Untuk mempermudah dalam penulisan skripi ini, penulis membuat sistematika penulisan dengan membagi kepada lima (5) bab, tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab dengan rimcia sebagaai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, identifikasi masalah, batsan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan terdahulu, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Bab ini suatu gerbang untuk pembaca dalam memahami korupsi termasuk didalamnya pengertian, hukum, serta jenis-jenis korupsi.
BAB III : Pertanggung jawaban pidana serta perdata bagi para pelaku korupsi.
11 Suharsmi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:Ady Mahasatya, 2015) h 236.
BAB IV : Analisis study komparatif hukum islam dan hukum positif di Indonesia.
BAB V : Berisi kesimpulan berupa pernyataan singkat dari hasil penelitian, dan saran sebagai rekomendasi bagi banyak pihak.
13 BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI KORUPSI DAN KEWARISAN DALAM ISLAM
A. Tinjauan Umum Korupsi 1. Pengertian Korupsi
Tindak pidana korupsi dalam Bahasa latin disebut corruptio atau corrupios. Andi Hamzah menyatakan bahwa kata korupsi dari Bahasa latin yaitu “corruptio” atau “corruptus” yang kemudian muncul dalam banyak Bahasa eropa seperti Inggris dan Prancis yaitu “corruption” dalam Bahasa belanda “korruptie” yang selanjutnya muncul pula dalam perbendaharaan Bahasa Indonesia yaitu korupsi yang berarti suka disuap.12
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi atau orang lain.13 Pendapat lain dikemukakan Syeh Hussein alatas dalam bukunya The Sosiology of corruption mengemukakan pengertian korupsi dengan menyebutkan benang merah yang menjelujuri dalam aktifitas korupsi yaitu subordinasi kepentingan umum dibawah kepentingan tujuan-tujuan pribadi yang mencakup pelanggaran norma-norma, tugas, dan kesejahteraan umum dibarengi dengan kerahasiaan, penghianatan, penipuan, dan kemasabodoan yang luar biasa akan akibat yang diderita oleh masyarakat.14
Secara luingistik kata korupsi berarti kemerosotan dari semua hal baik, sehat, dan benar, serta menjadi penyelewengan dan kebusukan.
12 Kristian dan Yopi Gunawan, Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2015) h 19.
13Departemen Pendidikann Nasinal, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta:PusatBahasa, 2008) h 756.
14 Chaeruddin DKK, Strategi Pencegahan dan Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011) h 7.
Poerwardaminanta dalam kamus bahasa Indonesia mengatakan bahwa korupsi adalah perbuatan yang busuk, seperti penggelapan uang penerimaan uang uang sogok, dan sebagainya. S. H. Alatas mendefinisikan korupsi dari sudut pandang sosiologis bahwa “apabila pegawai negri menerima pemberian yang disodorkan oleh orang lain dengan maksud mempengaruhinya agar mendapat perlakuan istimewa pada kepentingan-kepentingan pemberi, itulah korupsi”.15
Korupsi merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seorang atau bersama-sama beberapa orang secara professional yang berkaitan dengan kewenangan atau jabatan dalam suatu birokrasi pemerintahan dan dapat merugikan departemen atau instasi terkait lain.16 Seseorang yang melakukan pelanggaran bidang administrasi seperti memberikan laporan melebihi kenyataan dana yang dikeluarkan merupakan jenis perilaku yang merugikan pihak yang berkaitan dengan laporan yang dibuatnya.
