BAB I PENDAHULUAN
H. Pedoman Penulisan
I. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan. Peneliti menguraikan latar belakang mengapa penelitian ini perlu dilakukan, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan kajian terdahulu, metode penelitian, pedoman penulisan, dan sistematika pembahasan.
Bab II Tinjauan Teoretis. Peneliti memaparkan sejumlah konsep dan teori yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu kajian tentang hoaks secara umum, hoaks dalam perspektif Islam, media sosial, aspek legalitas pelarangan hoaks di media sosial dalam UU ITE, serta Analisis Wacana Kritis model Roger Fowler dkk..
Bab III Penyebaran Hoaks Isu Agama di Media Sosial.
Peneliti memaparkan bagaimana hubungan media sosial dan hoaks, hoaks isu agama di media sosial, laporan hoaks isu agama di masa pandemi Covid-19 oleh Kemkominfo.
Bab IV. Data Hoaks Covid-19 Terkait Isu-isu Islam di Masa Awal Pandemi Covid-19. Peneliti memaparkan data berupa laporan hoaks Covid-19 Kemkominfo terkait isu-isu Islam pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2020.
BAB V. Analisis dan Pembahasan. Peneliti menganalisis bagaimana wacana terkait Islam dalam hoaks Covid-19 dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Roger Fowler dkk., serta tipologi hoaks mengacu pada tujuh jenis hoaks yang dikeluarkan oleh MAFINDO.
BAB VI. Penutup. Peneliti memaparkan kesimpulan penelitian dan saran penelitian selanjutnya.
22 BAB II
TINJAUAN TEORETIS
A. Hoaks Secara Umum
Menurut penelusuran sejarah, terminologi hoaks telah ada sejak akhir abad ke-18, yakni dalam buku Lynda Walsh berjudul Sins Against Science. Asal kata hoaks diyakini Walsh berasal dari mantra sulap penyihir ratusan tahun lalu, yakni Hocus Pocus yang berarti untuk mengelabui.43 Mantra Hocus Pocus diambil dari nama King James, seorang pesulap yang sering menyebut dirinya dengan julukan The Kings Majesties Most Excellent Hocus Pocus. Dalam setiap penampilan sulapnya, King James sering melafalkan mantra “hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter jubeo.”44 Gun Gun Heryanto menjelaskan mantra tersebut merupakan tiruan atau ejekan dari frasa yang digunakan para Imam Gereja Roma dalam proses transubstansiasi.45
Saat ini istilah hoaks sering digunakan untuk menyebut informasi palsu atau keliru yang beredar di tengah masyarakat.
Secara terminologi, istilah hoaks dalam Kamus Bahasa Inggris didefinisikan sebagai olok-olok, cerita bohong, dan memperdayakan alias menipu.46 Dalam Kamus Oxford, hoaks
43 Lynda Walsh, Sins Against Science (Albany: State University of New York Press, 2006).
44 Gun Gun Heryanto, “Hoax Dan Krisis Nalar Publik: Potret Perang Informasi Di Media Sosial,” in Melawan Hoax Di Media Sosial Dan Media Massa (Yogyakarta: Trustmedia Publishing, 2017), 3–23.
45 Gun Gun Heryanto, "Hoax dan Krisis Nalar Publik: Potret Perang Informasi di Media Sosial."
46Firdaus Purnomo and Dewi Anwar, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia (Surabaya: Karya Abditama, 2000).
didefinisikan sebagai deceive somebody with a hoax (memperdaya banyak orang dengan berita bohong).47 Adapun dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, hoaks didefinisikan sebagai berita bohong dan berita tidak bersumber.48 Definisi bahasa dari ketiga sumber ini memiliki kesamaan, yakni mengartikan hoaks sebagai suatu kebohongan.
