• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi Dari Semua Dampak PT.Aquafarm Nusantara

DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH PT.AQUAFARM NUSANTARA PADA KEHIDUPAN MASYARAKAT AJIBATA SEKITAR DANAU TOBA

5.3 Solusi Dari Semua Dampak PT.Aquafarm Nusantara

Dari pihak Aquafarm menyatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk kontribusi PT. Aquafarm Nusantara terhadap masyarakat sekitar kawasan Danau Toba. Dengan demikian, maka hal ini membuat pendapatan petani keramba semakin berkurang. Para petani mengaku bahwa bukan hanya pangsa pasar yang turut mereka kuasai tapi untuk kepentingan adat juga turut mereka rampas.

5.3 Solusi Dari Semua Dampak PT.Aquafarm Nusantara

Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh PT.Aquafarm Nusantara terhadap perairan Danau Toba telah sampai ke tahap yang lebih serius lagi. Ditambah banyaknya peneliti yang datang ke perairan Danau Toba untuk melakukan riset menambah daftar panjang akan pengaduan masyarakat terhadap dampak negatif dari setiap perusahaan yang ada di kawasan Danau Toba, khususnya PT.Aquafarm Nusantara.

Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi utama wisata atau Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), termasuk di dalamnya Borobudur, Mandalika, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Wakatobi, Morotai, Tanjung Lesung dan Tanjung Kelayang. Yang akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya diperbaiki dan diawasi pengelolaannya oleh pemerintah guna mewujudkan menjadi daerah wisata unggulan lokal.

Apabila kita kilas balik kebelakang, mengurai kisah indah pariwisata Indonesia, maka hal tersebut sangat bertolak belakang dengan keadaan pariwisata yang sekarang. Mengutip tulisan dari Dimpos Manalu yang adalah seorang aktivis

58

KSPPM (Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat) sejak tahun 2000-2012 yang saat ini mengambil studi doktoral di Ilmu Politik, FISIPOL UGM. Beliau menuliskan bahwa kondisi pariwisata Danau Toba pernah mengalami masa-masa emas pada 1980-1990-an bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada masa orde baru yang mencapai 6-7% pertahun.40

Ketergantungan kepada pihak lain, termasuk kepada investor, baik dalam maupun luar negeri, masih cukup tinggi. Belajar dari pengalaman banyak daerah, termasuk Tobasa, dimana pembangunan yang diserahkan kepada pengelolaan investor asing hanya akan menguras kekayaan daerah saja, sementara yang tinggal

Pada 1980-an, Indonesia menikmati pendapatan besar dari bonanza minyak bumi. Pertumbuhan ekonomi negeri ini saat itu tergolong paling maju di kawasan Asia sehingga dijuluki “Asian Miracle” oleh Bank Dunia. Sejak pertengahan 1980-an, infrastruktur digalakkan: bendung1980-an, bandara, pelabuh1980-an, dan jalan-jalan antar provinsi dibangun dengan mulus. Sektor pariwisata dengan sendirinya terdongkrak, termasuk Danau Toba. Pada masa itu, Danau Toba menjadi destinasi wisata ketiga setelah Bali dan Borobudur.

Belakangan kita menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi Orde Baru itu semu karena didanai oleh utang luar negeri. Ketika krisis moneter 1997 menyerang kawasan Asia Tenggara, ekonomi kita pun ambruk. Sektor pariwisata pun terpukul sebab anggaran untuk membiayai insfrastruktur merosot drastis, bahkan terbengkalai.

40

Manalu, Dimpos. “Danau Toba, Apa yang Mau Dibangun?”. Medan: Prakarsa. 2016. hal.4.

59

dan dapat dinikmati masyarakat hanya remah-remahnya saja. Bahkan bukan tidak mungkin, bahwa yang tersisa nantinya hanyalah sampah, kerusakan dan berbagai konflik.

Untuk itulah, baik pemerintah maupun masyarakat setempat sangat rindu untuk menggalakkan kembali potensi wisata yang dulu pernah berjaya. Untuk itu perlunya adanya sebuah perubahan. Belakangan ada kesadaran bahwa paradigma dan konsep pembangunan harus dirubah, dimana pembangunan harus datang dari bawah, harus sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat, harus sesuai dengan potensi yang dimiliki desa/daerah, dan harus dikelola oleh masyarakat, harus memperhatikan aspek keberlanjutan, dan lainnya. Proses pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pada tahapan evaluasi sudah harus datang dari bawah atau bottom up. Metode top down, yang berlangsung selama ini, dimana segala sesuatu datangnya dari atas (pusat), minus peran serta partisipasi masyarakat, yang didukung dengan kebijakan pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi dinilai gagal.

