BAB II SISTEM PEWARISAN DALAM MASYARAKAT SIMALUNGUN
B. Sistem Pewarisan dalam Masayarakat Simalungun
Menguraikan sistem hukum adat waris dalam suatu masyarakat tertentu kiranya tidak terlepas dari sistem kekeluargaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. Demikian pula halnya dengan sistem hukum adat waris dalam masyarakat adat Simalungun, ini berkaitan erat dengan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari pihak ayah.
Pada dasarnya dalam susunan kekerabatan masyarakat adat yang mempertahankan garis kebapakan (patrilineal) yang berhak menjadi ahli waris adalah anak laki-laki, sedangkan anak perempuan bukan ahli waris. Dalam susunan patrilineal kedudukan anak laki-laki sebagaimana dikatakan Ter Haar bersifat vaderreechtelijke ordening, yaitu berdasarkan tata-hukum bapak, yang berarti segala sesuatunya dikuasi oleh kebapakan.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya dimana bahwa sistem kewarisan ada 3 (tiga) diantaranya sistem kewarisan individual, kolektif, dan mayorat.
Masyarakat adat Simalungun biasanya masih menganut sistem pewarisan individual atau sistem pewarisan mayorat laki-laki.
Tabel 1
Sistem Kewarisan Pada Masyarakat Adat Simalungun
n=15
No. Sistem Kewarisan Jumlah Frekuensi
1 Individual 9 Orang 60%
2 Mayorat laki-laki 6 Orang 40%
Total 15 Orang 100%
Sumber:Data Primer
Setelah dilakukan penelitian, data dari responden menunjukkan bahwalebih banyak orang yang masih menggunakan sistem kewarisan individual yaitu sebanyak 9 (sembilan) orang sementara yang menggunakan sistem kewarisan mayorat patrilineal sebanyak 6 (enam) orang.
Mereka yang menganut sistem kewarisan individual dalam hal pembagian warisan biasanya dibagikan pada ahli waris laki-laki saja dalam menerima harta warisan. Salah satu kelebihan sistem pewarisan individual ini adalah dengan adanya pembagian terhadap harta warisan kepada masing-masing pribadi ahli waris, mereka masing-masing bebas untuk menentukan kehendaknya terhadap bagian warisan tersebut. Sistem pewarisan individual ini, dimana harta warisan akan dibagi-bagikan kepada semua anak laki-laki sesuai dengan ketentuan hukum adat Simalungun. Sistem pewarisan individual akan membagi harta warisan dengan mambagi-bagikan kepada ahli warisnya yaitu hanya anak laki-laki saja yang mendapat hartawarisan dari orang tuanya dan anak permpuan hanya diberikan sebagai hadiah/hibah.
Mereka yang menganut sistem mayorat laki-laki, harta warisan itu tidak dibagi-bagikan dan dilimpahkan pada anak tertua. Anak tertua dalam hal ini adalah anak laki-laki saja, jika anak perempuan adalah anak tertua maka dilimpahkan tanggung jawab tersebut kepada anak laki-laki walaupun ia bukanlah anak tertua dalam keluarga tersebut. Sistem pewarisan mayorat laki-laki ini merupakan sistem pewarisan yang diberikan kepercayaan terhadap anak laki-laki plaing tua atau disebut anak laki-laki sulung dan anak sulung ini bertanggung jawab untuk membagi harta warisan orangtuanya terhadap adik-adiknya.
Sistem pewarisan yang digunakan pada umumnya adalah sistem pewarisan Individual ataupun Mayorat, tergantung bagaimana keadaan dalam suatu keluarga.
