• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

D. Sosial Budaya/ Agama Masyarakat Desa Sanrobone

Desa Sanrobone sangat dikenal dengan situs peninggalan sejarah kerajaan dan benteng Sanrobone dan berbagai tradisi kebudayaan lainnya yang masih berlansung sampai hari ini. Beberapa tradisi budaya tersebut antara lain, kegiatan untuk memulai acara panen raya (Appadekko), memperingati kelahiran nabi Muhammad (Maudu), tradisi untuk menolak segala bala, bencana ataupun malapetaka yang akan menimpa masyarakat (Songkabala), tradisi pembacaan naskah (kitta) Tulkiyamat ketika ada salah seorang anggota keluarga yang

meninggal, dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan warisan budaya dan kearifan lokal leluhur masyarakat Sanrobone yang merupakan kekayaan budaya dan modal sosial masyarakat.

Dalam era globalisasi yang terbuka ini, terpaan informasi sangat memungkinkan seseorang mengadopsi nilai-nilai, pengetahuan, dan kebiasaan luar lingkungan sosialnya dan jauh dari jangkauannya secara fisik. Globalisasi ini telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan nilai-nilai budaya global (modern) yang semakin tinggi intensitasnya. Sementara dipahami bahwa nilai-nilai modern tidak selalu membawa kebaikan bagi pengembangan nilai- nilai budaya lokal.

Pertukaran informasi termasuk nilai antarbangsa yang berlangsung dengan cepat dan penuh dinamika, mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahkan terkikisnya nilai-nilai asli yang sebelumnya sakral dan menjadi identitas suatu bangsa (Fukuyama dalam Suwardani, 2015). Ketika nilai-nilai globalisasi diagungagungkan oleh para pendukungnya, maka saat itu pula terjadi proses penggiringan nilai-nilai budaya tradisional masyarakat yang pada akhirnya mengakibatkan kegamangan nilai.

Kegamangan nilai yang dialami masyarakat dewasa ini terjadi karena sisi negatif modernisasi dengan lebih mengutamakan kemampuan akal, dengan memarginalkan peranan nilai-nilai transendental serta tunduk pada paham individua- lisme, materialisme, dan kapitalisme. Akibatnya, terjadi berbagai bentuk penyimpangan nilai moral yang tercermin dalam corak, gaya, dan pola hidup masyarakat. Fenomena menguatnya corak dan gaya hidup masyarakat yang

hedonis cukup mengkhawatirkan bagi pelestarian nilai-nilai lokal, dan memberikan dampak negatif terhadap jati diri orang Takalar, khususnya di Desa Sanrobone.

Padahal, masyarakat Sanrobone telah memiliki tradisi beberapa tradisi budaya seperti prosesi perayaan Maulid Nabi Muhammad, tradisi Songkabala, Appadekko, tradisi pembacaan Tulkiyamat dan lain lain. Keseluruhan tradisi tersebut menunjukkan nilai karakter terhadap Tuhan Yang Maha Esa, nilai-nilai karakter terhadap diri sendiri dan sesama, nilai-nilai-nilai-nilai karakter terkait dengan kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme sera nilai-nilai terkait dengan alam (Rudi Amir, 2017).

Gambaran di atas, menunjukkan bahwa ada landasan yang kuat dan segi-segi positip tentang kemampuan orang Sanrobone dengan kebudayaannya yang masih bersifat tradisional. Akan tetapi, dengan banyaknya pengaruh dan penetrasi budaya lain dengan membawa kultur mereka masing-masing, mulai menggoyahkan fondasi yang dibangun sejak awal. Dapat dikatakan bahwa masyarakat Sanrobone kini ada dalam pusaran ideologi modern akibat gelombang globalisasi. Tidak semua nilai-nilai budaya tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik karena terdesak oleh kuatnya arus modernisasi dan globalisasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat Sanbone tentang hakikat dan pentingnya peranan budaya lokal Sanrobone menyangkut adat, tradisi, dan nilai- nilai agama Islam yang menjiwainya. Akibatnya, banyak generasi muda Sanrobone yang melupakan tradisi dan adat Sanrobone yang telah dibangun berabad-abad lamanya oleh nenek moyang orang Sanrobone.