Para ahli juga turut mendefinisikan hoaks. Menurut Craig Silverman, hoaks adalah rangkaian informasi yang sengaja disesatkan untuk ‘dijual’ sebagai kebenaran.49 Pengertian ini sejalan dengan definisi hoaks oleh Werme, yakni hoaks adalah berita palsu mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda tertentu.50 Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Muhammad Alwi Dahlan juga mendefinisikan hoaks sebagai manipulasi berita yang sengaja dilakukan bertujuan memberikan pengakuan dan pemahaman yang salah.51 Ketiga ahli tersebut mendefinisikan hoaks dengan kata sengaja atau disengaja. Dengan demikian, ketidakbenaran dalam hoaks dapat dipahami sebagai suatu kesengajaan.
47 Victoria Bull, Oxford: Learner’s Pocket Dictionary (Oxford: Oxford University Press, 2008).
48 Yenny Salim Peter Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Modern English Press, 2002).
49 Craig Silverman, “Lies, Damn Lies, and Viral Content,” Tow Center for Digital Journalism, 2015, 164.
50 Julie Posetti et al., Journalism , ‘Fake News’ & Handbook for Journalism Education and Training, 2018.
51 Ilham, “Ahli: Hoax Merupakan Kabar Yang Direncanakan,”
Republika Online, 2017,
https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/01/11/ojm2pv361-ahli-hoax-merupakan-kabar-yang-direncanakan.
Dari definisi hoaks di atas dapat diketahui tujuan diciptakan dan disebarkan hoaks. Merujuk pendapat Werme di atas, terdapat agenda tertentu di balik penciptaan hoaks dan penyebarannya.
Menurut MAFINDO, hoaks sebagai informasi yang direkayasa bertujuan agar pesan yang benar tidak dapat diterima seseorang.52 Pendapat MAFINDO ini sejalan dengan pernyataan Muhammad Alwi Dahlan, yakni hoaks bertujuan memberikan pemahaman yang salah. Adapun menurut Dedi Rianto Rahardi, tujuan diciptakan dan disebarkan hoaks adalah untuk membentuk dan menggiring opini publik, serta sengaja menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna internet dan media sosial. Rianto menjelaskan pada umumnya hoaks disebarkan hanya sebagai lelucon atau sekedar iseng, menjatuhkan pesaing, promosi dengan penipuan, ataupun ajakan untuk berbuat amalan-amalan baik yang sebenarnya belum ada dalil yang jelas di dalamnya.53 Begitupun menurut Milhorn hoaks tidak hanya bertujuan ekonomi atau hiburan, pembuat hoaks kadang hanya sekedar bermain-main namun berdampak serius.54 Oleh karena itu, terdapat dua kemungkinan di balik tujuan diciptakan dan disebarkan hoaks, yakni sengaja menciptakan pemahaman yang salah dengan agenda tertentu atau hanya sekedar hiburan.
52 MAFINDO, “Metode Klasifikasi Hoax - MAFINDO - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia,” accessed January 11, 2021, https://www.mafindo.or.id/about/metode-klasifikasi-hoax/.
53Dedi Rianto Rahardi, “Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax di Media Sosial,” Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 5, No. 1, 2017, h. 58–
70.
54Milhorn, H.T, Cybercrime: How to Avoid Becoming a Victim (Florida: Universal Publishers, 2007).
Selain istilah hoaks, terdapat istilah lain yang juga digunakan untuk menggambarkan fenomena berita bohong di media sosial, seperti fake news, misinformasi, disinformasi, dll.
Keragaman istilah tersebut disikapi dengan beragam pendapat, misalnya MAFINDO yang membagi hoaks ke dalam dua klasifikasi, yakni klasifikasi umum dan klasifikasi akademis.
