• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Pembahasan

Dalam dokumen Ir. Torang Sitorus, MT (Halaman 13-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum secara garis besar isi setiap bab yang dibahas pada Tugas Akhir ini. Sistematika pembahasan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB 1 . PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang permasalahan , maksud dan tujuan penulisan , ruang lingkup , sistemakatika pembahasan dari tugas akhir ini.

BAB 2 . TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi uraian tentang kriteria pembebanan gempa dan konsep perencanaan struktur bangunan dengan menggunakan model bangunan baja dengan model bangunan yang menggunakan konstruksi beton.

BAB 3. PEMODELAN STRUKTUR

Bab ini berisi pemodelan struktur bangunan dengan menggunakan bantuan Program SAP2000.

BAB 4. ANALISIS PERHITUNGAN

Bab ini berisi hasil – hasil perhitungan dalam perencanaan struktur bangunan bertingkat. Analisis yang dilakukan berdasarkan batasan – batasan yang sudah ditetapkan dalam ruang lingkup pembahasan.

8

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang dapat diambil dari seluruh kegiatan tugas akhir ini dengan menitikberatkan pada perbandingan keekonomisan antara konstruksi balok bertulang dengan konstruksi baja.

BAB II

9 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Beton Bertulang

Bahan konstruksi beton bertulang mempunyai sifat yang unik dibandingkan dengan Bahan lain seperti kayu, baja, aluminium atau plastik karena beton bertulang adalah material konstruksi yang menggunakan dua jenis bahan yang berbeda secara bersamaan. Beton bertulang adalah merupakan gabungan yang logis dari dua jenis bahan : beton polos, yang memiliki kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi mempunyai kekuatan tarik yang rendah, dan batangan-batangan baja yang ditanamkan di dalam beton dapat memberikan kekuatan tarik yang diperlukan. Dengan demikian prinsip-prinsip yang mengatur perencanaan struktur dari beton bertulang dalam beberapa hal berbeda dengan prinsip-prinsip yang mengatur perencanaan struktur dari bahan yang terdiri dari satu macam saja.

Pada Gambar 2.1 memperlihatkan kekuatan balok yang secara nyata dapat ditingkatkan dengan menambahkan batangan-batangan baja di daerah tarik. Baja tulangan yang mampu menerima tekan dan tarik juga dimanfaatkan untuk menyediakan sebagian dari daya dukung kolom beton dan kadang-kadang di dalam daerah tekan balok.

Gambar 2.1 Kedudukan batang-batang tulangan dalam balok beton bertulang

Baja dan beton dapat bekerja sama atas beberapa alasan yaitu (1) lekatan (bond, atau interaksi antara batangan baja dengan beton keras disekelilingnya) yang mencegah slip relatif antara baja dan beton, (2) campuran beton yang memadai memberikan sifat anti resap yang cukup

10 dari beton untuk mencegah karat baja dan (3) angka kecepatan muai yang hampir serupa yaitu dari 0,0000055 sampaidengan 0,000075.

2.2 Ketentuan Umum dalam Perencanaan Struktur Bangunan Gedung 2.2.1 Pembebanan

Berdasarkan SKBI-1.3.53.1987, Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung, pengertian berbagai jenis beban yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan bangunan rumah dan gedung adalah sebagai berikut.

a. Beban Mati

Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung itu.

b. Beban Hidup

Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung dak ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.

Menurut SNI 03-1726-2012, pengertian berbagai beban nominal adalah sebagai berikut

 Beban Mati Nominal

Beban mati nominal adalah beban yang berasal dari berat semua bagian dari geudng yang bersifat tetap, termasuk dinding dan sekat pemisah, kolom, balok, lantai, atap, penyelesaian, mesin, dan peralatan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari gedung, yang nilai seluruhnya adalah sedemikian rupa sehingga probabilitasnya untuk dilampauinya dalam kurun waktu tertentu terbatas pada suatu persentase tertentu. Pada umumnya beban probabilitas beban tersebut untuk dilampaui adalah dalam kurun waktu gedung 50 tahun dan ditetapkan 10%. Namun demikian, beban mati rencana yang biasa

11 ditetapkan dalam standar-standar pembebanan struktur gedung dapat dianggap sebagai beban mati nominal.