Masyarakat Sanrobone telah mengalami ―pergesekan budaya‖ yang datang dari timur dan barat, sehingga menimbulkan adanya perubahan-perubahan, namun pada hakekatnya perubahan yang ditimbulkan akibat pertemuan budaya tersebut belum begitu berarti, karena masyarakat Sanrobone masih bercorak kolektif, komunal dan ritualistik. Namun demikian, seiring dengan makin kuatnya terpaan konsumerisme dan materialisme, kini perilaku orang Sanrbone juga sudah menjadi semakin individualistis, asosial, bahkan menunjukkan sifat-sifat hedonis pada sebagaian masyarakat. Menghadapi kondisi ini menjadi sebuah keniscayaan bagi para orang tua, dan para pendidik formal lainnya mengangkat dan menggunakan nilai-nilai kearifan lokal Sanrobone sebagai rujukan dalam pendidikan guna membentuk karakter manusia dan masyarakat Sanrobone.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Pola Interaksi Sosial Masyarakat Sanrobone di Era Pandemic COVID-19 Interaksi sosial di era pandemic COVID-19 di Desa Sanrobone Kabupaten Takalar pada awal kota mengetahui akan adanya penyakit corona virus ini secara kontak sosial dan cara berkomunikasi kita berbeda, cara sudut pandang warga juga berbeda ada yang mempercayaii dan tidak percaya tentang corona virus ada. Di Desa Sanrobone dari awal sampai sekarang tidak ada yang terkena COVID-19 jadi warga tidak terlalu khawatir jika saling bertemu atau berinteraksi karean mereka tetap mengikuti protocol kesehatan yaitu memakai masker, menjaga jarak dan warga juga menyiapkan setiap rumah tempat cuci tangan dan sabun begitu juga dikantor-kantor yang ada di Desa Sanrobone juga di sekolah SD, SMP, sampai SMA mereka menyiapkan tempat cuci tangan dan sabun.

Namun masih ada masyarakat Desa Sanrobone yang tidak mematuhi protocol kesehatan.

a) Sub Pokok Bahasa merujuk Pada Topic-Topik Pertanyaan Wawancara

Berdasarkan hasil temuan observasi yang telah ditemukan penelitian terkait dalam tujuan peneliti melalui observasi ditemukan beragam informasi.

Adapun yang dilakukan sendiri oleh peneliti melihat bahwa masyarakat dalam melakukan interaksi sosial berupa kerjasama memanen Padi dan Jagung tanpa mematuhi protocol kesehatan. (Observasi 26 Oktober 2020).

47

Keesokan harinya peneliti melakukan kembali observasi karna peneliti penasaran kepada masyarakat yang tetap tidak mematuhi protocol kesehatan.

Akan tetapi Pemerinta Desa melakukan kerjasama sosialisasi agar sama-sama senang tiasa bekerjasama dalam berinteraksi mematuhi protocol kesehatan sehingga dalam melakukan interaksi terhindar dari COVID-19. Serta untuk menyadarkan warga keluar rumah untuk tetap memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sabun untuk pencegahan penyebaran COVID-19 dan juga petugas Puskesmas membagikan masker kepada masyarakat untuk dipakai apabila bepergian. (Observasi 28 Oktober 2020)

“Bekerja sama tapi adanya larangan sosial distancing tidak masalah karna saya bekerja sama hanya dengan keluarga saya sendiri istri, anak saya, sepupu dan teman dekat kerjasama dalam gotong royong dalam memenen padi tidak ada yang lain dan kita juga tidak berkerja sama dengan orang lain”

Hasil pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Dg. Tutu (Responden) dalam melakukan kerjasama semenjak adanya sosial distancing tetap melakukan kerja sama berupa gotong royong memanen padi bersama istri, anak, sepupu, dan teman dekat.

Pendapat senada yang dikemukakan Dg. Raju mengatakan bahwa :

“Saya bersama istri dalam melakukan gotong royong memanen padi dan bersama teman-teman serta anak saya, untuk bekerjasama.“ (Wawancara 28 Oktober 2020)

Dari hasil pemaparan Dg. Raju diatas dapat disimpulkan bahwa ditengah pandemic COVID-19 dg Raju dalam kerjasamanya berupa gotong royong bersama dengan Dg. Tutu serta dengan teman-temannya dan anaknya.