Paradigma seperti ini mulai terlihat dalam UU Desa No.6/2014, dimana muncul konsep Desa Membangun, bukan lagi konsep Membangun Desa. Artinya, dalam mensejahterakan masyarakat desa dan mensukseskan pembangunan di desa, maka masyarakat atau desa tersebutlah yang harus berperan membangunnya. Bukan orang-orang atau pihak-pihak dari luar desa tersebut. Dalam hal ini akan berlangsung proses kemandirian di tengah masyarakat dan desa. Mandiri dan berdaulat secara ekonomi, budaya dan politik.

60

Ketika peneliti menanyakan harusnya solusi yang dikerjakan baik dari pemerintah maupun dari pihak Aquafarm, ibu Suryati Simanjuntak, SH sebagai Sekretaris Pelaksana dari KSPPM (Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat) mengungkapkan bahwa mereka melihat begitu banyaknya pengaduan masyarakat mengenai pengaruh negatif dari Aquafarm, jadi kami sangat setuju kalau Aquafarm di tutup mengingat bahwa memang sangat besar kontribusi perusahaan tersebut terhadap kerusakan lingkungan. Sebenarnya bukan hanya Aquafarm saja yang turut merusak, tetapi juga perusahaan-perusahaan seperti PT Japfa, PT TPL (Toba Pulp Lestari) dan perusahaan ternak babi yakni PT.Allegrindo Nusantara yang ada di Haranggaol yang sama-sama membuang limbahnya ke Danau Toba semakin menambah maraknya kerusakan ekositem yang ada di perairan Danau Toba.41

Namun pihak perusahaan juga tidak kalah pintar. Apabila ada pengawasan ataupun razia yang dilakukan oleh pihak pemerintah setempat maupun pemerintah pusat, maka mereka sebisa mungkin akan merapikan zona kerambanya seakan-akan

Ibu ini juga menambahkan bahwa alasan pihak LSM merekomendasikan supaya perusahaan tersebut ditutup adalah karena tidak ada yang bisa mengawasi secara rutin apa yang dikerjakan dan yang ditaburkan oleh pihak perusahaan ke Danau Toba, baik itu dari pihak pemerintah sipil maupun dari tim akademisi, apalagi masyarakat luar. Itu alasannya mengapa pihak Aquafarm bebas untuk melakukan apa saja terhadap kawasan Danau Toba khusunya memberi pakan yang berlebih yang menghasilkan zat kimia yang berbahaya.

41

61

tidak ada masalah. Tujuannya supaya terlihat baik-baik saja dan setiap program kerja mereka berjalan mulus tanpa hambatan.

Menanggapi pernyataan dari pihak Aquafarm yang menyatakan bahwa pihak mereka tidak menerima jikalau hanya mereka yang dituduh merusak ekosistem Danau Toba, ibu Suryati langsung menanggapi dengan tegas bahwa kalau masyarakat yang memakai air Danau Toba itu wajar, karena memang mereka tinggal dan menetap di kawasan Danau Toba. Lagipula seberapa besar sih kerusakan yang disebabkan oleh limbah rumah tangga, itu tidak ada apa-apanya dibanding sisa pakan yang memiliki zat kimia yang ditaburkan ke tengah Danau.

Dia juga menambahkan bahwa pernyataan dari pihak Aquafarm itu hanya sebagai pembelaan diri saja. Mengenai tambak masyarakat, beliau menuturkan bahwa yang memiliki keramba itu adalah penduduk lokal, jadi wajarlah mereka menggunakan Danau Toba untuk menopang kehidupan ekonomi mereka. Lagipula untuk kepemilikan keramba, masyarakat hanya memiliki tidak lebih dari 10 unit keramba dengan ukuran 3x5m. Itu jumlah yang sangat sedikit dibandingkan dengan kepemilikan keramba Aquafarm yang memiliki areal seluas 9,6 ha.

Adapun langkah-langkah yang sudah ditempuh dan dikerjakan oleh pihak KSPPM sebagai bentuk penolakan mereka terhadap setiap instansi yang merusak keindahan Danau Toba adalah :

a. Berusaha mendesak pemerintah untuk mengevaluasi program yang sudah ada terkait perizinan membuka usaha bagi perusahaan asing.

