BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Kemih
2.3.1.1. Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif dengan sel sferis atau berbentuk bulat dengan ukuran diameter 0,5-1 μm, tidak membentuk spora
dan dapat hidup dalam keadaan fakultatif aerob. Bakteri ini memiliki reaksi katalase dan koagulase yang positif, yang membedakannya dari bakteri lain (Buyser et al, 2009). Bakteri ini menghasilkan koagulase yang merupakan suatu protein mirip enzim yang dapat menggumpalkan plasma yang mengandung oksalat atau sitrat. Selain itu, bakteri ini juga memiliki faktor penggumpal yang berfungsi melekatkan organisme ke fibrin atau fibrinogen (Brooks et al, 2008).
Bakteri ini cepat berkembang pada suhu 37°C tetapi suhu terbaik untuk menghasilkan pigmen adalah 20-25°C dengan pH 6-7. Koloninya pada medium padat bentuk bulat, halus, meninggi dan berkilau. Koloni bakteri ini biasanya membentuk koloni berwarna abu-abu hingga kuning tua kecokelatan. Bakteri Staphylococcus aureus ini relatif resistan terhadap pengeringan panas (tahan pada suhu 50°C selama 30 menit), dan pada Natrium Klorida 9% tetapi bakteri ini mudah dihambat oleh bahan kimia tertentu seperti heksaklorofen 3%. (Brooks et al, 2008).
Gambar 2.1. Kultur Staphlococcus aureus dengan warna koloni kuning pada agar darah (Kayser et al, 2005)
Bakteri ini memiliki sensitivitas yang berbeda-beda pada beberapa antibiotik, berikut beberapa strain yang resistan terhadap antibiotik (Brooks et al, 2008) :
a. Organisme vancomycin-intermediate Staphylococcus aureus (VISA), yang diisolasi dari pasien dengan pengobatan Vancomycin jangka panjang. Mekanisme resistansi ini berhubungan dengan peningkatan sintesis dinding sel serta perubahan dinding sel.
b. Strain vancomycin-resistant Staphylococcus aureus (VRSA) yang resistan terhadap antibiotik Vancomycin dengan adanya gen vanA dan gen mecA c. Strain yang sifat resistansinya diperantarai plasmid, terutama resistan
terhadap tetrasiklin, eritromisin dan aminogilikosida, sering terjadi pada staphylococcus.
2.3.1.2. Staphylococcus epidermidis
Bakteri ini merupakan salah satu bakteri spesies Staphylococcus, secara umum bentuk dari bakteri ini hampir sama dengan Staphylococcus aureus. Bakteri ini merupakan flora normal di kulit manusia (Brooks et al, 2008).
Koloni dari bakteri ini berwarna abu-abu hingga putih, banyak koloni menghasilkan pigmen setelah di inkubasi lama ini dikarenakan pigmen tidak dapat dihasilkan pada keadaan anaerob (Brooks et al, 2008).
Seperti bakteri Staphylococcus lainnya bakteri ini relatif resistan pada pengeringan panas (tahan pada suhu 50°C selama 30 menit), dan pada natrium klorida 9% tetapi bakteri ini mudah dihambat oleh bahan kimia tertentu seperti heksaklorofen 3%. (Brooks et al, 2008). Penelitian mendapatkan bahwa bakteri ini telah mengalami multi drug resistance, seperti pada antibiotik klindamisin, klorampenicol, cotrimoxazole, ciproflaxin, cefixitin, aminoglikosida (Barros et al, 2012).
2.3.1.3. Staphylococcus saphrophyticus
Bakteri ini termasuk dalam bakteri Staphylococcus dengan koagulase negatif, tidak berpigmen, dan nonhemolitik. Merupakan salah satu flora normal tubuh yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih pada wanita dewasa (Brooks et al, 2008). Secara morfologi bakteri ini memiliki bentuk yang sama dengan bakteri Staphylococcus aureus.
Bakteri ini cepat berkembang pada suhu 37°C tetapi suhu terbaik untuk menghasilkan pigmen adalah 20-25°C dengan pH 6-7. Koloninya pada medium padat bentuk bulat, halus, meninggi dan berkilau (Brooks et al, 2008). Bakteri Staphylococcus saprophyticus ini dapat tumbuh pada medium yang mengandung sulfat sebagai sumber nitrogen, tetapi bakteri ini tidak dapat memperoleh amonia dari reduksi nitrat ataupun nitrit. Bakteri ini mendapatkan amonia dari urea yang dihidrolisa oleh urease. Urease dari bakteri inilah yang berperan dalam patogenesis infeksi saluran kemih (Kuroda et al, 2005).
Menurut beberapa penelitian, bakteri ini diketahui telah resistan terhadap antibiotik novobiocin (Raz et al, 2005).
2.3.1.4. Enterococci
Bakteri ini merupakan kokus tunggal yang berbentuk batang atau ovoid dan tersusun seperti rantai (Brooks et al 2008). Bakteri ini juga menghasilkan asam laktat sebagai hasil utama dari fermentasinya. Bakteri ini dapat tumbuh dengan adanya O2 (fakultatif anaerob), tetapi sebagai bakteri pefermentasi, bakteri
ini tidak mendapatkan keuntungan dari O2 ini dikarenakan bakteri ini tidak memiliki enzim katalase (Nester et al, 2005). Enterococci adalah golongan bakteri nonmotil yang sering disebut sebagai grup antigen D (Kaysar et al, 2005)
Enterococcus tumbuh paling baik pada suhu 15°C dan 45°C. Bakteri ini dapat tumbuh pada agar dengan konsentrasi natrium klorida yang tinggi (6,5%), dalam metilen biru (0,1%), dan dalam empedu-eskulin dan pada pH 9 (Kayser et al, 2005).
