• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Sistem Pengendalian Intern

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Sistem Pengendalian Intern

Pengendalian internal adalah proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajer serta personil lini dalam suatu entitas, yang dirancang untuk memberikan jaminan yang layak berkaitan dengan pencapaian berbagai tujuan dengan kategori: (1) Efektivitas dan efisiensi operasi; (2) Keandalan laporan keuangan; (3) ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku (Sawyer, Dittenhofer dan Scheiner, 2005:61).

Adapun pengertian sistem pengendalian intern menurut Peraturan Pemerintah No. 08 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah adalah sebagai berikut:“Sistem pengendalian intern adalah suatu proses yang diciptakan manajemen yang diciptakan untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiennsi, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan keandalan penyajian laporan keuangan pemerintah”.

Sedangkan sistem pengendalian intern menurut Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah sebagai berikut: “Sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan asset Negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan”.

Adapun pengertian sistem pengendalian intern menurut Indra Bastian dalam buku Audit Sektor Publik (hal 7: 2007) menyatakan bahwa: “sistem pengendalia intern adalah suatu proses yang dijalankan eksekutif (kepala daerah, istansi/dinas, dan segenap personel) yang diesain untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pecapaian

tiga golongan yang terdiri dari atas: (1). Keandalan laporan keuangan, (2). Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, (3) efektifitas dan efesiensi operasi”.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian intern merupakan suatu proses yang didesain untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian empat golongan tujuan yang terdiri dari keandalan laporan, menjaga kekayaan dan catatan organisasi, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan pemerintah, efektif dan efisiensi operasi.

a. Unsur-unsur Sistem Pengendalian Intern

Unsur sistem pengendalian intern yang berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan dan tolak ukur pengujian efektivitas penyelenggaraan sistem pengendalian intern. Pengembangan unsur sistem pengendalian intern perlu mempertimbangkan aspek biaya manfaat (cost and benefit), sumber daya manusia, kejelasan kriteria pengukuran efektivitas dan perkembangan teknologi informasi serta dilakukan secara komperhensif.

Unsur pokok dari sistem pengendalian internal ini adalah:

1) Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.

2) Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap aset, utang, pendapatan dan beban.

3) Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.

4) Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya. Menurut Peraturan Pemerintah No.60 Tahun 2008 bahwa unsur sistem pengendalian intern dalam Peraturan Pemerintah ini mengacu pada unsur Sistem Pengendalian Intern yang telah dipraktikan di lingkungan pemerintah di berbagai Negara, yang meliputi :

1) Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian menggambarkan keseluruhan sikap organisasi yang memengaruhi kesadaran dan tindakan personel organisasi mengenai pengendalian. Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas (Indra, 2011:11) adalah :

a) Nilai intregritas dan etika. Memelihara suasana etika organisasi, menjadi teladan untuk tindakan-tindakan yang benar. Menghilangkan godaan-godaan untuk melakukan tindakan yang tidak etis dan menegakkan disiplin sebagaimana mestinya;

b) Komitmen terhadap kompetensi. Mengidentifikasi dan menetapkan kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelasaikan tugas dan fungsi pada masing-masing poisisi dalam instansi pemerintah;

c) Filosofi dan gaya operasi manajemen. Pimpinan instansi pemerintah memiliki sikap yang selalu mempertimbangkan risiko dalam mengambil keputusan;

d) Stuktur organisasi. Kerangka kerja bagi manajemen dalam perencanaan, pengarahan, dan pengendalian organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi;

e) Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab. Satuan usaha membatasi garis tanggung jawab dan wewang yang ada;

f) Kebijakan dan praktik sumber daya manusia. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan SDM. Penetapan praktik-praktik yang layak dalam hal perolehan, orientasi, pelatihan, evaluasi, pembinaan, promosi, kompensasi dan tindakan disiplin bagi sumber daya manusia.

