BAB I PENDAHULUAN
H. Pedoman Penulisan
I. Sistematika Penulisan
Penulisan disusun secara sistematis menjadi lima bab yang terdiri dari sub-sub bab dengan rincian sebagai berikut:
1. Bab I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, review studi terdahulu, metode penelitian, kerangka teori dan konseptual, pedoman dan sistematika penulisan.
2. Bab II Tinjauan Teoritis
Pembahasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep uang elektronik, menyangkut definisi uang elektronik, manfaat uang elektronik, bentuk uang elektronik, perbedaan uang elektronik dengan alat pembayaran menggunakan kartu lainnya, akad-akad fiqh muamalah yang mungkin diterapkan dalam uang elektronik dan prinsip syariah umum yang berkaitan dengan aktivitas muamalah
3. Bab III Gambaran tentang Produk E-Money Bank Syariah Mandiri
Bab ini menguraikan tentang obyek penelitian secara komprehensif diantaranya, pengertian produk, sejarah dan tujuan terciptanya produk E-Money BSM, jenis produk sesuai dengan PBI dan SEBI tentang uang
elektronik, sistem operasional, mekanisme, dan alur transaksi serta keuntungan yang di dapat Bank Syariah Mandiri dari produk ini.
4. Bab IV Analisis Kesesuaian Produk dengan Aspek Syariah
Bab ini menganalisis secara rinci temuan-temuan lapangan untuk dapat mengidentifikasi kesesuaian praktik produk tersebut dengan aspek syariah.
Diantaranya adalah analisis akad produk, analisis manajerial, analisis transaksi dan analisis alur/mekanisme produk.
5. Bab V Penutup
Bab ini berisi kesimpulan kajian dan saran
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Uang Elektonik
1. Definisi Uang Elektronik
Bank for International Settlement (BIS) dalam salah satu publikasinya pada bulan Oktober 1996 mendefinisikan uang elektronik sebagai stored-value or prepaid products in which a record of the funds or value available to a consumer is stored on an electronic device in the consumer’s possession.1
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elekronik, Uang Elektronik adalah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor dahulu oleh pemegang kepada penerbit, yang tersimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip, dan nilai uang tersebut bukan merupakan simpanan serta digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut.
2. Manfaat Uang Elektonik
Dalam perkembangan dunia teknologi yang semakin canggih uang elektronik semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Terdapat beberapa manfaat dari penggunaan uang elektonik diantaranya adalah:
1 Bank For International Settelments, Implications For Central Bank Of The Development Of Electronic Money, (Basel: BIS, 1996), h. 1
a. Penggunaan dalam pembayaran sangat mudah, cukup tempelkan kartu maupun transaksi secara mobile untuk bertransaksi tanpa repot akan uang kembalian
b. Dapat meminimalkan penggunaan uang kertas sehingga memimalisir kerusakan fisik uang yang beredar, meminimalisir peredaran uang palsu, dan menimalisir resiko pencurian.
c. Sangat baik untuk pembayaran massal yang bernilai kecil namun frekuensinya tinggi seperti pembayaran jalan tol, parkir, transportasi dll.
