• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem pangan dan elemennya A. Lingkungan dan jenis makanan

SISTEM PANGAN PENDUKUNG BUDAYA HOABINH Ketut Wiradnyana

A. Pendekatan konsep

II. Sistem pangan dan elemennya A. Lingkungan dan jenis makanan

Situs arkeologi dengan periodisasi prasejarah yang ditemukan di pesisir timur pulau Sumatera berada pada dataran rendah yang meliputi pesisir pantai dan pada dataran tinggi meliputi pegunungan di sekitar Bukit Barisan (Wiradnyana 2008: 71). Sisa ekofaktual yang ditemukan menunjukkan bahwa berbagai sisa fauna yang diantaranya hidup di air dan juga di daratan. Fauna dimaksud diindikasikan sebagai jenis makanan yang dikonsumsi manusia prasejarah.

Situs prasejarah yang diindikasikan sebagai hunian masa lalu tersebut, selalu dekat dengan sumber makanan. Dapat diduga bahwa hunian sangat berkaitan dengan sumber makanan dan juga lingkungan sumber makanan dimaksud. Hal tersebut dibuktikan dari keberadaan situs di pesisir yang cenderung menyisakan ekofaktual dengan dominasi fauna yang hidup di air. Terlebih dengan situs-situs arkeologis pada masa prasejarah, dulunya berada pada lokasi dekat dengan muara sungai, tinggalannya didominasi oleh ekofaktual dari fauna yang hidup di air atau sekitarnya. Sedangkan situs yang berada di pegunungan cenderung sisa ekofaktualnya didominasi oleh tulang binatang yang hidup di darat. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diduga bahwa sumber dan jenis makanan manusia masa prasejarah berkaitan erat dengan lokasi huniannya. Hal tersebut terjadi kemungkinan berkaitan erat dengan asas - asas mentalitas manusia yang pada hakekatnya sama di mana-mana (Firt 1939, dalam Koentjaraningrat 1990: 174). Dalam memenuhi kebutuhan pangan tidak selalu berlaku kaku. Artinya kelompok orang yang tinggal di pesisir hanya akan memenuhi kebutuhan pangannya dari fauna yang berada di pesisir saja akan tetapi juga diusahakan dari fauna yang berada di daratan. Hal itu ditunjukkan dari sisa tulang pada situs-situs pesisir yang tidak hanya menyisakan fauna air laut atau payau tetapi juga beberapa jenis hewan darat (Wiradnyana 2008: 69--77). Hal tersebut juga disebabkan oleh faktor iklim yang tidak selalu menyediakan bahan pangan sejenis setiap harinya. Artinya bahan pangan seperti moluska tidak selalu melimpah dilokasi setiap harinya, jadi kadangkala jumlah moluska cenderung berkurang (Bintarti 1986: 73--91). Untuk menyikapi kondisi tersebut

manusia masa prasejarah melakukan perburuan yang lebih intensif di sekitar hunian.

Adapun jenis makanan yang teridentifikasi dari situs-situs dataran rendah di pesisir timur Pulau Sumatera yaitu pada situs–situs bukit kerang yaitu dapat diklasifikasikan atas lima filum yaitu: filum moluska, filum vertebrata, filum spermatophyta, filum Arthropoda dan filum Chordata.

1. Filum moluska a. Kelas Pelecypoda

NO SUKU LINGKUNGAN

MAKRO MIKRO

1 Arcidae Laut Daerah pasang surut yang terdapat pasir, terumbu karang atau lumpur 2 Arcticidae Laut Daerah pasang surut yang terdapat

pasir, terumbu karang atau lumpur 3 Ostreidae Laut Pantai atau rawa-rawa air payau 4 Tellinidae Laut Pantaiberpasir atau karang koral 5 Corbiculidae Laut,

air tawar

Pantai berpasir atau berlumpur, sungai atau danau

6 Tridacnidae Laut Pantai berpasir atau terumbu karang 7 Mactridae Laut Tempat berpasir atau terumbu karang 8 Vulsellidae Laut Tempat berpasir, berlumpur atau

terumbu karang 9 Dreissenidae Air tawar Sungai, danau 10 Corbiculidae Air tawar Sungai, danau (Wiradnyana 1998; 2005: 48--49)

