A. Manajemen Publik Berbasis
Kinerja
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah melahirlah local government
(pemerintah daerah) diberi kewenangan untuk lebih mengharmoniskan dan menyelaraskan pembangunan baik pembangunan nasional, pembangunan daerah maupun pembangunan antar daerah. Dalam rangka Otonomi Daerah, undang-undang tersebut memberikan konsekuansi penerapan konsep Good Governance dan Sound Governance yang harus dipegang oleh pemerintah daerah.
Merujuk pada UU 32/2004, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, Pemerintah Daerah diharuskan untuk melaksanakan evaluasi dari pelaksanaan rencana pembangunan daerah. Rencana pembangunan daerah tersebut meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Berdasarkan PP tersebut, evaluasi dilakukan melalui indikator kerja. Pelaksanaan PP tersebut lebih lanjut diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010.
Sejalan dengan hal tersebut, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, mengharuskan pemerintah daerah melakukan kegiatan yang dilakukan peningkatan pelayanan publik sesuai dengan standar pelayanan sebagai tolok ukur yang dipergunakan dalam pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.
Dikeluarkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan untuk lebih memfokuskan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan, dan untuk berkesinambungan serta penajaman prioritas pembangunan nasional. Merujuk pada Inpres tersebut dilakukan rapat koordinasi dan sosialisasi rencana aksi daerah oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Pelaksanaan Evaluasi Prioritas Pembangunan Jawa Timur (UKG-P3D) serta Percepatan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Merujuk pada hal tersebut, dalam rangka sinergi pemerintah pusat dan daerah, adanya pemantauan program oleh pemerintah daerah.
Berdasarkan peraturan perundang-undangan tersebut pemerintah daerah diharuskan untuk
memiliki akuntabilitas. Akuntabilitas adalah
kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/ badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berwenang untuk meminta pertanggungjawaban. Prinsip akuntabilitas harus dimiliki oleh seluruh organisasi pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Akuntabilitas bermakna pertanggungjawaban dengan menciptakan pengawasan melalui distribusi kekuasaan pada berbagai lembaga pemerintah sehingga mengurangi penumpukkan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling mengawasi (checks and balances system).
Akuntabilitas publik adalah prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan
pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak-pihak yang terkena dampak penerapan kebijakan. akuntabilitas berhubungan dengan kewajiban dari institusi pemerintahan maupun para aparat yang bekerja di dalamnya untuk membuat kebijakan maupun melakukan aksi yang sesuai dengan nilai yang berlaku maupun kebutuhan masyarakat. Akuntabilitas publik menuntut adanya pembatasan
tugas yang jelas dan eisien dari para aparat
birokrasi. Prinsip akuntabilitas publik adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para stakeholders yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut.
Prinsip akuntabilitas mengharuskan lembaga- lembaga dan aparaturnya harus dapat mempertanggungjawabkan pelaksanaan
kewenangan yang diberikan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Demikian juga dengan program dan layanan yang menjadi tugas dan fungsi dari lembaga-lembaga serta aparatur tersebut. Melalui penerapan prinsip ini, suatu proses pengambilan keputusan atau kinerja dapat dimonitor, dinilai dan dikritisi. Pelaksanaan prinsip akuntabilias dapat menjadi sebuah alat pengendali sekaligus bahan evaluasi.
Manajemen berbasis kinerja adalah sebuah proses dan siklus perencanaan, pengukuran, penilaian dan evaluasi kinerja pegawai yang berkesinambungan untuk mewujudkan tujuan organisasi serta mengoptimalkan potensi diri aparat. Manajemen berbasis kinerja merupakan manajemen yang mengandalkan pengendalian organisasi pada pengukuran (angka) kinerja. Setiap unit, fungsi, bahkan individu dalam organisasi diberikan target- target kinerja terukur sebagai pedoman kemana organisasi itu harus diarahkan. Tentu saja ukuran- ukuran atau target-target kinerja itu harus ditata sedemikian rupa dalam suatu sistematika atau metode tertentu sesuai dengan proses, masalah, dan tujuan organisasi itu, sehingga ketika target unit/ individu/fungsi tercapai, maka tercapailah tujuan organisasi. Manajemen berbasis kinerja terbukti
mampu meningkatkan mutu, produktivitas, eisiensi
dan efektivitas pelayanan publik mereka secara nyata. Manajemen ini memungkinkan inovasi aparaturnya berkembang dan terbukti dapat mengubah perilaku organisasi pemerintah secara cepat.
Penilaian Kinerja merupakan mekanisme pengukuran kinerja yang dirancang untuk mengukur tingkat tujuan yang telah dicapai, kepuasan komunitas atau pemangku kepentingan (stakeholder), kinerja pelayanan, perbandingan antar instansi, dan penentuan insentif dan evaluasi organisasi secara keseluruhan. Penilaian kinerja adalah proses untuk mengukur prestasi kerja berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, dengan cara membandingkan sasaran (hasil kerjanya) dengan persyaratan deskripsi pekerjaan yaitu standar pekerjaan yang telah ditetapkan selama periode tertentu. Penilaian merupakan suatu prestasi yang dicapai dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya, sesuai dengan standar kriteria yang ditetapkan. Penetapan sasaran yang jelas dan terukur, pengukuran kinerja, dan skema insentif merupakan elemen penting manajemen kinerja yang diharapkan dapat mendorong instansi pemerintah daerah untuk berkinerja lebih baik (Verbeeten, 2008; Heinrich, 2002; Kloot, 1999). Dengan penilaian kinerja maka dapat dilakukan evaluasi kinerja untuk meningkatkan prestasi kerja.
B. SPM: Dasar Teori, Pengertian,
Manfaat dan Dasar Hukum
Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan alat yang paling mungkin digunakan untuk mengukur kinerja terkait dengan pelayanan dasar minimal yang harus disediakan pemerintah daerah kepada
masyarakat dalam menjalankan urusan wajib. Dalam melaksanakan pencapaian SPM ini pemerintah daerah seharusnya menentukan jenis pelayanan dasar yang menjadi urusan wajibnya, menentukan indikator dan nilai capaian, batas waktu pencapaian, dan pengorganisasian terhadap penyelenggaraan pelayanan dasar dimaksud. Selain itu juga harus menentukan capaian prestasi SPM secara kuantitatif dan kualitatif yang bisa menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi, berupa input,
process, output, outcome, dan beneit serta impact
dari pelayanan.
Pada sisi teoritik, ditetapkanya SPM tidak
terlepas dari konsep dasar manajemen publik dan perencanaan stratejik. Manajemen publik selain mencakup administrasi, juga melibatkan organisasi
untuk mencapai tujuan dengan eisiensi maksimum,
serta tanggung jawab terhadap hasil (output) dan dampak (outcome). Oleh karenanya perumusan dan pelaskanaan program pemerintah daerah harus berfokus pada proses, prosedur dan ketepatan. Pemerintah daerah harus fokus pada mencapai hasil dan bertanggung jawab untuk melakukannya. Sabatier dan Mazmanian dalam Parsons (2006:475), menawarkan pedoman untuk pemerintah agar dapat memahami bagaimana mencapai tujuan kebijakan dirumuskan sedangkan untuk siklus kebijakan yang berbasis pada kinerja dan outcome William Dunn memberi tekanan pada penilaian dampak yang secara teoritik menjadi dasar bagi ditetapkannya SPM di Indonesia, sebagimana tertuang dalam ilustrasi sebagai berikut: