B. Hal-hal yang Dikaji
3. Sistem Pembiayaan UKM
3. Sistem Pembiayaan UKM
Untuk mendapatkan data, beberapa peubah dari kajian disusun dalam bentuk kuesioner yang ditanyakan kepada responden (Lampiran 1). Dari jawaban responden diperoleh data pada Tabel 10 dan 11.
a. Kredit Usaha Rakyat sudah sesuai dengan UKM
Berdasarkan hasil kuesioner pada para Nasabah/Debitur BNI KUR yang dimuat pada Tabel 11, dapat ditarik kesimpulan bahwa skim KUR telah sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan UKM, terlihat dari total responden yang menyatakan “ya” (84,0%) dan yang menjawab tidak (16,0 %)
Terlepas dari beberapa kekurangan, keberadaan KUR dinilai sudah tepat manakala dibutuhkan sebagai modal dalam menopang usaha, daya tarik KUR lebih pada persyaratannya yang lebih simpel dan acceptable sesuai dan sejalan dengan karakteristik UKM yang
masih banyak belum bankable tetapi banyak memiliki prospek
Tabel 10. Hasil isian kuesioner mengenai penyaluran KUR
No Jenis pertanyaan Jawab (%)
Ya Tidak
1. Apakah anda sudah merasa sesuai dengan tingkat bunga BNI KUR saat ini ? 80 20
2. Apakah Anda lebih menyukai sistem bunga dalam berhubungan dengan perbankan ? 85 15
3. Apakah Jika ada perbedaan suku bunga KUR di bank
lain, anda akan beralih menjadi Debitur bank tersebut ? 85 15
4. Apakah Anda sudah merasa sesuai dengan ketentuan jangka waktu KUR saat ini ? 84 16
5.
Apakah Anda sudah merasa sesuai dengan sifat/bentuk kredit saat ini (Kredit Modal Kerja (KMK) : Aflopend(*), Investasi : Aflopend menurun, KMK Transaksional : clean-up ?)
90 10
6.
Apakah Anda sudah merasa sesuai dengan besarnya angsuran pokok dan bunga yang harus dibayar setiap bulannya saat ini ?
78 22
7.
Apakah Anda sudah merasa sesuai dengan besarnya maksimum kredit yang diterima anda bila dibandingkan dengan volume usaha Anda saat ini ?
75 25
8. Apakah menurut Anda sudah sesuai dengan maksimum KUR untuk UKM pemula maksimal Rp 500 juta ? 80 20
9.
Apakah Anda sudah merasa sesuai dengan besarnya jaminan tambahan yang disyaratkan untuk maksimum kredit yang diperoleh ?
84 16
10. Menurut Anda, apakah keberadaan KUR tepat ketika usaha Anda membutuhkannya ? 90 10
11. Menurut Anda, apakah aspek permodalan merupakan kendala utama untuk UKM ? 90 10
12.
Apakah kredit yang anda peroleh penggunaannya sudah sesuai dengan peruntukan saat permohonan KUR diajukan ?
80 20
13. Berdasarkan catatan Anda, apakah telah terjadi peningkatan kinerja setelah mendapatkan KUR ? 85 15
14.
Menurut anda, secara umum apakah syarat disposisi (pencairan) kredit dalam SKK (surat keputusan kredit) memberatkan Saudara ?
85 15
15.
Apakah dalam memproses permohonan kredit Saudara, BNI telah melakukannya sesuai dengan ketentuan dalam perbankan ?
89 11 (*) Sistem pembayaran/pengembalian kredit dengan mencicil sejumlah hutang pokok dan bunga sesuai jangka waktu yang disepakati.
Kondisi skim atau pola UKM telah sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan UKM, didasari oleh hal-hal berikut :
1) Bunga Pinjaman.
Pembiayaan KUR dengan suku bunga tetap dinilai lebih sesuai dibandingkan pola bunga mengambang atau anuitas, karena jumlah kewajiban bunga yang harus dibayar oleh debitur bersifat tetap (fixed). Dalam hal ini debitur tidak perlu lagi menghitung berapa kewajiban dan berapa besar bunga yang harus dibayarkan ke bank setiap bulannya. Debitur juga dapat diuntungkan apabila dalam masa kredit terjadi masalah ekonomi yang mengakibatkan naiknya suku bunga pinjaman.
Terkait suku bunga, KUR kurang sesuai adalah ada yang lebih menyukai dengan sistem bagi hasil (sesuai syariah) dan
beberapa diantaranya bersifat “rate minded”, yaitu menginginkan
adanya pengenaan suku bunga terendah, sehingga apabila ada bank lain yang menawarkan suku bunga lebih kecil, memungkinkan untuk beralih bank. Kenyataan ini harus menjadi perhatian Perbankan dan Pemerintah apabila ingin meningkatkan penyaluran KUR, saat ini suku bunga KUR berkisar 14% per tahun
sedangkan suku bunga acuan (BI Rate) berkisar 7% spreed yang
diperoleh berarti mencapai 7%. Oleh karena itu pernyataan yang menghendaki suku bunga turun dan menyatakan KUR kurang
menarik dinilai wajar apabila mengacu pada spreed ideal yang 2%
– 3% maka suku bunga untuk KUR ideal diangka 9% – 11%.
2) Angsuran Pokok/Bunga dan Jangka Waktu Kredit
Pembayaran yang dilakukan oleh UKM terhadap kewajiban
KUR umumnyatelah sesuaimenggunakan pola pembayaran tetap
selama jangka waktu tertentu sesuai dengan akad dan tidak
tergantung kepada cash flow dan laba/rugi, (dhi. 3 tahun). Hal
tersebut mudah diterapkan, karena sesuai dengan karakteristik UKM yang lemah dari sisi manajerial, sehingga berdampak terhadap laporan keuangan yang dihasilkan.
Namun demikian perlu diperhatikan tidak semua pelaku
UKM cocok dengan system aplofend, diantaranya ada yang
menginginkan sistem pembayaran secara rekening koran yaitu
digunakan dan pokok dibayar diakhir masa kredit atau memperpanjangnya untuk masa satu tahun berikutnya. Hal demikian dikarenakan beberapa debitur (yang mengerti) menghendaki adanya kesesuaian dengan jenis usaha yang dijalani dengan kebutuhan modal kerja berulang.
3) Maksimum Kredit
Maksimum kredit yang diterima saat ini telah sesuai dengan kebutuhan/modal yang diperlukan. Penggunaan kredit juga telah berdampak pada peningkatan aktifitas usaha.
Namun demikian maksimum kredit yang diperoleh ada yang kurang maksimal untuk modal perluasan usaha sesuai rencana, sehingga diantaranya ada yang belum mampu meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan. Kondisi demikian biasanya terjadi karena kurangnya kemampuan para debitur dalam membuat semacam proposal kredit yang berdampak kurang optimalnya petugas Bank dalam menilai prospek (diluar persyaratan kredit lainnya), sehingga maksimum kredit yang diputuskan tidak optimal, atau ketersediaan agunan tambahan debitur yang tidak mencapai 30%.
4) Agunan dan Agunan Tambahan.
Jaminan atas KUR yang diperoleh oleh debitur adalah barang atau objek yang dibiayai dari pencairan kredit tersebut ditambah dengan agunan tambahan berupa tanah/bangunan minimal 30% dari maksimum kredit. Jika ditelaah lebih lanjut, timbulnya persyaratan penyediaan nilai agunan sebesar 30% dari nilai kredit sebenarnya disebabkan adanya benturan kepentingan yang berbeda antara Pemerintah, Perusahaan Penjaminan Kredit, Perbankan, dan Debitur. Dari sisi Pemerintah, penyaluran KUR
sebanyak mungkin adalah indikator kunci keberhasilan
Pemerintah. Dari sisi Perusahan Penjaminan Kredit, penyaluran KUR maksimum dapat memberikan penerimaan premi
penjaminan semakin besar, juga jumlah Non Perfroming Loan
(NPL) kecil merupakan indikator kesuksesan program penjaminan. Bagi perbankan, penyaluran KUR yang besar dengan NPL rendah
merupakan bisnis menguntungkan. Sedangkan dari sisi debitur, memperoleh kredit dengan mudah dan (kalau perlu) tanpa agunan adalah impian para UKM.
Pemerintah telah memberikan jaminan melalui perusahaan penjaminan 70% dari plafond kredit, dengan harapan perbankan akan lebih berani menyalurkan pinjaman. Namun demikian, jika tujuan pemerintah hanya pada besarnya nilai penyaluran kredit, maka seharusnya nilai penjaminan tidak hanya 70% namun 100%, sehingga tidak ada alasan lagi bagi perbankan untuk menolak permintaan kredit yang diajukan oleh UKM walaupun tanpa adanya agunan tambahan. Jika ini yang dilakukan pemerintah maka UKM dan perbankan akan sangat diuntungkan, namun hal ini akan menimbulkan moral hazard bagi para pihak terkait. Bagi perbankan, karena tidak ada risiko maka petugas kredit akan dengan mudah untuk memberikan kredit tanpa adanya pertimbangan matang. Sedangkan bagi debitur, karena tidak ada agunan diserahkan kepada bank, maka tidak ada risiko jika mereka tidak membayar kewajiban kepada bank. Kalau ini terjadi maka yang akan menderita kerugian adalah perusahan penjaminan karena mereka akan menanggung risiko klaim yang tinggi.
