• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : KESIMPULAN DAN PENUTUP

B. Sistem Penuntutan

Untuk memahami fungsi Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara utuh, tidak bisa dihindari perlunya mempelajari sistem penuntutan yang dianut pleh negara-negara lain. Dalam hal ini difokuskan pada dua legal families sistem hukum yang paling banyak dianut, yaitu sistem Eropa Kontinental (civil law) dan sistem Anglo-Saxon (common law).

Negara-negara yang pernah menjajah sebagian besar negara-negara di Asia dan Afrika menganut sistem Eropa Kontinental (civil law) dan Sistem Anglo Saxon (common law), dengan sendirinya sistemnya diperkenalkan pada wilayah jajahannya. Misalnya, Indonesia dan Malaysia merupakan bangsa serumpun namun sistem hukumnya berbeda. Indonesia menganut sistem Eropa Kontinental (civil law) sebagaimana halnya sistem yang dianut oleh negara yang menjajahnya yakni Belanda. Sedangkan Malaysia menganut sistem Anglo-Saxon (common law) sebagaimana halnya sistem yang dianut oleh negara yang menjajahnya, yakni Inggris.177

Negara-negara yang menganut sistem Eropa Kontinental (civil law) adalah Belanda, Argentina, Austria, Belgia, Brazil, Kroasia, Denmark, Prancis, Jerman Italia, Norwegia, Rusia, Spanyol, Swedia, Swiss, Turki, Vietnam, dan lain-lain.178 Negara-negara yang menganut sistem Anglo-Saxon (common law) adalah

177

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia. (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), h.30 178

Ade Maman Suherman, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), h. 325.

Inggris dan Wales, Australia, Kanada, Republik Irlandia, Irlandia Utara, Amerika Serikat, dan lain-lain.179

Menurut Andi Hamzah, mengenai peranan jaska berkaitan dengan penyidikan, ada 4 (empat) kelompok yang dianut oleh berbagai negara, yaitu:180 1. Jaksa memiliki wewenang penyidikan tindak pidana, seperti kejaksaan di

Belanda, Prancis, Jerman, Austria, Jepang, dan Korea;

2. Jaksa memiliki wewenang penyidikan tindak pidana tertentu, seperti kejaksaan di Rusia, Georgia, Thailand, dan China;

3. Jaksa tidak memiliki wewenang penyidikan namun diberikan wewenang supervisi penyidikan tindak pidana, seperti kejaksaan di Inggris dan Wales; 4. Jaksa tidak memiliki wewenang penyidikan dan supervisi penyidikan

tindak pidana, seperti kejaksaan di Malta.

Dalam kaitan dengan kebijakan penuntutan yang berkaitan dengan penyidikan tersebut, tahun 1999 di Bangkok dalam The Asia Crime Prevention

Foundation (ACPF) Working Group Meeting on “The Role of the Prosecutor in the Changing World”, dikelompokkan peran kejaksaan dalam dua sistem yang

179

Ibid.h.100 180

Andi Hamzah. “Penyampaian Masukan Rencana Undang-Undang tentang Perubahan

atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia”.

Disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Badan Legislasi DPR RI, tanggal 9 Februari 2011, Wewenang Jaksa Agung (Attorney General) Amerika Serikat adalah yang paling powerful di dunia, wewenangnya sama dengan wewenang Jaksa Agung RI ditambah wewenang Kapolri dan ditambah dengan wewenang Menteri Hukum HAM RI minus Imigrasi.

dianut oleh kejaksaan di berbagai negara, yaitu:181 1. Mandatory Prosecutorial System

Jaksa dalam menangani suatu perkara hanya berdasarkan alat-alat bukti yang sudah ada dan tidak terhadap hal-hal yang diluar yang sudah ditentukan, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.