Dalam hukum Islam klasik belum dikemukakan oleh para fuqaha tentang pidana korupsi. Hal ini didasari oleh situasi dan kondisi pada waktu itu karna sistem administrasi belum dikembangkan. Korupsi atau dalam istilah hukum pidana Islam dinamakan al-ghulul serupa dengan kata khaana, urainya: gaalunkhaana qa huna ma ya’ khuzul ganimata khafyata qabla qassamatha. Artinya mengambil sesuatu dari ghanimah lantaran takut tidak mendapat bagian setelah ghanimah itu dibagi.17 Jadi, sebagaimana dijelaskan pula diatas bahwa yang melatar belakangi (asbab al-wurud) hadis nabi diatas ini adalah pemberian hadiah dengan motif tertentu. Dilihat dari asas pidana bahwa korupsi dan pencurian mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama merugikan sepihak. Perbedaan antara keduanya hanya dari
15 Mustafa hasan dan Beni Ahmad Subeni, Hukum Pidana Islam Fiqh Jinayah, (Cet ke-1:
Bandung: Pustaka Setia, 2013) h. 364
16 Zainudin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009) h. 71
17 Mas Alim Katu, Korupsi Malu Ah!, (Makasar: Pustaka Refleksi, 2009) h. 10
teknis bukan prinsip. Atas dasar itu korupsi merupakan delik pidana ekonomi yang sanksi hukumya dapat disamakan dengan pidana pencurian baik mengenai yang dikorupsi maupun sanksi yang diberlakukan terhadap pelakunya begitu pula persyaratannya.
Meski didalam Al-Qur’an dan hadis belum terlalu dijelaskan tentang korupsi. Namun, disisi lain para ulama dan organisai islam khusunya organisai islam di Indonesia bersepakat bahwa korupsi dipersamakan dengan penyuapan atau pencurian karna barang atau harta yang diambil adalah milik orang lain atau milik negara secara bathil sehingga menimbulkan kerugian besar terhadap kemaslahatan ummat. Nahdatul Ulama sebagai organisai muslim terbesar di Indonesia dengan puluhan juta umat memandang korupsi sebagai berat (ghulul) terhadap rakyat. Dari cara kerja dan dampaknya, korupsi dikategorikan sebagai pencurian (sariqah) dan perampokan (nahb).18
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lebaga fatwa pun telah mengelurkan status hukum korupsi, risywah, suap-menyuap, hadiah, atau jenis-jenis korupsi lainnya adalah haram.19 Adapun dalil yang digunakan sebagai berikut :
QS. Al-Baqarah ayat 188:
اوُلُكْأَتِل ِماَّكُحْلا ىَلِإ اَهِب اوُلْدُت َو ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَأ اوُلُكْأَت َلَ َو ْمُتْنَأ َو ِمْثِ ْلإاِب ِساَّنلا ِلا َوْمَأ ْنِم اًقي ِرَف
َنوُمَلْعَت Artinya: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan jangan lah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari
18 Marzuki Wahid, Buku Jihad Nahdatul Ulama Melawan Korupsi, (Jakarta:Lakpesdam-PBNU, 2017) h 105.
19 Fatwa MUI tentang korupsi tahun 2000
pada harta benda orang lain iudengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.20
QS. Al-Nisa ayat 2
لِطاَبْلاِ ْمُكَنْيَبْمُكَلا َوْمَأاوُلُكْأَت َلَاوُنَمآَنيِذَّلااَهُّيَأاَي
“Hai orang-orang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil”.
QS. Ali’Imran ayat 161
ْلُلْغَي ْنَم َو ْفَن ُّلُك ٰىَّف َوُت َّمُث ۚ ِةَماَيِقْلا َم ْوَي َّلَغ اَمِب ِتْأَي
َنوُمَلْظُي َلَ ْمُه َو ْتَبَسَك اَم ٍس
“Barang siapa yang berhianat dalam urusan harta rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang ia hianatinya itu”.