62

b. Pemerintah melakukan intervensi (peraturan) terhadap wilayah Danau Toba yang memiliki keramba.

c. Untuk masyarakat yang memiliki keramba, harus ada penataan terhadap keramba rakyat dan pemerintah harus melatih masyarakat untuk menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

Sementara dari pihak pemerintah, solusi yang sudah dilakukan dan sedang dijalankan dalam menangani permasalahan lingkungan Kawasan Danau Toba adalah : 1. Pemerintah menetapkan kawasan Danau Toba menjadi 10 Destinasi Wisata di

Indonesia dan menjadikannya ‘Monaco of Asia’. Itu artinya banyak sekali tugas-tugas pemerintah dalam hal memperbaiki sarana dan prasarana agar layak dijadikan tempat wisata unggulan. Langkah yang sudah dikerjakan pemerintah adalah pembangunan bandara Silangit, dan Bandar Udara Sibisa, pembangunan jalan tol dan pembangunan jalan yang rusak.

2. Pemprovsu akan mengembangkan budidaya ikan yang ramah lingkungan yakni ikan ihan dan ikan Pora-pora.

3. Penyediaan wilayah Danau Toba seluas 500 ha untuk ecotourism dan pembuatan Peraturan Presiden (Perpres) Badan Otorita Pariwisata Danau Toba serta menggencarkan promosi lengkap dengan sejarah terbentuknya Danau Toba. 4. Mengadakan rehabilitasi hutan. Dimana hutan disekitar kawasan Danau Toba

sudah banyak ditebang secara legal maupun ilegal. Tujuannya adalah untuk mengembalikan hutan alami dan penghijauan lingkungan. Juga tak lupa konservasi sumber daya air.

63

5. Untuk menangani keramba rakyat, pemerintah memberikan solusi berupa pemberian subsidi kepada masyarakat pemilik keramba untuk mengalihkan usahanya ke bidang usaha yang lain.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Panjaitan juga menambahkan pernyataan yang semakin menguatkan niat pemerintah untuk mewujudkan Danau Toba menjadi Kawasan Strategis Nasional untuk tujuan wisata. Beliau menegaskan bahwa semua KJA harus bisa ditertibkan, baik KJA milik rakyat maupun yang berbentuk perusahaan. Tidak ada satu KJA pun yang tidak bisa disentuh pemerintah sepanjang perusahaan tersebut melanggar aturan dan membuat ketidaknyamanan masyarakat. Hanya saja semuanya harus mengikuti proses dan butuh waktu yang tidak sebentar. 42

42

Harian Analisa, “Luhut Binsar Panjaitan, Menko Polhukam, Limbah Danau Toba Sudah

Luar Biasa” Selasa, 26 Juli 2016 hal. 1.

Luhut juga menambahkan bahwa sudah ada aksi penandatanganan yang dilakukan oleh tujuh Bupati dari tujuh kabupaten di Sumatera Utara, diantaranya adalah Bupati Tobasa, Bupati Karo, Bupati Humbahas, Bupati Taput, Bupati Dairi, Bupati Simalungun, dan Bupati Samosir. Beliau juga menuturkan bahwa pembangunan ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh pemerintah saja tetapi harus ada kerjasama dari masyarakat sekitar Kawasan Danau Toba. Apabila ada pihak-pihak yang memberikan uang sebagai suap, jangan ada masyarakat yang jatuh hati dan menerima uang tersebut. Jangan melacurkan diri untuk uang dari si pembuat limbah di Danau Toba.

64

Dia juga meminta dan menghimbau kepada tokoh masyarakat, pendeta, sintua untuk terlibat langsung dalam penataan Danau Toba, seperti mendidik keramahtamahan, kebersihan, persahabatan kepada masyarakat. Kalau itu dilakukan maka turis mancanegara bisa datang ke Danau Toba. Tetapi apabila penduduk Danau Toba tidak bisa dididik ramah tamah dan sebagainya, jangan salahkan pemerintah jika orang dari luar yang bekerja di Danau Toba.

Mengenai penutupan perusahaan Aquafarm, kontrak perusahaan tersebut masih berlaku sampai tahun 2029. Itu artinya sampai di tahun 2029, tidak akan ada rencana penutupan dari pihak pemerintah sampai batas waktu yang ditetapkan, yang ada hanya untuk zonasi (penetapan wilayah tertentu untuk digunakan sebagai area budidaya KJA).

