• Tidak ada hasil yang ditemukan

2020 2021 2022 2023 2024 SP10 Terwujudnya sistem informasi industri yang berkualitas

SP10.1Data dan informasi sesuai dengan kebutuhan pengambil keputusan di lingkungan Ditjen IKFT

NA 3 3,1 3,12 3,15 3,18

DEFINISI/DESKRIPSI

Indikator Kinerja ini diharapkan mampu menggambarkan tingkat kesesuaian data dan informasi industri yang dimiliki Sekretariat Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil terhadap pemintaan data dan informasi dari pimpinan di lingkungan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil. Kuesioner berisi pertanyaan tentang tingkat keakuratan, kelengkapan dan kemudahan akses pimpinan dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan. Arti nilai skala

likert:

Indeks 0,0 - 1,0 : Sangat Tidak Setuju Indeks 1,1 - 2,0 : Tidak Setuju

Indeks 2,1 - 3,0 : Setuju

Indeks 3,1 - 4,0 : Sangat Setuju

SUMBER DATA

Hasil kuisioner dari Sekretariat Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil

CARA MENGHITUNG (FORMULA)

Pengukuran dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada Pimpinan (Eselon I, Eselon II, dan Eselon III) di lingkungan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil.

SATUAN KLASIFIKASI PENANGGUNG JAWAB DATA

2020 2021 2022 2023 2024 Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil

SP1 Meningkatnya Daya Saing

dan Kemandirian Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil

1. Perusahaan yang menerapkan standar industri

Perusahaan

2. Peningkatan Kapasitas produksi industri prioritas sektor Kimia, Farmasi , dan Tekstil

Persen

3. Utilisasi Industri Prioritas Sektor Kimia, Farmasi, dan Tekstil

Persen

4. Tenaga kerja dan calon tenaga kerja yang tersertifikasi kompetensi

Orang

5. Peningkatan Produktivitas tenaga kerja sektor industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil

Persen

6. Promosi Investasi yang dilakukan / Rasio biaya promosi investasi terhadap realiasi investasi yang dilakukan

Persen

TARGET SATUAN

SASARAN PROGRAM/

SASARAN KEGIATAN INTERMEDIATE OUTCOME OUTPUT

Output Pada Unit Kerja Eselon II

SP2 Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0 di Sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil

1. Nilai Ekspor Industri Prioritas Sektor Kimia, Farmasi, dan Tekstil

USD Juta

2. Perusahaan yang

melakukan transformasi IR 4.0

Perusahaan

3. Perusahaan Industri yang difasilitasi/didampingi/dibe rikan insentif (SDM,

Teknologi,

Manajemen/organisasi) dalam rangka penerapan industri 4.0

Perusahaan

4. Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil yang terbangun/ melakukan R&D/pengembangan produk berteknologi tinggi dan mampu memenuhi pasar ekspor

Perusahaan

SP3 Meningkatnya Kemampuan

Industri Dalam Negeri

1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (Rerata Tertimbang)

Output Pada Unit Kerja Eselon II

SP4 Meningkatnya Penguasaan

Pasar Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil

1. Industri yang terbangun yang berkontribusi pada peningkatan nilai tambah dan Peningkatan ekspor atau subtitusi impor

Perusahaan

2. Rasio impor bahan baku industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil terhadap PDB sektor industri non migas

Persen

3. Perusahaan yang mampu memenuhi standar industri dalam rangka memenuhi persyaratan ekspor

Perusahaan

Output Pada Unit Kerja Eselon II

Output Pada Unit Kerja Eselon II

4. Tingkat Keberhasilan promosi/fasilitasi ekspor yang dilakukan terhadap nilai ekspor

Persen

5. Industri yang mampu menjadi subtitusi impor

Perusahaan 6. Produk dalam negeri yang

digunakan pada pengadaan pemerintah

Persen

Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki

SK1 Meningkatnya daya saing

dan kemandirian industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki

1. Tenaga kerja sektor industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil yang tersertifikasi

kompetensi

Orang 0 2.000 2.000 2.000 2.000

2. Rasio Produktivitas SDM tersertifikasi terhadap Produktivitas tenaga kerja sektor industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil nasional