2. Dimensi Korupsi dalan Islam
Islam mengenal korupsi dalam beberapa dimensi:
a. Ghulul
Ghulul mempunyai arti berkhianat terhadap harta rampasan perang. Secara terminologis, kata ghulul oleh Rawas Qala‘arji dan Hamid Sadiq Qunaibi dimaknai dengan:
ّعاتي ىف ّصدو ء ًشنا زخأ
“mengambil sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya”.21
Pengertian ghulul pada mulanya memang hanya terbatas pada tindakan pengambilan, penggelapan atau berlaku curang, dan khianat terhadap harta rampasan perang. Dalam perkembangannya kata ini melebar dan mempunyai arti tindakan curang dan khianat terhadap harta-harta lain (tidak hanya terbatas pada harta rampasan perang),
20 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: J-Art, 2004) h. 29
21 Muhammad Rawas Qala‘arji dan Hamid Shadiq Qunaibi, Mu’jam Lughat al-Fuqaha, (Beirut: Dar al-Nafis, 1985), h 334.
seperti tindakan penggelapan terhadap harta baitul mal, harta bersama dalam suatu kerjasama bisnis, harta negara, harta zakat, dll.22
Sanksi hukum yang diterapkan pada perkara ghulul, jika dilihat pada ayat di atas memang bersifat moral, berupa resiko akan dipermalukan di hadapan Allah kelak di hari kiamat. Hal ini selaras dengan sanksi yang juga diberlakukan oleh Nabi terkait kasus tersebut, yaitu beliau enggan untuk mensholati jenazah pelaku ghulul. Bentuk sanksi hukum yang bersifat moral ini bisa dimaklumi karena pada saat itu kasus-kasus ghulul belum dianggap tindak pidana atau jarimah yang harus dijatuhi sanksi tegas karena jumlah kerugian akibat tidakan tersebut relatif masih kecil.
Dalam jumlah yang relatif masih kecil ini, Nabi mengedepankan pembinaan moral sebagai sanksi hukuman dan tidak menjadikannya suatu jarimah atau tindakan kriminal seperti kasus hudud atau qisas.
Namun akan berbeda jika kerugian mencapai jumlah yang sangat tinggi, maka hukuman pun tentu berbeda dengan yang sebelumnya.
b. Risywah
Dalam kamus al-Mu’jam al-Wasit, kata Risywah mempunyai arti:
ح لاطتإ وأ مطات قامحلإ ىطعٌ اي
“sesuatu yang diberikan dalam rangka membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar”.23
Apapun bentuknya jika dipergunakan untuk melegalkan sesuatu yang dilarang ataupun mengubah keputusan maka itu tidaklah diperbolehkan. Terkait sanksi yang digunakan untuk pelaku tindakan risywah tidak jauh berbeda dengan sanksi hukum bagi pelaku ghulul.
Dalam hal ini, Abdullah Muhsin athThariqi berpendapat bahwa sanksi
22 M. Nurul Irfan, Korupsi dalam Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Amzah, 2014), h 81.
23 Nur Iqbal Mahfudh, “Hukum Pidana Islam Tentang Korupsi”. Jurnal agama dan hak asasi manusia vol 6, no 2, 2017.
hukum pelaku tindakan risywah memang tidak disebutkan secara jelas oleh syariat (alQuran dan Hadis), mengingat sanksi tindak pidana risywah masuk dalam kategori sanksi ta’zir yang kompentensinya ada di tangan hakim. Sedangkan untuk menentukan jenis sanksi agar sesuai dengan kaidah-kaidah hukum Islam dan sejalan dengan prinsip untuk memelihara stabilitas hidup bermasyarakat maka berat dan ringannya sanksi hukum harus disesuaikan dengan jenis tindak pidana yang dilakukan, dan disesuaikan dengan lingkungan dimana pelanggaran itu terjadi, kemudian dikaitkan dengan motivasi-motivasi yang mendorong sebuah tindak pidana itu dilakukan.24
Beliau ath-Thariqi juga menjelaskan bahwa sanksi ta’zir bagi pelaku tindak pidana risywah merupakan konsekuensi dari sikap melawan hukum Islam dan sebagai konsekuensi dari sikap menentang atau melakukan kemaksiatan kepada Allah. Untuk itu, harus dijatuhi sanksi tegas dengan tujuan menyelamatkan banyak orang dari kejahatan pelaku tindak pidana tersebut.25
c. Ghasab
Muhammad Khatib Syarbini memberikan arti ghasab dengan mengambil sesuatu secara dzalim, dan (sebelum mengambilnya secara dzalim, ia juga melakukannya) secara terang-terangan. Secara terminologi sebagai upaya untuk menguasai hak orang lain secara permusuhan atau terang-terangan.26
Dengan kata lain, ghasab dimaknai sebagai perbuatan mengambil harta atau menguasai hak orang lain tanpa izin pemiliknya
24 Abdullah ibn Abdul Muhsin ath-Thariqi, Jarimah ar-Risywah fi asySyariah al-Islamiyah, (Riyad: Mamlakah al-Arabiyah as-Su‘udiyah, 1982), h. 113.
