• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

I. 2. 2. Ruang Lingkup

I. 8. Sistematika Penelitian

Dari penelitian ini adanya beberapa bab yang akan di bahas diantaranya:

Bab I. Bab Pendahuluan.

10

Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II. Bab Awal Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit di Yogyakarta (1950-1955).

Pada bab ini akan dibahas tentang awal dari Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit di Yogyakarta dari tahun 1950-1955.

Bab III. Bab Usaha Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit (1956- 1960).

Pada bab yang ketiga akan dibahas mengenai usaha yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit di Yogyakarta dari tahun 1956- 1960 terkhusus dalam menangani penyakit frambusia.

Bab IV. Bab Ahkir dari Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit Rakyat di Yogyakarta (1961-1964).

Pada bab yang keempat akan dibahas mengenai akhir dari Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit Rakyat di Yogyakarta dari tahun 1961- 1964.

Bab V. Bab Penutup.

Pada bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan dan saran.

11

Bab II Awal mula

Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit 1950-1955

II. 1. Berdirinya Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit

Pada tahun 1950 Kementrian kesehatan Indonesia yang ada di Yogyakarta memutuskan untuk menyelenggarakan adanya layanan secara khusus yang digunakan untuk menangani penyakit seperti penyakit malaria, framboesia, kudis, dan kusta.17 Oleh karena itu di tahun yang sama berdirilah Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit di Yogyakarta dengan diketuai oleh dr. Kodijat.18 Kantor Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No.139, Kota Yogyakarta.19

Bersamaan dengan hal tersebut, diadakannya kampanye pemberantasan terhadap penyakit framboesia. Metode yang digunakan dalam kampanye tersebut telah dilaporkan ke Simposium Internasional yang pertama kalinya di Bangkok

17 Unkwon Author, “Speciale Peciale Dienst”, Het nieuwsblad voor Sumatra, 1 September 1950, hlm. 3.

18 Op.Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 31.

19 Kantor tersebut dikenal dengan Ndalem Jayadipuran yang sekarang kantor tersebut beralih fungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta.

12

pada bulan Maret tahun 1952.20 Kampanye pemberantasan terhadap penyakit tersebut juga merupakan tolak ukuran yang mengarah ke kesehatan masyarakat dan diterapkan untuk masyarakat.21

Kampanye dalam pemberantasan penyakit framboesia oleh dr. Kodijat secara lebih jelas memiliki 3 program yaitu:

1. Pemeriksaan utama (Initial Survey), 2. Pemeriksaan secara berulang (Resurvey), 3. Tingkat konsolidasi.

Awal dari pemberantasan framboesia dilakukan di Pulau Jawa khususnya di wilayah Yogyakarta dengan berbagai alasan seperti:

1. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas penduduk di pulau Jawa menderita penyakit framboesia,

2. Sarana dan tata usaha dari pramong praja yang ada di pulau Jawa telah dianggap hal yang paling teratur dibandingkan dengan kondisi di luar pulau Jawa,

3. Di luar Jawa diketahui bahwa belum mungkin untuk dapat diteliti dan diperiksa tentang kasus wabah penyakit framboesia dengan alasan keadaan keamanan yang disebabkan oleh adanya peristiwa Revolusi

20 M. Soetopo, M.D, dkk, The Indonesian Treponematoses Control Project, 1956, hlm. 542.

21 C.J. Hackett. M.D., F.R.C.P, The Pinciples And Pratice Of Yaws Control , Medical Journal, The Wellcome Museum of Medical Science, 11 Juli 1953, hlm. 74.