b. Kelas Gastropoda

NO SUKU LINGKUNGAN

MAKRO MIKRO

1 Neritidae Laut Pantai berpasir, berlumpur atau terumbu karang

2 Silliquaridae Laut Tempat berpasir, berlumpur atau terumbu karang

3 Potaminidae Laut Tempat berpasir atau berlumpur, air payau dan hutan mangrove

4 Helicidae Laut Pantai berpasir, berlumpur atau terumbu karang

5 Tonnidae Laut Pantai atau laut yang dangkal dan terumbu karang

6 Thiaridae Air tawar Sungai dan danau 7 Capolidae Laut dan

darat

Terumbu karang dan tumbuhan 8 Melongenidae Laut Laut yang dangkal

9 Lymnaeidae Laut Laut yang dangkal

10 Volutidae Laut Daerah pasang surut yang berpasir, berlumpur dan terumbu karang

11 Conidae Laut Daerah pasang surut yang berpasir, berlumpur dan terumbu karang

12 Ellobiudae Laut Daerah pinggiran seperti hutan mangrove, muara yang berlumpur atau terumbu karang

13 Naticidae Laut Pantai berpasir

14 Turritellidae Laut Pantai berpasir atau pada pasir yang berlumpur

15 Struthiolariidae Laut Pantai berpasir atau pada pasir yang berlumpur

2. Filum Vertebrata

Filum vertebrata yang ditemukan dari hasil penelitian di situs bukit kerang secara umum dapat dikatakan sebagai hewan vertebrata dari kelas mamalia yang hidup di darat. Selain itu ada beberapa yang hidup di air seperti dari kelas reptilia diantaranya bulus dan kelas pisces yaitu ikan. Adapun uraian dari filum vertebrata adalah sebagai berikut:

KELAS ORDO SUKU

(kelompok binatang) MAMALIA Artiodactyla Bovidae (kerbau/sapi) Cervidae (rusa) Suidae (babi) Perissodactyla Rhinoceritidae (badak) Primata Cercopithecidae Macaca (monyet) Carnivora (musang) REPTILIA Ophidia Boaidae (ular) Squamoza Vanaridae (biawak) Chelonia

Testudinidae (bulus, kura-kura)

(Wiradnyana 1998; 2009)

3. Filum Chordata

Teridentifikasi dari fragmen tulang dengan jumlah yang sangat terbatas. Namun keberadaan hewan ini diindikasikan sebagai bahan pangan yang didapatkan di sekitar tempat tinggal. Adapun klasifikasi hewan dimaksud:

KELAS ORDO SUKU

(kelompok binatang)

Pisces Malacopteri Chanidae (ikan)

(Wiradnyana 1998; 2005: 48--49) 4. Filum Arthropoda

Filum ini merupakan salah satu hewan yang juga diindikasikan sebagai bahan pangan bagi kelompok orang pendukung budaya hoabinh. Hewan yang dianalisis dari spesies Scilla serrata ini ditemukan tidak terlalu banyak pada situs–situs bukit kerang. Adapun klasifikasi hewan dimaksud:

KELAS ORDO SUKU

(kelompok binatang)

Crustacea Decapoda (kepiting)

(Wiradnyana 1998; 2005: 48--49) 5. Filum Spermatophyta

Hasil analisis yang dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional pada pollen yang telah dilakukan pada situs bukit kerang Pangkalan, Aceh Tamiang diantaranya yang memungkinkan menjadi bahan makanan manusia di situs dimaksud yaitu teridentifikasi sebagai:

KELAS. SUKU NAMA KELOMPOK TUMBUHAN

Dicotyledonae Convolvulaceae Kangkung-kangkungan Leguminosae/

Papilionaceae

Polong-polongan/Kacang-kacangan

tumbuhan Convolvulaceae merupakan jenis tumbuhan

merambat/menjalar contohnya seperti kangkung darat (Ipomoea batatas, Ipomoeae aquea, Ipomoea fistulosa dan lain sebagainya). Suku Leguminosae/Papilionaceae disebut juga suku polong-polongan/kacang-kacangan yang merupakan tanaman penghasil komoditi yang berharga,

merupakan bahan pangan dengan nilai gizi yang tinggi karena banyak mengandung lemak dan vitamin-vitamin. Contoh tumbuhan dari famili ini adalah kacang tanah, kedelai, petai, jengkol, pohon asam jawa, flamboyan, kembang telang kecipir, acasia, alpukat dan lain-lain (Wiradnyana 2009: 24--27).