• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM REFRIGERASI

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 22-27)

Secara umum, refrigerasi didefinisikan sebagai proses pengambilan kalor. Lebih spesifik lagi, refrigerasi didefinisikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari proses penurunan dan pengaturan temperatur ruang atau bahan di bawah temperatur sekitarnya.

Untuk melakukan ini, berdasarkan hukum termodinamika 2, maka kalor harus diambil dari benda yang diturunkan dan diatur temperaturnya dan dipindahkan ke benda lain yang temperaturnya di bawah benda yang diturunkan dan diatur temperaturnya ( didinginkan ).

Kalor yang diambil dari benda yang didinginkan dipindahkan ke benda lain, merupakan suatu bukti nyata bahwa terjadinya pendinginan dan pemanasan dapat terjadi secara sama atau pada proses yang sama, tetapi hasilnya bisa jadi berbeda. Oleh karena itu seringkali hasil yang diharapkan satu dengan lainnya berbeda.

II.2.1 Beban Refrigerasi

Beban refrigerasi, beban pendinginan, atau beban pemanasan bisa didefinisikan sebagai laju ketika kalor harus diambil dari ruang atau bahan yang didinginkan dalam nilai tertentu untuk menghasilkan dan mengatur kondisi temperatur yang diinginkan . Pada sebagian besar aplikasi refrigerasi, total beban pendinginan adalah jumlah kalor yang diperoleh dari beberapa sumber berbeda, yaitu :

1. Aliran kalor melalui dinding insulasi.

2. Kalor yang harus diambil dari udara panas yang masuk ruangan melalui pintu terbuka dan tertutup.

3. Kalor yang harus diambil dari produk yang didinginkan untuk menurunkan temperatur produk pada temperatur penyimpanan.

4. Kalor yang diberikan pekerja di ruangan, motor, cahaya dan peralatan produksi lainnya yang beroperasi di ruangan.

II.2.2 Media Pendingin

Suatu zat penyerap kalor atau media pendingin disebut refrigeran. Refrigeran memiliki karakteristik thermodinamika yaitu meliputi temperatur penguapan, tekanan penguapan, temperatur pengembunan, dan tekanan pengembunan. Dan untuk keperluan suatu jenis pendinginan, diperlukan refrigeran dengan karakteristik thermodinamika yang tepat.

II.2.3 Siklus Refrigerasi Kompresi Uap

Siklus sistem kompresi uap sederhana terdiri dari empat proses, yaitu ekspansi, penguapan, kompresi dan pengembunan.

Gambar. 2.2 Diagram alir sistem refrigerasi kompresi uap sederhana dengan komponen utamanya.

Dimulai dari kompresor, dimana temperatur dan tekanan uap dinaikkan oleh kompresi. Uap bertemperatur dan bertekanan tinggi dikeluarkan dari kompresor ke saluran hot gas atau saluran discharge. Uap mengalir melalui saluran discharge ke kondensor. Ketika uap mengalir melalui saluran discharge, temperaturnya turun ke temperatur jenuhnya yang bersesuaian dengan tekanan tingginya kemudian uap mengembun dengan memberikan sejumlah kalor yang diambilnya ke air atau udara dingin. Di kondensor, sejumlah kalor dilepaskan ke udara dari fan kondensor yang relatif lebih dingin yang melintas ke kondensor.

Semua uap diembunkan dan refrigeran cair mengalir ke tank receiver melalui saluran liquid Liquid line

Expansion

valve Liquid Reciever

Condenser Evaporator

Compressor

Discharge line Suction line

Di evaporator, refrigeran cair menguap pada tekanan dan temperatur konstan dengan sumber kalor yang mengalir melalui dinding evaporator dari ruang yang didinginkan.

Kemudian uap tersebut mengalir melalui saluran suction dari evaporator ke suction inlet kompresor dengan adanya aksi kompresor. Uap yang meninggalkan evaporator merupakan uap jenuh dengan temperatur dan tekanan sama dengan cairan yang diuapkan. Selama mengalir melalui saluran suction dari evaporator ke kompresor, uap biasanya menyerap kalor dari udara sekitar saluran suction sehingga uap tersebut menjadi panas lanjut. Meskipun temperatur uap di saluran suction agak naik karena panas lanjut, tekanan uap tidak berubah sehingga tekanan uap masuk kompresor sama dengan tekanan penguapan. Selanjutnya proses akan kembali lagi ke kompresor dimana temperatur dan tekanan uap akan dinaikkan oleh kompresi, dan seterusnya siklus berlanjut.

Kami menggunakan sistem kompresi uap karena sistem ini sangat umum digunakan di dunia industri, sehingga komponen – komponen penunjangnya banyak terdapat di pasaran.