13

terhadap Pemerintahan Indonesia22 dan Permesta23. Oleh karena itu belum dapat bisa dikerjakan secara intensif.24

Dr. Kodijat sudah lama telah menganjurkan mengenai penggunaan poliklinik dalam kampanye pemberantasan framboesia yang digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi di setiap desa dan memberikan informasi terkait dengan penyakit framboesia. Nilai dari poliklinik tersebut bahwa para pekerja khususnya bagian pengontrolan masih dilakukan di beberapa negara khususnya Indonesia sebelum kampanye berlangsung.25

Pada tahun 1951 pemerintahan Indonesia telah mengeluarkan uang sebesar 1 juta rupiah yang digunakan untuk kampanye terhadap framboesia dan 2,5 juta rupiah yang digunakan untuk melaksanakan program perawatan kesehatan terhadap ibu dan anak. Dana tersebut telah dihabiskan untuk keperluan seperti biaya operasional, biaya personil, dan biaya administrasi.26

Seperti catatan yang ditulis oleh Nora Dwi Jayanti, pada tahun 1950 Indonesia mendapatkan bantuan dana sebesar 1.200.000 dollar yang diberikan oleh UNICEF yang digunakan untuk suntikan penisilin, perlengkapan medis, kendaraan,

22 Peristiwa PRRI terjadi sejak tanggal 15 Februari 1958.

23 Permesta adalah Perjuangan Rakyat Semesta.

24 Op. Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 33.

25 N. Jungalwalla, “Planning For Yaws Control In South-East Asia, Development Of Plants Of Operation”, World Health Ogranization Regional Office for South-East Asia, Part IV, hlm. 217.

26 Unkwon Author, “Anti-framboesia-campagne vordert uitstekend Unicef besteedde ruim twee millioen dollar”, Java Bode, 14 Februari 1951.

14

obat-obatan, laboratorium dan personil yang ditugaskan di dalam kampanye anti framboesia.27

Di tahun yang sama, dr. Soerono28 telah mengumumkan bahwa dari pemerintah Indonesia telah berniat untuk memperkerjakan dokter asing sejumlah 300 orang yang salah satunya merupakan spesialis di bidang framboesia.29

Sejak ahkir tahun 1955 terdapat 21 juta orang penduduk telah diperiksa dan sekitar 3,5 juta orang penduduk telah dirawat secara medis.30

II. 2. Biografi Singkat dr. Kodijat

Dr R. Kodijat lahir di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah pada tanggal 16 September 1890 dan meninggal di Yogyakarta pada tanggal 29 Juli 1968. dr. R.

Kodijat merupakan anak ketiga dari R. Prawirowidojo dan Raden Roro Soepiah. 31 Dr. Kodijat menempuh pendidikan di berbagai sekolah seperti ln Jandsche School di Yogyakarta, Europesche Lagere School di Magelang, STOVIA di Jakarta,

Fakultas Kedokteran, Gemeentelijke Universiteit dan Kooinklijk lnstituut Voor Tropische Zi ekten di Amterdam, Belanda.32

27 Op.cit., Nora Dwi Jayanti, hlm. 59.

28 Dr. Soerono merupakan seketaris jenderal Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Serikat Tahun 1950.

29 Unkwon Author, “Indonesië wil 300 artsen in dienst nemen”, De Telegraaf, 1 Agustus 1951, hlm. 3.

30 Unkwon Author, “Verdiensten van dr. Kodyat”, Java bode, 27 Juni 1956.

31 Op. Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 1-2.

32 Ibid.

15

Selama perjalanan hidup termasuk dalam karir sebagai dokter, dr. Kodijat mengabdikan dirinya untuk memberantas penyakit endemik framboesia di Indonesia khususnya di wilayah Jawa. Pada tahun 1950, dr. Kodijat diangkat sebagai kepala Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit di Yogyakarta.33

II. 3. Sistem TCP

Pada tahun 1950 oleh dr. Kodijat membentuk sistem yang dinamakan Treponematoses Control Program atau TCP. Sistem ini telah berkerjasama dengan

pamongpraja setempat. Dalam pelaksanaannya, sistem ini terdiri dari 3-4 orang tenaga medis sebagai petugas lapangan dengan dibawah pimipinan satu orang dokter yang telah disebar di setiap kecamatan di wilayah Yogyakarta. Dengan adanya jumlah tenaga medis yang tersedia, maka pemeriksaan dilakukan hanya pada satu titik lokasi saja dalam beberapa bulan.34

Sistem TCP pertama kalinya dilakukan di wilayah Pundong, Bantul dengan cara mengganti suntikan neosalvarsan dengan suntikan penisilin.35