Dalam klasifikasi umum, istilah hoaks mencakup semua variasi dari berita bohong, sehingga hanya ada dua kemungkinan yakni informasi benar atau hoaks. Sedangkan dalam klasifikasi akademis, MAFINDO mengklasifikasikan hoaks ke dalam tujuh jenis hoaks, yakni satir/parody (tidak ada niat jahat namun bisa mengecoh), false connection (judul berbeda dengan isi berita), false context, (konten disajikan dengan narasi konteks yang salah), misleading content, (konten diplintir untuk menjelekkan), imposter content, (tokoh publik dicatut namanya), manipulated content, (konten yang sudah ada diubah untuk mengecoh), dan fabricated content (100% konten palsu).55
Dedi Rianto Rahardi juga membagi hoaks ke dalam tujuh jenis, yaitu56:
1. Fake news (berita bohong), yakni berita yang berusaha menggantikan berita aslinya dengan tujuan memalsukan atau memasukkan ketidakbenaran dalam suatu berita.
55 MAFINDO, “Metode Klasifikasi Hoax - MAFINDO - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia.”
56 Rahardi, “Perilaku Pengguna Dan Informasi Hoax Di Media Sosial.”
2. Clickbait (tautan jebakan), yakni tautan dengan judul yang berlebihan. Terkadang isinya merupakan fakta namun tidak sesuai dengan judul.
3. Confirmation bias (bias konfirmasi), yakni kecenderungan menginterpretasikan kejadian yang baru terjadi sebagai bukti dari kepercayaan yang sudah ada.
4. Misinformasi, yakni informasi yang salah atau tidak akurat, terutama ditujukan untuk menipu.
5. Satire, yakni sebuah tulisan yang menggunakan humor, ironi, hal yang dibesar-besarkan untuk mengomentari kejadian yang sedang hangat.
6. Post-truth (paska kebenaran), yakni kejadian di mana emosi lebih berperan dari fakta untuk membentuk opini publik.
7. Propaganda, yakni aktifitas menyebarluaskan informasi, fakta, argumen, gosip, setengah kebenaran, atau bahkan kebohongan untuk mempengaruhi opini publik.
Salah satu istilah yang juga cukup sering digunakan menggantikan hoaks adalah fake news. Fake news dapat didefinisikan sama dengan hoaks, seperti pendapat Lazer dkk.
yang mendefinisikan fake news sebagai berita palsu yang dibuat dengan meniru model berita pada umumnya, namun tidak melewati tahapan organisasi berita.57 Allcot dan Gentzkow mendefinisikan fake news sebagai artikel berita yang secara sengaja dibuat salah, sehingga dapat menyesatkan pembaca.58
57 David M J Lazer dkk., “The Science Of Fake News,” Insights 359, no. 6380 (2018): 1094–96.
58 David M J Lazer dkk., “The Science of Fake News.”
Namun, menurut hasil penelitian terbaru yang dikeluarkan oleh Uni Eropa (EU), seluruh jenis informasi yang dikategorikan sebagai fake news atau hoaks lebih tepat disebut sebagai disinformasi.59 Begitupun halnya dengan The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang memilih menggunakan istilah disinformasi, misinformasi, dan malinformasi.
Misinformasi adalah informasi yang tidak benar namun orang yang menyebarkannya pecaya bahwa informasi tersebut benar tanpa bermaksud membahayakan orang lain. Disinformasi adalah informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu kalau informasi tersebut tidak benar.
Sedangkan malinformasi adalah informasi yang memang memiliki cukup unsur kebenaran, baik berdasarkan penggalan atau keseluruhan fakta objektif namun penyajiannya dikemas sedemikian rupa untuk melakukan tindakan yang merugikan bagi pihak lain atau kondisi tertentu, ketimbang berorientasi pada kepentingan publik.60
59 Bambang Pratama, “Hoax Dan Fake News Dalam UU-ITE,” 2018, https://business-law.binus.ac.id/2018/08/09/hoax-dan-fake-news-dalam-uu-ite/.