BAB III
PELAKSANAAN PEMBAGIAN WARISAN DI KALANGAN ORANG SIMALUNGUN DI DESA PAMATANG RAYA KABUPATEN
SIMALUNGUN
A. Sistem Kekerabatan pada Masyarakat Adat Simalungun
Sepeti telah dikemukakan bahwa hukum waris merupakan salah satu bagian dari sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. Oleh karena itu, pokok pangkal uraian tentang hukum waris adat bertitik tolak dari bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan. Masyarakat bangsa Indonesia menganut berbagai agama dan kepercayaan yang berbeda, sehingga sistem kekerabatannya pun berbeda pula.P45 F43P Perbedaan sistem kekerabatan ini tentunya akan memiliki pengaruh dalam sistem pewarisan hukum adat. Murdock mengatakan, bahwa sistem kekerabatan berbeda dengan lain-lain organisasi sosial di dalam masyarakat. Suatu sistem kekerabatan bukanlah suatu kelompok sosial, serta tidak dapat dikaitkan dengan suatu kumpulan individu-individu yang terorganisasikan.P4 6F44P Dengan adanya sistem kekerabatan tersebut dalam suatu keluarga, maka seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap hak dan kewajiban tertentu, misalnya kedudukan dalam keluarga serta berhak atas bagian harta waris keluarga.
Setiap sistem keturunan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia memiliki kekhususan dalam hukum warisnya yang satu sama lain berbeda-beda.
43Hilman Hadikusuma, Buku I, Op. Cit., Hlm. 23
44Soerjono Soekanto I, Op Cit. Hlm. 43
Sistem kekerabatan yang dikenal dalam masyarakat adat di Indonesia ada 3 (tiga), yaitu:P4 7 F45
a. Sistem Kekerabatan Patrilineal
Merupakan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang laki. Di dalam sistem ini kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum waris sangat menonjol, contohnya pada masyarakat Batak.
Yang menjadi ahli waris hanya anak laki-laki sebab anak perempuan yang telah kawin dengan cara “kawin jujur” yang kemudian masuk menjadi anggota keluarga pihak suami, selanjutnya ia tidak merupakan ahli waris orang tuanya yang meninggal dunia.
b. Sistem Kekerabatan Matrilineal
Merupakan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang perempuan. Di dalam sistem kekeluargaan ini pihak laki-laki tidak menjadi pewaris untuk anak-anaknya. Anak-anak menjadi ahli waris dari garis perempuan/garis ibu karena anak-anak mereka merupakan bagian dari keluarga ibunya sedangkan ayahnya masih merupakan anggota keluarganya sendiri, contoh sistem ini terdapat pada masyarakat Minangkabau. Namun demikian, bagi masyarakat Minangkabau yang sudah merantau ke luar tanah aslinya, kondisi tersebut sudah banyak berubah.
c. Sistem Kekerabatan Parental atau Bilateral
Merupakan sistem yang menarik garis keturunan dari dua sisi, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Di dalam sistem ini kedudukan anak laki-laki
45Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW, Refika Aditama, Bandung, 2007, Hlm. 41-42
dan perempuan dalam hukum waris sama dan sejajar. Artinya baik anak laki-laki maupun anak perempuan merupakan ahli waris dari harta peninggalan orang tua mereka.
Berkaitan dengan sistem kekerabatan di atas, dalam struktural masyarakat adat Simalungun di Desa Pamatang Raya Kabupaten Simalungun, sistem yang dianut adalah sistem kekerabatan Patrilineal. Hal tersebut berarti bahwa garis keturunan melalui bapak, opung dan seterusnya keatas (hanya garis keturunan laki-laki) yang kedudukan anak laki-lakinya lebih menonjol dibandingkan kedudukan anak perempuan dalam hal pewarisan. Masyarakat adat Simalungun di Kecamatan Pematang Raya tersebut masih memandang anak laki-laki sebagai generasi penerus untuk menurunkan marga dari keluarganya. Anak perempuan biasanya akan mengikuti marga laki-laki yang telah dinikahinya sehingga hilanglah marga dari orang tua yang selama ini telah melekat pada dirinya.
Masyarakat adat Simalungun hampir setiap keluarga mendambakan adanya anak laki-laki walaupun demikian tetap saja ada juga keluarga yang mengganggap anak laki-laki dan perempuan sama saja. Masyarakat adat Simalungun menempatkan anak sulung laki lebih istimewa dari anak laki-laki yang lainnya, tetapi ada juga yang lebih mengistimewakan anak lelaki-laki yang paling bungsu (sianggian) dengan alasan anak laki-laki paling kecil masih sedikit merasakan kasing sayang dari orang tuanya dibanding dengan anak laki-laki lainnya.