Hasil dari pekerjaan sistem TCP disebutkan bahwa tergolong rapi yang digunakan untuk bahan penyelidikan terhadap penyakit framboesia selanjutnya.36

Akan tetapi semenjak diberlakukan sistem TCP, berbagai masalah yang diantaranya seperti luas wilayah dalam penanggulanan penyakit framboesia, sedikit

33 Ibid.

34 Op.Cit., N. Jungalwalla, hlm. 55-56.

35 Ibid., hlm. 56.

36 Darto Harnoko, dkk, “Rumah Kebangsaan Dalem Jayadipuran Periode 1900- 2014”, (Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, 2014), hlm. 108.

16

dari penduduk yang telah mengetahui adanya penyakit framboesia, dan tidak dapat diteruskan yang tujuannya untuk perluasan wilayah terhadap pemberantasan penyakit framboesia meskipun hasil dari pemberantasan tersebut dengan cara sistem TCP oleh dr. Kodijat sangat memuaskan.37

Dengan beberapa alasan tersebut maka sistem TCP disesuaikan dengan keadaan Indonesia yang lebih mengacu kepada sistem pemerintahan di Indonesia, disederhanakan, dan berganti nama menjadi sistem Treponematoses Control Program Simplified atau TCPS. Tujuan dari perubahan nama adalah untuk bisa

mempercepat pelaksanaan dalam penanganan kasus penyakit framboesia dan dalam pengeluaran terhadap keuangan tidak memerlukan biaya yang besar.38

Pertimbangan akan program TCP tersebut yang disederhanakan bahwa:

1. Kampanye anti penyakit framboesia harus menjadi bagian yang rutin tugas keseharian dari unit kesehatan yang sedang bekerja di setiap kecamatan,

2. Wilayah yang dicakup dari kecamatan memiliki rata-rata penduduk berjumlah 25 ribu orang,

3. Penentuan terhadap pusat pekerjaan dilakukan di poliklinik kecamatan dengan personilnya merupakan perawatan berserta dengan asistennya, 4. Pekerjaan terhadap pengendalian penyakit framboesia tidak dilakukan

secara empat minggu setelah injeksi yang pertama kali. Namun dianjurkan untuk melakukan survei ulang dan tindak lanjut setelah

37 Loc.Cit., N. Jungalwalla.

38 Loc.Cit., Wisnu Subagyo.

17

seluruh wilayah kecataman yang terdeteksi penyakit framboesia telah diperiksa dan dirawat.39

Di periode yang sama yaitu tahun 1950an, TCPS telah dirancang masuk ke dalam sebuah layanan kesehatan di Indonesia. Fokus dari kampanye pemberantasan terhadap framboesia dan sistem TCPS adalah poliklinik yang berada di setiap kecamatan. Hal tersebut dikarenakan setiap kecamatan yang terdaftar telah mendapatkan bantuan dana keuangan yang berasal dari dewan pemerintah daerah, sehingga mereka dapat melakukan kampanye dan melaksanakan sistem TCPS.40

Jika dibandingkan dengan biaya kebutuhan dan pengeluaran terhadap tim lapangan, biaya terhadap peralatan yang dibutuhkan serta administrasi sistem TCPS terbilang sangat rendah bahkan setiap wilayah di kecamatan yang terdaftar dapat bisa memperkenalkan sistem tersebut tanpa adanya biaya anggaran.41

Minat terhadap sistem TCPS semakin hari kian meningkat, namun pemeriksaan antar rumah ke rumah belum menjadi bagian yang rutin dari pekerjaan memberantas penyakit framboesia di Jawa. Hal tersebut dikarenakan banyak dari kalangan petugas layanan sipil maupun penduduk lokal yang keberatan. Oleh karena itu sistem TCPS dapat bisa menyesuaikan dengan keadaan lokal tanpa adanya masalah yang dimana dapat membuktikan adanya persyaratan yang mudah

39 Op.Cit., M. Soetopo, dkk, hlm. 938.

40 Vivek Neelakantan, The Campaign Against Yaws In Postcolonial Indonesia, The Newsletter, No. 69, 2014.

41 M. Soetopo & R. Wasito, “Experience With Yaws Control In Indonesian, Preliminary Results with a Simplified Approach”, Disease Research Institute in Indonesia, 1953, hlm. 287.