 Beban Hidup Nominal

Beban hidup nominal adalah beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan gedung tersebut, baik akibat beban yang berasal dari orang maupun dari barang yang dapat berpindah atau mesin dan peralatan serta komponen yang tidak merupakan bagian yang tetap dari gedung, yang nilai seluruhnya adalah sedemikian rupa sehingga probabilitas untuk dilampauinya dalam kurun waktu tertentu terbatas pada suatu persentase tertentu. Pada umumnya, probabilitas beban tersebut untuk kurun wakrtu umur gedung 50 tahun dan ditetapkan 10%. Namun demikian, beban hidup rencana yang biasa ditetapkan dalam standar-standar pembebanan struktur gedung, dapat dianggap sebagai beban hidup nominal.

 Beban Gempa Nominal

Beban gempa nominal adalah beban gempa yang nilainya ditentukan oleh 3 hal, yaitu oleh besarnta probabilitas beban itu dilampaui kurun waktu tertentum oleh tingkat daktilitas struktur yang mengalaminya dan oleh kekuatan lebih yang terkandung di dalam struktur tersebut. Menurut standar ini, peluang dilampauinya beban tersebut dalam kurun waktu umur gedung 50 tahun adalah 10% dan gempa yang menyebabkannya disebut gempa rencana (dengan periode ulang 500 tahun), tingkat daktilitas struktur gedung dapat ditetapkan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan faktor kuat lebih f1 untuk struktur gedung secara umum nilainya adalah 1,6. Dengan demikian, beban gempa nominal adalah beban akibat pengaruh gempa rencana yan menyebabkan terjadinya pelelehan pertama di dalam struktur gedung, kemudian direduksi dengan faktor kuat lebih f1 . 2.2.2 Modelisasi Analisis Struktur

Dalam Melaksanakan perencanaan, perancangan, maupun pemeriksaan struktur perlu dilakukan analisis struktur untuk mengetahui respons struktur akibat pembebanan. Dalam

12 melakukan analisi struktur, struktur tersebut perlu dimodelkan dengan memberikan beberapa asumsi tertenru agar dapat ditemukan penyelesaian (respons struktur).Berikut adalah beberapa asumsi umum yang sering digunakan dalam modelisasi struktur sebelum analisis dilakukan.

a. Analisis dilakukan pada kondisi elastis (elastic analysis) dan perancangan dilakukan berdasarkan kondisi batas ultimate (keruntuhan) struktur dihitung berdasarkan kekakuan struktur sesaat sebelum terjadi keruntuhan.

b. Pemodelan analisis struktur 3 dimensi

c. Komponen non-struktural dianggap tidak mempengaruhi respons elastis struktur sehingga perlu dilakukan pemisahan elemen non-struktural dari elemen struktural dalam analisis

d. Kekakuan lantai sejajar bidangnya (inplane stiffness) umumnya dianggap sangat kaku (rigid diaphragm).

2.3 Filosofi

Filosofi dasar dari perencanaan bangunan tahan gempa adalah terdapatnya komponen struktur yang diperbolehkan mengalami kelelehan. Komponen struktur yang lelah tersebut merupakan komponen yang menyerap energi gempa selama bencana gempa terjadi. Agar memenuhi konsep perencanaan struktur bangunan tahan gempa tersebut, maka pada saat kelelehan yang terjadi hanya pada balok. Oleh karena itu, kolom dan sambungan harus dirancang sedemikian rupa agar kedua komponen struktur tersebut tidak mengalami kelelehan ketika gempa terjadi.

2.4 Ketentuan Perencanaan Pembebanan

Perencanaan pembebanan ini digunakan beberapa acuan standar sebagai berikut :

1. Tata cara perencanaan struktur baja untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002 Pasal 15.3.1. tentang Kombinasi Pembebanan)

2. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002 Pasal 6.1.3. tentang Beban Gempa yang bekerja pada struktur)

13 3. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SKBI-1987 BAB II

tentang beban-beban yang bekerja) 2.4.1 Pembebanan

Berdasarkan peraturan diatas, struktur sebuah gedung harus direncanakan kekuatannya terhadap beban-beban berikut :

1. Beban mati (Dead Load) , dinyatakan dengan lambang DL ; 2. Beban Hidup (Live Load) , dinyatakan dengan lambang LL ; 3. Beban Gempa ( Earthquake Load) , dinyatakan dengan lambang E.