60 Posetti et al., Journalism , ‘Fake News’ & Handbook for Journalism Education and Training.
Gambar 1.1 Pembagian Kategori Hoaks
Sumber: The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)
Berdasarkan Laporan Isu Hoaks Covid-19, Kemkominfo mengkategorikan hoaks ke dalam tiga kategori, yaitu hoaks, misinformasi, dan disiformasi. Meskipun dibagi ke dalam tiga kategori tersebut, Kemkominfo menyatakan bahwa laporan informasi bohong yang beredar selama pandemi sebagai laporan isu hoaks. Oleh sebab itu, penelitian ini hanya akan menggunakan istilah hoaks dalam menyebut informasi bohong atau keliru yang beredar tersebut.
B. Hoaks dalam Perspektif Islam
Perbuatan menciptakan atau menyebarkan hoaks dilarang dalam ajaran Islam. Menurut Abdul Wahid, apabila hoaks dimaknai sebagai usaha menipu untuk mempercayai sesuatu, maka hoaks dalam istilah kitab salaf sama dengan kadzib, yakni mengutarakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan atau
berbohong.61 Kata kadzib dengan makna di atas dapat ditemukan dalam Q.s. An-Nahl (16): 105. Hoaks juga dapat diidentifikasi dari pengertian kata al-ifk yang artinya keterbalikan.62 Menurut Quraish Shihab, al-ifk adalah sebuah kebohongan besar, karena kebohongan adalah pemutarbalikan fakta.63 Terdapat 22 kata
al-‘Ifk dalam Alquran dengan mengandung tiga arti, yakni tentang perkataan dusta (Q.s An-Nur (24): 11, 2), kehancuran suatu negeri karena penduduknya tidak membenarkan ayat-ayat Allah (Q.s. At-Taubah (9): 70), dan dipalingkan dari kebenaran orang-orang yang selalu berdusta (Q.s. Al-Ankabut(29): 61).64
Sejarah Islam mencatat beragam peristiwa hoaks yang berdampak buruk bagi manusia. Allah swt. menjelaskan peristiwa tersebut dalam Al-Qur’an sebagai pembelajaran bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi hoaks. Salah satu di antaranya adalah kisah terusirnya Adam a.s. dan Siti Hawa dari surga karena kebohongan Iblis yang termaktub dalam Q.s. Al-A’raf (7): 11-25. Menurut Abdul Muiz Amir, peristiwa tersebut adalah peristiwa hoaks pertama dalam sejarah umat manusia.
Muiz Amir berpendapat Q.s. Al-Araf (7): 20-21 mengisahkan tentang propaganda yang dilakukan oleh Iblis terhadap Adam dan Hawa. Selain itu, Iblis melakukan kebohongan dengan
61 Abd Wahid HS, “Hoax Dalam Perspektif Islam,” Pendidikan Dan Pranata Islam 8, no. 2 (2017): 190–97.
62 Supriyadi Ahmad dan Husnul Hotimah, “Hoaks dalam Kajian Pemikiran Islam dan Hukum Positif,” SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, Vol. 5, No. 3, 2019. : 291–306, h. 296.
63 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2002).
64 Iftitah Jafar, “Konsep Berita dalam Al’Quran (Implikasinya dalam Sistem Pemberitaan di Media Sosial),” Jurnalisa, Vol. 03, No. 1, 2017.
bersumpah bahwa Ia memberi nasihat seolah merupakan kebenaran.65 Dari peristiwa ini, hoaks dapat diidentifikasi sebagai sebuah kebohongan yang dikemas seolah merupakan kebenaran dan berdampak negatif apabila mempercayainya.
Selain itu, menurut Mubasyaroh hoaks adalah penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman, yakni ketika terbunuhnya Usman bin Affan. Pada saat itu, umat Islam saling menyebar berita bohong terkait pembunuhan Usman untuk kepentingan politik, sehingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam yang bermuara pada peperangan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Ali menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh berita bohong.66
Peristiwa hoaks lainnya adalah haditsul ifki, yakni peristiwa ketika Aisyah r.a. dikabarkan melakukan perselingkuhan dengan Shafwan ibn Muathal as Sulamy. Hoaks ini tersebar setelah Aisyah r.a. tertinggal dari rombongan yang akan kembali ke Madinah karena mencari kalungnya yang hilang. Saat Aisyah mencari kalung yang hilang tersebut, pasukan muslim meninggalkan dan mengira Aisyah sudah bersama mereka.