Agunan tambahan ini bukan dimaksudkan untuk
mempersulit proses kredit, namun semata-mata untuk memitigasi resiko. Apabila menurut analisis, ternyata bank belum yakin dengan kemampuan dan keseriusan debitur untuk mengembalikan kredit, khususnya terkait dengan karakter debitur, maka bank memerlukan semacam “komitmen” dari calon debitur dalam bentuk agunan tambahan. Karena perlu dipahami bahwa apabila pemberian sebuah kredit menjadi macet, maka tanggung jawab sepenuhnya kembali kepada petugas bank, tentunya setelah mempertimbangan berbagai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
b. Hambatan dalam penyaluran KUR kepada UKM
Tabel 11. Hasil kuesioner hambatan dalam penyaluran BNI KUR
No. Jenis Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak 1. Sepengetahuan menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ? Anda, apakah hanya BNI yang 85 15 2. Apakah anda memilih BNI karena merupakan salah satu
bank BUMN ? 88 12
3. Apakah anda sering berdiskusi dengan petugas BNI
terkait usaha yang sedang dijalani ? 75 25 4.
Apakah anda merasa tidak keberatan jika petugas bank sering memberikan bantuan manajerial atau coaching teknis dari petugas BNI ?
78 22 5. Apakah anda tidak merasa keberatan jika petugas BNI
ikut mengawasi jalannya usaha Anda ? 85 15 6.
Berapa hari kah waktu yang diperlukan dari permohonan diajukan sampai dengan kredit didisposisi (cair)? Menurut Anda apakah pengurusan kredit di BNI cukup lama ?
65 35
7.
Berapa jauhkan jarak rumah tinggal/tempat usaha anda ke BNI ? ……Km, menurut anda jarak tersebut dinilai
cukup jauh/merepotkan ?
90 10 8. Sependapatkah Anda tentang pandangan perbankan
terhadap UKM yang belum kooperatif ? 74 26 9.
Dari manakah anda mendapat informasi tentang KUR ?
(dari ………) Sependapatkah anda kalau
promosi/informasi KUR dari BNI belum memadai ?
88 12 10. Sependapatkan anda kalau informasi KUR dari dinas
terkait atau pemerintah belum memadai ? 65 35 11.
Sependapatkan anda kalau bantuan dinas terkait terhadap Anda dalam mendapatkan KUR dari perbankan belum memadai ?
89 11
12.
Jika anda tidak tergabung dengan asosiasi bisnis atau perkumpulan bisnis, berdasarkan penilaina Anda apakah lebih nyaman/ menguntungkan ?
87 13 13. Apakah Anda merasa petugas bank berbelit dalam
merespon saat permohonan KUR Anda ? 45 55
14. Menurut Anda, pelaku UKM lain merasa segan apabila
akan mengajukan permohonan KUR ke bank ? 89 11 15. Apakah Anda setuju apabila semua bank menyalurkan KUR ? 95 5
Dari hasil pengisian kuesioner kepada para nasabah BNI yang dimuat pada Tabel 12, dapat ditarik kesimpulan bahwa masih terdapat kendala dalam penyaluran KUR, dimana alasan tertinggi terkait kendala adalah jarak yang jauh untuk menjangkau BNI, promosi tentang KUR yang kurang dari BNI dan pendapat responden yang lebih nyaman dengan tidak bergabung dengan asosiasi/perkumpulan bisnis. Hal tersebut tercermin dari persentase yang menyatakan “ya” (79,87%) dan yang menyatakan tidak (20,13%)
1) Bank Penyalur KUR
Sebagaimana diketahui BNI bukan satu-satunya bank yang menyalurkan KUR, diantaranya BRI, BNI, Bank Mandiri, Bukopin, Bank Syariah Mandiri dan BPD. Seperti halnya dengan pengusaha besar, pengusaha UKM juga menginginkan adanya kemudahan-kemudahan yang diiberikan oleh bank. Debitur UKM lebih senang kalau banyak bank yang menyalurkan KUR, sehingga kondisi persaingan yang terjadi akan berdampak pada upaya bank dalam meramu bentuk pelayanan dan penanganan prima terkait KUR untuk pelaku UKM. Semakin banyak bank penyalur KUR, maka semakin banyak pilihan dan kemudahan aksesibilitas UKM terhadap KUR.
Namun demikian sebagian besar debitur menilai pelayanan dan penangan BNI KUR dinilai telah baik, sehingga dari sisi bank hal ini bukan menjadi hambatan, disamping statusnya yang merupakan Bank BUMN yang telah mapan, debitur enggan untuk beralih bank, bila bukan alasan mendasar.