Namun, impian masyarakat dan usaha pemerintah untuk menghidupkan kembali potensi wisata Danau Toba harus mengacu pada prinsip-prinsip keadilan dan penghargaan terhadap hak asasi manusia, yang dikenal dengan prinsip free prior and informed consent. Setelah terlebih dahulu memperoleh informasi yang jelas dan cukup. Kekuatiran ini bukan tanpa alasan, karena sebagian besar tanah di Danau Toba adalah tanah adat yang secara administratif belum memiliki sertifikat.43

Inilah masalah-masalah yang menjadi tantangan serius dalam pengembangan pariwisata Danau Toba, yang perlu diselesaikan satu-persatu di masa mendatang.

43 Op.cit., hal 7.

Free Prior and informed consent (Secara sederhana prinsip ini mensyaratkan penghargaan terhadap hak masyarakat untuk menyatakan sesuatu atau tidak pada sebuah proyek pembangunan di wilayah mereka).

65

Pemerintah dan pihak-pihak terkait diharapkan tidak hanya terpaku pada aspek-aspek infrastruktur, manajemen dan budaya di level permukaan, melainkan melalui pendekatan yang komprehensif dan holistik (meliputi banyak hal dan sesuai dengan budaya lokal).

66

BAB VI

KESIMPULAN

6.1. Kesimpulan

PT.Aquafarm Nusantara sudah mulai merintis usahanya di Indonesia sejak tahun 1988 tepatnya di Klaten, Jawa Tengah. Oleh karena menurunnya hasil tangkapan laut untuk jenis ikan berdaging putih (white fish) maka permintaan pasar internasional akan jenis ikan Nila merah meningkat secara signifikan. Perusahaan memanfaatkan kesempatan tersebut dan pada tahun 1998 mengembangkan usaha yang sama di provinsi Sumatera Utara tepatnya di tiga Kecamatan di kawasan Danau Toba, yaitu Kecamatan Simalungun, Tobasa dan Samosir. Ketiga lokasi ini dijadikan sebagai lokasi pembesaran ikan. Sementara untuk pembenihan dan pengolahan ikan berada di Desa Naga Kisar Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai.

Masuknya sebuah perusahaan di suatu daerah tentu berhubungan dengan pro dan kontra, ada pihak yang menerima dan ada juga pihak yang menolak. Respon masyarakatpun sangat beragam. Sikap pro masyarakat dapat terlihat dari banyaknya masyarakat Tobasa, Simalungan, dan Samosir yang bekerja pada perusahaan ikan yang berasal dari Swiss ini sekaligus menjadikan perusahaan menjadi lapangan pekerjaan yang produktif di Ajibata dan sekitarnya.

Disamping dampak positif, tentunya perusahaan juga memiliki dampak negatif. Masuknya perusahaan ini di kawasan Danau Toba membuat banyak

67

perubahan-perubahan yang terjadi yang diakibatkan oleh limbah perusahaan tersebut. Salah satunya adalah menurunnya kualitas air Danau Toba, karena penurunan kualitas air tentu berhubungan erat dengan potensi wisata yang mulai surut, ditambah lagi air yang biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga tak lagi higienis untuk dimanfaatkan. Jangankan untuk minum, untuk sekedar mandi dan berenang saja di Danau Toba badan sudah gatal-gatal. Aroma air yang mengeluarkan bau dan adanya binatang kecil seperti lintah yang ditemukan di kawasan pantai juga membuat kondisi Danau Toba semakin memprihatinkan dan dijauhi, khususnya oleh turis-turis.

Tak hanya kondisi air yang makin memburuk, kondisi infrastruktur berupa jalan raya yang semakin rusakpun semakin menambah maraknya pemberitaan negatif mengenai dampak dari perusahaan ini. Masyarakat mengeluh bahwa kondisi jalan yang makin parah tidak dipedulikan, pasalnya banyak sekali jalan-jalan di pasar yang bolong. Padahal yang memakai jalan adalah karyawan perusahaan ini untuk eksport-import hasil ikan dari dalam dan luar daerah dengan membawa beban yang banyak, dibanding dengan pengguna jalan lain.

