Penggunaan Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE), atau dikenal juga
dengan nama Social Accounting Matrix (SAM) erat kaitannya dengan tabel dalam neraca ini, yang dapat memberikan gambaran mengenai berbagai indikator
ekonomi dan sosial wilayah serta dapat menghubungkan indikator-indikator
tersebut secara kompak (bersama-sama). Suatu kerangka statistik (statistical framework) yang dapat menggabungkan berbagai indikator atau ukuran pembangunan sudah sejak lama menjadi bahan pemikiran para ahli statistik dan
perencana pembangunan. Indikator-indikator atau ukuran-ukuran pembangunan
yang selama ini tersedia, seperti ukuran-ukuran produksi, pendapatan,
SNSE merupakan salah satu cara yang lain untuk memantau masalah
pemerataan atau distribusi pendapatan dan masalah ketenagakerjaan di suatu
wilayah baik negara ataupun bagian suatu negara (provinsi, kabupaten). Instrumen
ini dibangun dalam matriks yang terdiri dari kolom dan baris yang menunjukkan
arus uang (finansial) masuk dan keluar pada berbagai sektor dalam perekonomian.
SNSE merupakan sistem social account dengan single entry, dimana dapat digunakan untuk menelusuri arus keuangan dalam perekonomian. Disamping itu
SNSE dapat pula digunakan untuk menganalisa dampak suatu kebijakan,
memprediksi dan menguji keterkaitan antara aspek sosial dan pembangunan
ekonomi (Allen, 1998).
Titik awal penyusunan kerangka SNSE dalam menjelaskan hubungan
ekonomi dan sosial masyarakat dimulai dari kenyataan bahwa masyarakat
mempunyai kebutuhan dasar (basic needs and wants) yang harus dipenuhi melalui pembelian sejumlah komoditas. Total permintaan efektif terhadap paket
komoditas tersebut kemudian dipenuhi oleh sektor-sektor produksi yang
menghasilkan berbagai output atau produk. Untuk dapat menghasilkan output
tersebut, sektor produksi membutuhkan faktor-faktor produksi, seperti tenagakerja,
modal dan sebagainya. Permintaan turunan (derived demand) terhadap faktor produksi tenagakerja memberikan balas jasa berupa upah dan gaji, sedangkan
terhadap faktor produksi modal memberikan balas jasa berupa keuntungan,
deviden, bunga, sewa rumah, dan sebagainya (disebut juga sebagai pendapatan
kapital). Distribusi pendapatan yang diterima masing-masing faktor produksi
dirinci menurut sektor ekonomi yang menghasilkan disebut sebagai distribusi
akan menghasilkan nilai tambah (value added) dan total nilai tambah tersebut dikenal sebagai PDB atau PDRB.
Secara diagram, sistem modular SNSE disajikan pada Gambar 2.
Sumber : SNSE (BPS, 2000)
Gambar 2. Diagram Sistem Modular SNSE
Pendapatan faktorial kemudian diterima oleh berbagai pelaku ekonomi,
seperti rumahtangga, perusahaan, dan pemerintah. Pendapatan faktorial yang
diterima oleh rumahtangga akan memberikan kontribusi bagi pendapatan
rumahtangga; dan ini akan menimbulkan distribusi pendapatan rumahtangga.
Rumahtangga yang memiliki faktor-faktor produksi yang relatif banyak akan
menerima pendapatan yang lebih besar dari pada mereka yang memiliki
faktor-faktor produksi yang relatif sedikit. Pendapatan yang diterima oleh
masing-masing faktor ekonomi, seperti rumahtangga dibelanjakan sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan mereka sedangkan sisanya ditabung untuk maksud
Kebut uhan Dasar
Pengeluaran Rum aht angga
Perm int aan Akhir Dist ribusi Pendapat an
Rum aht angga
Pem erint ah Ekspor, I m por, dan
Ner aca Pem bayaran
Kegiat an Produksi PDB dan Dist ribusi
Pendapat an I nvest asi
pembentukan modal atau investasi. Bagi rumahtangga, hal ini menimbulkan apa
yang disebut sebagai pola pengeluaran rumahtangga, yang memberikan gambaran
mengenai pengeluaran rumahtangga menurut berbagai komoditas dan tabungan.
Oleh karena itu, dalam kerangka SNSE terdapat 3 tahap mapping untuk dapat membedakan dan menggambarkan keterkaitan proses-proses :
a. Struktur produksi;
b. Distribusi nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor produksi (distribusi
pendapatan faktorial);
c. Pendapatan, konsumsi, tabungan, dan investasi (distribusi pendapatan dan
pengeluaran rumahtangga).