Sebagian Masyarakat Desa Sanrobone dalam melakukan interaksi sosial masih mengabaikan protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Selain itu berbeda halnya dengan masyarakat yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, mereka dalam melakukan interaksi sosial berupa kerja sama dalam melakukan sosialisasi yang kemudian dipertegas oleh informan:

Harianti mengatakan bahwa:

―Pertama itu kita punya tim pronkes (promosi kesehatan) setiap minggu turun keliling untuk mensosialisasikan covid-19 dan bekerjasama dilintas sektor dari kepala desa bahwa kita menghimbau memantau masyrakatnya untuk melakukan protokol kesehatan sperti menggunakan masker selalu mencuci tangan. (Wawancara 29 Oktober 2020)

Dari hasil pemaparan Ibu Harianti diatas dapat disimpulkan bahwa petugas Puskesmas dan Kepala Desa berkerja sama untuk mensosialisakan COVID-19 ke warga sekitar dan setiap minggu keliling mantau Masyarakat untuk tetap mematuhi protocol kesehatan agar tetap memakai masker dan mencuci tangan.

Hal yang tidak jauh berbeda yang dikemukakan oleh Patahuddin Karaeng Nyonri selaku Kepala Desa dengam mengemukakan bahwa :

“kami juga melakukan kerjasama dengan petugas puskesmas stempat mengenai tentang sosialisasi untuk melakukan protocol kesehatan untuk mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak” (Wawancara 30 Oktober 2020)

Dari hasil pemaparan Bapak Kepala Desa diatas dapat disimpulkan bahwa interaksi bekerjasama antara petugas puskesmas dan kepala desa, agar masyarakat dapat bekerja sama dalam melakukan protocol kesehatan

Guru yang dalam melakukan interaksi kerja sama yang ada di Desa Sanrobone yaitu Fatmawati

Di desa sanrobone Bagi mayoritas masyarakat, pandemic seperti covid-19 saat ini adalah sebatas kondisi darurat kesehatan. Namun, ada sebagaian masyarakat melihat pandemic ini dari sudut pandang yang berbeda ada yang percaya dan tidak percaya akan ada virus covid-19 ini.( Wawancara 30 November 2020 )

Masyarakat yang dalam melakukan interaksi kerja sama yang ada di Desa Sanrobone yang mana dikuatkan dengan hasil wawancara oleh peneliti

Di Desa Sanrobone mayoritas Masyarakat, pada masa pandemic seperti COVID-19 saat ini adalah sebatas kondisi darurat kesehatan.

Namun, ada sebagaian masyarakat melihat pandemic ini dari sudut pandang yang berbeda ada yang percaya dan tidak percaya akan ada virus COVID-19 ini. (Wawancara 1 November 2020)

Dari data wawancara di atas, begitu beragam persepsi atau sudut pandang masyarakat mengenai pendapat tentang situasi penyebaran COVID 19.Masyarakat tidak percaya

“Lumayan sih jadi lebih waspada kalau takut yah kayaknya tidak, karna di desa sanrobone tidak ada orang dari luar negri kita bicara luar kota saat tidak ada, jadi masih aman lah dan kita tinggal pasrah saja sama yang maha kuasa allah, ada tidak ada tergantung kita yang penting kita jaga kesehatan dan kebersihan rumah” (Wawancara 1 November 2020)

Berdasarkan hasil penelitian di lokasi terkait dengan tujuan peneliti melalui observasi berbagai ragam informasi. Adapun observasi yang dilakukan oleh peneliti di Desa Sanrobone dalam kerjasama yang dilakukan berupa sosialisasi antara Pemerinta Desa, Puskesmas maupun Masyarakat Desa Sanrobone agar sama-sama senantiasa bekerjasama dalam berinteraksi dalam mematuhi protocol kesehatan sehingga dalam melakukan interaksi terhindar dari COVID-19. Mensosialisasikan protocol kesehatan COVID-19 dikantor Desa.

Untuk menyadarkan warga yang keluar rumah untuk tetap memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan juga petugas puskesmas membagikan masker kepada warga untuk dipakai apabila bepergian keluar rumah. (Wawancara 2 November 2020).

Dengan adanya sosialisasi tersebut, sehingga masyarakat yang ada di Desa Sanrobone dalam melakukan interaksi berupa kerjasama dalam hal gotong royong memanen padi dan Jagung.