Shawfan bin Muattal As-Sulamy menemukan Aisyah yang tertinggal seorang diri dan mengantarkannya pulang. Karena peristiwa ini, hoaks tersebar di tengah masyarakat dan berdampak
65Muiz Amir, “Reinterpretation of Q.s. Al-Araf (7): 11-25 on Hoax:
buruk bagi diri Aisyah.67 Bahkan dalam satu riwayat dikisahkan Rasulullah saw. hendak mendiskusikan untuk menceraikan Aisyah atas hal ini.68 Peristiwa ini menjadi sebab turunnya firman Allah, yakni Q.s. An-Nur (24) : 11-20.
Menurut Irfan Afandi, terdapat beberapa petunjuk mengenai bagaimana karakteristik hoaks, cara menghadapi, dan akibat dari mempercayai hoaks dalam Q.s An-Nur (24): 11-20 tersebut, di antaranya:
1. Hoaks dapat disebarkan oleh orang-orang terdekat.
Dalam Q.s. An-nur (24): 11, Allah swt. berfirman yang artinya “sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga (ushbatun minkum).”
Menurut Quraish Shihab kata ushbatun minkum dapat dimaknai sebagai kelompok yang terjalin kuat oleh satu ide.69 Oleh karena itu, hoaks sangat mungkin disebarkan oleh orang-orang terdekat.
ۚ إمُكَل ٌإيَْخ َوُه إلَب ۖ إمُكَل اًّرَش ُهوُبَسإَتَ َلَ ۚ إمُكإنِم ٌةَبإصُع ِكإفِإلِْبِ اوُءاَج َنيِذَّلا َّنِإ ِذَّلاَو ۚ ِإثِْإلْا َنِم َبَسَتإكا اَم إمُهإ نِم ٍئِرإما ِ لُكِل َإبِك َّٰلََّوَ ت ي
ٌميِظَع ٌباَذَع ُهَل إمُهإ نِم ُه
◌
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang
67 Irfan Afandi, “Hoax Dalam Sejarah Islam Awal (Kajian Kritis Tentang Q.s. An-Nur : 11-20),” Ar-Risalah 16, no. 1 (2018): 11–20.
68 Luthfi Maulana, “Kitab Suci dan Hoax: Pandangan Alquran dalam Menyikapi Berita Bohong,” Wawasan 2, no. December (2017): 209–22.
69 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Quran.
mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”
2. Berprasangka baik ketika mendapatkan hoaks.
Dalam Q.s. An-Nur (24): 12, Allah swt. memerintahkan manusia agar dapat berprasangka baik ketika mendapatkan hoaks.
إمِهِسُفإ نَِبِ ُتاَنِمإؤُمإلاَو َنوُنِمإؤُمإلا َّنَظ ُهوُمُتإعَِسَ إذِإ َلَإوَل ٌيِبُم ٌكإفِإ اَذَٰه اوُلاَقَو اًإيَْخ
◌
Artinya: “Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “ini adalah satu berita bohong yang nyata.”
Menurut Quraish Shihab, ayat ini mengecam kaum muslimin yang terdiam, tidak membenarkan dan tidak pula membantah, serta mereka yang membicarakan isu sambil bertanta-tanya tentang kebenaran ketika isu perselingkuhan Aisyah ra. merebak. Menurut Shihab, ayat ini menganjurkan mereka mengambil langkah positif dengan berkata “ini adalah suatu berita bohong yang nyata karena kami mengenal mereka sebagai orang-orang mukmin apalagi mereka adalah istri Nabi bersama sahabat terpercaya beliau.70 Dengan demikian, ayat ini dapat dimaknai sebagai sikap yang dapat kaum muslim ambil ketika mendapatkan hoaks, yakni berprasangka baik.