Masalah utama pada bakteri ini adalah resistansi, bakteri ini diketahui resistan terhadap beberapa antibiotik, antara lain:
a. Resistansi Intrinsik
Enterococcus secara intrinsik resistan pada sefalosporin, penisilin resistin-penisilinase, dan monobaktam (Brooks et al , 2008).
b. Resistensi pada Aminoglikosida
Terhadap antibiotik aminoglikosida seperti streptomicin atau gentamicin bakteri ini memiliki resistansi tingkat rendah. Tetapi ada beberapa Enterecoccus tingkat resistansi yang tinggi, hal ini diakibatkan adanya modifikasi enzim aminoglikosida enterokokus ( enterococcal aminoglycoside – modifying enzyme) (Brooks et al, 2008).
c. Resistansi terhadap Vancomycin
Vancomycin mengganggu sintesis dinding sel dengan cara berinteraksi dengan D-alanil-D-alanin pada rantai pentapeptida prekursor peptidoglikan . Sedangkan penentu resistansi yang pernah diteliti adalah operon VanA. Ini merupakan suatu sistem gen yang terbungkus di dalam plasmid yang dapat mentransfer sendiri (self transable plasmid) (Brooks et al, 2008).
d. Resistansi terhadap antibiotik β-Laktam
Dengan adanya protein pengikat penisilin pada bakteri ini menyebabkan
afinitas bakteri ini pada antibiotik β-Laktam sangat rendah (Nester et al, 2005)
Resistansi terhadap antibiotik ini dikarenakan enterokokus dapat menggunakan folat eksogen yang tersedia secara in-vivo yang tidak dapat dihambat oleh antibiotik ini (Brooks et al, 2008).
2.3.2. Bakteri Gram Negatif
Beberapa bakteri gram negatif yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih yaitu : Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa.
2.3.2.1. Escherichia coli
Esherichia coli merupakan bakteri gram negatif genus dari Enterobacteriaceae yang memiliki beberapa sifat yaitu : berbentuk batang, bersifat motil dengan flagel peritrik. Bakteri ini merupakan salah satu flora normal tubuh manusia, biasanya ditemukan pada saluran pencernaan. Selain itu bakteri ini secara khas menunjukkan hasil positif pada tes indol, lisin dekarboksilase, fermentasi mannitol, dan menghasilkan gas dari glukosa (Brooks et al, 2008).
Escherichia coli pada media pembiakan membentuk koloni yang sirkular, konveks, dan halus dengan tepi yang tegas. Beberapa media biakan sering digunakan pada bakteri ini seperti : Triptofan, MacConkey, Eosin-metilen biru (EMB), dan Voges-Proskauer (Brooks et al, 2008).
Escherichia coli merupakan salah satu genus dari Enterobacteriaceae penghasil extended-spectrum-β laktamase (ESBL). Produksi ESBL ini mengakibatkan Escherichia coli resistan pada antibiotik seperti penisilin dan cephalosporin (CDC, 2013)
2.3.2.2. Klebsiella pneumoniae
Sama halnya dengan Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae merupakan salah satu genus dari Enterobacteriaceae yang memiliki bentuk seperti batang yang pendek tetapi kapsul pada Klebsiella lebih besar dan teratur serta bersifat nonmotil, tumbuh dengan sifat fakultatif anaerob (Brooks et al, 2008). Klebsilla menunjukkan reaksi positif pada produksi urase, reaksi katalase, fermentasi dari glukosa, laktosa, sukrosa tetapi bakteri ini memberikan hasil yang negatif pada tes indol (Sikarwar dan Batra, 2011).
Koloni pada biakan Klebsiella besar, mukoid dan cenderung bersatu pada inkubasi yang lama. Beberapa media biakan sering digunakan pada bakteri ini seperti : Triptofan, MacConkey, Eosin-metilen biru (EMB), dan Voges-Proskauer (Brooks et al, 2008).
Bakteri ini memiliki sensitivitas/ kepekaan yang tinggi pada antibiotik yaitu : ceftriakson, amikacin, dan sefotaksim. Klebsiella memiliki resistansi tinggi pada beberapa antibiotik yaitu : chlorampenicol, penicillin, ampicillin, dan tetracyclin (Refdanita et al, 2004).
2.3.2.3. Pseudomonas aeruginosa
Pseudomonas aeruginosa memiliki bentuk batang, motil serta berukuran sekitar 0,6 x 2 mm. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif yang dapat muncul dalam bentuk tunggal, berpasangan atau kadang dalam bentuk rantai pendek. Pseudomonas merupakan bakteri yang sering didapat di usus bakteri ini bersifat oksidase positif dan tidak memfermentasi glukosa (Brooks et al 2008).
Bakteri ini merupakan bakteri obligat aerob, yang dapat tumbuh pada banyak jenis biakan, pada suhu 42°C . Pseuodomonas aeruginosa ini membentuk koloni bulat halus dengan warna flouresensi kehijauan. Bakteri ini mnghasilkan
pioverdi berflouresensi yang memberikan warna hijau pada agar (Brooks et al 2008).
Gambar 2.3. Pigmen piosianin (biru-hijau) yang dihasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa menyebar pada agar (Levinson, 2008)
Beberapa strain dari Pseudomonas diketahui telah resistan pada beberapa antibiotik seperti : aminoglikosida, carbapenem, cephalosphorin, fluoroquinolone (CDC, 2013).