• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. PERAMALAN DAYA SAING

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

7. Situasi Makroekonomi

Guncangan eksternal pada pertengahan 1980an, termasuk penurunan pada harga minyak, peningkatan tingkat suku bunga internasional dan depresiasi dolar AS menganggu perekonomian Indonesia. Situasi ini mengurangi secara tajam pendapatan ekspor dan fiskal, menyebabkan ketidakseimbangan keuangan dalam negeri dan menaikkan biaya pinjaman luar negeri. Pemerintah menanggapi kejadian ini dengan melancarkan dua program penyesuaian, yaitu; (i) pemulihan stabilitas ekonomi dengan pengekangan moneter dan fiskal, didukung dengan peningkatan tingkat kompetisi ekspor eksternal melalui kebijakan nilai tukar yang responsif (mengambang terkendali), dan (ii) mendorong aktivitas difersifikasi produksi melalui reformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan pada minyak (World Bank, 1993 dalam Erwidodo, 1999).

Hingga tahun 1996, strategi pembangunan yang diterapkan cukup sukses dalam mempertahankan pertumbuhan dan mentransformasi struktur produksi. Fokus yang konsisten untuk mempertahankan stabilitas ekonomi yang ditandai oleh keinginan untuk mengambil keputusan-keputusan sulit pada keadaan mudah dan sulit menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan yang pesat dan berkelanjutan. Pembangunan yang didasarkan pada penerimaan dari minyak tidak dapat mempertahankan stabilitas.

Meskipun demikian saat krisis ekonomi terjadi sejak 1997 regulasi dari lembaga keuangan menjadi perhatian utama. Hal ini karena rentannya prinsip dasar yang mendukung kebijakan fiskal dan keuangan. Puncak krisis yang juga menimpa sebagian besar negara asia terjadi pada bulan Mei 1998 hal tersebut menyebabkan penundaan penerapan kebijakan stabilisasi dan reformasi di Indonesia juga akibat ketidakstabilan politik yang mengakibatkan pergantian pemerintahan pada akhir 1998. Berkaitan dengan ketidakstabilan politik tersebut Indonesia mengalami depresiasi mata uang yang terbesar.

Stabilisasi keuangan dan pemulihan ekonomi bergantung pada kebijakan yang berkaitan dengan kebijakan fiskal, kebijakan moneter, keuangan dan restrukturisasi sektor swasta dan reformasi struktural lainnya. Pemerintah Indonesia memulai dengan upaya penstabilan keuangan melalui rehabilitasi sistem keuangan, pengembalian kepercayaan untuk mencegah berpindahnya modal keluar negeri, restrukturisasi sektor swasta dan perbaikan sistem distribusi dan mekanisme pasar. Kebijakan ekonomi Indonesia sejak 1974 dapat dilihat pada tabel 6 berikut.

Tabel 2. Perubahan kondisi eksternal dan arah kebijakan Indonesia, 1974-2004

Periode Perubahan pada lingkungan eskternal Arah kebijakan Kebijakan makroekonomi Kebijakan perdagangan dan industri Regulasipemerintah 1974-1981 (oil boom)

Peningkatan tajam pada harga minyak (1973); “booming komoditas non migas” (1975-1979) kenaikan harga minyak kedua

Menjaga stabilitas makroekonomi, meski terjadi inflasi akibat pendapatan dari minyak yang meningkat Tumbuhnya Orientasi kedalam (peningkatan substitusi impor) Peningkatan investasi publik dan perusahaan milik pemerintah

1982-85 guncangan

eksternal pertama

Penurunan harga minyak dan penurunan harga komoditas primer

Stabilisasi makroekonomi, kebijakan fiskal, devaluasi dan kebijakan uang ketat

Orientasi ke dalam; proliferasi hambatan non tarif

Berlanjutnya ketergantungan pada BUMN dan regulasi ekonomi pasar 1986-88

guncangan eksternal

kedua

Penurunan tajam pada harga minyak dan berlanjutnya penurunan harga komoditas primer