Dan juga adaptasi antara warga yang menerima adanya perintah sosial distansing ini Cuma sebagian masyarakat yang menerimanya dan bahwakan lebihbanyak yang tidak mempercayai adanya penyakit corona, virus ini walau sudah banyak berita-berita di Tv, media sosial dan pemberitahuan akan penyakit ini bisa mematikan. Walaupun hidup ditengah pandemic COVID-19, masyarakat tetap dapat hidup, beraktifitas, mencari nafkah, refreshing, beribadah, dan belajar dengan menerapkan kebiasaan baru.Yang kita butuhkan protocol kesehatan pecegahan. Itulah adaptasi kebiasaan baru yang dimaksud pemerintah untuk diterapkan ke masyarakat, instansi, dan pelaku usaha, dalam aktifitas sehari-hari.

(Observasi 4 November 2020).

Berdasarkan hasil temuan peneliti dilokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Hasil wawancara yang telah dilakukan sendiri oleh peneliti dilapangan, dengan Nipati

Nipati mengatakan bahwa :

“Proses pembelajaran disekolah selama masa pandemic covid-19 ada 2 proses proses pembelajaran luring dan daring. Sehingga ini guru-guru kamis beradaptasi dalam Proses pembelajaran luring itu bentuk pembelajaran yang tidak berhubungan dalam jaringan internet. Sedangkan proses pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan secara online menggunakan aplikasi”

(Wawancara 5 November 2020)

Dari hasil wawancara ibu Nipati dapat ditarik kesimpulan bahwa beradaptasi dalam proses pembelajaran luring dan daring, guru baru pertama kali melakukan kolaborasi antara daring dan luring karna adanya pandemic COVID-19.

Tak lain halnya dengan petugas puskesmas yang harus beradaptasi dengan harus memakai masker setiap melakukan pekerjaan yang kemudian dapat dipertegas oleh informan.

Hj. Sunggu mengatakan bahwa :

“Adaptasi kebiasaan memakai masker saat bekerja dipuskesmas diwajibkan karna untuk menghidari virus covid-19 dan itu sudah jadi aturan dari pemerintah dan mau tudak mau kita harus mematuhi apabila kita tidak mematuhinya kita akan dikenakan sanksi dan membayar”(Wawancara 6 November 2020)

Dari hasil pemaparan Hj. Sunggu disimpulkan bahwa adaptasi kebiasaan baru harus dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19, agar terhindar dari COVID-19 dan itu adalah peraturan dari pemerintah jika tidak mematuhi aturan tersebut maka masyaraka akan diberi sanksi dan membayar denda.

Peneliti melihat bahwa disekitar rumah Dg.Lau dengan adanya COVID 19 tersebut sehingga masyarakat yang dulunya melakukan interaksi social berjalan dengan biasa tanpa memakai masker, tetapi sekarang dengan adanya peraturan pemerintah yang mengharuskan dalam melakukan interaksi social baik individu dengan individu maupun individu daengan kelompok sehingga harus memakai masker. (Observasi 7 November 2020)

Peneliti semakin penasaran apakah benar hanya disekitar rumah Dg. Lau yang tidak memakai masker. Sehingga peneliti kembali melakukan observasi dengan melihat masyarakat yang sedang berobat di Puskesmas Desa Sanrobone

dan setelah peneliti melihat hal tersebut, Masyarakat yang dating berobat ternyata tetap mematuhi protocol kesehatan dengan memakai masker dan dan menjaga jarak dan pada saat sebelum memasuki Puskesmas diwajibkan mencuci tangan, hal tersebut menjadi kebudayaan atau kebiasaan baru. (Observasi 8 November 2020)

Berdasarkan hasil temuan peneliti dilokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Hasil wawancara yang telah dilakukan sendiri oleh peneliti dilapangan, dengan Dg. Taco

―untuk mengatasi atau mempertahankan usaha kecil atau hasil panen bisa lebih baik dalam pemasaran atau penjualan maka mereka memamfaatkan Internet dan Media Sosial pada masa pandemic Covid-19. Namun demikian penggunana teknologi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi”. (Wawancara Rabu Tanggal 9-11-2020) Dari hasil wawancara tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa dalam persaingan untuk mencari keuntungan dan mempertahankan usaha keci dan hasil panen pada masa pandemic dapat mereka memanfaatkan pasilitas Internet dan Media Sosial.