3. Bentuk Uang Elektronik
a. Berdasarkan media penyimpanannya, saat ini Uang Elektronik dibedakan atas dua jenis yaitu2:
1) Uang Elektronik yang Nilai Uang Elektroniknya selain dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh Penerbit juga dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh Pemegang. Media elektronik yang dikelola oleh Pemegang dapat berupa chip yang tersimpan pada kartu, stiker, atau harddisk yang terdapat pada personal computer milik Pemegang. Dengan sistem pencatatan seperti ini, maka transaksi pembayaran dengan menggunakan Uang Elektronik dapat dilakukan secara off-line dengan mengurangi secara langsung Nilai Uang
2 Penjelasan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, Tentang Uang Elek tronik , h. 1-2
2) Uang Elektronik yang Nilai Uang Elektroniknya hanya dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh Penerbit. Dalam hal ini Pemegang diberi hak akses oleh Penerbit terhadap penggunaan Nilai Uang Elektronik tersebut. Dengan sistem pencatatan seperti ini, maka transaksi pembayaran dengan menggunakan Uang Elektronik ini hanya dapat dilakukan secara on-line dimana Nilai Uang Elektronik yang tercatat pada media elektronik yang dikelola Penerbit akan berkurang secara langsung
b. Berdasarkan Masa Berlaku Media Uang Elektronik
Berdasarkan masa berlaku medianya, uang elektronik dibedakan kedalam dua bentuk:
1) Reloadable
Uang elektronik dengan bentuk reloadable adalah uang elektronik yang dapat di lakukan pengisian ulang, dengan kata lain, apabila masa berlakunya sudah habis dan atau nilai uang elektroniknya sudah habis terpakai, maka media uang elektronik tersebut dapat digunakan kembali untuk di lakukan pengisian ulang
2) Disposable
Uang elektronik dengan bentuk disposable adalah uang elektronik yang tidak dapat diisi ulang, apabila masa berlakunya sudah habis dan/atau nilai uang elektroniknya sudah habis
terpakai, maka media uang elektronik tersebut tidak dapat digunakan kembali untuk dilakukan pengisian ulang
c. Berdasarkan Jangkauan Penggunaannya
Berdasarkan hal tersebut, uang elektronik dibedakan menjadi:
1) Single Purpose
Single-purpose adalah uang elektronik yang digunakan untuk melakukan pembayaran atas kewajiban yang timbul dari satu jenis transaksi ekonomi, misalnya uang elektronik yang hanya dapat digunakan untuk pembayaran tol atau uang elektronik yang hanya dapat digunakan untuk pembayaran transportasi umum3. 2) Multi Purpose
Multi-purpose adalah uang elektronik yang digunakan untuk melakukan berbagai pembayaran atas kewajiban pemegang kartu terhadap berbagai hal yang dilakukannya. Contohnya yaitu suatu uang elektronik yang dapat digunakan dalam beberapa jenis transaksi seperti penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol, dapat juga digunakan untuk membayar telepon, jasa transportasi, pembayaran pada minimarket dan lain-lain cukup menggunakan satu kartu.
d. Berdasarkan Pencatatan Data Identitas Pemegang, Uang Elektronik dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
3 Veithal Rivai, Dkk, Bank And Financial Institution Management, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 1367
1) Uang Elektronik yang data identitas Pemegangnya terdaftar dan tercatat pada Penerbit (registered); dan
2) Uang Elektronik yang data identitas Pemegangnya tidak terdaftar dan tidak tercatat pada Penerbit (unregistered).
B. Akad-Akad Pada Uang Elektronik
Lafal akad berasal dari bahasa arab yaitu al-‘aqd yang secara etimologi berarti perikatan, perjanjian, dan permufakatan4. Secara terminologi, Akad Syariah adalah perjanjian atau kontrak tertulis antara para pihak yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah. Terdapat beberapa akad yang berhubungan dengan mekanisme uang elektronik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Akad Jual Beli (al-ba’y)
Akad jual beli adalah akad tukar menukar harta dengan harta lain melalui tata cara yang telah ditentukan oleh syariat. Dalam Fatwa DSN MUI NO: 82/DSN-MUI/VIII/2011, Akad jual beli juga didefinisikan sebagai pertukaran harta dengan harta yang menjadi sebab berpindahnya kepemilikan obyek jual beli.
Akad jual beli dalam kegiatan uang elektronik terjadi ketika nilai uang elektronik (wahdat al-illiktruniyat) yang tersimpan dalam media penyimpanan, baik berupa server atau chip yang dimiliki oleh penerbit
4 Azharuddin Lathif, Kontrak Bisnis Syariah, (Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), h. 26
dijual kepada calon pemegang dengan sejumlah uang senilai uang yang tersimpan dalam media uang elektronik5.
