HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Spesifikasi dan Standar Teknis Jalan Hutan
Jenis jalan hutan yang berada di PT. Inhutani I UMH Sambarata terdiri atas jalan koridor, jalan utama, jalan cabang, dan jalan sarad. Jalan koridor adalah jalan yang menghubungkan antara batas areal hutan PT. Inhutani I UMH Sambarata dengan logpond. Jalan koridor di hutan Sambarata disajikan pada Gambar 4.
(a) Jalan koridor di Km. 3 (b) Jalan koridor di Km. 44
Gambar 4 Jalan koridor di Km. 3 (a) dan jalan koridor di Km. 44 hutan Sambarata (b).
Jalan yang menghubungkan antara blok tebangan di setiap RKT atau jalan yang menghubungkan blok tebangan dengan camp induk yang berada di Km 51, dan jalan yang menghubungkan antar petak tebang satu dengan petak tebang yang lain dikenal dengan istilah jalan utama. Beberapa kondisi jalan utama milik PT. Inhutani I UMH Sambarata dapat dilihat pada Gambar 5.
(a) Jalan utama yang menghubungkan camp induk Km. 51 dengan blok tebangan RKT 2011.
(b) Jalan utama di dalam blok tebangan RKT 2011.
Gambar 5 Jalan utama yang menghubungkan camp induk Km. 51 dengan blok tebangan RKT 2011 (a) dan jalan utama di dalam blok tebangan RKT 2011 (b).
Jalan cabang merupakan jalan yang menghubungkan antara jalan utama yang berada di dalam blok tebangan dengan jalan sarad atau jalan utama yang berada di dalam blok tebangan dengan TPn yang berada di dalam petak tebangan. Gambar 6 merupakan jalan cabang yang berada di petak 218 di dalam blok tebangan RKT 2011 PT. Inhutani I UMH Sambarata.
Gambar 6 Jalan cabang di petak 218.
Jalan sarad adalah jalan yang menghubungkan antara satu pohon dengan TPn hutan. Kondisi jalan sarad dapat dilihat pada Gambar 7.
Panjang jalan utama yang berada di dalam blok tebangan RKT 2011 diukur di lapangan adalah sebesar 16135,40 m dengan jarak datarnya adalah sebesar 15323,14 m. Pada jalan utama dilakukan pengukuran atau helling secara manual sepanjang 934 m. Berdasarkan hasil pengukuran secara manual yang dicantumkan pada lampiran 1 diperoleh tanjakan maksimum sebesar 18% atau 8,10, sedangkan tanjakan minimum sebesar 5% atau 2,250. Berdasarkan Dephut (2000) tentang Prinsip dan praktik pemanenan hutan di Indonesia, tanjakan maksimum yang diperbolehkan untuk jalan utama adalah sebesar 10%. Terlihat bahwa tanjakan maksimum PT. Inhutani I UMH Sambarata lebih besar jika dibandingkan dengan ketentuan dari Dephut (2000).
Panjang jalan cabang jika diukur di lapangan adalah sebesar 18348,0 m, dengan jarak datar sebesar 17985,25 m. Pengukuran secara manual dengan metode helling juga dilakukan pada jalan cabang a-a1 yang melewati petak 204 sepanjang 603 m. Berdasarkan hasil pengukuran secara manual yang terlampir pada lampiran 2 diperoleh tanjakan maksimum sebesar 26,67% atau 120 dan tanjakan minimum sebesar 11,11% atau 50. Selain itu, terdapat turunan sebesar 4,44% atau 20. Tanjakan maksimum pada jalan cabang yang diijinkan oleh Dephut (2000) adalah sebesar 15%. Jika dibandingkan dengan ketentuan Dephut (2000), PT. Inhutani I UMH Sambarata masih mempunyai tanjakan maksimum yang lebih besar. Pada jalan sarad terdapat tanjakan maksimum hampir 40%.
Pembukaan jalan dilakukan dengan menggunakan Bulldozer Komatsu tipe D85E-SS-2 dengan alat bantu GPS, peta, dan kompas dengan arahan dari pihak perencanaan. Perencanaan jalan mengikuti tanda merah pada pohon yang sudah direncanakan/ dibuat oleh tim perencanaan. Pelaksanaan pembuatan jalan di lapangan tidak boleh menyimpang sampai 150 m dari jalan yang sudah dipetakan pada saat melakukan perencanaan. Penandaan jalan cabang dibuat dengan tanda warna merah (cat merah) berbentuk lingkaran digaris bawahi. Tanda ini dibuat di pohon yang terkena jalan.
Umumnya badan jalan hutan terbuat dari tanah setempat tanpa perlakukan khusus kecuali sedikit pemadatan. Usaha pemadatan ini biasanya hanya pada bagian jalan yang diurug atau badan jalan (Tinambunan & Suparto 1999). Jalan hutan PT. Inhutani I UMH Sambarata tidak dilakukan pengerasan permanen dan
tidak dibuat selokan dengan alasan biaya pembuatan jalan akan menjadi tinggi, tetapi jalan hutan PT. Inhutani I UMH Sambarata sudah dibuat dengan model punggung penyu. Hasil pengukuran jalur kendaraan/ jalur mengerasan jalan, bahu jalan, dan tebang matahari pada jalan utama dan jalan cabang yang berada di dalam blok tebangan RKT 2011 disajikan pada Tabel 10 dan Tabel 11.