Berdasarkan hasil temuan peneliti dilokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Hasil wawancara yang telah dilakukan sendiri oleh peneliti dilapangan, dengan Dg. Tojeng

“Bapak Dg. Tojeng Mengatakan bahwa Beberapa masyarakat Desa Sanrobone yang peneliti Tanya hususnya tentang Peraturan Pemerintah mengenai PSBB, ada beberapa Masyarakat yang menolak dan tidak setuju dengan di berlakukannya PSBB, dikarenakan semua serba dibatasi dan jika mereka tinggal di rumah tanpa adanya aktifitas dan tidak bekerja dan maka

mereka tidak bisa menafkahi keluarganya ” (Wawancara 11 November 2020)

Dari hasil wawancara tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa masih ada beberapa masyarakat yang menolak atau tidak mematuhi peraturan yang telah dikeluarkan pemerintah pada masa pandemic kuhususnya peraturan mengenai PSBB.

2. Dampak Pmbatasan Interaksi Sosial pada masa pandemic COVID-19 di Desa Sanrobone Kabupaten Takalar

Sebagaimana telah diketahui, bahwasanya manusia merupakan makhluk sosial. Tentu dengan adanya wabah penyakit ini berdampak terhadap tatanan kehidupan sosial masyarakat, baik itu dampak positif maupun negatif.

Berdasarkan hasil temuan peneliti dilokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Hasil wawancara yang telah dilakukan sendiri oleh peneliti dilapangan, dengan Hartati

“Dengan adanya COVID 19 keluarga saya lebih dekat kami lebih sering bersama-sama, Anak-anak kami yang jauh di luar kota yang sudah lama merantau sudah bisa bersama lagi, hubungan keluarga kami lebih dekat.”(Wawancara 12 November 2020)

Beberapa orang masyarakat mengatakan hal demikian dengan adanya COVID 19 hubungan keluarga semakin dekat. Hal ini dapat dijadikan ajang mempererat hubungan keluarga yang dulu dipisahkan oleh jarak, aktivitas dan kegiatan lainnya yang membuat semua anggota keluarga sibuk dengan urusannya di luar rumah. Namun sekarang, dengan adanya wabah ini pemerintah menggalakkan aturan social dist ancing, seluruh keluarga diharuskan tinggal di rumahnya masing- masing dan dilarang aktivitas di luar rumah.

Banyak seorang Ibu/orang tua yang senang dengan berkumpulnya semua anggota keluarga. Anak-anak nya yang sekolah di luar kota, kerja di luar kota, dan suaminya yang kerja di luar kota pun harus pulang. Kursi meja makan penuh dengan orang-orang yang dicintainya, sofa keluarga yang biasanya kosong menjadi penuh dan penuh dengan canda tawa. Banyak hal lainnya yang membuat hubungan keluarga menjadi semakin erat dengan adanya wabah ini.

Kemudian, wabah ini pun berdampak positif terhadap kehidupan agama.

Banyak orang yang menyangka adanya wabah ini merupakan pertanda bahwasanya bumi ini semakin tua, kehidupan akan berakhir dan menyadari bahwa tidak ada yang abadi di bumi ini. Seperti halnya yang terjadi pada umat Islam yaitu banyak orang yang sebelumnya bolong-bolong dalam shalat menjadi rajin, yang dulunya shalat di rumah menjadi rajin berjamaah di masjid. Hubungan sang makhluk dengan Tuhan nya pun semakin dekat, banyak orang yang berdoa untuk memohon ampun, memohon keselamatan dari wabah penyakit ini. Tidak hanya umat Islam, umat agama lainpun berusaha berhubungan sedekat mungkin dengan Tuhannya.

Berdasarkan hasil temuan peneliti dilokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Hasil wawancara yang telah dilakukan sendiri oleh peneliti dilapangan, dengan beberapa kalangan masyarakat mengatakan bahwa dampak negatif dari adanya COVID-19 dalam kehidupan sosial yaitu sulitnya untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Sejak

digalakkannya aturan social dist ancing oleh pemerintah banyak orang yang susah bahkan tidak berinteraksi secara langsung dengan sesamanya.