70Quraish Shihab, Tafsir Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran .
3. Tidak meremehkan hoaks.
Dalam Q.s. An-Nur (24): 13, Allah swt. melarang manusia meremehkan hoaks, yakni dengan mudah menyebarkan atau mempercayainya.
ُمُه َِّللَّا َدإنِع َكِئَٰلوُأَف ِءاَدَهُّشلِبِ اوُتإَيَ إَلَ إذِإَف ۚ َءاَدَهُش ِةَعَ بإرَِبِ ِهإيَلَع اوُءاَج َلَإوَل ِذاَكإلا َنوُب ◌
Artinya: “Ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal yang besar.”
Menurut Quraish Shihab, ayat ini ditujukan kepada para penyebar isu yang menuduh Aisyah ra., tanpa mengarahkan langsung pembicaraan kepada mereka, untuk mengisyaratkan murka Allah.71 Irfan Afandi berpendapat bahwa ayat ini merupakan pedoman bagaimana muslim seharusnya menyikapi hoaks, yakni dengan tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang remeh, sehingga tidak mempertimbangkan risiko dari menyebarkan hoaks tersebut.
4. Terdapat kecaman bagi orang yang menyebarkan hoaks.
Dalam Q.s. An-Nur (24): 14-15, Allah swt. mengecam orang yang ikut menyebarkan hoaks, baik dengan sadar atau tanpa sadar melakukannya. 72
71 Quraish Shihab, Tafsir Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran.
72Lutfi Maulana, “Kitab Suci Dan Hoax: Pandangan Alquran Dalam Menyikapi Berita Bohong.”
ٌباَذَع ِهيِف إمُتإضَفَأ اَم ِفِ إمُكَّسَمَل ِةَرِخ إلْاَو اَيإ نُّدلا ِفِ ُهُتَإحَْرَو إمُكإيَلَع َِّللَّا ُلإضَف َلَإوَلَو
ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraanmu tentang berita bohong itu, ingatlah ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dari mulutmu itu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu suatu perkara.”5. Perintah menjauhi dan menyebarkan hoaks.
Dalam Q.s. An-Nur (24): 17-18, Allah swt. memerintahkan manusia agar menjauhi dan tidak menyebarkan hoaks. Allah swt berfirman:
Artinya: “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya jika kamu orang yang beriman. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.”
6. Hukuman bagi penyebar hoaks.
Dalam Q.s. An-Nur (24): 19-20, Allah swt. berfirman akan memberikan hukuman bagi penyebar hoaks.
ُّبُِيُ َنيِذَّلا َّنِإ اَيإ نُّدلا ِفِ ٌميِلَأ ٌباَذَع إمَُلَ اوُنَمآ َنيِذَّلا ِفِ ُةَشِحاَفإلا َعيِشَت إنَأ َنو
◌َنوُمَلإعَ ت َلَ إمُتإ نَأَو ُمَلإعَ ي َُّللَّاَو ۚ ِةَرِخ إلْاَو ََّللَّا َّنَأَو ُهُتَإحَْرَو إمُكإيَلَع َِّللَّا ُلإضَف َلَإوَلَو
◌ٌميِحَر ٌفوُءَر
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.
Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).”
Selain itu, Allah swt. juga memberikan pedoman bagi umat manusia bagaimana menghadapi hoaks yang beredar, di antaranya adalah melakukan pemeriksaan terhadap kebenaran informasi yang diterima serta memperhatikan siapa pengirim informasi tersebut. Dalam hal ini, Al-Qur’an memberikan pedoman bagi manusia untuk memperhatikan kredibilitas sumber informasi, apakah informasi tersebut disebarkan oleh orang fasik yang suka berdusta atau tidak. Dalam Al-Qur’an terdapat peringatan bagi umat manusia apabila tidak melakukan pemeriksaan kebenaran informasi (tabayyun) maka dapat
berakibat fatal, salah satunya mencelakakan suatu kaum.73 Pedoman tersebut terdapat dalam Q.s. Al-Hujurat (49): 6.