2.4.2 Deskripsi Beban

Beban- beban yang bekerja pada struktur bangunan ini adalah sebagai berikut : 2.4.2.1 Beban Mati (DL)

Beban mati yang diperhitungkan dalam struktur gedung bertingkat ini merupakan berat sendiri elemen struktur bangunan yang memiliki fungsi struktural menahan beban. Beban dari berat sendiri elemen-elemen tersebut diantaranya :

1. Baja = 7850 kg/m2 2. Beton = 2400 kg/m2

Beban tersebut harus disesuaikan dengan volume elemen struktur yang akan digunakan.

Karena analisis dilakukan dengan program SAP2000, maka berat sendiri akan dihitung secara langsung.

2.4.2.2 Beban Hidup (LL)

Beban hidup yang diperhitungkan adalah beban hidup selama masa layan. Beban hidup selama masa konstruksi tidak diperhitungkan karena diperkirakan beban hidup masa layan lebih besar daripada beban hidup pada masa konstruksi. Beban hidup yang direncanakan adalah sebagai berikut :

Beban hidup pada lantai gedung

14 Beban hidup yang digunakan mengacu pada standar pedoman pembebanan yang ada yaitu sebesar 250 kg/m2

2.4.2.3 Beban Gempa (E)

Beban gempa adalah beban yang timbul akibat percepatan getaran tanah pada saat gempa terjadi. Untuk merencakan struktur bangunan tahan gempa, perlu diketahui percepatan yang terjadi pada batuan dasar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan , wilayah Indonesia dapat dibagi menajdi 6 wilayah zona gempa.

Struktur bangunan yang akan direncakan terletak di kota Medan. Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Tentang Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Rumah dan Gedung, daerah Medan terletak pada wilayah gempa Zona 3. Berikut adalah grafik dan tabel Respons Spektra pada wilayah gempa Zona 3 untuk kondisi tanah luunak, sedang , keras.

Gambar 2.2 Respons Spektrum Gempa Wilayah Gempa 3 Sumber : SNI 1726-2002

15 Analisis yang digunakan dalam perencanaan beban gempa ini adalah metode analisis Statik Ekivalen yang bekerja pada gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa tersebut.

Berdasarkan SNI 03-1726-2002, beban geser dasar nominal statik ekivalen V yang terjadi ditingkat ddasar dapat dihitung berdasarkan persamaan :

..Pers(2.1) Keterangan :

V adalah gaya geser dasar rencana total (N)

C1 Nilai Faktor Respons Gempa yang didapat dari Spektrum Respons Gempa Rencana untuk waktu getar alami fundamental dari struktur gedung.

I Faktor Keutamaan gedung, faktor pengali dari pengaruh Gempa Rencana pada berbagai kategori gedung, untuk menyesuaikan perioda ulang gempa yang berkaitan dengan penyesuaian probabilitas dilampauinya pengaruh tersebut selama umur gedung itu dan penyesuaian umur gedung itu.

R Faktor reduksi gempa

Wt Berat total gedung, termasuk beban hidup

Tabel 2.1 Faktor Keutamaan Gedung Sumber : SNI 03-1729-2002

16 Berat total struktur Wt ditetapkan sebagai jumlah dari beban –beban berikut ini :

 Beban mati total dari struktur bangunan ;

 Bila digunakan dinding partisi pada perencanaan lantai maka harus diperhitungkan tambahan beban sebesar 0,5 kPa;

 Pada Gudang – gudang dan tempat penyimpanan barang maka sekurang – kurangnya 25% dari beban hidup rencana harus diperhitungkan ;

Gaya geser nominal V harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung menjadi gaya – gaya gempa statik ekivalen Fi yang menangkap pada pusat massa lantai tingkat ke i menurut persamaan :