Berikutnya yaitu, timbulnya rasa curiga dan hilangnya kepercayaan ditatanan kehidupan masyarakat. Hal ini dapat kita temui di pasar contohnya, para pembeli selalu dihantui dengan perasaan curiga bahwa penjual bisa saja terjangkit virus korona, kemudian barang yang dijualnya bisa saja tidak bersih, dan rasa tidak percaya lainnya. Sehingga jika hal ini terus berlangsung dan dirasakan oleh semua orang maka akan timbul kesenjangan sosial yang dapat menimbulkan ketidakkarmonisan hubungan sesama makhluk sosial.

Dampak negatif dari COVID-19 ini terhadap kehidupan sosial yaitu angka kriminal semakin meningkat. Bagaimana tidak, dengan adanya wabah ini banyak masyarakat yang dirumahkan di pekerjaannya, pedagang-pedagang di sekolahan bangkrut karena sekolah diliburkan dan pekerjaan lainnya. Hal ini dapat membuat masyarakat kekurangan pemasukan sedangkan pengeluaran besar. Maka timbul lah ide-ide kriminal agar ia dapat mempertahankan hidup. Seperti halnya yang terjadi di salah satu daerah, yang belakangan ini sering terjadi kejadian kriminal yaitu hilangnya motor, pencurian barang elektonik dan lain sebagainya.

Senada dengan yang di ungkapkan Hartono pada saat wawancara.

“Pada masa pandemic COVID 19 banyak meresahk an warga/masyarak at di k arenak an int erak si social di bat asi/dilarang, beberapa k ant or/perusahaan di liburk an dan k aryawannya dirumahkan sehingga k it a t idak bek erj a, lapangan k erj a berk urang dan pengangguran bert ambah.” (Wawancara 13 November 2020)

Selanjutnya yaitu, dampak negatif adanya COVID-19 dalam kehidupan Agama yaitu, pertama banyak umat bergama yang dilarang untuk beribadah di

tempat ibadahnya. Seperti yang terjadi di Agama Islam tentang larangan shalat jum’at di Masjid. Hal ini membuat muslim rindu dengan rumah Allah SWT., timbulnya perpecahan karena perbedaan golongan terhadap aturan ini. Hal ini tentu membuat kehidupan umat bergama terganggu.

Selain itu, di Agama Islam hal-hal sunnah terpaksa harus ditinggalkan untuk sementara waktu. Seperti larangan bersalaman, shalat jum’at berjamaah, perkumpulan pengajian dan yang lebih besarnya lagi yaitu penundaan pemberangkatan haji. Tidak hanya di Islam agama lain seperti Krtisten, Hindu, Budha dan sebagainya.

Setiap musibah pasti ada dampak positif dan negatif, termasuk covid 19 ini.

Tugas kita adalah bagaimana bersikap bijak dan dewasa terhadap dampak dari wabah ini. Mau itu dampak positif maupun dampak negatif, akan menjadi baik-baik saja jika dihadapi dengan kelapangan dada.

B. Pembahasan

Pola interaksi social pada masyarakat di Desa Sanrobone Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar pada masa pandemic COVID-19 berada pada intensitas sedang, dikarenakan masih lebih banyak masyarakat yang tidak percanya akan wabah penyakit virus COVID-19. Namun demikian masyarakat tetap memperhatikan protocol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan.

Hal yang sama yang dikemukan oleh Soekanto (2002 : 15) Interaksi tersebut lebih dominan di lihat apabila terjadi benturan antara kepentingan

perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak – pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak.

Berbeda dengan pendapat peneliti terdahulu, Masrul, leon A. Abdillah, Tasnim tahun 2020. Kata sosial distansing (pembatasan sosial) menjadi familiar ditengah masyarakat kita akhir-akhir ini. Melakukan sosial distancing diyakini oleh sebagian orang sebagai cara yang ampuh dalam mengurangi penyebaran wabah penyakit menular. Pandemic COVID-19 juga memberikan dampak sosial,

Berbeda dengan pendapat peneliti terdahulu, Masrul, leon A. Abdillah, Tasnim tahun 2020. Kata sosial distansing (pembatasan sosial) menjadi familiar ditengah masyarakat kita akhir-akhir ini. Melakukan sosial distancing diyakini oleh sebagian orang sebagai cara yang ampuh dalam mengurangi penyebaran wabah penyakit menular. Pandemic COVID-19 juga memberikan dampak sosial,

Dokumen terkait