25 Abdullah ibn Abdul Muhsin ath-Thariqi, Jarimah ar-Risywah fi asySyariah al-Islamiyah, h 115.
26 Muhammad Khatib Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma‘rifati Ma‘ani al-Fazial-Minhaj, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr) 1985 h 275.
dengan unsur pemaksaan yang dilakukan secara terang-terangan.
Berbeda dengan kasus pencurian yang dilakukan secara diam-diam.
Terkait sanksi ghasab, Imam Nawawi dalam kitabnya alMajmu’
syarh al-Muhadzab menguraikan secara detail terhadap sanksi yang harus dijatuhkan kepada pelaku ghasab. Pertama, jika barang yang diambil masih utuh dalam keadaan semula, maka barang tersebut wajib dikembalikan kepada pemilik aslinya. Kedua, seandainya barang yang diambil ternyata sudah tidak ada, maka wajib mengganti dengan barang yang sama atau dengan membayar ganti dengan harga yang sama.
Ketiga, andai barang yang diambil itu barang hidup dan mengalami penyusutan, maka pelaku harus membayar kekurangan yang telah hilang dari barang tersebut. Namun jika barang tersebut adalah benda mati seperti piring atau gelas, maka pelaku harus menggantinya secara utuh.27
d. Shariqah
Persoalan sariqah atau pencurian ini sebenarnya sudah tidak asing lagi. Tidak bisa dipungkiri bahwa pembahasan pencurian terkait hukum pidana Islam akan langsung mengarah pada hukum potong tangan. Yang perlu diperjelas adalah, bahwa hukum potong tangan tidak serta merta dilakukan tanpa adanya syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi. Setidaknya ada empat unsur penting yang harus lebih dahulu ada pada kasus ini:
Pertama, mengambil secara sembunyi-sembunyi. Kedua, barang yang diambil berupa harta. Ketiga, barang yang diambil tersebut milik orang lain. Kempat, unsur melawan hukum.28
27 Abu Zakariya Muhyiddin ibn Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ syarh alMuhadzab jilid 14, (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, 2008) h 65.
28 Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ al-Jina’i al-Islami jilid 1, (Beirut: Dar al-Katib al-Azaliy, 2008), h 514.
Terkait unsur yang pertama itu pun harus memenuhi tiga syarat, yaitu pencuri mengambil barang curian dari tempat penyimpanan yang biasa digunakan untuk menyimpan, barang curian tersebut dikeluarkan dari pemeliharaan pihak korban dan terjadi proses pemindahan barang curian dari pihak korban kepada pihak pelaku. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi maka proses potong tangan pun tidak bisa dijatuhkan.
Begitu juga syarat-syarat lain yang ada pada unsur-unsur yang lainnya.
Meskipun tindak pidana ini termasuk salah satu dari jarimah hudud karena secara tegas diatur dalam nash al-Quran dan Sunnah, pada dasarnya masih terjadi keberagaman interpretasi para ulama berkaitan dengan sanksi potong tangan bagi pelaku tindakan pencurian ini.
e. Al-Maks
Kata al-maks atau pungutan liar yang biasa disingkat dengan pungli, sebenarnya sudah terjadi sejak masa-masa sebelum Nabi diutus.