Persentase 20 20 20 20 20

3. Utilisasi Industri Prioritas Sektor Tekstil, Kulit dan Alas Kaki

Persen 60 65 67 70 75 Rekomendasi kebijakan

dalam rangka mendorong peningkatan daya saing industri tekstil, kulit dan alas kaki

4. Peningkatan Kapasitas produksi Sektor Tekstil, Kulit dan Alas Kaki

Persen 10 10 10 10 10 Rekomendasi kebijakan

dalam rangka mendorong iklim investasi industri tekstil, kulit dan alas kaki 5. Promosi Investasi yang

dilakukan / Rasio biaya promosi investasi terhadap realiasi investasi yang dilakukan

Persen 1 1 1 1 1 Branding Produk Garmen,

Fashion dan Alas Kaki Peningkatan Kemampuan SDM Industri

SK2 Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0 di sektor industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki

1. Perusahaan Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki yang melakukan

transformasi IR 4.0

Perusahaan 25 100 100 100 100 Perusahaan Restrukturisasi

Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki 2. Perusahaan Industri TPT yang difasilitasi/didampingi/dibe rikan insentif (SDM, Teknologi, Manajemen/organisasi) dalam rangka penerapan industri 4.0

Perusahaan 25 300 300 300 300 Perusahaan Restrukturisasi

Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki - Implementasi Making Indonesia 4.0

3. Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil yang terbangun/ melakukan R&D/pengembangan produk berteknologi tinggi dan mampu memenuhi pasar ekspor

Perusahaan 5 5 5 5 5 Implementasi Making

Indonesia 4.0

SK3 Meningkatnya kemampuan

industri dalam negeri

1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (Rerata Tertimbang)

Persen Peningkatan Nilai Tingkat

Kandungan Komponen Dalam Negeri (TKDN) Sub Sektor Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki

SK4 Meningkatnya Pangsa Pasar

Produk Sektor Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki

1. Perusahaan yang mampu memenuhi standar industri dalam rangka memenuhi persyaratan ekspor

Perusahaan 20 50 50 50 50 Rancangan Standar

Nasional Indonesia (RSNI) industri tekstil, kulit dan alas kaki

2. Tingkat Keberhasilan promosi/ fasilitasi ekspor yang dilakukan terhadap nilai ekspor

Persen

3. Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki yang terbangun yang berkontribusi pada peningkatan nilai tambah dan Peningkatan ekspor atau subtitusi impor

Perusahaan 1 5 5 5 5 Branding Produk Garmen,

4. Industri yang mampu menjadi subtitusi impor

Perusahaan 200 200 200 200 200

5. Produk dalam negeri yang digunakan pada pengadaan pemerintah

Persen 5 7 10 12 15

Direktorat Industri Kimia Hilir dan Farmasi

SK1 Meningkatnya daya saing

dan kemandirian Industri Kimia Hilir dan Farmasi

1. Perusahaan yang menerapkan standar Industri Kimia Hilir dan Farmasi

Perusahaan 3 312 312 312 312 Perusahaan industri kimia

hilir yang menerapkan standar mutu

Perusahaan Industri Obat, Kosmetik dan Obat

Tradisional yang memperoleh bimbingan teknis dan sertifikasi CPOTB, CPOB dan CPKB 2. Peningkatan Kapasitas

produksi Sektor Industri Prioritas Pada Sektor Kimia Hilir dan Farmasi

Persen 5 5 5 10 10 Rekomendasi kebijakan

dalam rangka mendorong iklim investasi industri kimia hilir

Perusahaan Industri Obat Tradisional yang

direvitalisasi 3. Utilisasi Industri Prioritas

Sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

Persen 60 65 65 70 75 Pilot Project Produk Karet

4. Tenaga kerja dan calon tenaga kerja yang tersertifikasi kompetensi sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

Orang 0 300 300 300 450 SDM Industri kimia hilir

yang disertifikasi

5. Peningkatan Produktivitas tenaga kerja sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi yang mengikuti Bimtek

Persen 5 5 5 10 10 SDM industri kimia hilir

SK2 Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0 di sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