2. Akad Wadiah
Akad wadiah adalah akad yang berupa penitipan barang/harta kepada orang lain yang dapat dipercaya untuk memelihara dan menjaganya. Wadiah dalam uang elektronik terjadi ketika calon pemegang uang elektronik menyerahkan sejumlah uang kepada Penerbit dengan maksud menitipkan dan selanjutnya sejumlah uang tersebut dikonversikan menjadi sebuah nilai uang elektronik senilai uang yang diserahkan. Selanjutnya Penerbit wajib memelihara dan menjaga sejumlah uang tersebut dan menyerahkannya kepada pemegang saat diminta atau diambil atau untuk pembayaran kepada pedagang (Merchant). Apabila menggunakan akad wadiah, maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Bersifat titipan
2) Titipan bisa diambil/ditarik/digunakan kapan saja
3) Penerbit dapat menginvestasikan uang titipan dengan terlebih dahulu meminta izin kepada Pemegang
4) Dalam hal uang titipan digunakan penerbit dan mengalami resiko kerugian, maka penerbit bertanggungjawab secara penuh
5 Kajian Bersama Uang Elektronik Ditinjau Dari Kesesuaian Prinsip-Prinsip Syariah, (Jakarta:
Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional, 2016), h. 61
5) Otoritas dapat menjamin atau tidak menjamin dana pemegang uang elektronik yang dititipkan di Penerbit
3. Akad Sharf a. Pengertian
Secara bahasa sharf berarti tambahan, penukaran, penghindaran atau transaksi jual beli6. Secara istilah, sharf adalah bentuk jual beli naqdain baik sejenis maupun tidak yaitu jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, atau emas dengan perak dan baik telah berbentuk perhiasan maupun mata uang. Jadi sharf dalam istilah fiqh muamalah kontemporer adalah transaksi jual beli mata uang baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis7.
Akad sharf dapat dianalogikan (Qiyas) dengan uang elektronik karena terdapat beberapa kesamaan karakteristiknya. Beberapa kesamaan dan kondisi itu diantaranya:
Tabel 2.1
Kesamaan Karakteristik Akad Sharf dengan Uang Elektronik No Karakteristik Sharf Karakteristik Uang Elektonik
1 Serah terima sebelum berpisah
Pada uang elektronik pemegang kartu membeli fisik uang elektronik maupun
6 Sutan Remy Sjahdiyni, Perbank an Islam dan Keduduk annya dalam Tata Huk um Perbank an Indonesia (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999), h. 87
7 Fatwa DSN-MUI No 28/DSN-MUI/III/ 2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf). h. 1
mengisi saldonya dengan cara
secara tunai tanpa adanya penundaan pembayaran
Dalam fatwa DSN-MUI nomor 28 tahun 2002 tentang akad sharf, hanya dihalalkan melalui mekanisme spot atau penyerahaan uang dengan uang dilakukan secara tunai, sedangkan mekanisme forward, swap dan option tidak diperbolehkan menurut syariah. Uang bukanlah obyek yang bisa diperdagangkan untuk dapat menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, jika uang dipertukarkan dengan uang pula yang merupakan bagian dari industri keuangan, maka perintah Islam dalam perdagangan barang ribawi diterapkan, yaitu harus dalam jumlah yang sama dan diserahkan pada saat itu juga.8
4. Akad Ijarah
Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005, Tentang Akad Penghimpunan Dan Penyaluran Dana Bagi Bank Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah Ijarah, akad ijarah adalah transaksi sewa menyewa atas suatu barang dan atau upah mengupah atas suatu jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa. Menurut fatwa DSN MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Ijarah, Akad ijarah yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu
8 Mohd Noor Omar, dkk, “E-Money in Malaysia: Shariah and Economic Analysis”, Work ing Paper In Islamic Economic And Finance, No. 1224 (Juli 2012), h.6.
dengan pembayaran sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.
Pada konteks uang elektronik, Akad Ijarah digunakan dalam hal terdapat transaksi sewa menyewa atas perlengkapan/peralatan dan atau terdapat pelayanan jasa dalam penyelenggaraan uang elektronik. Akad ijarah juga dapat dipakai dalam pembayaran upah menyangkut biaya registrasi maupun kepesertaan merchant (pedagang) kepada penerbit, maupun biaya isi ulang uang elektronik di luar nominal pengisian saldo utama. Apabila menggunakan akad ijarah harus memenuhi tentuan dalam fatwa sebagai berikut:
1. Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa.
2. Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak.
3. Manfaat barang atau jasa harus yang bersifat dibolehkan (tidak diharamkan).
4. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa.
5. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas, termasuk jangka waktunya. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik.