Kendala akses UKM terhadap BNI justru terletak pada jarak UKM yang tersebar luas, tetapi jangkauan BNI relatif terbatas terutama daerah-daearah diluar pulau Jawa dimana permohonan kredit dari UKM diproses di Sentra-Sentra Kredit atau Kantor Cabang yang belum merata ada disetiap Kabupaten/Kota.
2) Pemrosesan permohonan KUR.
Standar waktu yang diperlukan untuk memproses
permohonan BNI KUR (form lengkap disampaikan ke Bank
sampai keluarnya Surat Keputusan Kredit) adalah 6 (enam) hari kerja. Beberapa debitur menyatakan telah mendapatkan perlakuan baik dari BNI dan memproses permohonan KUR cukup cepat, namun demikian terdapat juga debitur yang menunggu proses lebih dari 2 (dua) minggu.
Kondisi demikian sebenarnya disebabkan oleh beberapa
sebab, pertama load pekerjaan dari petugas kredit yang memang
kurang berimbang atau adakalanya permohonan yang masuk dalam kurun waktu yang sama. Kedua, pemrosesan bisa lama
disebabkan oleh kurang lengkapnya pemenuhan syarat administrasi (seperti Kartu Tanda Penduduk atau KTP jatuh tempo, belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP dan sebagainya). Ketiga, permohonan disampaika kepada outlet layanan BNI (bukan outlet pemroses kredit) sehingga permohonan
akan diteruskan ke sentra kredit atau cabang stand alone yang
memiliki kewenangan memproses kredit atau juga seperti karakteristik UKM pada umumnya, yaitu lemah dalam menuangkan konsep dan perencanaan usaha, sehingga petugas bank memerlukan waktu lebih dalam menggali detil nasabah dan prospek usahanya.
Walaupun KUR dijamin oleh Pemerintah sehingga relatif aman, namun dalam pelaksanaanya petugas bank juga dihadapkan pada aturan internal yang harus mengedepankan asas kehati-hatian yang berdampak pada kinerja individu petugas apabila debitur wan prestasi, dimana masih ada anggapan atau pemahaman keliru dari UKM bahwa KUR merupakan dana hibah karena dijamin oleh Pemerintah.
Agar tidak menjadi hambatan, kedua belah pihak
seyogyanya harus melakukan self improvement, dimana UKM
mulai belajar membenahi kekurangan secara administrasi dan
manajerial, petugas bank juga harus memiiliki job and time
management yang baik serta penguasaan dalam membaca potensi calon debitur karena target dari KUR adalah pelaku UKM yang belum bankable tetapi feasible (layak).
3) Perhatian Perbankan dan Pemerintah terkait KUR.
Sebagian besar debitur mendapatkan informasi KUR justru dari petugas bank pada saat mengajukan permohonan kredit. Pelaku UKM banyak belum mengerti, bahkan diantaranya belum tahu KUR. Setelah mendapat penjelasan dan diarahkan oleh petugas bank baru sadar tentang KUR.
Beberapa debitur menyatakan mendapat informasi KUR dari TV, diantaranya ada juga yang mendapat informasi dari teman dan didatangi oleh petugas bank. Banyak diantara UKM
yang belum mempunyai keberanian untuk berhubungan dengan bank. Kondisi ini harus disikapi oleh semua pihak, perbankan yang sudah mulai kompetitif menyalurkan kredit harus lebih agresif untuk mendapatkan nasabah berprospek, agar kemajuan pemenuhan target kredit lebih terarah dan tetap menjaga kinerja kredit secara umum. Demikian juga Pemerintah, disamping terus melakukan sosialisasi dan edukasi, juga dari sisi regulasi harus betul-betul pro UKM. Sedangkan para pelaku UKM harus terus membekali kemampuan, teknis dan manajerial.
4) UKM banyak belum tergabung dalam asosiasi/perkumpulan.
KUR adalah produk pembiayaan perbankan bersifat mass
produck yang diperuntukan bagi UKM dalam jumlah sangat banyak, sehingga strategi perbankan dalam menjangkau UKM
adalah melalui linkage atau pihak ketiga agar dalam
pelaksanaannya lebih efektf dan efisien. Strategi perbankan tersebut belum optimal karena rataan UKM kita masih banyak yang belum tergabung dalam asosiasi atau perkumpulan, diantaranya merasa lebih nyaman bila bergerak sendiri dalam berbisnis.
Oleh karena itu diperlukan intensifikasi sosialisasi dan edukasi dari pemerintah atau dinas terkait, termasuk perbankan dalam memberi pemahaman kepada UKM untuk bisa lebih komunikatif, menjalin kerjasama dengan sesama UKM, kooperatif dan terbuka dengan petugas bank untuk berdiskusi jalannya usaha sehingga petugas bank dapat memantau dan menyusun strategi pengembangan permodalan terkait perkembangan usahanya.