Tabel 10 Hasil pengukuran badan jalan utama di dalam blok tebangan RKT 2011 Rata-rata Akhir Awal (A) Uraian - 0521516 0272003 0520946 0271410 Koordinat 7,05 6,20 7,90 Jalur Pengerasan (m) 2,50 3,00 2,00 Bahu Jalan (m) 26,50 30,00 23,00 Tebang Matahari (m) *
Keterangan * = Total lebar tebang matahari di sebelah kanan dan kiri jalan utama
Tabel 11 Hasil pengukuran badan jalan cabang a-a1 di dalam blok tebangan RKT 2011 Rata-rata Akhir Awal (A) Uraian - 0522170 0271092 0522507 0271441 Koordinat 4,15 4 4,3 Jalur Pengerasan (m) 2,15 2 2,3 Bahu Jalan (m) 23,00 28 18,0 * Tebang Matahari (m)
Keterangan * = Total lebar tebang matahari di sebelah kanan dan kiri jalan cabang
Berdasarkan hasil yang diperoleh dengan melakukan pengukuran langsung pada jalan utama di dalam blok tebangan RKT 2011, yang disajikan pada Tabel 10 diperoleh rata-rata lebar jalur pengerasan, bahu jalan, dan tebang matahari berturut-turut adalah sebesar 7,05 m, 2,5 m, dan 26,5 m. Lebar jalur pengerasan yang telah dibuat oleh PT. Inhutani I UMH Sambarata sesuai dengan ketentuan Dephut tentang petunjuk teknis Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) tahun 1993 yaitu antara 6 sampai dengan 8 m, tetapi bahu jalan yang dibuat masih kurang lebar daripada Pedoman TPTI adalah sebesar 4 m.
Hasil dari pengukuran langsung pada jalan cabang a-a1 yang disajikan pada Tabel 11 diperoleh rata-rata lebar jalur pengerasan, bahu jalan, dan tebang matahari, berturut-turut adalah sebesar 4,15 m, 2,15 m, dan 23 m. Lebar jalur pengerasan yang telah dibuat oleh PT. Inhutani I UMH Sambarata sesuai dengan ketentuan Dephut (1993) adalah sebesar 4 m, tetapi bahu jalan yang dibuat masih kurang lebar jika dibandingkan dengan petunjuk teknis TPTI yang sebesar 4 m.
Tebang matahari yang dibuat oleh PT. Inhutani I UMH Sambarata pada jalan utama dan jalan cabang a-a1 berturut-turut adalah sebesar 26,5 m dan 23 m. Tebang matahari di PT. Inhutani I UMH Sambarata sudah sesuai dengan ketentuan yaitu antara 20-30 m. Tujuan dari pembuatan tebang matahari adalah untuk mempercepat proses pengeringan jalan jika kondisi jalan basah. Jalan yang akan atau telah dibuat sebaiknya mengarah dari utara ke selatan agar jalan selalu terkena sinar matahari secara langsung. Panjang dan lebar jalan sarad tergantung dari posisi pohon yang disarad sampai ke TPn hutan. Pembuatan jalan sarad langsung dilakukan bersamaan dengan penyaradan kayu. Alat yang digunakan yaitu Bulldozer Komatsu D85E-SS-2.
Hasil pengukuran belokan diperoleh jari-jari belokan pada jalan utama di dalam blok tebangan RKT 2011 berturut-turut adalah sebesar 30 m, 32,99 m, 49,5 m. Hasil pengukuran belokan pada jalan cabang a-a1 PT. Inhutani I UMH Sambarata berturut-turut adalah sebesar 33,98 m, 64,51 m, dan 33 m. Berdasarkan Prosedur Operasi Standar Pembukaan Wilayah Hutan PT. Inhutani I UMH Sambarata, besarnya jari-jari belokan jika dihubungkan dengan kecepatan kendaraanlogging truck dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Jari-jari belokan berhubungan jarak pandang dan kecepatan kendaraan
Uraian Desain Kecepatan (Km/jam)
30 50 80
Jari-jari minimum (memerlukan rambu-rambu) (m)
25 30 55
Jari-jari belokan minimum yang disukai (m) 35 75 140 Jarak pandang minimum yang diperlukan (m) 30 64 120
Jarak temu pandang (m) 50 100 220
` Kecepatan rata-rata kendaran logging truck mercedes benz tipe MB 3836 AK, jika pada kondisi mengangkut kayu dari blok tebangan (TPn) RKT 2011 menuju Km. 51 (TPK hutan) sekitar 20-40 Km/jam (rata-rata kecepatannya 30 Km/jam), maka jari-jari belokan yang seharusnya dibuat oleh PT. Inhutani I UMH Sambarata jika mengikuti persyaratan dari Prosedur Operasi Standar adalah sebesar 35 m, maka dapat disimpulkan bahwa jari-jari belokan yang telah dibuat sudah cukup baik.