18

ketika pekerjaan pemberantasan terhadap penyakit framboesia tersebut dilakukan di luar Pulau Jawa.42

Waktu yang diperlukan untuk sistem TCPS melakukan survei di wilayah salah satu kecamatan yang terdaftar bisa diperkirakan 6-8 bulan.43

Sejak akhir Agustus 1955 telah diketahui bahwa adanya hasil yang telah dicapai, yaitu:

1. Metode yang digunakan sistem TCPS sangat efektif untuk memerangi penyakit framboesia,

2. Sistem TCPS bisa dilakukan oleh personel tambahan yang memadai dan hanya membutuhkan pelatihan secara singkat dan sederhana,

3. Penggunaan terhadap djuru patek sebagai asisten perawat sekaligus pekerja kesehatan junior bisa melaksanakan program pengontrolan terhadap kasus framboesia secara luas dan masif. Selain itu kinerja dari djuru patek yang dikategorikan sebagai hasil yang memuaskan dalam

memdiagnosis namun kesalahannya diabaikan,

4. Hasil dari sitem TCPS lebih memuaskan dan sesuai dengan sistem sebelumnya yaitu sistem TCP.44

42 Ibid., hlm. 285 - 286.

43 Ibid., hlm. 287.

44 Op. Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 938.

19

II. 4. Bantuan dari UNICEF

Pada tahun 1950 yaitu Johannes Leimena telah mengamati mengenai wabah penyakit framboesia di Indonesia dan ditemukan bahwa mayoritas dari penderita penyakit tersebut adalah anak-anak.45 Maka dengan hal tersebut, dia meminta bantuan secara keuangan terhadap UNICEF. Namun hal tersebut ditentang oleh dr.

Kodijat dikarenakan dia melihat adanya pemborosan yang dilakukan oleh UNICEF perihal mengenai pengeluaran dana. Selain itu juga dia mengusulkan bahwa penisilin46 hanya bisa diberikan kepada pasien dengan keaktifan penyakit framboesia.47

Pada awal bulan Maret tahun 1950 UNICEF di Indonesia telah mengumumkan bahwa adanya kedatangan pengiriman barang yang berupa penisilin yang pertama dan digunakan untuk seribu suntikan.48

Di tahun yang sama tepatnya pada tanggal 28 Maret 1950 di Jakarta, UNICEF Melakukan aksinya menuju ke dua lokasi yaitu wilayah Jakarta dan Yogyakarta sebagai pusat dari perhatian akan pengendalian wabah penyakit framboesia.49

45 Johannes Leimena merupakan menteri kesehatan Indonesia dalam kabinet Natsir dalam kurung waktu 1950-1951.

46 Penisilin merupakan sebuah antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Cara kerja dari penisilin adalah membunuh bakteri yang menyababkan adanya infeksi ataupun menghentikan pertumbuhan dari bakteri tersebut.

47 Loc.Cit., Darto Harnoko, dkk.

48 Unkwon Author, “Campagne tegen framboesia”, Nieuwe Courant, 20 April 1950.

49 Unkwon Author, “UNICEF binnenkort in actie Djakarta en Djogja als centra Speciale aandacht vor de desa’s” , De locomotief, 29 Maret 1950.