Adat Simalungun dalam hal pewarisan anak laki-laki lah yang dapat menguasi peninggalan baik harta maupun kedudukan/jabatan adat, harta pusaka
termasuk harta pencarian dari orang tuanya. Penguasaan tersebut tidak langsung menjadikan anak laki-laki sebagai pemilik pribadi harta tersebut terkecuali apabila jika anak-anak laki tesebut merupakan anak tunggal dari keluarganya.
Musyawarah harus dilakukan dengan para anggota keluarga yang lainnya yang masih hidup, tetapi bila anak laki-laki paling besar tidak mau melakukan pengurusan terhadap harta peninggalan dari orang tuanya, maka anak laki-laki yang lainnya memiliki hak untuk menggantikan abanya dalam hal pengurusan warisan tersebut. Bisanya hal tersebut dapat terjadi apabila anak lak-laki paling besar merantau dalam waktu yang cukup lama.
B. Proses Pembagian Warisan pada Masyarakat Adat Simalungun di Desa Pamatang Raya Kabupaten Simalungun
Pewarisan adalah suatu proses peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris. Proses pewarisan ini dapat terjadi pada waktu orang tua (pewaris) masih hidup atau dapat pula terjadi pada waktu orang tua (pewaris) sudah meninggal dunia. Proses pewarisan itu dimulai pada waktu orang tua (pewaris) masih hidup dengan cara pemberian kemudian apabila masih ada sisa harta yang belum diberikan, dilanjutkan setelah pewaris meninggal dunia.
Dalam pembagian harta warisan di Desa Pamatang Raya Kabupaten Simalungun kebanyakan masyarakat tidak melakukan pembagian warisan dengan gugatan ke pengadilan, selama masih bisa menggunakan musyawarah mufakat, karena sistem kekerabatan yang masih kental. Masyarakat tersebut dalam melakukan pembagian harta warisan berdasarkan hukum waris adat yang telah
berlaku dan dijalankan turun temurun dari leluhur mereka terdahulu. Pada masyarakat adat Simalungun didominasi oleh dua sistem kewarisan yang terjadi ketika pewaris masih hidup dan setelah pewaris meninggal.
Tabel 2
Proses pembagian harta warisan
n=15 No. Proses pembagian
harta warisan
Jumlah Frekuensi
1 Sebelum pewaris meninggal dunia
5 Orang 33.5%
2 Setelah pewaris meninggal dunia
10 Orang 66.5%
Total 15 Orang 100%
Sumber:Data Primer
Dari data yang diperoleh dari responden pada umumnya dalam masyarakat adat Simalungun proses pembagian harta warisan kepada ahli waris dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu sebelum pewaris meninggal dunia dan setelah pewaris meninggal dunia. Seperti yang terlihat pada data dimana lebih banyak orang (ahli waris) yang memperoleh warisan dari orang tua nya setelah pewaris meninggal dunia, ada sebanyak 10 (sepuluh) orang dari jumlah 15 (lima belas) orang responden. Sementara untuk ahli waris yang menerima warisan dari orang tua nya sebelum pewaris meninggal dunia hanya 5 (lima) orang saja.
1. Proses pembagian harta sebelum pewaris meninggal dunia Tonah
Tonah merupakan pesan yang disampaikan oleh pewaris semasa ia masih hidup kepada orang lain atau orang yang dipercayanya untuk menjalankan pesan tersebut.
Tonah juga merupakan suatu jalan bagi pemilik harta kekayaan untuk semasa hidupnya menyatakan keinginannya yang terakhir tentang pembagian harta peninggalannya kepada ahli warisnya yang baru akan berlaku setelah meninggal dunia. Maksud tonah ini ialah terutama untuk mewajibkan para ahli warisnya membagi-bagi harta peninggalannya dengan cara layak menurut anggapannya.
Maksud kedua ialah untuk mencegah perselisihan, keributan dan cekcok dalam membagi harta peninggalannya dikemudian hari diantara para ahli waris. Dengan cara ini, si peninggal warisan dapat menentukan bagaimana harta kekayaan kelak akan dibagi-bagi antara anak-anaknya. Masyarakat adat Simalungun kebanyakan dalam membuat tonah ini tidak secara tertulis melainkan secara langsung, dimana pewaris akan menyampaikan kepada orang yang dipercaya dan bila perlu disaksikan oleh orang lain mengenai harta yang akan dibagikan nanti setelah pewaris meninggal dunia.