2) Penilaian Resiko

Menurut Indra (2011:12) Untuk tujuan pelaporan keuangan adalah proses identifikasi, analisis, dan pengelolaan resiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Diawali dengan penetapan maksud dan tujuan instansi Pemerintah yang jelas dan konsisten baik pada tingkat kegiatan. Selanjutnya Instansi Pemerintah mengidentifikasi secara efisien dan efektif risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan tersebut, baik yang bersumber dari dalam maupun luar instansi. Penaksiran risiko mencakup:

a) Identifikasi Resiko. Mengindentifikasi secara efisien dan efektif risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan instansi, baik yang bersumber dari dalam maupun luar instansi. b) Analisis Resiko. Menentukan dampak dari resiko yang telah

diidentifikasi terhadap pencapaian tujuan instansi.

3) Kegiatan Pengendalian

Menurut Indra (2011:13) Kegiatan pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Kegiatan tersebut membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas. Kegiatan pengendalian memiliki berbagai tujuan dan diterapkan di berbagai tingkat organisasi dan fungsi. Umumnya kegiatan pengendalian yang mungkin relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan berikut ini:

a) Review terhadap kinerja b) Pengolahan informasi c) Pengendalian fisik d) Pemisahan tugas

4) Informasi dan Komunikasi

Informasi adalah data yang telah diolah yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah. Sedangkan komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, Pimpinan Instansi Pemerintah wajib mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat. Komunikasi atas informasi wajib diselenggarakan secara efektif.

5) Pemantauan Pengendalian Intern

Proses penilaian kualitas kinerja dari struktur pengendalian internal sepanjang waktu (Indra,2011:13), dilaksanakan melalui pemantauan berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan review lainnya.

a) Pemantauan berkelanjutan diselenggarakan melalui kegiatan pengelolaan rutin, supervisi, pembandingan, rekonsiliasi, dan tindakan lain yang terkait dalam pelaksanakan tugas.

b) Evaluasi terpisah diselenggarakan melalui penilaian sendiri, review, dan pengujian efektivitas sistem pengendalian intern yang dapat dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah atau pihak eksternal pemerintah.

c) Tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan review lainnya harus segera diselesaikan dan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme penyelesaian rekomendasi hasil audit dan review lainnya yang ditetapkan.

b. Tujuan Sistem Pengendalian Intern

Esensi dari organisasi yang dikendalikan dengan efektif terletak pada setiap manajemen, jika manajmen puncak merasa bahwa pengendalian intern itu penting maka anggota dalam organisasi akan merasakan hal itu dan bereaksi dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebijakan dan prosedur yang telahditetapkan. Di lain pihak, jika pengendalian intern tidak dijadikan kepentingan utama manajemen puncak dan hanya dijadikan lip service maka dapat dipastikan bahwa tujuan pengendalian intern tidak dapat dicapai dengan efektif. Tujuan pengendalian intern pemerintah menurut Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang :

1) Tercapainya tujuan organisai melalui kegiatan yang efektif dan efien penyelenggaraan pemerintah negara.

Kegiatan instansi pemerintah dikatakan efektif bila telah ditangani sesuai dengan rencana dan hasilnya telah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Sedangkan, efisien biasanya dikaitkan dengan pemanfaatan aset untuk mendapatkan hasil. Kegiatan Instansi Pemerintah dikatakan efisien bila mampu menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi (pelayanan prima), dengan bahan baku (sumber daya) yang sesuai dengan standar. 2) Keandalan Pelaporan Keuangan.

Tujuan ini didasarkan pada pemikiran utama bahwa informasi sangat penting untuk pengambilan keputusan. Agar keputusan yang diambil tepat sesuai dengan kebutuhan, maka informasi yang disajikan harus handal/layak dipercaya, dan menggambarkan keadaaan yang sebenarnya. Karena jika laporan yang tersaji tidak memadai dan tidak benar, maka akan menyesatkan dan dapat mengakibatkan keputusan yang salah serta merugikan organisasi.

3) Pengamanan Aset Negara.

Aset diperoleh dengan membelanjakan uang yang berasal dari masyarakat, terutama dari penerimaan pajak dan bukan pajak, yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan negara/daerah. Pengamanan aset merupakan isu penting yang mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena kelalaian dalam pengamanan aset akan berakibat mudahnya terjadi pencurian, penggelapan, dan bentuk manipulasi lainnya.