20

Selain itu juga yaitu pada tahun yang sama UNICEF telah menerbitkan adanya rencana untuk mengadakan kampanye secara besar-besaran. Program kampanye tersebut merupakan bagian dari banyaknya program yang dilaksanakan di berbagai negara di Asia Tenggara yang berkejasama dengan masyarakat yang ada di negara-negara tersebut yang tujuannya untuk meningkatkan kemakmuran.50

Fokus dari pemberantasan framboesia oleh UNICEF dilakukan di wilayah bekas federal Jakarta dan wilayah di sekitar kota Yogyakarta. Tim dari UNICEF termasuk para ahli yang selanjutnya dikirim ke daerah-daerah tersebut.51

Adapun di tahun yang sama tepatnya pada bulan Maret 1950, UNICEF telah mengumumkan bahwa akan mengadakan rencana memperluas kampanye terhadap kasus pemberantasan penyakit framboesia di Indonesia yang tujuannya untuk menutupi bagian dari populasi yang berjumlah 4 kali lebih besar dibandingkan dengan populasi sebelumnya. Dalam program tersebut telah menyediakan perawatan pada setiap kasus di setiap wilayah dengan jumlah sebesar 12 ribu orang.

Kampanye tersebut akan dilaksanakan dalam kurung waktu selama 2 periode dan mengabiskan biaya sebesar 1,2 juta dollar atau setara dengan 10 sen/kasus untuk pasien yang sedang dirawat pada setiap daerah yang terdaftar.52

Sejak bulan Oktober tahun 1950 yaitu kampanye sedang dimulai untuk diluncurkan, 15 juta orang penduduk telah diselidiki tentang injeksi wabah penyakit framboesia. UNICEF menyatakan bahwa penyakit framboesia merupakan penyakit

50 Unkwon Author, “Millioenen zieken”, 9 Juni 1951.

51 Log.Cit., M. Soetopo & R. Wasito.

52 Unkwon Author, “Bestrijding Der Framboesia”, Nieuwe Courant, 10 Juli 1950.

21

rakyat yang dapat disembuhkan. Selain itu juga mereka melaporkan bahwa secara intens penyakit framboesia tersebut berdampak besar di Pulau Jawa.53

Di tahun 1951, UNICEF telah menyediakan penisilin dan biaya sebesar 1,2 juta dollar yang digunakan untuk kendaraan, persediaan terhadap laboratorium berserta dengan obat-obatan, dan personelnya yang merupakan bagian dari kampanye anti penyakit framboesia secara umum.54

Kemudian pada tahun 1953, UNICEF telah mengadakan kampaye yang tujuannya untuk menyelidiki dan mengobati para penderita wabah penyakit framboesia di Indonesia, Thailand, Filipina dan India dengan jumlah jiwa sebesar 7 juta jiwa. Selanjutnya pada tahun 1953 sejumlah 3 juta jiwa telah diselidiki, 7 ratus ribu jiwa dari mereka telah diperlakukan semestinya oleh UNICEF dan sekitar 35 ribu jiwa sedang ditangani oleh pemerintah Indonesia.55

Pada tahun 1954, tim setempat telah melakukan pemeriksaan dan penyuntikan terhadap para buruh yang sedang bekerja di pabrik di wilayah Yogyakarta dengan bantuan UNICEF, karena banyaknya penderita yang jumlahnya meningkat di kalangan para pekerja terutama para buruh.56

UNICEF memberikan bantuan kepada WHO berupa persediaan pensilin kepada masa orang yang telah dilakukan terapi penisilin di Haiti, Indonesia dan

53 Unkwon Author, “Campagne tegen framboesia in Indonesie grootste ter wereld”, Java Bode, 21 Januari 1955, hlm. 3.

54 Unkwon Author, “Anti-framboesia-campagne vordert uitstekend Unicef besteedde ruim twee millioen dollar”, Java Bode, 14 Februari 1951.

55 Unkwon Author, “De Framboesia-bestrijding”, De nieuwsgier, 14 Juli 1953.

56 Op. Cit., Vivek Neelakantan, hlm. 59.

22

Thailand yang digunakan untuk proyek-proyek berskala besar dalam kurung waktu 2 tahun.57

Selama UNICEF bekerja di Indonesia, UNICEF telah menghabiskan sebesar 2 juta dolar yang digunakan untuk memerangi penyakit framboesia terutama untuk obat-obatan, peralatan dan sarana transportasi yang digunakan.58