(b) (c)

Gambar 2. 3 (a) Skema sistem refrigerasi siklus kompresi uap ideal. (b) Diagram p-h. (c) Diagram t-h -nya.

(Sumber: Ibrahim Dincer et al, Refrigeration systems and applications, 2010)

Diagram tekanan-entalpi (pressure-entalphy diagram) atau diagram p-h dan diagram temperatur-entalpi (temperature-entalphy diagram) atau diagram t-h sering digunakan untuk menghitung transfer energi dan untuk menganalisa kinerja dari sebuah siklus refrigerasi seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.3 (b) dan Gambar 2.3 (c) di atas. Dalam diagram p-h,

Sebuah siklus ideal mempunyai proses kompresi isentropis, dan rugi-rugi tekanan dalam saluran pipa, katup, dan komponen lainnya yang diabaikan. Satu tingkat berarti hanya ada satu tingkat kompresi. Ada empat proses refrigerasi dalam siklus kompresi uap satu tingkat ideal seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.4, yaitu evaporasi, kompresi, kondensasi, dan ekspansi.

1. Proses evaporasi isotermal (4 - 1)

Refrigerant berevaporasi secara penuh dalam evaporator dan menghasilkan efek refrigerasi. Proses ini terjadi karena tempratur dari refrigerant lebih rendah dari temperatur lingkungan sehingga kalor dari lingkungan dapat diserap oleh refrigerant dan dipakai oleh refrigerant untuk merubah fasenya menjadi uap jenuh. Besarnya efek refrigerasi dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.

(2.2)

2. Proses kompresi isentropis (1 - 2)

Refrigerant memasuki kompresor pada keadaan uap jenuh dan kemudian dimampatkan sampai pada tekanan kondensasi. Pada saat pemampatan ini, temperatur refrigerant sendiri akan naik dan melebihi temperatur lingkungan. Idealnya, proses kompresi ini terjadi isentropis yaitu tidak terjadi perubahan entropi selama proses. Kerja kompresor dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut.

      (2.3) 

3. Proses kondensasi isotermal (2 - 3)

Setelah dimampatkan, refrigerant akan melalui kondenser. Pada kondenser terjadi pelepasan kalor dari sistem ke lingkungan. Proses pendinginan ini akan menyebabkan perubahan fasa refrigerant dari uap menjadi cairan. Proses berlangsung pada tekanan konstan sampai mencapai cair jenuh. Besarnya kalor yang dibuang ke lingkungan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut.

(2.4) 4. Proses ekspansi (3 - 4)

II.2.4 Superheating dan Subcooling

Ada beberapa perbedaan yang membedakan antara siklus aktual refrigerasi kompresi satu uap dengan idealnya, yaitu pressure drop, temperature drop, perpindahan kalor dari atau ke lingkungan, serta yang paling utama adalah proses superheating dan subcooling. Skema refrigerasi kompresi uap aktual yang banyak dijumpai digunakan secara komersial terdapat pada Gambar 2.4.

Superheating adalah proses penambahan kalor sensibel pada uap refrigerant sebelum masuk kompresor setelah mengalami perubahan fase di evaporator [10]. Apabila proses superheating ini terjadi pada evaporator, maka entalpi dari refrigerant akan meningkat sehingga menambahkan sejumlah panas dan meningkatkan efek refrigerasi pada evaporator.

Besarnya derajat superheat pada evaporator dapat diketahui dari perbedaan temperatur refrigerant antar temperatur didih dengan temperatur keluar evaporator. Pada diagram p-h proses superheating dan subcooling dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2. 4 Unit refrigerasi tipikal yang banyak digunakan untuk keperluan komersial.

(Sumber: Ibrahim Dincer et al, Refrigeration systems and applications, 2010)

Gambar 2. 5. Proses superheating (2 – 2’) dan subcooling (4 – 4’) pada siklus aktual kompresi uap satu tingkat.

(Sumber: Ibrahim Dincer et al, Refrigeration systems and applications, 2010)

Subcooling adalah proses penurunan temperatur refrigerant melewati garis saturasinya pada tekanan tetap [10]. Proses yang terjadi pada kondenser bertujuan untuk meningkatkan efek refrigerasi. Subcooling terjadi karena pendinginan pada kondenser seperti air atau udara dapat mempercepat laju penurunan termperatur refrigerant dalam kondenser.

Besarnya derajat subcooled ini tergantung pada temperatur media pendingin kondenser (udara/air) selama proses kondensasi, serta konstruksi dan kapasitas kondenser.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 22-27)

Dokumen terkait