....(Pers. 2.2)

Keterangan :

Wi = berat lantai tingkat ke i

Zi = ketinggian lantai tingkat ke – i diukur dari taraf penjepitan lateral N = nomor lantai tingkat paling atas

Apabila rasio antara tinggi struktur gedung dan ukuran denahnya dalam arah pembebanan gempa sama dengan atau melebihi 3 , maka 0,1 V harus dianggap sebagai beban horizontal terpusat yang menangkap pada pusat massa lantai tingkat paling atas , sedangkan 0,9 V sisanya harus dibagian sepanjang tinggi struktur gedung menjadi beban-beban gempa nominal statik ekivalen.

2.4.2.4 Kombinasi pembebanan

Dengan mengacu pada kombinasi pembebanan SNI-03-1729-2002, Terdapat 6 standar kombinasi sebagai berikut :

17

D adalah beban mati yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen, termasuk ,

lantai, atap, plafon, partisi tetap, tangga, dan peralatan layan tetap

L adalah beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung, termasuk kejut, tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti angin, hujan, dan lain-lain

La adalah beban hidup di atap yang ditimbulkan selamaperawatan oleh pekerja,

peralatan, dan material, atau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak H adalah beban hujan, tidak termasuk yang diakibatkan genangan air

W adalah beban angin

E adalah beban gempa, yang ditentukan menurut SNI 03–1726–2002.

Dengan ,

γL = 0,5 bila L< 5 kPa, dan γ L = 1 bila L ≥ 5 kPa.

2.5 Kriteria Perencanaan Tahan Gempa untuk Struktur Bangunan Baja

Ketentuan ini dimaksudkan untuk perencanaan dan pelaksanaan komponen struktur bangunan baja termasuk sambungan dalam struktur dengan gaya yang bekerja dihasilkan dari beban gempa yang telah ditentukan dengan memperhatikan disipasi energi di dalam daerah respon non linier struktur bangunan tersebut..

18 Komponen struktur untuk bangunan baja tahan gempa harus memenuhi :

....(Pers 2.3) Keterangan :

 adalah faktor Tahanan sesuai tabel 2.2 ;

Rn adalah tahanan nominal komponen struktur ;

Ru adalah pengaruh aksi terfaktor , yaitu momen atau gaya yang diakibatkan oleh suatu kombinasi pembebanan atau pengaruh aksi perlu, yaitu momen atau gaya yang disyaratkan untuk struktur tahan gempa

Tabel 2.2 Faktor Reduksi () untuk Keadaan Kekuatan Batas

19 2.6 Spesifikasi Bahan

Spesifikasi bahan baja yang digunakan untuk bangunan yang melebihi satu tingkat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

o Perbandingan tekanan leleh terrhadap tegangan putus tariknya ada kurang dari 0,85;

o Hubungan Tegangan – Regangan harus memperlihatkan daerah datar yang cukup panjang ;

o Pengujian uniaksial tarik pada spesimen baja memperlihatkan perpanjangan maksimum tidak kurang daripada 20% untuk daerah pengukuran sepanjang 50 mm;

o Mempunyai sifat relatif mudah di las.

Persyaratan kuat leleh minimum dari baja untuk komponen struktur dengan perilaku inelastis yang diharapkan akan terjadi berkenaan dengan kombinasi pembebanan di atas tidak boleh melebihi 350 Mpa, kecuali bila dapat ditunjukkan secara eksperimental atau secara rasional bahwa bahan baja yang digunakan sesuai untuk tujuan tersebut.Persyaratan ini tidak berlaku bagi kolom yang diharapkan perilaku inelastisnya hanya akan terjadi pada dasar kolom yang mengalami leleh pada tingkat paling bawah.

20

Bab III

PEMODELAN STRUKTUR 3.1 Deskripsi Model Struktur

Dalam Tugas Akhir ini , akan dilakukan analisis perbandingan harga untuk 2 bangunan yaitu Bangunan struktur Beton Bertulang dengan Bangunan Struktur Baja.

Struktur dimodelkan tiga dimensi dengan perhitungan yang menggunakan SAP 2000.