Di dalam kitab Lisan al-Arab, kata almaks bermakna beberapa uang (dirham) yang diambil dari para pedagang di pasar-pasar pada zaman jahiliyah.’’29
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Daud, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
للَ ىهصو ٍّهع لاله ىهص لاله لىصس تعًص للَ شياع ٍت حثمع ٍع : ةحاص حُجنا مخذٌ لا كي ش
‘’Dari Uqbah ibn Amir berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: orang yang melakukan pungutan liar tidak akan masuk surga.’’
Hadits ini sangat jelas sekali bahwa hukuman bagi pelaku pungutan liar tidaklah seperti tindak pidana berat / hudud. Nabi lebih
29Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar Shadir, 2008), jilid 6, h. 220
memilih pendekatan moral dalam hal pemberian sanksi pelaku pungutan liar.
3. Jenis-jenis Tindak Pidana Korupsi
Sejatinya definisi korupsi telah disebutkan secara gamblang dalam 13 buah pasal UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001.
Berdasarkan pasal-pasal terebut, korupsi dirumuskan kedalam tiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal terebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karna korupsi.30
Ketiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi tersebut pada dasarnya dapat dikelompokan sebagai berikut:31
a. Kerugian keuangan negara:
Bahwa segala sesuatu yang merugikan negara baik langsung maupun tidak langsung termasuk kategori perbuatan korupsi, ketentuannya mengenai jenis tindak pidana korupsi ini telah dimuat dalam Undang-Undang No 31 tahun 1999 jo Undang-Undang No 20 tahun 2001 yang tertera pada pasal.
b. Suap-menyuap:
Suap menyuap termasuk jenis tindak pidana korupsi yang mungkin paling sering dilakukan. Suap menyuap sangat popular sebagai upaya memuluskan atau meloloskan suatu harapan/keinginan/kebutuhan sipenyuap dengan memberikan sejumlah uang.
c. Penggelapan dalam Jabatan:
30Komisi Pemberantasan Korupsi, Memahami Untuk Membasmi, (Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi, 2006) h 15.
31KPK, “Modul Tindak Pidana Korupsi”, (Jakarta:Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat, 2016) h 23.
Korupsi jenis ini tentunya mereka yang memiliki jabatan tertentu, bentuk lain dari penyalah guanaan jabatan adalah pemalsuan dokumen maupun buku untuk pemeriksaan administrasi sehingga sang pelaku memperoleh keuntungan untuk dirinya sendiri maupun orang lain, kata lainnya adalah penghancuran bukti penyimpangan berupa akta, surat, ataupun data yang dapat digunakan sebagai barang bukti penyimpangan.
d. Pemerasan:
Model lain pemerasan yang berhubungan dengan uang adalah menaikan tarif diluar ketentuan yang berlaku. Misalnya pegawai negri memasang tarif 50 ribu untuk membuat suatu dokumen padahal edaran resmin yang dikeluarkan 15 ribu.
e. Perbuatan Curang:
Seperti juga pemerasan bahwa jenis ini banyak yang tidak mengetahui bahwa ini termasuk dalam tindak pidana korupsi. Padahal perbuatan curang sendiri telah duatur dan termasuk salah satu perbuatan korupsi.
f. Bentuk Kepentingan dalam Pengadaan:
Benturan kepentingan ini terkait dengan jabatan tersebut atau kedudukan seseorang yang di satu sisi ia dihadapkan pada peluang menguntungkan dirinya sendiri, keluarga, ataupun kroni-kroninya, yang secara lengkap diatur didalam Pasal 12 huruf i.
g. Gratifikasi:
Pengertian gratifikasi dapat diperoleh dari penjelasan pasal 12B Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001, yaitu pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat, komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan dalam atau luar
negri, yang dilakukan dengan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.
Hal yang perlu dipahami, jika dikaitkan dengan adanya kewajiban penyetoran gratifikasi kenegara sebagai tindak lanjut dari keputusan pimpinan KPK tentang penetapan status gratifikasi menjadi milik negara, maka gratifikasi yang dimaksud dalam unsur pasal ini haruslah penerima yang dapat dinilai dengan uang.