Contoh:
Pembagian warisan yang dilakukan pada saat orang tua (ayah) sudah meninggal dunia dan sebelumnya sudah meninggalkan tonah untuk anaknya yang diucapkan secara langsung kepada isterinya
dan dihadiri oleh Tondong juga sebagai saksi dari wasiat tersebut.
Si pewaris meninggalkan 5 (lima) orang anak, 3 (tiga) orang anak laki-laki dan 2 (dua) orang anak perempuan. Proses pembagian warisan dilakukan dengan dihadiri juga oleh tondong, anak laki-laki mendapatkan bagian berupa tanah dan ladang yang dibagi untuk 3 (tiga) orang, sedangkan 2 (dua) orang anak perempuan mendapatkan perhiasan dan sebuah rumah yang tidak dapat dijual karena nantinya anak digunakan sebagai tempat berkumpul.P48 F46 2. Proses pewarisan setelah pewaris meninggal dunia
Apabila seseorang wafat dengan meninggalkan harta kekayaan maka timbul persoalan apakah harta kekayaan itu akan dibagikan kepada para ahli waris atau tidak akan dibagi-bagi serta kapan harta kekayan tersebut dibicarakan.P4 9F47P Proses pembagian warisan yang dilakukan setelah pewaris meninggal dunia dilakukan dengan cara musyawarah dengan dihadari semua ahli waris, baik anak laki-laki dan anak perempuan, dan apabila tidak bisa hadir diwakilkan oleh orang lain yang masih memiliki hubungan dengan ahli waris, misalnya istri, anak dan lain sebagainya dan tidak lupa dihadiri oleh keluarga lainnya seperti saudara dari bapak atau saudara dari mamak dan juga dihadiri tondong yang bisa sebagai saksi, keputusan setiap orang tua dalam hal pewarisan sebenarnya wajib diterima dan dipatuhi, hanya saja sering karena merasa tidak adil menyebabkan pertengkaran. Karena didalam
46Wawancara dengan bapak L. Purba
47Eman Suparman,Op. Cit. Hlm. 100
pelaksanaan pembagian warisan, sering terjadi perselisihan atau sengketa, biasanya hal tersebut terjadi apabila ada pihak keluarga yang merasa tidak adil atau tidak puas terhadap bagian yang diterimanya atau karena tidak mendapat bagian sama sekali. Hal tersebutlah yang sering sekali menciptakan perkelahian antar saudara sehingga menyebabkan permusuhan dan bisa berdampak sampai bertahun-tahun.
Dalam adat Simalungun apabila terjadi sengketa dalam hal pewarisan maka terlebih dahulu akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan (musyawarah keluarga), dimana dengan cara memanggil tondong yang merupakan orang yang dituakan atau menurut masyarakat adat Simalungun orang yang ditinggikan. Dalam adat Simalungun tidak ada ketentuan bagian yang harus diberikan kepada anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada saat pembagian warisan, bagian yang lebih banyak akan diberikan kepada anak laki-laki, dan bagian yang paling kecil atau sisa akan diberikan kepada anak perempuan, misalnya kedua orang tua meninggalkan harta warisan berupa mobil, rumah, tanah dan ladang, dengan meninggalkan 3 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan maka bagian yang diterima oleh anak laki-laki adalah rumah, tanah, dan ladang, sedangkan anak perempuan hanya menerima rumah saja.P50 F48
48Wawancara dengan bapak Purba
C. Perkembangan Pembagian Warisan pada Masyarakat Simalungun di Desa Pamatang Raya, Kabupaten Simalungun
Hukum waris merupakan bagian dari hukum keluarga, sehingga tidak dapat dipisahkan dengan hukum perkawinan. Keluarga adalah kelompok sosial yang mendasar dalam masyarakat yang umumnya terdiri dari satu atau dua orang tua dan anak-anak mereka. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga (Ayah/bapak) dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Adat perkawinan sudah membudaya sejak zaman dahulu kala dan terus dilaksanakan. Perkawinan dalam adat Simalungun merupakan suatu cara penting dalam kehidupan seseorang, karena hal ini merupakan suatu langkah dalam penyempurnaan kehidupan. Penilaian ini sama halnya dengan satuan masyarakat (daerah) lainnya.