Berlanjutnya stabilisasi makroekonomi; devaluasi, kebijakan moneter ketat anggaran ketat

Perubahan mejadi orientasi keluar

Deregulasi dari cukai dan impor, pelonggaran peraturan investasi dan pengurangan ketergantungan pada BUMN dan investasi publik 1988-1992 pemulihan ekonomi dengan dorongan non-migas

Harga minyak yang stabil, penurunan lebih lanjut pada harga komoditas primer

Pemeliharaan stabilitas makro Pergerakan lanjutan ke arah ekonomi orientasi ke luar Lanjutan Deregulasi pada investasi, keuangan dan sektor lain. Langkah awal menuju deregulasi BUMN 1993-1996 Lanjutan deregulasi dalam masa transisi

Harga minyak yang stabil, peningkatan harga beberapa komoditas, meningkatnya kompetisi dari negara berkembang lain

Pemeliharaan stabilitas makro. Peningkatan fleksibilitas nilai tukar dan instrumen lain dalam kebijakan moneter

Berlanjutnya fokus pada ekspor dengan penyimpangan tertentu berupa substitusi ekspor (petrokimia) dan kandungan lokal (otomotif) Lanjutan deregulasi, Perbaikan pada pengawasan sektor finansial, deregulasi FDI

(Foreign Domestic Investment) 1997-1998 Depresiasi tinggi, krisi

ekonomi, inflasi tinggi, masalah hutang, dan kebangkrutan banyak perusahaan Mempertahankan stabilitas makro; pengaturan kebijakan reformasi ekonomi untuk mendukung kebijakan fiskal Penenangan; mendorong ekspor untuk produk berbahan baku lokal. Evaluasi perusahaan yang pailit Peningkatan peraturan domestik, peningkatan deregulasi keuangan (bank), dan mendorong investasi asing

1999-2001 Pemulihan dari krisis, peningkatan ekspor pertanian

Pengendalian nilai tukar, mempertahankan kebijakan fiskal & moneter; kebijakan uang ketat, meningkatkan suku bunga Orientasi luar; promosi ekspor; restrukturisasi sektor swasta; perbaikan sistem distribusi; liberalisasi perdagangan untuk produk tertentu Mendorong reinvestasi deregulasi dari sektor- sektor lain pengendalain ketat pada BUMN dan pengurangan hambatan dagang dan non dagang

2002-2004 Pertumbuhan yang positif setelah krisis, peningkatan ekspor pertanian

Pengendalian nilai tukar, menjaga kebijakan fiskal, moneter dan suku bunga

Promosi ekspor, restrukturisasi sektor riil (terutama UMK), liberalisasi perdagangan

Mendorong reinvestasi deregulasi dari sekor- sektor lain pengendalian ketat pada BUMN dan pengurangan hambatan dagang dan non dagang

* Sumber: Stephenson dan Pangestu untuk tahun 1974-1996, Erwidodo untuk tahun 1997-1998, Munandar untuk tahun 1999-2004 dalam Munandar (2004).

Berkaitan dengan pemulihan sistem perdagangan, setidaknya ada tiga indikator penting dari situasi makroekonomi suatu negara berkaitan dengan kegiatan produksi komoditas, yaitu inflasi, tingkat suku bunga dan nilai tukar. Ada kecenderungan bahwa nilai suku bunga yang tinggi akan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan sebaliknya. Pada gambar 15 berikut disajikan perkembangan kondisi makroekonomi Indonesia.