2. Discretionary Prosecutorial System

Jaksa dapat melakukan berbagai kebijakan tertentu dan bisa mengambil berbagai tindakan dalam penyelesaian/penanganan suatu perkara. Dalam sistem ini, Jaksa dalam mengambil keputusan, selain mempertimbangkan alat-alat bukti yang ada, juga mempertimbangkan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya suatu tindak pidana, keadaan-keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan, atribut-atribut pribadi dari terdakwa dan korban, tingkat penyesalan terdakwa, tingkat pemaafan dari korban, dan pertimbangan-pertimbangan kebijakan publik

Hal yang sangat penting dalam sistem penuntutan adalah tentang kebijakan penuntutan, yaitu keputusan untuk menuntut atau tidak menuntut oleh jaksa (policy of prosecution). Dalam sistem Anglo-Saxon (common law) tidak dikenal sistem oportunitas dan legalitas secara resmi, kebijakan penuntutan bervariasi antara satu negara lainnya. Misalnya, Inggris dan wales mempraktekkan penyampingan perkara demi kepentingan umum. Kepentingan umum diartikan luas, termasuk anak dibawah umur dan orang yang sudah lanjut usia.182

181

Marwan Effendy. op. cit, h86 182

1. Sistem Penuntutan di Negara-Negara yang Menganut Asas Oportunitas Negara-negara yang menganut asas oportunitas diantaranya adalah Prancis, Belanda, Norwegia, Denmark, Swedia, Jepang, Korea Selatan, Indonesia, Israel dan lain-lain.183

Belanda merapkan asas oportunitis dimana dalam prakteknya mengartikan

asas oportunitis sebagai “jaksa boleh memutuskan untuk menuntut dengan syarat atau tanpa syarat”. Kedudukan jaksa (Officier van Justitie) di Belanda sangat

kuat, sehingga sering disebut sebagai semi judge (setengah hakim) karena kebebasannya secara individual untuk menuntut atau tidak menuntut. Meskipun mendapat kritikan, seakan-akan sistem ini mengurangi kepastian hukum, Belanda bangga akan sistemnya daripada sistem di Jerman yang mengharuskan jaksa menuntut setiap perkara yang ada padanya. Karena luasnya wewenang dan kebebasan jaksa di Belanda menyebabkan proses perkara pidana menjadi singkat. Seorang jaksa seringkali meminta hakim komisaris untuk wewenang dan kebebasan jaksa di Belanda menyebabkan proses perkara pidana jaksa akan kesampingkan perkaranya. Jaksa juga dapat menyampingkan perkara berdasarkan undang-undang, meskipun cukup bukti apabila dipandang penuntutan akan merugikan kepentingan umum, pemerintah, dan individual.184

Peranan yang sangat penting jaksa di Belanda dalam penuntutan, sama halnya dengan jaksa di Jepang dan Korea Selatan, yaitu pada akhir pemeriksaan sidang sebelum putusan dijatuhkan, jaksa membacakan tuntutan (requisitoir), dimana pada bagian akhir requisitoir diuraikan tentang hal-hal yang memberatkan

183

R.M. Surachman dan Andi Hamzah. Jaksa di Berbagai Negara, Peranan dan

Kedudukannya. (Jakarta: Sinar Grafika, 1996),h.15

184

dan meringankan terdakwa, kemudian meminta pidana tertentu yang akan dijatuhkan oleh hakim. Peranan jaka tersebut merupakan filter terhadap putusan hakim. Jaksa tidak dapat mendesak hakim untuk mengikuti tuntutannya, namun hakim juga tidak dapat mengabaikan begitu saja permintaan pidana oleh jaksa, karena apabila putusan tidak sesuai dengan tuntutan, jaksa berwenang untuk melakukan upaya hukum. Disinilah letak peranan jaksa yang sangat menentukan dalam keseluruhan proses peradilan pidana lebih dari polisi. Di Belanda, hal tersebut dinamakan pengawasan negatif/pasif dari jaksa (negatieve controle van het Openbaar Ministerie). Oleh karena itu, putusan hakim cenderung conform tuntutan tersebut. Peranan jaksa tersebut juga biasa disebut stabilisasi putusan hakim oleh jaksa (the public prosecutor is the one who stabilizes the sentencing standard).185

Apa yang ditetapkan di Belanda tersebut mirip sekali dengan yang diterapkan di Jepang. Jepang juga menerapkan asas oportunitas sangat luas. Jaksa di Jepang memonopoli penuntutan pidana sama dengan jaksa di Belanda dan negara-negara skandinavia. Jaksa juga berwenaang melakukan penyidikan memerintahkan polisi untuk memulai atau menghentikan penyidikan, memberikan petunjuk kepada polisi, dan mengambil alih penyidikan. Jaksa di Jepang menerapkan apa yang disebut penundaan penuntutan apabila dipandang penuntutan tidak diperlukan karena sifat tindak pidana, usia, lingkungan tersangka (berat ringannya dan keadaan tindak pidana serta keadaan setelah dilakukan