II. 4. Bantuan dari WHO

WHO telah sangat tertarik pada pengendalian terhadap penyakit framboesia karena wabah penyakit tersebut telah menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat yang berada di wilayah negara tropis dan telah mengembangkan alat yang baru dan efektif untuk memerangi penyakit framboesia.59

Pada tahun 1950 WHO telah menyatakan kesanggupan untuk membantu memberantas penyakit framboesia yaitu dengan menyediakan bantuan berupa tenaga penasehat teknis seperti dokter ahli.60 WHO telah memberikan ke Indonesia dengan jumlah sebesar 335.690 dollar yang tujuannya untuk membantu menangani kasus wabah framboesia dan biaya perawat secara medis.61

57 Unkwon Author, “First International Symposium on yaws control:

Introduction”, Bulletin of the World Health Organization, 1953, hlm. 1.

58 A. Teunis, “UNICEF binnenkort in actie Djakarta en Djokja als centra speciale aandacht vor de desa’s”, De Locomotive, 29 Maret 1950.

59 Loc.Cit., Wisnu Subagyo.

60 Op.Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 31.

61 Unkwon Author, “Hulp W.H.O. in 1955”, Java Bonde, 21 Juli 1954, hlm. 2.

23

Di tahun yang sama, WHO mengatakan bahwa untuk memberantas penyakit framboesia harus perlu dilakukan penyuntikkan penicillin terhadap semua orang.

Namun pendapat tersebut telah dibantah oleh dr. Kodijat, karena hal tersebut justru hanya membuat pemborosan baik tenaga maupun finansialnya.62

Pada tahun 1951, WHO telah menyatakan bahwa kampanye terhadap penyakit framboesia yang telah berlangsung merupakan bagian dari proyek besar yang pernah dilakukan. Dengan adanya program kampanye tersebut diketahui bahwa semua pasien yang terinfeksi penyakit framboesia harus mendapatkan perawatan di daerah sekitar pasien dan tujuan dari kampanye tersebut adalah bisa memakan sekitar 2 tahun.63

Pada tahun 1952 dr. Kodijat sedang mengikuti First International Symposium of Yaws Control di Bangkok. Dalam simposium tersebut telah

menghasilkan sebuah pembagian gejala penyakit framboesia ke dalam sembilan golongan dengan adanya sedikit modifikasi. Di tahun tersebut juga WHO Expert Comitee on Venerial Infections and Treponematoses di dalam sidangnya yang

keempat di London khususnya untuk penderita penyakit framboesia ialah adanya suatu pembagian secara sederhana digunakan untuk keperluan memberantas penyakit framboesia.64

62 Loc.Cit., Wisnu Subagyo.

63 Unkwon Author, “De Framboesia-Bacil Teistert Het Volk van Indonesië U.N.O.

Organisaties Vatten De Bestrijding Aan”, Java Bonde, 9 Juni 1951, hlm. 4.

64 Op.Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 16.

24

Dalam kinerja WHO, mereka telah membantu pemerintah dalam program kerja lapangan terhadap penyakit menular terkhusus penyakit framboesia tertera pada laporan tahunan untuk tahun 1953.65

Dalam laporan WHO pada tahun yang sama untuk dewan eksekutif UNICEF bahwa pengontrolan terhadap penyakit framboesia yang dilakukan di empat negara yang salah satunya adalah Indonesia telah membuahkan hasil yang baik. Adapun juga disebutkan bahwa secara umum mayoritas penderita penyakit framboesia merupakan anak-anak dan penyakit tersebut dapat bisa ditangani dengan menggunakan penisilin yang terdapat 10 juta jumlah penduduk secara individu sedang diperiksa dan 2.830 juta jumlah penduduk telah mendapatkan bantuan berupa suntikan penisilin.66

Pada tahun 1954, WHO telah mengajurkan untuk segera mengadakan total mass treatment yang artinya pada setiap daerah yang terdapat 10% ataupun lebih

daripada jumlah penduduk penderita wabah penyakit framboesia, maka seluruh penduduk harus dilakukan penyuntikan penicillin.67