6. Sewa atau upah adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa atau upah dalam Ijarah.
5. Akad Wakalah
Secara bahasa wakaalah adalah melindungi. Menurut ulama Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa wakaalah adalah penyerahan kewenangan terhadap sesuatu yang boleh dilakukan sendiri dan bisa diwakilkan kepada orang lain, untuk dilakukan oleh wakil tersebut selama pemilik kewenangan asli masih hidup9. Menurut Fatwa DSN MUI No. 10 tahun 2000, akad wakalah yaitu pelimpahan kekuasaan oleh suatu pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakili.
Akad Wakalah digunakan dalam hal penerbit bekerjasama dengan pihak lain sebagai agen penerbit (Co-Branding) dan/atau terdapat bentuk perwakilan lain dalam transaksi uang elektronik. Akad wakalah juga diterapkan dalam pembayaran kepada merchant (pedagang) dimana penerbit dapat mewakili pemegang kartu dalam membayar transaksinya maupun sebaliknya tergantung pada jenis uang elekronik yang diterbitkan. Apabila menggunakan akad ini maka harus memenuhi ketentuan berikut:
1) Ijab Qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad) perwakilan ini 2) Bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan sepihak
3) Orang yang mewakilkan (muwakkil) adalah pemilik sah dari sesuatu yang diwakilkan
9 Mughnil Al-Muhtaaj, Vol. II, H. 217, Dalam Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, penerjemah Abdul hayyie Al-Kaffaani dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2011), Cet. X, Jilid 5, H. 590-591
4) Muwakkil harus orang mukallaf atau anak mumayyiz
5) Orang yang mewakili (wakil) harus cakap hukum, dapat mengerjakan tugasnya, dan amanah dalam bertugas
6) Hal-hal yang diwakilkan harus diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili, tidak bertentangan dengan syariah Islam, dan dapat diwakilkan menurut syariah Islam
6. Akad Qardh
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI NO: 19/DSN-MUI/IV/2001, Akad Qardh yakni suatu akad pinjaman kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang diterimanya kepada LKS pada waktu yang telah disepakati oleh LKS dan nasabah. Akad Qardh dapat digunakan dalam hubungan hukum antara penerbit dengan memegang uang elektonik. Apabila menggunakan akad Qard, maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Bersifat hutang-piutang
2) Penerbit dapat menggunakan (menginvestasikan) uang hutang dari Pemegang Uang Elektronik
3) Penerbit dapat mengembalikan jumlah pokok piutang Pemegang Uang Elektronik kapan saja sesuai kesepakatan
4) Ototitas boleh membatasi penerbit dalam penggunakaan dana hutang dalam pertimbangan maslahah.
C. Prinsip Syariah Umum dalam Bidang Muamalah
Prinsip syariah pada dasarnya terbagi menjadi 2, yaitu kaidah prinsip syariah dalam bidang ibadah, maupun prinsip syariah dalam bidang muamalah. Prinsip syariah muamalah merupakan suatu prinsip hukum Islam dalam kegiatan muamalah (interaksi sesama manusia) yang didasari pada Al-Quran dan As-Sunnah. Menurut UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Secara umum, prinsip syariah dalam bidang muamalah mengikuti kaidah fiqh berikut ini:
Kaidah fiqh ini memiliki arti “Pada dasarnya dalam (segala) kegiatan muamalah (interaksi sesama manusia) adalah diperbolehkan kecuali terdapat dalil yang mengharamkannya”
Dalam kegiatan muamalah dalam konteks ekonomi, terdapat larangan-larangan yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits yang membatasi kegiatan ekonomi. Semua yang terlarang dalam Al-Quran dan Hadits semata-mata untuk melindungi manusia dari hal-hal yang merugikan. Suatu perilaku individu muslim dalam setiap aktivitas ekonomi syariahnya harus sesuai dengan tuntutan syariat Islam dalam rangka
mewujudkan dan menjaga maqashid syariah (agama, jiwa, akal, nasab dan harta)10.
Penulis melakukan pembatasan bahasan agar tidak terlalu umum dan lebih fokus. Transaksi pada kegiatan muamalah dikatakan halal setidaknya jika tidak memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Maysir (Judi)
Maysir atau qimar secara harfiah bermakna judi. Secara teknis adalah setiap permainan yang didalamnya disyaratkan adanya sesuatu (berupa materi) yang diambil dari pihak yang kalah untuk pihak yang menang11. Dalam peraturan bank Indonesia No 7/46/PBI/2005, maysir adalah transaksi yang mengandung perjudian, untung-untungan atau spekulatif yang tinggi. Untuk bisa dikategorikan sebagai judi harus ada 3 unsur yang dipenuhi:
a. Adanya taruhan harta atau materi yang berasal dari kedua pihak yang berjudi.
b. Adanya suatu permainan yang digunakan untuk menentukan pemenang dan yang kalah.