Terlepas dari kondisi lingkungan, ekonomi masyarakat juga ikut tercekik, khususnya ekonomi para penjual ikan di pasar tradisional. Pasalnya mereka harus bersaing dengan orang dalam perusahaan Aquafarm yang mencuri ikan dan menjualnya dengan harga yang murah.

Kerusakan Danau Toba beberapa tahun belakangan ini menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Danau Toba yang merupakan salah satu danau terbesar di

68

Asia Tenggara ini, kini sedang sekarat. Paling tidak dalam 15 tahun belakangan ini, sektor wisata Danau Toba mengalami mati suri. Di samping karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998 yang lalu, belakangan diperparah dengan kondisi lingkungan yang dari waktu ke waktu semakin memburuk. Tentu hal ini membuat banyak orang menjadi gerah.

Sikap kontra masyarakat dapat terlihat dari adanya aksi yang dilakukan oleh masyarakat yang tujuannya untuk menyatakan penolakan mereka dan menutup perusahaan Aquafarm yang merusak keindahan danau. Tetapi mengenai penutupan perusahaan Aquafarm, sepertinya masyarakat harus lebih bersabar, pasalnya kontrak perusahaan tersebut masih berlaku sampai tahun 2029. Itu artinya sampai di tahun 2029, tidak akan ada rencana penutupan dari pihak pemerintah sampai batas waktu yang ditetapkan, yang ada hanya untuk zonasi (penetapan wilayah tertentu untuk digunakan sebagai area budidaya KJA).

6.2 Saran

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka penulis menyarankan kepada pihak PT.Aquafarm Nusantara agar pengolahan ikan air tawar berupa ikan nila merah dan Hitam yang pembudidayaannya menggunakan KJA supaya jumlah benih ikan yang dimasukkan ke dalam KJA sesuai dengan porsinya, artinya sesuai dengan jumlah daya tampung KJA.

1. Untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas air hendaknya PT.Aquafarm Nusantara menghindari pemupukan yang berlebihan, pemberian pakan yang tidak

69

sesuai, penebaran yang terlalu tinggi, serta pencegahan agar tidak terjadi pencemaran oleh bahan–bahan lain yang berbahaya. Karena sesungguhnya Danau Toba bukan hanya ingin dinikmati oleh kita saja tetapi akan terus kita wariskan ke anak cucu kita nanti.

2. Perlu adanya Perda yang sah untuk mengatur pengelolan budidaya ikan di Danau Toba agar lebih optimal lagi dalam mengatasi setiap permasalahan dengan masyarakat ataupun dengan lingkungan sekitar.

3. Dalam mengatasi segala permasalahan lingkungan, harapannya segala bentuk konstribusi maupun sumbangsih perusahaan yang telah diberikan terhadap lingkungan bukan hanya bersifat tentatif (apabila diperlukan) saja, namun ada baiknya kontribusi tersebut diprogramkan secara teratur dan kontiniu. Agar yang didapatkan perusahaan dari Danau Toba sebanding dengan usaha yang dilkukan dalam hal perbaikan lingkungan

4. Guna menghidupkan kembali pariwisata Danau Toba, tidak bisa dikerjakan dari satu pihak saja, namun butuh kerjasama dari semua kalangan. Untuk itu kepada masyarakat yang banyak menggantungkan hidupnya dari sektor wisata dan wiraswasta, baiknya masyarakat bersikap lebih ramah dan jujur dalam segala tindakannya, agar para wisatawan domestik maupun mancanegara bisa lebih percaya lagi terhadap orang-orang sekitar dan agar mereka tidak jemu-jemu untuk datang berkunjung ke daerah wisata Danau Toba.

5. Untuk para petani ikan, seharusnya diadakan sebuah program baik dari pemeritah yang bekerja sama dengan PT.Aquafarm Nusantara untuk mengajari petani dalam

70

menggunakan alat yang modern dan ramah lingkungan guna mengurangi kerusakan ekosistem di Danau Toba. Dan juga untuk menghindari konflik antara karyawan PT.Aquafarm Nusantara dengan petani dan penjual ikan maka disarankan supaya karyawan jangan lagi melakukan tindakan curang seperti mencuri ikan dari perusahaan dan menjualnya dipasar lokal dengan harga murah. Karena tindakan tersebut sangat merugikan petani dan penjual ikan.

14 BAB II

GAMBARAN UMUM KECAMATAN AJIBATA KABUPATEN TOBA

Dokumen terkait