SNSE dibentuk dengan memperhatikan bahwa masyarakat mempunyai
kebutuhan dasar (basic needs and wants) yang harus dipenuhi melalui pembelian sejumlah paket (bundle) komoditas. Permintaan tersebut kemudian dipenuhi oleh industri-industri yang menghasilkan berbagai output (komoditas-komoditas).
Untuk dapat menghasilkan output, industri membutuhkan berbagai input, seperti
bahan baku, dan juga membutuhkan faktor-faktor produksi, seperti tenagakerja
dan kapital. Rumahtangga sebagai salah satu institusi ekonomi merupakan salah
satu penyedia faktor-faktor produksi dimaksud. Dari kegiatan ini, rumahtangga
memperoleh balas jasa (compensation) berupa upah dan gaji (wages and salaries) untuk faktor produksi tenagakerja dan bunga, deviden, dan sebagainya untuk
faktor produksi kapital. Distribusi balas jasa seperti ini oleh rumahtangga
memberikan informasi mengenai distribusi pendapatan faktor (factorial income distribution). Pendapatan ini merupakan sumber pendapatan rumahtangga yang mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran rumahtangga. Makin besar
kepemilikan faktor-faktor produksi oleh rumahtangga atau dengan perkataan lain
makin besar factor endowments dari rumahtangga, maka makin besar pendapatan yang dapat diterima oleh rumahtangga; dan sebaliknya.
Tabel 4. Kerangka Dasar Sistem Neraca Sosial Ekonomi
Penerimaan Pengeluaran Total Faktor Produksi Institusi Sektor produksi Neraca lainnya Faktor produksi 0 0 Alokasi nilai tambah ke faktor produksi Pendapatan faktor produksi dari luar negeri Distribusi pendapatan faktorial Institusi Alokasi pendapatan faktor produksi ke institusi Transfer antar institusi 0 Transfer dari luar negeri Distribusi pendapatan institusi Sektor produksi 0 Permintaan akhir Permintaan antara Ekspor dan
investasi Total output
Neraca lainnya Alokasi pendapatan faktor produksi ke luar negeri Tabungan Impor, pajak tidak langsung Transfer dan neraca lainnya Total penerimaan lainnya Total Distribusi pengeluaran faktor produksi Distribusi pengeluaran institusi Total input Total pengeluaran lainnya Sumber : SNSE (BPS, 2000)
Pendapatan tersebut kemudian dibelanjakan kembali untuk memenuhi
berbagai kebutuhan rumahtangga yang dikeluarkan sebagai pengeluaran konsumsi
(consumption expenditures) dimana keseluruhan pendapatan dapat habis dikeluarkan untuk pengeluaran konsumsi tanpa adanya tabungan, atau sebagian
pendapatan dapat disisihkan sebagai tabungan. Tabungan rumahtangga tersebut
kapasitas produksinya, dengan demikian output dan sekaligus pendapatan nasional
menjadi meningkat.
Proses tersebut dalam ekonomi makro dikenal sebagai model
pengeluaran-pendapatan (circular flow model) dan akan menjadi sempurna bila menyertakan juga peranan sektor-sektor lainnya, seperti pemerintah dan luar negeri, dalam
model tersebut. Dengan demikian, SNSE berupaya untuk menggambarkan
keterkaitan antara :
1. Kegiatan atau struktur produksi atau pendapatan nasional
2. Distribusi pendapatan faktor
3. Distribusi pendapatan rumahtangga
4. Konsumsi, tabungan, investasi, dan kegiatan-kegiatan lain yang mempengaruhi
pendapatan regional suatu wilayah, seperti ekspor dan impor.
Bentuk dasar kerangka SNSE berupa matriks dengan 4 (empat) neraca
utama, yaitu : (1) neraca faktor produksi, (2) neraca institusi, (3) neraca sektor
produksi, dan (4) neraca lainnya (rest of the world). Dengan memahami arti kerangka SNSE tersebut, maka SNSE merupakan kumpulan data yang dapat
digunakan sebagai alat analisis dan dapat menjelaskan antara lain :
1. Kinerja atau keragaan pembangunan ekonomi suatu negara, seperti PDB,
tabungan negara
2. Distribusi pendapatan faktorial, yaitu distribusi pendapatan yang dirinci
menurut faktor-faktor produksi, seperti pendapatan yang diterima tenaga kerja
berupa upah dan gaji, dan yang diterima oleh faktor produksi modal, seperti
3. Distribusi pendapatan dan kemiskinan rumahtangga yang dirinci menurut
berbagai golongan rumahtangga.