1. Nilai Ekspor Industri Prioritas sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

USD Juta 7.060 7.620 8.430 9.470 10.800 Branding produk industri

kimia hilir

Rekomendasi kebijakan dalam rangka peningkatan daya saing dan

produktivitas industri kimia hilir

2. Perusahaan yang

melakukan transformasi IR 4.0 sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

Perusahaan 2 2 2 2 2 Pilot Project Industri 4.0 di

sektor industri kimia hilir

SK3 Meningkatnya kemampuan

industri dalam negeri

1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (Rerata Tertimbang)

Persen 35,8 36,9 39,1 40,3 42,6 Peningkatan Nilai Tingkat

Kandungan Komponen Dalam Negeri (TKDN) Sub Sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

SK4 Meningkatnya penguasaan

pasar sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

1. Industri yang terbangun yang berkontribusi pada peningkatan nilai tambah dan Peningkatan ekspor atau subtitusi impor sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi

Jenis Industri 0 2 2 2 2 Pembangunan Center Of

Excellent Produk Farmasi Berbahan Baku Alam

Pembangunan Center of Excellence Produk Kimia Hilir Lainnya berbasis minyak

2. Rasio impor bahan baku sektor Industri Kimia Hilir dan Farmasi terhadap PDB sektor industri non migas

Persen 2,07 2,06 2,04 2,02 1,99 Pilot Project Industri daur

ulang sampah plastik

Direktorat Industri Kimia Hulu

SK1 Meningkatnya daya saing

dan kemandirian sektor Industri Kimia Hulu

1. Perusahaan yang

menerapkan standar sektor Industri Kimia Hulu

Perusahaan 0 2 2 2 2 Perusahaan Industri Kimia

Hulu Yang Menerapkan Standar Mutu

2. Peningkatan Kapasitas produksi sektor Industri Kimia Hulu

Persen 2,5 3,5 4,5 6,0 7,0 Penumbuhan dan

Pengembangan Industri Garam Industri

Penumbuhan dan Pengembangan Industri Bahan Baku Obat Penumbuhan dan Pengembangan Industri Petrokimia

3. Utilisasi Industri Prioritas sektor Industri Kimia Hulu

Persen 60 65 75 82 85 Penumbuhan dan

Pengembangan Industri Garam Industri

Penumbuhan dan Pengembangan Industri Bahan Baku Obat Penumbuhan dan Pengembangan Industri Petrokimia

4. Tenaga kerja dan calon tenaga kerja yang tersertifikasi kompetensi sektor Industri Kimia Hulu

Orang 0 100 100 100 100

5. Peningkatan Produktivitas tenaga kerja sektor Industri Kimia Hulu yang mengikuti Bimtek

Persen 0 3 3 3 3

SK2 Penguatan Implementasi

Making Indonesia 4.0 di sektor Industri Kimia Hulu

1. Nilai Ekspor Industri Prioritas sektor Industri Kimia Hulu

USD Juta 0 5.662,0 6.290,5 6.991,9 7.900,9 Rekomendasi Kebijakan

Peningkatan Ekspor dan Pengendalian Impor Sektor Industri Kimia Hulu 2. Perusahaan yang

melakukan transformasi IR 4.0 sektor Industri Kimia Hulu

Perusahaan 0 1 1 1 1 Implementasi Making

Indonesia 4.0 Sektor Industri Kimia Hulu SDM Industri Kimia Hulu yang mengikuti Diklat

SK3 Meningkatnya kemampuan industri dalam negeri

1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (Rerata Tertimbang)

Persen 0 35 40 40 45 Peningkatan Nilai Tingkat

Kandungan Komponen Dalam Negeri (TKDN) Sub Sektor Industri Kimia Hulu

SK4 Meningkatnya penguasaan

pasar sektor Industri Kimia Hulu

1. Industri yang terbangun yang berkontribusi pada peningkatan nilai tambah dan Peningkatan ekspor atau subtitusi impor sektor Industri Kimia Hulu

Perusahaan 2 2 2 2 2 Fasilitasi Investor Dalam

Rangka Penumbuhan dan Pengembangan Industri Petrokimia di Teluk Bintuni

Penumbuhan dan Pengembangan Industri Garam Industri

Penumbuhan dan Pengembangan Industri Bahan Baku Obat Penumbuhan dan Pengembangan Industri Petrokimia