Dimensi dari struktur bangunan yang akan direncanakan adalah 25 m X 15m , dengan arah sumbu X memiliki 5 segmen dengan bentang masing – masing 5 meter sedangkan tinggi lantai 4 meter , sedangkan arah sumbu Y memiliki 2 segmen dengan bentang masing – masing 5 meter dan tinggi 4 meter. Model yang direncanakan adalah struktur bangunan bertingkat dengan 3 lantai.

Berikut adalah denah yang akan direncanakan :

Gambar 3.1. Denah Struktur Bangunan yang akan direncanakan

21

Gambar 3.2. Potongan Melintang dari Bangunan yang direncanakan

Gambar 3.3. Potongan Memanjang dari Bangunan yang direncanakan

22

Perencanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan – ketentuan sebagai berikut : 1. Tata Cara Perhitungan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI

03-1726-2003)

2. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SKBI -1987) 3. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk struktur bangunan Gedung (

SNI-03-1726-2002)

Pengerjaan dimulai dengan menggambar pemodelan struktur bangunan pada program SAP 2000.

3.2. Data Geometri Struktur

Pada Tugas Akhir ini akan dimodelkan suatu struktur bangunan rumah tingkat 3 lantai dengan lokasi yang berada di Medan. Data karakteristik geometri bangunan adalah sebagai berikut :

1. Bangunan rumah tingkat 3 lantai ; 2. Tinggi tiap lantai adalah 4 meter ;

3. Kota Medan terletak pada wilayah gempa Zona 3 dan memiliki kondisi tanah keras ;

3.3. Preliminari Struktur

Komponen struktur yang terdapat pada bangunan ini meliputi balok , kolom , pelat lantai akan direncanakan terlebih dahulu dimensi awal dari komponen struktur

bangunan.

3.3.1. Material

Material yang digunakan dalam merencanakan dan membangun struktur bangunan ini adalah material baja dan beton.

Material baja yang akan digunakan pada bangunan ini adalah material baja dengan mutu BJ37 dengan fy = 240 Mpa dan fu = 370 Mpa. Material beton yang digunakan adalah beton dengan mutu K-250

23

3.3.2. Balok dan Kolom

Balok dan kolom yang digunakan adalah yang berdasarkan hasil perhitungan SAP 2000 yang dapat menahan beban yang diberikan pada bangunan ini . Dimensi yang digunakan adalah dimensi yang diproduksi dan banyak terdapat di Indonesia.

3.4. Pembebanan Struktur

Perencanaan pembebanan adalah pendefinisian beban-beban yang bekerja pada struktur sesuai dengan Pedoman Perencanaan untuk Rumah dan Gedung (SKBI- 1.3.53.1987). Seluruh beban yang telah didefinisikan akan bekerja pada model struktur bangunan ini. Beban-beban yang bekerja pada struktur bangunan ini antara lain :

3.4.1. Beban Mati

Beban mati adalah seluruh bagian dari komponen struktur bangunan yang bersifat tetap dan tidak terpisahkan dari bangunan tersebut selama masa layannya.

Beban mati yang diperhitungkan untuk struktur bangunan ini antara lain :

 Beban sendiri beton bertulang 2400 kg/

 Beban sendiri profil baja 7850 kg/

 Beban Dinding Bata sebesar 250 kg/

 Berat sendiri Lantai sebesar 2400 kg/

3.4.2. Beban hidup

Beban hidup yang direncakan dan diperhitungkan adalah sebesar 250 kg/ untuk beban pelat lantai. Beban ini disesuaikan dengan kegunaannya sebagai gedung perumahan.

24

3.4.3. Beban Gempa

Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu dan menggunakan tabel Respons Spektra untuk wilayah Medan dan yang diambil adalah tanak keras 2002 ( ---)

Gambar 3.4. Tabel Respons Spektrum untuk wilayah Medan

25

Gambar 3.5 Tampak 3 Dimensi Bangunan yang akan direncanakan

Kombinasi Pembebanan yang digunakan untuk Analisa Struktur dengan SAP 2000 :

 1.4 DL ;

 1.2 DL + 1.6 LL ;

 1 DL + 1 LL + Rsp

o Rsp = 1 untuk arah sumbu x o Rsp = 0.3 untuk arah sumbu y

26

BAB IV

ANALISIS PERHITUNGAN

Struktur bangunan yang telah dimodelkan terlebih dahulu, dianalisis dengan menggunakan bantuan program SAP 2000 untuk mendapatkan gaya- gaya dalam dan beserta profil yang akan digunakan.