Di tahun yang sama WHO telah membantu administrasi kesehatan di dalam proyek berskala panjang yang tujuannya adalah untuk menghilangkan endemik

65 Op.Cit., N. Jungalwalla, hlm. 2.

66 Unkwon Author, WHO-Rapport Over Framboesia-Bestrijding”, Het Nieuwsblad Voor Sumatra, 25 Agustus 1953, hlm. 2.

67 Loc.Cit., C.J. Hackett. M.D., F.R.C.P.

25

framboesia sebagai masalah kesehatan masyarakat dan memperkuat layanan kesehatan di perdesaan.68

Sebagai jawaban dari banyaknya permintaan dari pemerintahan Indonesia, WHO telah menyarankan adanya organiasi, peralatan yang digunakan untuk laboratorium kesehatan masyarakat, lanjutan dari standardisasi prosedur diagnostik dan reagen terhadap laboraturium.69

68 Loc.Cit., N. Jungalwalla.

69 Op.Cit., N. Jungalwalla, hlm. 3.

26

Bab III

Usaha Lembaga Penelitian dan Pemberantasan Penyakit (1956-1960)

III. 1. Poliklinik

Poliklinik di setiap kecamatan bertindak sebagai pusat perawatan selama kampanye pemberantasan framboesia sampai dengan konsolidasi berjalan dan sebagai sebuah basis yang digunakan untuk melakukan pengawasan.70

Selain itu juga perawat terutama perawat laki-laki yang berada di poliklinik kecamatan dalam kurung waktu setengah hari selama seminggu wajib melaksanakan pemeriksaan kembali yang ditunjukkan untuk masyarakat yang sebelumnya telah diperiksa oleh djuru patek dan mengobati masyarakat yang terkena wabah penyakit framboesia yang parah dengan memberikan suntikan penisilin.71

Adapun masalah yang ditemukan terkait dengan pendiagnosis penyakit framboesia secara akurat dikarenakan adanya perbedaan antara diagnosis yang dibuat oleh dokter dengan diagnosis yang dibuat oleh djuru patek berdasarkan pengamatan secara klinis.72

70 Op.Cit., M. Soetopo, M.D., dkk, hlm. 956.

71 Op.Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 34.

72 Vivek Neelakantan, The campaign against yaws in postcolonial Indonesia, Forgotten disease, incomplete victories , The Newsletter, 2014, hlm. 11.

27

Selama sistem TCP disederhanakan menjadi sistem TCPS, poliklinik yang ada termasuk tim penanganan penyakit framboesia seperti djuru rawat dan djuru patek yang terlebih dahulu diberi pelatihan secukupnya tentang organisasi dan

pelaksanaan dalam memberantas framboesia.73

Selama konsolidasi TCPS berlangsung, pemeriksaan yang dilakukan tidak diwajibkan untuk mencangkup semua desa minimal 80% dari jumlah penduduk berasal dari informasi ataupun data yang diperoleh yang salah satunya berasal dari poliklinik.74

III. 2. Survei

Adapun beberapa metode yang digunakan dalam memberantas penyakit framboesia diantaranya seperti:75

1. Metode konvoi

Metode konvoi merupakan metode panggilan yang dilakukan oleh tim yang sedang bertugas di tengah masyarakat desa yang terdaftar secara keseluruhan dan dilaksanakan sebelum adanya kampanye terhadap penyakit framboesia.

Sebelum kampanye dimluai, djuru patek telah berkerjasama dengan para pejabat administrasi desa dan memberi informasi kepada

73 Op.Cit., Wisnu Subagyo, hlm. 40.

74 Ibid., hlm. 2.

75 Op.Cit., M. Soetopo, M.D., dkk, hlm. 940.

28

masyarakat desa tentang tujuan dan makna dari pemberantasan melawan penyakit framboesia.

Setelah kampanye sedang berlangsung, masyarakat yang berada di desa akan dikumpulkan menuju ke rumah kepala desa atau rumah

Setelah kampanye sedang berlangsung, masyarakat yang berada di desa akan dikumpulkan menuju ke rumah kepala desa atau rumah

Dokumen terkait