Perkawinan setiap keluarga pasti akan menginginkan kehidupan rumah tangga atau perkawinannya hidup dengan bahagia dan harmonis, dimana keluarga yang harmonis meiliki peran yang sangat penting kepada tumbuh kembangnya seorang anak. Keluarga yang harmonis akan menumbuhkan anak yang bahagia dan sejahtera dikarenakan perhatian, pendidikan, dan kasih sayang dari orang tua berpengaruh terhadap tumbuhnya seorang anak. Anak yang tumbuh dengan adil tanpa pilih kasih maka hubungan dalam keluarga tersebut akan harmonis, karena kewajiban dari orang tua bukan hanya kebutuhan rohani tapi termasuk juga jasmani. Masyarakat Hukum di Indonesia juga ditinjau dari
segi kekeluargaan meiliki sifat yang berbeda-beda, dimana setiap lingkungan adat masing-masing mempunyai sistem kekeluargaan yang berbeda-beda pula.
Begitu juga di dalam hal kedudukan anak laki-laki dengan anak perempuan dalam sebuah keluarga.
Adat Simalungun menempatkan anak perempuan pada dasarnya tetap terikat pada nilai-nilai yang menempatkan mereka bukan menjadi ahli waris dari kedua orang tuanya dilihat dari beberapa orang tua yang masih berpikiran sederhana dan tidak melihat bagaimana zaman sudah berkembang, karena menurut mereka walaupun anak perempuan sekolah tinggi dan memiliki profesi yang bagus di bidang pekerjaannya di masyarakat, perempuan tetap tidak bisa lepas dari kewajiban-kewajibannya nantinya sebagai seorang isteri apabila sudah menikah dan kewajibannya di dalam adat, seperti misalnya kewajiban seorang perempuan sebagai seorang ibu untuk mengurus suami dan anak-anaknya,
“harus” melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keturunan. Belum lagi pemikiran dan diskriminasi yang diberikan kepada perempuan yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya perempuan tidak dapat menjadi seorang pemimpin, walaupun pada akhirnya perempuan sudah mulai menunjukkan dirinya dan dapat memimpin sama halnya seperti laki-laki.
Prinsip yang teguh bahwa anak perempuan tidak berhak atas harta warisan dari orang tuanya merupakan hasil pemikiran yang tradisional yang turun temurun sehingga termasuk dari bagian kebiasaan, pada masyarakat tradisional anak laki-laki lebih dipandang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebetuhan dari anak perempuan, karena memang anak laki-laki selain bertugas
dan bertanggung jawab untuk mencari nafkah, anak laki-laki juga lah nantinya yang menjadi tulang punggung keluarga, oleh karena itulah anak laki-laki berhak menjadi ahli waris dan penerus dari bapaknya, dan berdasarkan kebiasaan pun anak perempuan dianggap akan menikmati bagian dari harta suaminya, tapi apabila kebiasaan tersebut dibawa sampai sekarang maka anak perempuan berada pada posisi yang tidak menguntungkan karena tidak bisa mendapatkan warisan dari orang tuanya, misalnya seorang bapak menikahkan anak perempuannya dengan seorang laki-laki yang tidak memiliki harta, dan sumber pendapatannya tidak menentu. Maka anak perempuannya tersebut akan menderita setelah dinikahkan oleh orang tuanya.
Pada masyarakat adat Simalungun di Pematang Raya sudah mulai mengalami perkembangan dalam hal pembagian warisan terhadap anak perempuan, sekarang anak perempuan sudah mendapatkan warisan dari orang tuanya diluar dari pemberian yang diberikan pada saat pernikahan. Alasan beberapa masyarakat memberikan warisan kepada anak perempuan karena anak perempuan juga termasuk anak kandung dan darah daging mereka, sehingga tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam mendapatkan haknya, tapi mengenai kedudukan dan bagian warisan anak laki-laki tetap lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hidup dan beradaptasi dengan zaman yang sudah modern tidak melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban adatnya.