4) Ketaatan terhadap peraturan Perundang-undangan.

Setiap kegiatan dan transaksi merupakan suatu perbuatan hukum. Oleh karena itu, pelaksanaan transaksi atau kegiatan harus taat terhadap kebijakan, prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelanggaran terhadap aspek hukum dapat mengakibatkan tindakan pidana maupun perdata berupa kerugian. Adapun tujuan pokok struktur pengendalin intern tersebut dapat dipenuhi dengan pengendalian yang baik. Tujuan pertama dan kedua dapat dipenuhi dengan pengendalian Akuntansi, sedangkan tujuan ketiga dan keeempat dapat dipenuhi dengan pengendalian administrasi yang baik yaitu:

1) Pengendalian Akuntansi

Meliputi rencana organisasi serta prosedur dan catatan yang relevan dengan pengamatan aktiva, yang disusun untuk meyakinkan bahwa:

a) Transaksi dilaksanakan sesuai dengan persetujuan pimpinan. b) Transaksi dicatatt sehingga dapat dibuat ikhtisar keuangan

sesuai prinsip akuntansi yang berlaku serta menekankan pertanggungjawaban atas harta perusahaan.

c) Penguasaan atas aktiva diberikan hanya dengan persetujuan dan otorisasi pimpinan.

d) Jumlah aktiva dalam catatan dicocokan dengan aktiva yang ada pada waktu yang tepat dan tindakan yang sewajarnya jika terjadi perbedaan

2) Pengendalian Administratif

Pengendalian yang ditujukan untuk mendorong efisiensi operasional dan menjaga diikutinya kebijakan perusahaan. Dapat berupa rencana organisasi dan prosedur juga catatan yang relevan dengan pembuatan keputusan yang mengantarkan pimpinan perusahaan untuk menyetujui dan memberi wewenang terhadap transaksi-transaksi. Pelimpahan wewenang merupakan fungsi pimpinan perusahaan yang secara langsung berhubungan dengan tanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi dan itu merupakan titik tolak untuk menciptakan pengendalian akuntansi atas transaksi.( Siti Kurnia Rahayu.2010:222).

c. Sasaran Pengendalian Intern

Struktur pengendalian intern suatu perusahaan pada umumnya dirancang untuk menjamin atau dapat dipercayai catatan keuangan yang dihasilkan sistem akuntansi dan menjaga keamanan aktiva yang dimiliki.

Sasaran pengendalin intern ialah:

1) Validitas yaitu transaksi yang dicatat ialah transaksi yang valid bukan fiktif.

2) Kelengkapan yaitu seluruh transaksi dicatat mewakili seluruh kejadian yang terjadi dan tidak ada satu transaksi yang dilewatkan. 3) Keabsahan pencatatan yaitu transaksi yang rinci telah dimasukkan dalam pencatatan secara akurat sesuai sumber dokumen. Transaksi yang telah dinilai, dievaluasi, diklasifikasi, dicatat dan diposting secara tepat waktu, dan benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

4) Pengamanan yaitu aktiva dan dokumen dapat diamankan dan di akses hanyalah oleh pihak yang memiliki otorisasi.

5) Pertanggung jawaban yaitu saldo tercatat atas setiap aktiva dan hutang dibandingkan dengan yang benar-benar ada (Siti Kurnia Rahayu.2010:223).

d. Fungsi Audit Intern

Untuk memantau efektifitas dan kebijakan dan prosedur lain yang berkaitan dengan pengendalian. Adanya staf audit intern yang independen terpisah dari bagian operasi perusahaan dan akuntansi menjadi penting. Auditor intern bertanggung jawab langsung pada manajemen puncak atau komite audit dari dewan direksi dan komisaris.

Selain itu auditor intern memililiki peran dalam upaya meminimalkan biaya audit ekstern dengan memberikan bantuan langsung kepada auditor ekstern. Jika auditor ekstern memperoleh bahan bukti yang mendukung komptensi, integritas dan obyektivitas auditor intern, maka auditor ekstern dapat mengandalkan pekerjaan auditor intern ( Siti Kurnia Rahayu.2010:237).

Dokumen terkait