185

tindak pidana.186

Norwegia secara resmi menganut asas oportunitas dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidananya. Penyampingan perkara di Norwegia hampir sama dengan penerapan pidana bersyarat di Belanda. Penyampingan perkara oleh jaksa dapat disertai dengan syarat-syarat, misalnya ditentukan bahwa terdakwa tidak boleh melakukan tindak pidana dalam kurun waktu tertentu dengan tujuan agar terdakwa menjadi warga yang taat kepada hukum, atau mengganti kerugian kepada korban. Penerapan penyampingan perkara secara luas didasarkan kepada

pepatah lama “minima non curat praetor” (hakim jangan diganggu dengan hal-hal sepele). Jaksa cukup mengemukakan ada keadaan khusus (special circumtances) untuk menyampingkan perkara, baik bersifat obyektif (tindak pidananya) maupun bersifat subyektif (pelakunya). Jaksa di Norwegia juga dapat menjatuhkan sanksi tanpa persetujuan hakim, yang disebut patale unnlatese. Sanksi tersebut dapat berupa denda atau ganti kerugian kepada korban, atau kedua-duanya. Pembayaran denda maksimum juga merpakan jalan untuk menyampingkan perkara di Norwegia, Belanda, dan Denmark. Di Belanda hal tersebut disebut transactie dan dapat juga diterapkan pada tindak pidana serius, khusus di Denmark pembayaran denda merupakan alternatif untuk tindak pidana yang ancaman maksimalnya enam bulan penjara.187

2. Sistem Penuntutan di Negara-Negara yang Menganut Asas Legalitas

Negara-negara yang menganut asas legalitas diantaranya adalah Jerman,

186

Ibid. h.37 187

Italia, Austria, Spanyol, Portugal, dan lain-lain.188

Jerman menganut asas legalitas, jaksa di Jerman pada prinsipnya tidak boleh Menyampingkan perkara. Sistem penuntutan di Jerman diatur dalam Strafprozessordnung (Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana). Setelah menerapkan asas legalitas dengan ketat, pada perkembangannya mulai ada pengecualian-pengecualian, misalnya jaksa di Jerman dapat menyampingkan perkara termasuk pencurian dengan jalan membongkar, kejahatan kerah putih (white collar crime), pelecehan seksual kepada anak di bawah umur tanpa kekerasan, apabila jaksa menilai tingkat kesalahan rendah dan kepentingan umum tidak menghendaki penuntutan. Oleh karena Jerman menganut asas legalitas, maka penyampingan perkara memerluka persetujuan hakim yang ada umumnya dikabulkan. Selain itu jaksa di Jerman juga dapat menyampingkan perkara yang sifatnya pelanggaran (bukan kejahatan).189 Jaksa dan polisi di Jerman juga bekerjasama untuk semaksimal mungkin menangguhkan perkara pidana yang dilakukan oleh anak (delinquency), karena dipandang akan jauh lebih bermanfaat untuk dibina daripada dijatuhi pidana.

Austria dan Italia menerapkan asas legalitas dengan konsisten. Tidak ada jalan bagi jaksa untuk menyampingkan perkara selain melimpahkannya ke pengadilan. Apabila ditemukan hal-hal istimewa yang memerlukan perhatian khusus, jaksa dapat meminta hakim untuk menghentikan proses persidangan.190

Spanyol juga menganut asas legalitas dan jaksa tidak memihak (impartial)

188

R.M. Surachman dan Andi Hamzah. op. cit. h.17 189

Andi Hamzah. 2002. op. cit. h 39-40 190

Peter J.P. Tak. Tasks and Powers of the Prosecution Services in the EU Member States (vol. II). (Nijmegen: Wolf Legal Publishers, 2005). h.470.

dalam menegakkan hukum. Jaksa di Spanyol dapat juga menuntut perdata berupa ganti kerugian bersamaan dengan penuntutan pidana, kecuali apabila korban memaafkan perbuatan terdakwa.191

C. Model Kejaksaan di Beberapa Negara dalam Konteks Penyidikan dan