Tabel 4
Jumlah Responden yang Menjadikan Anak Laki-Laki Maupun Perempuan Sebagai Ahli Waris
n=15 No. Responden yang Memberikan Warisan Jumlah Frekuensi
1 Untuk Anak Laki-Laki 9 Orang 60%
2 Untuk Anak Perempuan 6 Orang 40%
Total 15 Orang 100%
Hasil penelitian didapatkan data bahwa responden yang menjadikan anak laki-laki sebagai ahli waris ada 9 orang sementara yang menjadikan anak perempuannya sebagai ahli waris hanya hanya 6 orang.
Beberapa keluarga ada yang membenarkan bahwa anak perempuan mendapatkan haknya sebagai ahli waris ada juga orang tua yang masih menganut bahwa anak perempuan tidak mendapatkan warisan dari orang tuanya hanya harta parpaikat saja, dan anak perempuan yang tidak mendapatkan warisan tidak menuntut haknya. Tapi setelah orang tuanya meninggal perhiasan yang milik orang tuanya diberikan botounya (saudara laki-laki) kepada mereka saudara permpuannya, untuk dibagi rata sebagai kenang-kenangan dari orang tuanya.
Penelitian yang telah dilakukan responden lebih dominan memilih bahwa anak laki-laki masih memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding anak perempuan. Kata kedudukan mengandung arti tingkatan atau martabat, keadaan
yang sebenarnya, status keadaan atau tingkatan orang, badan atau negara.P5 1 F49P Kedudukan dalam hal ini dapat diartikan sebagai status atau tingkatan seseorang didalam mengemban dan melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga, kerabat dan masyarakat.
Kedudukan anak perempuan dalam adat Simalungun jelas lebih rendah dibandingkan anak laki-laki. Kedudukan anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan walaupun anak perempuan sekarang sudah mendapatkan haknya untuk menjadi ahli waris dari orang tuanya, karena anak laki-laki lah yang tetap menjadi penerus marga.
49W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1976, Hlm. 275
BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NORMA PEMBAGIAN WARIS DI KALANGAN ORANG SIMALUNGUN DI KECAMATAN
PEMATANG RAYA KABUPATEN SIMALUNGUN
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hukum Waris Adat di Simalungun
Hukum adat merupakan hukum yang lahir, hidup dan berkembang di dalam masyarakat yang dimana diterapkan berdasarkan kebiasaan sehingga tidak terdapat dalam hukum tertulis, namun sering dengan perkembangan dan kemajuan zaman, dalam hal kewarisan hukum adat mengalami perkembangan dalam pelaksanaannya dikarenakan adanya beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi. Berlandaskan hasil penelitian terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perkembangan hukum waris adat masyarakat adat Simalungun di Kecamatan Pematang Raya. Adapun faktor itu menurut responden adalah:
Tabel 5
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hukum Adat
n=15 No. Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Frekuensi
Faktor Ekonomi 1 Orang 6.7 %
Faktor Pendidikan - 1 Orang 6.7 % Faktor Perkembangan Sosial 1 Orang 6.7 %
Faktor Kasih Sayang 9 Orang 60 %
Faktor Perantauan 3 Orang 20 %
Total 15 Orang 100 %
Sumber: Data Primer
1. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Seiring perkembangan zaman, tentu kebutuhan terhadap manusia bertambah oleh karena itu ekonomi secara terus menerus mengalami pertumbuhan dan perubahan. Perubahan yang secara umum terjadi pada perekonomian yang dialami suatu negara seperti inflasi, pengangguran, kesempatan kerja, hasil produksi, dan sebagainya. Jika hal tersebut ditangani dengan baik maka suatu negara mengalami keadaan ekonomi yang stabil, mempengaruhi kesejahteraan kehidupan penduduk yang ada di negara tersebut.P5 2 F50
Sudah 70 tahun lebih Indonesia merdeka, tetapi kondisi perekonomian masyarakat tidak juga membaik, masih terdapat ketimpangan ekonomi, tingkat
Sudah 70 tahun lebih Indonesia merdeka, tetapi kondisi perekonomian masyarakat tidak juga membaik, masih terdapat ketimpangan ekonomi, tingkat