2. Rasio impor bahan baku sektor Industri Kimia Hulu terhadap PDB sektor industri non migas

Persen 0 12,7 12,4 12,0 11,6 Rekomendasi Kebijakan

Peningkatan Ekspor dan Pengendalian Impor Sektor Industri Kimia Hulu

Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

SK1 Meningkatnya daya saing

dan kemandirian sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

1. Perusahaan yang

menerapkan standar sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Perusahaan 4 4 4 4 4 SNI Wajib Industri Semen,

Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

2. Peningkatan Kapasitas produksi sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Persen 10 10 10 10 10 Rekomendasi Kebijakan

Dalam Rangka Mendorong Iklim Investasi Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

3. Utilisasi Industri Prioritas sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Persen 70 75 80 80 85 Rekomendasi Kebijakan

Dalam Rangka Mendorong Iklim Investasi Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

4. Tenaga kerja dan calon tenaga kerja yang tersertifikasi kompetensi sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Orang 0 100 100 100 100 Rancangan Standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) Industri Semen, Keramik,

Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

5. Peningkatan Produktivitas tenaga kerja sektor Industri Semen Keramik, dan

Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Persen 10 10 10 10 10 Rancangan Standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) Industri Semen, Keramik,

Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

SK2 Penguatan Implementasi

Making Indonesia 4.0 di sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

1. Nilai Ekspor Industri Prioritas sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

USD Juta 600 600 600 600 600 Rekomendasi Kebijakan

Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing dan

Produktifitas Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

2. Perusahaan yang

melakukan transformasi IR 4.0 sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Perusahaan 2 2 2 2 2 Rekomendasi Kebijakan

Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing dan

Produktifitas Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

SK3 Meningkatnya kemampuan

industri dalam negeri

1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (Rerata Tertimbang)

Persen 55 55 60 65 70 Peningkatan Nilai Tingkat

Kandungan Komponen Dalam Negeri (TKDN) Sub Sektor Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

SK4 Meningkatnya penguasaan pasar sektor Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

1. Industri yang terbangun yang berkontribusi pada peningkatan nilai tambah dan Peningkatan ekspor atau subtitusi impor sektor Industri Semen Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Perusahaan 1 1 1 1 1 Rekomendasi Kebijakan

Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing dan

Produktifitas Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

2. Kontribusi PDB sektor Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam terhadap PDB Nasional

Persen 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 Rekomendasi Kebijakan

Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing dan

Produktifitas Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

NO PROGRAM TERAKOMODIR UNIT KERJAESELON II 1. Peningkatan nilai tambah sumber

daya energi dan sumber energi sebagai bahan bakar serta bahan baku industri nasional

1. Meningkatkan kapasitas industri kimia dasar berbasis migas dan batubara untuk peningkatan nilai tambah dan substitusi impor

1. Fasilitasi penumbuhan dan pengembangan industri kimia dasar berbasis aromatis yang menunjang bahan baku API (active pharmaceutical ingredient)

2020 - 2022 Dit. IKHU

2. Fasilitasi penumbuhan dan pengembangan industri bahan baku obat melalui sintesa kimia

2020 - 2023 Dit. IKHU

3. Fasilitasi pembangunan pabrik

petrokimia di Cilegon, Banten 2020 - 2024 Dit. IKHU 4. Fasilitasi pembangunan pabrik

petrokimia di Balongan, Jawa Barat

2020 - 2025 Dit. IKHU

5. Fasilitasi pembangunan pabrik

petrokimia di Tuban, Jawa Timur 2020 - 2025 Dit. IKHU 6. Fasilitasi pembangunan pabrik

gasifikasi batubara di Sumatera Selatan

2020 - 2025 Dit. IKHU

7. Pilot Project Daur Ulang Plastik 2020 - 2024 Dit. IKHF 2. Pengembangan kebijakan

pemanfaatan sumber energi sinar matahari untuk ketenagalistrikan dan non ketenagalistrikan