10 Nur Rianto Al Arif & Euis Amalia, Teori Mik roek onomi: Suatu Perbandingan Ek onomi Islam Dan Ek onomi Konvensional (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), h. 43
11 Nur Rianto Al Arif, Dasar-Dasar Ek onomi Islam, (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2011), h.
108
c. Pihak yang menang mengambil harta (sebagian atau seluruhnya) yang menjadi taruhan, sedangkan pihak yang kalah kehilangan hartanya.
Dalam konteks ekonomi, maysir atau judi juga berarti spekulasi, maupun untung-untungan. Dalam Al-Quran larangan Maysir (judi) terdapat pada Surah Al-Maidah ayat 90.
2. Riba
Riba secara bahasa berarti tambahan (ziyadah). Dalam istilah syara riba didefinisikan sebagai tambahan pada barang-barang tertentu12. Riba diharamkan dalam Al-Quran, hadits maupun Ijma. Di zaman Nabi SAW, pengharaman riba dilakukan secara berangsur-angsur meliputi 4 tahap. Diantaranya adalah surat Ar-Ruum ayat 39, lalu tahap berikutnya
12 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam wa adillatuhu, Penerjemah Abdul hayyie Al-Kaffaani dkk (Jakarta: Gema Insani, 2011), Cet. X, Jilid 5, h. 307
13 Al-Badaa’i vol. V, h.. 274; Bidaayatul Mujtahid, vol. II, h. 129; Haasyiyah ad-daasuuqii, Vol. III, h. 47; al-mughni vol IV, h. 1; I’laamul muwaqqi’iin, vol. I, H. 135 dalam Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam wa adillatuhu, Penerjemah Abdul hayyie Al-Kaffaani dkk (Jakarta: Gema Insani, 2011), Cet. X, Jilid 5, h. 308-311
tambahan pada harta dalam akad jual beli sesuai ukuran syariat (yaitu takaran dan timbangan) jika barang yang ditukar sama14. Riba fadhl juga didefinisikan sebagai jual beli barang ribawi dengan barang ribawi serupa dengan tambahan pada salah satunya. Sedangkan riba nasiah adalah Riba yang muncul karena adanya penangguhan penyerahan barang ribawi yang ditukarkan dengan barang ribawi sejenis sehingga karena penangguhan tersebut menimbulkan tambahan/perubahan.
3. Gharar
Gharar menurut bahasa berarti Al-Khathru (bahaya atau risiko)15. Menurut terminologi, bay’ al-gharar adalah setiap akad jual beli yang mengandung risiko atau bahaya kepada salah satu pihak sehingga berpotensi mendatangkan kerugian finansial. Hal ini dikarenakan adanya keraguan dalam obyek yang akad tersebut karena ketidakjelasannya.
Para ulama dalam mendefinisikan gharar tersebut setidaknya dalam tiga makna, yaitu:16
a. Gharar berhubungan dengan ketidakjelasan (jahalah) barang yang diperjualbelikan
b. Gharar berhubungan dengan adanya keragu-raguan
14 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam wa adillatuhu, Penerjemah Abdul Hayyie Al-Kaffaani dkk (Jakarta: Gema Insani, 2011), Cet. X, Jilid 5, h. 308-309
15 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2015), h. 101
16 Yasin Ahmad Ibrahim, Nazhariyyah Al-Gharar Fi Syariah Al-Islamiyyah (dirasah muqaranah), h.71
c. Gharar berhubungan dengan sesuatu yang tersembunyi akibatnya.
Pada dasarnya gharar ini merupakan hal yang harus dihindari dalam jual beli maupun bermuamalah pada umumnya karena menimbulkan ketidakjelasan antara satu pihak yang tidak mengetahui apa yang tersembunyi baik obyek, maupun akibatnya.