Hasil perhitungan yang didapatkan akan ditampilkan sebagai berikut :

Gambar 4.1. Gaya Normal Beban mati (DL) pada Beton

27

Gambar 4.2. Gaya Normal Beban mati (DL) pada Baja

Gambar 4.3. Gaya Normal Beban Hidup (LL) pada Beton

28

Gambar 4.4. Gaya Normal Beban Hidup (LL) pada Baja

Gambar 4.5. Gaya Normal Gempa (Rsp) pada Beton

29

Gambar 4.6. Gaya Normal Gempa (Rsp) pada Baja

Gambar 4.7. Gaya Normal Beban Kombinasi 1 pada Beton

30

Gambar 4.8. Gaya Normal Beban Kombinasi 1 pada Baja

Gambar 4.9. Gaya Normal Beban Kombinasi 2 pada Beton

31

Gambar 4.10. Gaya Normal Beban Kombinasi 2 pada Baja

Gambar 4.11. Gaya Normal Beban Kombinasi 3 pada Beton

32

Gambar 4.12. Gaya Normal Beban Kombinasi 3 pada Baja

Gambar 4.13. Gaya Lintang Beban Mati (DL) pada beton

33

Gambar 4.14. Gaya Lintang Beban Mati (DL) pada baja

Gambar 4.15. Gaya Lintang Beban Mati (DL) pada baja

34

Gambar 4.16. Gaya Lintang Beban Hidup (LL) pada beton

Gambar 4.17. Gaya Lintang Beban Hidup (LL) pada baja

35

Gambar 4.18. Gaya Lintang Gempa (Rsp) pada Beton

Gambar 4.18. Gaya Lintang Gempa (Rsp) pada Baja

36

Gambar 4.19. Gaya Lintang Kombinasi 1pada Beton

Gambar 4.20. Gaya Lintang Kombinasi 1 pada Baja

37

Gambar 4.21. Gaya Lintang Kombinasi 2 pada Beton

Gambar 4.22. Gaya Lintang Kombinasi 2 pada Baja

38

Gambar 4.23. Gaya Lintang Kombinasi 3 pada Beton

Gambar 4.24. Gaya Lintang Kombinasi 3 pada Baja

39

Gambar 4.25 Gaya Momen Beban Mati (DL) pada beton

Gambar 4.26. Gaya Momen Beban Hidup (DL) pada baja

40

Gambar 4.27. Gaya Momen Beban Hidup (LL) pada beton

Gambar 4.28. Gaya Momen Beban Hidup (LL) pada baja

41

Gambar 4.29. Gaya Momen Gempa (Rsp) pada Beton

Gambar 4.30. Gaya Momen Gempa (Rsp) pada Baja

42

Gambar 4.31. Gaya Momen Kombinasi 1 pada Beton

Gambar 4.32. Gaya Momen Kombinasi 1 pada Baja

43

Gambar 4.33. Gaya Momen Kombinasi 2 pada Beton

Gambar 4.34. Gaya Momen Kombinasi 2 pada Baja

44

Gambar 4.35. Gaya Momen Kombinasi 3 pada Beton

Gambar 4.36. Gaya Momen Kombinasi 3 pada Baja

45

Gambar 4.37. Desain Beton Tampak Depan

Gambar 4.38. Desain Beton Tampak Samping

46

Gambar 4.39. Desain Beton Tampak Atas

Gambar 4.40. Desain Baja Tampak Depan

47

Gambar 4.41. Desain Baja Tampak Samping

Gambar 4.42. Desain Baja Tampak Atas

48

Gambar 4.43. Menyatakan Beton memenuhi syarat dan bisa menahan beban

Gambar 4.44. Menyatakan Baja memenuhi syarat dan bisa menahan beban

49

4.1 Analisa Profil Beton

A. Kolom 40 x 40 , Jumlah = 8 kolom

50

51

D. Balok anak 25 x 45

Volume beton K-250 = 0.25 x 0.45 x 4.7m x 45 balok = 23.805 Begisting = 1.15 m x 4.7 m x 45 balok = 243.45 Pembesian