5. Memfasilitasi pendirian industri

hulu hilir PLTS 2024 Dit. ISKPBGN

KEGIATAN/INSTRUMEN

KEBIJAKAN/PERIODE KEGIATAN/AKTIVITAS DALAMRENSTRA

Pengembangan komponen pembangkit listrik tenaga surya

NO PROGRAM KEBIJAKAN/PERIODE RENSTRA TERAKOMODIR ESELON II 3. Optimalisasi penggunaan gas

untuk industri, ketenagalistrikan, rumah tangga dan transportasi yang memiliki nilai tambah paling tinggi 

9. Membangun dan meningkatkan kapasitas industri Petrokimia Hulu berbahan baku gas untuk

menyerap produksi gas dalam negeri

2020 - 2024 Dit. IKHU

10. Khusus untuk Teluk Bintuni segera dibangun industri

petrokimia hulu untuk menyerap produksi gas Tangguh

2020 - 2021 Dit. IKHU

4. Penyediaan pasokan batubara untuk pembangkit listrik dan industri

11. Meningkatkan pemanfaatan batubara untuk sektor industri dengan target mencapai 55,2 juta ton pada tahun 2025 dan 115 juta ton pada tahun 2050

2020 - 2024 Dit. IKHU

5. 19. 1. Fasilitasi modernisasi mesin dan

peralatan industri farmasi (termasuk obat tradisional)

2020, 2022,

2023, 2024 Dit. IKHF 2 Pemberian insentif & melakukan

restrukturisasi permesinan industri tekstil, kulit dan alas kaki di dalam negeri dalam rangka peningkatan teknologi,

produktivitas, efisiensi energi dan penerapan standar industri hijau

2021 - 2024 Dit. ITKAK Fasilitasi Investor Dalam Rangka

Penumbuhan dan Pengembangan Industri Petrokimia di Teluk Bintuni

Pemanfaatan skema pembiayaan melalui KPBU untuk pembangunan kawasan industri petrokimia

Peningkatan efisiensi penggunaan energi dan mendorong inovasi serta pemanfaatan teknologi yang lebih efisien

Melakukan restrukturisasi permesinan industri dan

pemberian fasilitas insentif (fiskal dan nonfiskal bagi industri yang melaksanakan efisiensi energi)

Mendorong pembangunan industri coal to chemical dan integrasi hulu-hilir industri coal to chemical

NO PROGRAM KEBIJAKAN/PERIODE RENSTRA TERAKOMODIR ESELON II 6. Peningkatan pemanfaatan

batubara kualitas rendah untuk pembangkit listrik tenaga uap mulut tambang, batubara tergaskan (gasified coal) dan batubara tercairkan (liquified coal)

31. Menyusun rencana pengembangan industri komponen/peralatan instalasi PLTGB

2019 Dit. IKHU

32. Mengembangkan penerapan konversi batubara pada industri petrokimia untuk menghasilkan produk olefin dan ammonia

2020 - 2021 Dit. IKHU

33. Mengembangkan industri gasifikasi batubara sebagai bahan baku industri petrokimia dan industri pupuk

2020 - 2024 Dit. IKHU

7. Pengurangan dan penggunaan kembali produksi limbah, serta mengekstrak unsur yang masih bisa dimanfaatkan

34. Memanfaatkan limbah produk energi secara berkelanjutan (fly ash, bottom ash)

2023 Dit. ISKPBGN

8. Peningkatan kemampuan industri

energi dan jasa energi dalam negeri 41. Memfasilitasi (skema public,private partnership) pembangunan industri manufaktur penunjang industri energi dan jasa energi dalam negeri

2020 - 2021 Dit. IKHU Mendorong pembangunan industri coal

to chemical dan integrasi hulu-hilir industri coal to chemical

Memanfaatkan limbah produk energi secara berkelanjutan (fly ash, bottom ash)

Pemanfaatan skema pembiayaan melalui KPBU untuk pembangunan kawasan industri petrokimia

Head of Agreement (HoA) antara PT. Bukit Asam, PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina dan PT. Chandra Asri, yang akan mengembangkan industri

methanol to olefin, methanol to Dimetyl Eter dan ammonia to urea.

Meningkatkan kapasitas produksi pengolahan nafta & bahan kimia dasar (olefin & aromatik)