اوُحِبإصُتَ ف ٍةَلاَهَِبِ اًمإوَ ق اوُبيِصُت إنَأ اوُنَّ يَ بَ تَ ف ٍإَبَ نِب ٌقِساَف إمُكَءاَج إنِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ َيَ
◌َيِمِدَنَ إمُتإلَعَ ف اَم ٰىَلَع
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Selain penjelasan di atas, Muh Sadiq Sabri dan Muh Darwis Ridwan mengemukakan empat sifat hoaks menurut Al-Qur’an, yaitu bersifat dugaan dan sengaja dibuat-buat, bertentangan dengan fakta, mengherankan pendengarnya, menghebohkan masyarakat, serta mempesona dan menipu. Kelima sifat hoaks ini didasarkan pada interpretasi Sabry dan Ridwan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Pertama, bersifat dugaan dan sengaja dibuat-buat digambarkan dalam Al-Qur’an dengan kata Gorosa berarti menerka-nerka, mengira-ngira, menduga-duga dan juga berarti dusta. Salah satu ayat Al-Qur’an yang menggunakan term ini dan bermakna dusta adalah Q.s. Al-An’am (6): 116. Ayat tersebut memiliki terjemahan yaitu “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah swt. Yang mereka ikuti
73 Sri Rojiah, “Tabayyun Terhadap Berita Ditinjau Dari Al-Qur’an Dan Kode Etik Jurnalistik” (IAIN Purwokerto, 2020).
persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kobohongan.”74
Selain itu, Agus Sofyandi Kahfi memaparkan tentang unsur-unsur yang perlu diperhatikan ketika mendapatkan informasi, sekaligus unsur-unsur tersebut menjadi bentuk-bentuk hoaks dalam Alquran. Pertama, Informasi yang disampaikan tidak boleh mengandung unsur merendahkan, mencela, mencemarkan nama baik orang lain sebagaimana diajarkan dalam Q.s. Al-Hujurat (49): 11. Kedua, tidak boleh mengandung unsur mencari-cari kesalahan orang lain sebagaimana termaktub dalam Q.s. Al-Hujurat (49): 12. Ketiga, informasi tidak boleh ditambahi interpretasi subjektif dengan tujuan agar berita menjadi menarik dan menghebohkan sebagaimana diajarkan dalam Q.s. An-Nahl (16): 116. Keempat, tidak boleh menyampaikan berita yang sengaja dibalikkan dari fakta sebenarnya atau memutarbalikkan informasi yang benar menjadi bohong, dan perbuatan baik menjadi buruk dan tercela sebagaimana termaktub dalam Q.s.
An-Nur (24): 12-18.75 Al-Quran Tentang Hoakx (Suatu Kajian Tafsir Tematik),” Tafsere, Vol. 6, No. 2 (2018): 41–66.
75 Agus Sofyandi Kahfi, “Informasi dalam Perspektif Islam,” Mediator, Vol. 7, No. 2, 2006.
mencatat pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 150 juta jiwa atau 56% dari total penduduk, dengan rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 hingga 3,5 jam sehari di media sosial.
Hal ini menjadikan Indonesia negara ke-lima dengan rata-rata penggunaan media sosial terlama se-dunia.76 Fakta ini menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Istilah media sosial terdiri dari dua kata, “media” dan
“sosial”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, media sosial diartikan sebagai laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial.77 Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 dan yang memungkinkan pertukaran informasi.78 Adapun menurut Rulli Nasrullah media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual.79 Dengan demikian, media sosial adalah
“sosial”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, media sosial diartikan sebagai laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial.77 Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 dan yang memungkinkan pertukaran informasi.78 Adapun menurut Rulli Nasrullah media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual.79 Dengan demikian, media sosial adalah