 6  10 mm @5.5m = 33m x 0.616 kg/m x45 balok = 914.76kg

 25  8 mm @1.2m =30m x 0.393 kg/m x45 balok = 530.55kg+

= 1445.31kg

52

4.2 Analisa Profil Baja

A. Kolom Dasar WF 400 x 200 x 8 x 13 Jlh = 24 Kolom

1. WF 400 x 200 x 11 x 16 mm x 4m = 24 batang 2. Tapak Pondasi bawah 500 x 250 , t = 15 mm = 24 keping 3. Tapak atas 400 x 200 , t = 15 mm = 24 keping 4. Stiffener 400 x 100 , t = 10mm = 48 keping

53

B. Kolom Lantai 1 WF 350 x 175 x 7 x 11 Jlh = 24 Kolom

1. WF 350 x 175 x 7 x 11 mm x 4m = 24 batang 2. Tapak bawah 350 x 175 , t = 12 mm = 24 keping 3. Tapak atas 350 x 175 , t = 12 mm = 24 keping 4. Stiffener 350 x 80 , t = 10mm = 48 keping

54

C. Kolom Lantai 2 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 Jlh = 24 Kolom

1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4m = 24 batang 2. Tapak bawah 300 x 150 , t = 12 mm = 24 keping 3. Tapak atas 300 x 150 , t = 12 mm = 24 keping 4. Stiffener 300 x 75 , t = 10mm = 48 keping

55

D. Balok Induk Lantai 1 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,6m Jlh = 20 batang

1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,6m = 20 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 20 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 40 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 80 keping

E. Balok Induk Lantai 2 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,65m Jlh = 20 batang

1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,65m = 20 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 20 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 40 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 80 keping

56

F. Balok Induk Lantai 3 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,7m Jlh = 20 batang

1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,7m = 20 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 20 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 40 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 80 keping

G. Balok Induk Lantai 1,2,3 WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm L =4,99m Jlh = 54 batang

1. WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 4,99m = 54 batang 2. Sokongan WF 300 x 150 x 6.5 x 9 mm x 1m = 54 batang 3. Plat 150 x 600 , t = 12 mm = 108 keping 4. Stiffener Plat 300 x 75 , t = 10 mm = 216 keping

57

H. Balok Anak Lantai 1,2,3 WF 200 x 100 x 7 x 11 mm L =4,99m Jlh = 45 batang

1. WF 200 x 100 x 7 x 11 mm x 4,99m = 45 batang 2. Plat 100 x 200 , t = 10 mm = 90 keping 3. Stiffener Plat 200 x 50 , t = 10 mm = 180 keping

58

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil perencanaan bangunan dengan struktur beton bertulang dengan struktur baja, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

 Harga Total Bangunan Struktur Beton bertulang = Rp. 374.205.342,72,-

 Harga Total Bangunan Struktur Baja = Rp. 695.416.929,57,-

 Jadi Bangunan Struktur Beton Bertulang lebih hemat 46,19% dari bangunan Struktur Baja

 Bangunan dengan struktur baja lebih mahal dibandingkan dengan bangunan struktur beton pada bangunan , sehingga struktur beton merupakan struktur yang paling ekonomis.

 Akan tetapi , pengerjaan Beton memakan waktu lebih lama daripada pengerjaan Baja

5.2. Saran

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dan kesimpulan yang didapat , dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :

 Jika ingin mendapatkan bangunan yang lebih aman , cepat dan tahan gempa , maka gunakanlah bangunan struktur baja.

 Jika membutuhkan bangunan yang kuat ,tetapi dengan harga yang

 Jika membutuhkan bangunan yang kuat ,tetapi dengan harga yang

Dalam dokumen Ir. Torang Sitorus, MT (Halaman 13-0)

Dokumen terkait