Kondisi Makroekonomi 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 198119831985198719891991199319951997199920012003 Tahun P er s en ta se ( % ) 0.00 2000.00 4000.00 6000.00 8000.00 10000.00 12000.00 N ila i t u k a r ( R p /U S $ )

Tingkat Inflasi (%) Tingkat Sukubunga (%) Indeks Nilai Tukar

Sumber : Biro Pusat statistik tahun 1981-2003

Gambar 15. Tingkat suku bunga, inflasi, dan nilai tukar Inflasi

Inflasi bagi sebagian besar negara di dunia dianggap sebagai alat untuk mengukur permasalahan perekonomian yang berkaitan dengan kenaikan harga. Indonesia memiliki kebijakan untuk menjaga inflasi berada dibawah dua digit atau kurang dari sepuluh persen. Apabila inflasi meningkat hingga diatas 10 %, tindakan pengendalian akan dilakukan oleh Bank Indonesia dan/atau menteri keuangan. Sejak 1980 inflasi di Indonesia berfluktuasi setiap tahunnya dengan variasi nilai berada dibawah

dua digit, kecuali pada tahun 1980,1983,1997 dan 1998, dan tahun dengan nilai inflasi tertinggi terjadi pada tahun terjadinya krisis ekonomi.

Nilai inflasi yang tinggi pada tahun 1980 adalah imbas kebijakan devaluasi rupiah pemerintah pada tahun 1978. Inflasi pada tahun 1983 disebabkan karena terjadinya peningkatan permintaan minyak (oil boom) yang mengakibatkan kenaikan harga minyak di pasaran internasional pada tahun 1981. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan pendapatan pemerintah hingga dua kali lipatnya yang mendorong terjadinya inflasi tinggi (Hicks, 1996). Tahun berikutnya pemerintah cenderung untuk mempertahankan sistem nilai tukar yang fleksibel. Untuk menjaga tingkat inflasi dibawah dua digit, pemerintah menerapkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan persediaan uang.

Pada pertengahan 1998, perekonomian Indonesia dilanda krisis ekonomi yang berat dan menyebabkan tingkat inflasi mencapai 84 %. Perekonomian Indonesia kemudian mengalami stagflasi dan krisis nilai tukar mempengaruhi semua aktivitas perekonomian. Ketergantungan pada bahan baku impor meningkatkan biaya produksi, meningkatkan harga dan dan menyulitkan situasi permintaan. Sebagai konsekuensi dari kondisi yang terjadi, pertumbuhan ekonomi yang terealisasi adalah sebesar 5,1 %, lebih rendah dari laju pertumbuhan rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 7,8 %.

Tingkat inflasi yang tinggi disebabkan oleh perkembangan situasi domestik dan eksternal. Inflasi domestik terjadi karena defisit anggaran negara sementara inflasi eksternal oleh kenaikan harga barang impor. Kenaikan harga barang impor disebabkan oleh depresiasi rupiah terhadap dollar. Hal ini meningkatkan biaya produksi dan menyebabkan terjadinya

cost-push inflation. Pada periode selanjutnya keadaan perekonomian

menunjukkan kondisi yang kurang menguntungkan karena tingkat inflasi cenderung naik diatas 2 digit. Pada tahun 2001 tingkat inflasi yang terjadi sebesar 12,55 %, dan pada tahun 2002 sebesar 10,03 %. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada tahun 2003 dengan perbaikan yang dilakukan

dalam berbagai bidang membuat tingkat inflasi berada pada level 5,06 %. (Munandar, 2004).

Tingkat Suku Bunga

Sejak 1981, tingkat suku bunga berfluktuasi dari 8,6% (terendah) pada tahun 1983 hingga 62,8% (tertinggi) pada tahun 1998. Secara umum, kecuali pada 1993 dan 1994, rentang tingkat suku bunga cenderung stabil antara 10% dan 20%. Meskipun demikian hal ini berubah secara drastis pada 1997 saat krisis yang tak terduga melanda perekonomian Indonesia. Tingkat suku bunga naik sangat cepat dan mencapai puncaknya pada 62,8% pada 1998, tapi pada akhirnya turun hingga 37,8%. Fluktuasi ini mempengaruhi kemampuan industri manufaktur untuk mengekspor produk mereka karena hal tersebut mempengaruhi biaya produksi komoditas mereka.

