H. Metode Penelitian
I. Sistematika Pembahasan
24
Analisis isi (content analysis) dipergunakan dalam rangka untuk menarik kesimpulan yang sahih dari berbagai sumber atau referensi yang berhubungan dengan topik yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu
“Konsep Pendidik Dalam Pandangan Islam dan Barat (Studi Pemikiran Al-Zarnuji dan Paulo Freire).
Adapun langkah-langkahnya adalah dengan menseleksi teks yang akan diselidiki, menyusun item-item yang spesifik, melaksanakan penelitian, dan mengetengahkan kesimpulan23
I. Sistematika Pembahasan
Secara sistematis penulisan Tesis ini dibagi menjadi lima bab, setiap bab terdiri atas sub-sub bab yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut:
Bab Pertama merupakan bab pendahuluan, berisi secara global permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini serta dikemukakan beberapa masalah meliputi: latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teoritik, penelitian terdahulu, metode penelitian, sistematika pembahasan, outline penelitian dan daftar kepustakaan sementara ruang lingkup pembahasan dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua membahas tentang diskursus pendidik. Kemudian kita lihat keunikan masing-masing dari pemikiran tokoh tersebut. Bagaimana konsep pendidik dalam pandangan barat, bagaimana konsep pendidik dalam
23 Ibid, 16-17
25
pandangan Islam, bagaimana kedudukan guru dalam pandangan Islam dan Barat, bagaimana kualifikasi guru dalam pandangan Islam dan lain-lain.
Bab Ketiga membahas tentang objek kajian tentang biografi Al-Zarnuji dan Paulo Freire serta konteks sosial konsep pendidikan Al-Al-Zarnuji dan Paulo Freire.
Bab Keempat membahas tentang konsep pendidik menurut Al-Zarnuji dan Paulo Freire. Mulai dari kedudukan guru, lalu kemudian kualifikasi guru, serta proses instruksional pembelajaran menurut Al-Zarnuji dan Paulo Freire.
Bab Kelima mengkaji tentang analisis keunikan masing-masing dari kedua tokoh tersebut tentang konsep pendidik. Kemudian analisis mengapa keunikan tersebut dapat terjadi, apakah pengaruh konteks sosial konsep pendidikan kedua tokoh tersebut atau paradigma filsafat pendidikan Islam dan Barat.
107
BAB VI PENUTUP A.Kesimpulan
Dari pembahasan Tesis diatas dapat diambil kesimpulan tentang konsep pendidik dalam pandangan tokoh Islam yaitu Al-Zarnuji dan tokoh Barat Paulo Freire. Bahwa keduanya mempunyai keunikan masing-masing ketika mengkaji tentang konsep pendidik, baik dilihat dari model pembelajaran, kedudukan guru, kualifikasi guru menurut kedua tokoh tersebut. Model pembelajaran pada zaman Al-Zarnuji masih bersifat strukturalis, pada waktu itu belum ada model pembelajaran yang bervarian seperti sekarang. Guru berperan sebagai pemberi informasi sedangkan murid sebagai penerima informasi. Peran murid kurang maksimal dalam pembelajaran karena tidak ada ruang untuk berpendapat. Model pembelajaran Paulo Freire bersifat humanis. Proses pembelajaran yang memberikan apresiasi kepada murid untuk mengembangkan serta mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya. Guru hanya sebagai pemandu atau fasilitator dalam belajar yang mana membantu murid dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Kemudian dari segi kedudukan guru, dalam pandangan Al-Zarnuji guru adalah tingkatannya diatas murid dalam segala aspek. Guru merupakan sumber nilai, sedangkan murid sebagai penerima nilai. Guru dituntut bagaimana untuk selalu berusaha membekali dirinya agar dapat menjadi tauladan, sedangkan kewajiban murid adalah harus menghormati gurunya, harus memuliakan beliau serta tidak boleh sedikitpun membantah apa yang dikatakan oleh seorang guru.
108
Karena kalau hal tersebut dilakukan maka murid tidak akan mendapatkan kemanfaatan ilmu. Dalam pandangan Paulo Freire guru dan murid harus belajar bersama dan sejalan dalam sebuah proses yang dialogis serta tidak memaksakan satu pihak untuk menerima deposito pengetahuan sebagai celengan yang harus diisi. Guru dan murid harus sama-sama belajar untuk saling memanusiakan antara satu sama lain. Hubungan guru dan murid tidak posisi atas bawah akan tetapi sama-sama saling mengisi satu sama lain dalam proses pembelajaran.
Selanjutnya untuk kualifikasi guru Al-Zarnuji mempunyai kriteria tentang guru ideal yaitu; guru harus alim, mempunyai sifat wara’, dan lebih tua/senior. Guru harus mempunyai moral dan integritas yang baik (akhlak mulia), disamping mempunyai sifat penyayang dan sabar. Tujuannya adalah agar guru benar-benar dapat mengemban tugas sebagai seorang pendidik. seseorang yang dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik. Menurut Paulo Freire pembelajaran humanis tidak berarti menolak peran guru sebagai figur, tetapi yang lebih ditekankan adalah interaksi dialogis antara guru dan murid dalam proses pembelajaran. Jadi posisi keduanya bukan sebuah posisi atas bawah, tapi mereka berdua setara dan saling belajar untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran.
Mengapa keunikan pemikiran kedua tokoh tersebut berbeda, yaitu karena pengaruh perbedaan konteks sosial konsep pendidikan pada masa tokoh tersebut. Al-Zarnuji yaitu berusaha membangkitkan kembali peradaban keilmuan pada zamannya. Karena pada zaman tersebut adalah masa
109
kemunduran dinasti abasiyah dan ditandai dengan disintegrasi politik di Bagdad. Sehingga membutuhkan kondisi sosial yang menjamin pada keutuhan suatu negara. Maka untuk merealisasikan hal tersebut maka muncul suatu doktrin ketaatan yang harus dipegang oleh masyarakat pada waktu. Oleh karenanya pemikiran Al-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim dapat kita
lihat disitu mengajarkan tentang ketaatan, kesopanan, penghormatan terhadap guru dan lain sebagainya.
Sedangkan Paulo Freire adalah tokoh abad modern, pada waktu itu dinegaranya sedang terjadi krisis besar-besaran. Oleh karenanya banyak masyarakat yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Seseorang yang dapat duduk dibangku sekolah sedikit sekali dan itupun mereka kurang mendapat pelayanan baik dari pemerintah. Dari latarbelakang itulah maka Paulo ingin mengentaskan masyarakat dari ketertindasan. Yang dimaksud ketertindasan adalah kebodohan dan buta huruf. Semua manusia harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik dengan tujuan agar dapat mengangkat martabat seseorang tersebut. Akhirnya muncul suatu pandangan tentang humanisme, yaitu bagaimana memperlakukan manusia dengan sebaik-baiknya sesuai fitrah dan potensi yang dimilikinya. Pandangan humanisme ini mengedepankan yaitu kebebasan berpikir bagi siswa. Mereka diberi kesempatan untuk mengeksplor semua potensi yang dimiliki. Mengasah dan mendayagunakan kelebihannya tersebut. Oleh karena itu penulis dapat menyimpulkan bahwa pada masa ini peranan rasionalitas lebih dominan.
110