4. Haram
Diantara syarat sahnya jual beli menurut para ulama adalah harta yang perjualbelikan berupa harta yang bisa dimanfaatkan menurut syara17. Selain itu, harta yang diperjualbelikan tidak boleh merupakan barang yang haram yang dilarang secara syara untuk diperjualbelikan.
Transaksi atau obyek barang yang haram dibedakan menjadi 2 yaitu haram lidzalitihi (haram karena zatnya) dan haram lighairihi (haram karena sebab lain)
a. Haram Lidzaliti
Haram lidzatihi adalah obyek akad yang haram karena zatnya berdiri sendiri tanpa sebab lain. Hal ini karena obyek barang tersebut dilarang secara tegas dalam Al-Quran. Contohnya adalah jual beli bangkai (kecuali ikan dan makhluk hidup dilautan), jual beli arak/minuman keras, jual beli darah, jual beli babi dan lain lain.
b. Haram Lighairihi
17 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2015), h. 146
Haram lighairihi adalah jual beli yang dilarang yang mafsadatnya (kerusakannya) tidak berdiri sendiri, melainkan karena sebab yang lainnya18. Contohnya jual beli di dalam masjid, jual beli Kitab Al-Quran kepada orang kafir dan lain lain
Haram yang dimaksudkan adalah dalam metode pembayaran yang digunakan oleh lembaga keuangan syariah, jangan sampai dapat memfasilitasi pembelian barang-barang yang terlarang secara syariat tersebut.
5. Tadlis
Tadlis adalah penipuan yang terjadi karena ketimpangan informasi tentang barang yang diperjualbelikan19. Hal ini juga terlarang dalam syariat karena dapat merugikan suatu pihak. Tadlis dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
a. Tadlis Kuantitas
Yaitu penipuan karena menjual barang dengan kuantitas sedikit dengan harga harang kuantitas banyak.
b. Tadlis Kualitas
Yaitu menyembunyikan cacat atau kualitas barang yang buruk yang tidak sesuai dengan apa yang disepakati oleh penjual dan pembeli.
18 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2015), h. 195
19 M Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mik roek onomi: Suatu Perbandingan Ek onomi Islam Dan Ek onomi Konvensional, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), h. 286
c. Tadlis Harga
Yaitu menjual barang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar karena ketidaktahuan pembeli atau penjual, dalam istilah fiqh disebut ghaban
d. Tadlis waktu penyerahan
Yaitu penipuan yang dilakukan dengan menawarkan waktu penyerahan yang cepat namun penjual tidak dapat melaksanakannya pada waktunya
BAB III
GAMBARAN UMUM PRODUK E-MONEY BANK SYARIAH MANDIRI
A. Pengertian
Produk ini dinamakan Kartu BSM E-Money. Dari situs website resminya, Kartu BSM E-Money didefinisikan yaitu kartu prabayar berbasis smart card yang diterbitkan oleh Bank Mandiri bekerjasama dengan BSM1. Sedangkan dalam buku panduan produk disebutkan bahwa, kartu BSM e-Money adalah kartu prabayar multifungsi yang diterbitkan oleh Bank Mandiri bekerjasama dengan Bank Syariah Mandiri sebagai pengganti uang tunai untuk transaksi pembayaran di merchant yang telah bekerjasama2. Kartu E-Money Bank Syariah Mandiri adalah kartu yang dibuat hasil kerjasama co-branding dengan bank mandiri sehingga penggunaan kartu ini dapat digunakan di semua merchant yang telah bekerjasama dengan bank
Produk ini dinamakan Kartu BSM E-Money. Dari situs website resminya, Kartu BSM E-Money didefinisikan yaitu kartu prabayar berbasis smart card yang diterbitkan oleh Bank Mandiri bekerjasama dengan BSM1. Sedangkan dalam buku panduan produk disebutkan bahwa, kartu BSM e-Money adalah kartu prabayar multifungsi yang diterbitkan oleh Bank Mandiri bekerjasama dengan Bank Syariah Mandiri sebagai pengganti uang tunai untuk transaksi pembayaran di merchant yang telah bekerjasama2. Kartu E-Money Bank Syariah Mandiri adalah kartu yang dibuat hasil kerjasama co-branding dengan bank mandiri sehingga penggunaan kartu ini dapat digunakan di semua merchant yang telah bekerjasama dengan bank