Selama krisis yang terjadi, Bank Indonesia menerapkan kebijakan untuk meningkatkan tingkat suku bunga untuk mempertahankan likuiditas persediaan uang akibat dari penarikan uang besar-besaran yang terjadi saat itu. Hal ini disusul dengan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh bank-bank swasta.

Tingkat suku bunga selama lima tahun terakhir dalam kurun waktu 1999-2003 menunjukkan kecenderungan yang menurun. Dengan semakin menurunnya tingkat suku bunga maka investor cenderung lebih memilih untuk melakukan investasi dibandingkan dengan menyimpan uang di bank. Disamping itu para pelaku bisnis atau industri dapat menambah permodalan mereka untuk mengembangkan usahanya dengan mengajukan kredit kepada bank.

Nilai Tukar

Nilai tukar di Indonesia secara umum berfluktuasi setiap tahunnya tetapi nilai tukar Indonesia mengalami kondisi yang parah pada penghujung tahun 1997. Pada 1998 nilai tukar rupiah mencapai rata-rata

sebesar 10.000 rupiah per US$. Nilai tukar pasar sebenarnya pada juni 1998 mencapai Rp 16.000.

Selama dua dekade terakhir, beberapa kebijaksanaan telah diterapkan untuk meningkatkan kondisi perekonomian Indonesia. Yang pertama adalah devaluasi rupiah yang terjadi pada 1986. Kebijakan ini dilakukan untuk menurunkan nilai dari komoditas ekspor, karena saaat tersebut Indonesia mengupayakan komoditas ekspor non-migas. Selanjutnya pemerintah menerapkan sistem nilai tukar fleksibel dengan intervensi. Ketika krisis terjadi pada 1997 akhir, pemerintah tidak memiliki cukup cadangan dollar untuk menstabilisasikan nilai tukar rupiah. Pada saat yang sama banyak pelaku bisnis membutuhkan banyak dollar untuk memenuhi kewajiban keuangan mereka. Semua hal ini memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kemampuan ekspor dari komoditas udang dan tuna.

Tingkat Upah

Tingkat upah di Indonesia bervariasi menurut daerah dan jenis industri. Daerah kota besar dan sekitarnya umumnya memiliki tingkat upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain yang lebih terpencil. Sebagai tambahan, jenis industri juga memiliki peran pada perbedaan tingkat upah tenaga kerja. Industri multinasional dan berskala besar memberikan upah yang lebih tinggi pada karyawannya dibanding dengan industri dengan skala menengah dan kecil. Selain itu upah untuk produksi produk sekunder atau olahan akan memiliki tingkat upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan upah untuk produksi produk primer. Selain itu tingkat keahlian juga menentukan besar upah yang akan diterima.

Gambar 16 menyajikan perkembangan tingkat upah rata-rata bagi pekerja di sektor makanan selama periode 1981-1997 cenderung stabil. Pada periode tersebut tingkat upah disektor makanan mengalami

peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata kenaikkan sebesar 0,81%. Memasuki tahun 1998 dimana krisis ekonomi melanda Indonesia, tingkat upah pekerja yang ada dirasakan sudah tidak mencukupi kebutuhan mereka.

Tingkat upah yang terjadi untuk sektor makanan pada tahun 1998 adalah sebesar Rp. 221.267. Tingkat upah tersebut mengalami peningkatan hingga tahun 2003 menjadi sebesar Rp 498.833. Rata-rata kenaikan per tahun sebesar 18,78%.

Perkembangan Tingkat Upah Rata-rata Pekerja Sektor Makanan

0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 1981 1983 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 Tahun (R p/ bu la n)

Tingkat Upah Pekerja Sumber : Biro Pusat Statistik tahun 1981-2003

Gambar 16.Tingkat upah rata-rata pekerja di sektor makanan

Dokumen terkait