1) Yang menerima gratifikasi haruslah pegawai negri/penyelenggara negara.
2) Gratifikasi yang dianggap pemberian suap.
4. Unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi
Unsur unsur tindak pidan korupsi tidak akan terlepas dari unsur-unsur yang tercantum dalam pasal 2 dan pasal 3 Undang-Undang No 31 tahun 1999 jo Undang-Undang no 21 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagai berikut:
- Pasal 2 setiapa orang yang melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau salah satu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana paling singkat 4 (tahun) paling lama 20 (tahun), dan denda paling sedikit dua ratus juta rupiah dan paling banyak satu milyar.
- Pasal 3 setiap orang yang bertujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan wewenang, kesempatan atau sarana yang ada padanya Karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana paling
singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dana tau denda paling sedikit lima puluh juta rupiah paling banyak satu milyar.
Firman Wijaya mengguraikan unsur-unsur delik korupsi yang terdapat dalam pasal 2 UU PTPK tersebut sebagai berikut:
a. Setiap orang
b. Secara melawan hukum
c. Perbuatan memperkaya diri sendiri dan orang lain atau suatu korporasi d. Dapat merugikan keuangan negara atau keuangan negara.
5. Subjek Hukum dalam Tindak Pidana Korupsi
Subjek hukum tindak pidana korupsi di Indonesia pada dasarnya adalah orang pribadi sama seperti yang tercantum dalam hukum pidana umum. Hal ini tidak mungkin ditiadakan, namun ditetapkan pula suatu badan yang dapat menjadi subjek hukum tindak pidana korupsi sebagai mana dimuat pada pasal 20 jo pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.
Subjek hukum tindak pidana korupsu terdiri dari subjek hukum orang dan subjek hukum korporasi.
a. Subjek Hukum Orang
Subjek hukum tibdak pidana tidak terlepas pada sistem pembebanan pertanggung jawaban pidana yang dianut. Dalam hukum pidana umum (sumber pokoknya KUHP) adalah pribadi orang.
Pertanggung jawaban bersifat pribadi, artinya orang yang dibebani tanggung jawab pidana dan pidana hanyalah orang atau pribadi sipembuatnya.
Subjek hukum orang dalam UU PTPK ditentukan melaui dua cara antara lain:
1) Cara pertama disebutkan sebagai subjek hukum orang pada umumnya, artinya tidak ditentukan kualitas pribadinya Kata permulaan dalam kalimat rumusan tindak pidana yang menggambarkan atau menyebutkan subjek hukum tindak pidana orang pada umumnya, yang In Casu tindak pidana korupsi disebutkan dengan perkataan “setiap orang” (misalnya pasal 2, 3, 21, ,22). Tetapi juga subjek hukum tindak pidana juga diletakan ditengah rumusan (misalnya pasal 5, 6).
2) Sedangkan cara kedua menyebutkan kualitas pribadi dari subjek hukum orang tersebut, yang In Casu ada banyak kualitas pembuatnya antara lain (1) pegawai negri: penyelenggara negara (misalnya pasal 8, 9, 10, 11, 12, huruf a, b, e, f, g, h, i), (2) pemborong ahli bangunan (pasal 7 ayat 1 huruf a), (3) hakim (pasal 12 huruc), (4) advokat (pasal 12 huruf d), (5) asksi (pasal 24), (6) tersangka (pasal 22 jo 28).
b. Subjek Hukum Korporasi
Penggunaan istilah badan hukum (reshtpersoon; legal entities;
corporation) sebagai subjek hukum semata-mata untuk membedakan dengan manusia (naturlijk person) sebagai subjek hukum, penempatan korporasi sebagai subjek hukum dalam tindak pidan korupsi adalah suatu hal yang baru dalam UU PTPK. Dengan demikian, subjek tindak pidana korupsi tidak hanya individu melainkan korporasi, baik yang berbadan hukum maupun yang belum berbadan hukum.
B. Tinjauan Umum Kewarisan dalam Islam