIRC Encoder: a) 1 unit mesin Cek dinding

b) 2 unit mesin teraan materai 4) Mekanisme kliring otomasi a) Kliring penyerahan

a. Setiap penyerahan warkat kliring ke lembaga kliring terlebih dahulu di-encode pada kolom tersedia (MIRC Band). Adapun informasi pada MIRC Band adalah

(a) Nomor seri warkat 6 digit (b) Nomor sandi bank 3 digit

(c) Nomor sandi cabang (Sandi LBB) 4 digit

(d) Nomor rekening 10 digit + 1 cek digit ( cek dan BG di cantumkan nomor rekening nasabah sedangkan pada DN dan KN dicantumkan rekening yang dituju.)

(e) Sandi transaksi : (i) Cek : 00 (ii) Bilyet giro : 10 (iii) Debet Nota : 40

commit to user

45 (iv) Kredit Nota : 50

(f) Nilai nominal warkat 14 digit

b. Cabang pada waktu menyerahkan blanko cek/BG kepada nasabah agar terlebih dahulu meng-encode nomor rekening nasabah pada kolom yang tersedia (MIRC band)

iii. Penyerahan warkat ke lembaga kliring harus menggunakan dokumen control yang disediakan oleh Bank Indonesia, yaitu : (a) Bukti penyerahan warkat debet

(b) Bukti penyerahan warkat kredit

(c) Bukti penyerahan warkat transaksi pasar uang (d) Bukti penyerahan warkat kliring pengembalian (e) Substitusi

(f) Kartu Batch iv. Dokumen control

a) Bukti penyerahan warkat

b) Bukti penyerahan warkat kredit: (i) Dibuat rangkap 2 (dua)

(ii) Asli diisi informasi dalam sandi MIRC yaitu sandi Bank/Cabang dan sandi transaksi diisi 60

(iii)Dalam bukti penyerahan kredit harus memuat informasi lain yaitu nama dan sandi peserta, tanggal kliring, nilai nominal dan tanda tangan serta nama jelas petugas yang menyerahkan.

commit to user

46 c) Kartu Batch

Dalam form kartu batch BI telah mencantumkan sandi MIRC bagi bank peserta kliring, sedangkan untuk pencantuman informasi selanjutnya dilakukan oleh Bank peserta, sbb: i. Nomor warkat

(a) Tiga digit pertama diisi dengan angka 000

(b) Tiga digit terakhir diisi dengan 3 digit pertama sandi peserta yang menyerahkan.

ii. Sandi bank/kantor peserta

(a) Tiga digit pertama diisi 3 digit sandi kantorpeserta tanpa angka penguji

(b) Empat digit terakhir diisi angka iii. Sandi transaksi diisi dengan angka 96

iv. Nilai nominal diisi dengan hasil penjumlahan nominal warkat kliring yang dilampirkan

v. Setiap kartu batch untuk 200 lembar warkat yang

diserahkan.

vi. Masing-masing bundel warkat debet dan kredit dibuat kartu batch

vii. Pada pagi hari Cabang menerima penyerahan warkat dan neraca kliring dari Bank Indonesia.

commit to user

47 b) Kliring pengembalian

i. Penyiapan warkat (a) Memeriksa warkat

(b) Melakukan entry data warkat

(c) Menyiapkan surat keterangan penolakan (d) Menyiapkan dokumen kontrol dan bukti

(e) Membundel warkat dan dokumen kontrol

ii. Penyerahan pengembalian warkat

Untuk daerah kliring otomasi pengembalian warkat dilakukan dengan Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL). Dengan demikian setelah penyiapan warkat di Cabang di atas, Cabang harus : (a) Enter data warkat yang ditolak ke dalam computer

(b) Mencocokkan antara jumlah secara manual dengan perhitungan dalam komputer,

(c) Mencetak bukti penyerahan rekaman warkat kliring

pengembalian

(d) Menyiapkan disket kliring

(e) Menyiapkan laporan kliring pengembalian, terdiri dari: (i) Laporan kredit

(ii) Laporan debet

(iii)Cetak surat keterangan penolakan (SKP)

(iv) Daftar warkat yang ditolak dengan alasan kosong (bila ada)

commit to user

48 d. Sistem Kliring Nasional

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut SKNBI adalah Sistem Kliring Bank Indonesia yang meliputi Kliring debet dan Kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

Penyelenggaraan SKNBI tunduk pada Peraturan Bank Indonesia No. 7/18/PBI/2005 tentang Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia

tanggal 22 Juli 2005. SKNBI untuk pertama kalinya

diimplementasikan di wilayah kliring Jakarta pada tanggal 29 Juli 2005. Sampai dengan akhir tahun 2005, seluruh wilayah kliring di

Jawa Barat telah diimplementasikan SKNBI. Pelaksanaan

implementasi SKNBI untuk wilayah kliring lainnya akan dilaksanakan secara bertahap sampai dengan tahun 2007.

Lazimnya warkat kliring debet yang ditolak oleh bank meliputi warkat Cek dan Bilyet Giro, serta beberapa warkat Nota Debet. Untuk warkat Cek dan Bilyet Giro, sesuai angka IV dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 2/10/DASP tanggal 8 Juni 2000 perihal Tata Usaha Penarikan Cek/Bilyet Giro Kosong, terdapat 17 alasan penolakan Cek/Bilyet Giro yaitu :

1) Saldo tidak cukup;

2) Rekening telah ditutup (termasuk ditutup atas permintaan sendiri);

commit to user

49 4) Tanggal efektif Bilyet Giro belum sampai;

5) Cek ditarik kembali oleh Penarik setelah berakhirnya tenggang waktu pengunjukkan;

6) Bilyet Giro dibatalkan oleh Penarik setelah berakhirnya tenggang waktu penawaran;

7) Sudah Kadaluarsa;

8) Coretan/perubahan tidak ditandatangani oleh Penarik; 9) Bea meterai belum dilunasi;

10) Tanda tangan tidak cocok dengan specimen; 11) Stempel Kliring tidak ada;

12) Stempel Kliring tidak sesuai dengan Bank Penerima;

13) Endosemen pada Cek atas nama atau Cek atas order tidak ada; 14) Warkat diblokir pembayarannya (surat keternagan Kepolisian

terlampir);

15) Rekening diblokir oleh instansi yang berwenang (surat pemblokiran terlampir);

16) Warkat bukan untuk kami;

17) Perhitungan/encode tidak sesuai dengan nominal yang sebenarnya.

Dalam dokumen RAMA JUNI TAMBUNAN F3309092 (Halaman 53-64)

Dokumen terkait