• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Perusahaan

4.1.2 Pabrik Gula Bungamayang

4.1.2.2.4 Stasiun Penguapan

1 Nira jernih dari Clarifier dengan suhu ± 103 0C dipisahkan dari kotoran kasar pada DSM Screen sebelum dimasukkan ke Tangki Nira Jernih 2 Dengan Pompa Nira Jernih dikirim ke badan penguapan yang bekerja

secara Quadruple (4 badan seri)

3 Kondisi suhu dan tekanan masing-masing badan penguapan (Tabel 8) sebagai berikut:

Tabel 8 Kondisi suhu dan tekanan masing-masing badan penguapan Uraian Tekanan uap pemanas Suhu uap pemanas Tekanan uap

nira Suhu uap nira

BADAN I BADAN II BADAN III BADAN IV 0.9 kg/cm 0.5 kg/cm 5 cmHg 30 cmHg 120 0C 105 0C 95 0C 75 0C 0.5 kg/cm 0-5 cmHg 30 cmHg 64 cmHg 105 0C 95 0C 75 0C 58 0C

4 Brix nira jernih masuk badan penguapan 10-13% brix dan keluar badan penguapan (nira kental) ± 64% brix

5 Nira kental dengan % brix = 64 dipompa ke Sulphitator direaksikan dengan gas SO2 untuk Bleaching (pemucatan warna) sampai pH nira kental keluar Sulphitator menjadi 5.4 – 5.6.

4.1.2.2.5 Stasiun Kristalisasi

a Masakan Utama

- Nira kental tersulfitir ditampung di Peti Nira Kental Bibitan Masakan Utama (A) inti kristalnya dari C atau D II dengan menambahkan leburan gula / Clare SHS. Diupayakan Bibitan Masakan Utama untuk 2-3 Masakan utama dengan HK bibit ≥88 dan ukuran kristal 0.6 – 0.8 - Membesarkan kristal masakan A dengan menambahkan nira kental - Masakan A HK : 83-87; brix turun = 92-95 dengan ukuran kristal 0.9-

1.1 mm b Masakan C

- Bibit Masakan C dibuat dari inti kristal gula D II dengan menambahkan Stroop A

- Membesarkan kristal Masakan C dengan menambahkan Stroop A sampai dengan volume yang diinginkan

- Masaan C pada saat turun

- HK : 74-77

- Brix : 94-97

c Masakan D

- Bibitan Masakan D dibuat untuk 2 (dua) Masakan D dengan fine crystal sebagai inti kristal dan menambahkan Stroop A/Clare D/Stroop C.

HK D III : 69 HK D II : 66 HK D I : 60

- Urut-urutan penambahan Stroop/Clare dimulai dari yang ber-HK tinggi ke HK rendah untuk mempercepat proses kristalisasi

- Masakan D turun dengan HK 58-61 dan brix=97-99 serta ukuran kristasl ± 0.3 mm rata (max 3 ukuran)

- Untuk pemakaian Continous Vacuum Pan ( UU. Bungamayang) pembuatan bibit dilakukan di pan Konvensional, sedangkan pembesaran kristal di Continous Vacuum Pan.

4.1.2.2.6 Stasiun Puteran

1 Masakan Utama

- Masakan Utama diputar dalam 2 (dua) tahap

- Puteran pertama yaitu Puteran A dilakukan untuk memisahkan gula A dari Stroop A dengan RPM sesuai standar

- Untuk membantu pemisahan Stroop A dari gula A digunakan air panas yang disemprotkan pada saat pemutaran

- Stroop hasil Puteran dikirim ke Stasiun Masakan untuk diproses lebih lanjut

- Gula A hasil Puteran A dilakukan pencucian dalam Mingler untuk selanjutnya diputar pada Puteran II (Puteran SHS)

- Pada Puteran SHS, disemprotkan air padas dan Steam yang berfungsi untuk membantu pemisahan gula dari Stroopnya dan pengeringan

- Clare SHS hasil pemutaran dikirim ke Stasiun Masakan untuk proses kristalisasi lebih lanjut

- Gula SHS dari Puteran SHS dengan kadar air ± 0.1% dikeringkan di Sugar Dryer dengan dihembuskan udara kering (± 80 0C dan dihembuskan udar kering pada suhu kamar (40 0C)

- Gula produk (SHS) yang sudah kering disimpan di Sugar Bin untuk dilakukan pengarungan

2 Masakan Bibit

- Pemutaran Masakan C dilakukan dalam 1 (satu) tahap yang bertujuan untuk memisahkan hasil gula C dengan Stroop C

- Dalam pemutaran diharapkan tidak banyak gula C yang pecah / hancur dan terikut dengan Stroop C

- Pada pemuataran disemprotkan air seminimal mungkin untuk membantu pemisahan gula dengan Stroopnya

- Diharapkan gula C sebagai bibit adalah: HK Gula 92 -95

Kristal tidak pecah (ukuran ± 0.5 mm rata) 3 Masakan Akhir

- Pemutaran Masakan akhir dilakukan dalam 2 (dua) tahap

- Masakan D sebelum diputar harus dilakukan kristalisasi lanjut di Crystalizer sampai ≥ 18 jam, sehingga suhunya turun dari ± 60 0C

menjadi ± 45 0C - 40 0C

- Sebelum diputar Masakan D perlu dipanasi dalam re-heater hingga suhu putran 54-55 0C

- Puteran I menghasilkan gula D-I dan tetes - Diharapkan hasil Puteran I sebagai berikut:

HK Tetes ≤ 34 dengan brix =90-93

Gula D-I tidak pecah (hancur) dengan HK ± 88

- Gula D-I diberi pengencer dengan Clare D atau air panas

- Putaran II menghasilkan gula D II sebagai inti Bibitan Masakan dan Clare D yang dihasilkan diproses / diskristalisasi lebih lanjut.

4.1.2.2.7 Stasiun Boiler

Boiler merupakan suatu alat untuk menghasilkan uap pada tekanan tertentu, dengan memindahkan panas dari bahan bakar ke air dalam suatu bejana tertutup.

a Bahan Bakar

Pada saat operasi normal bahan bakar utama yang digunakan adalah ampas (Bagasse) yangkeluar dari gilingan akhir atau dari gudang ampas. Suplai

residu dipergunakan pada saat awal gilingan atau dalam keadaan darurat, antara lain:

- Sistem tranportasi ampas ada gangguan - Tidak giling dan ampas habis

- Fluktuasi beban terlalu besar

- Ampas basah

- Ampas mengandung banyak tanah/pasir

b Air

Pada saat operasi normal air yang digunakan adalah condensat tidak mengandung gula yang diperlukan dari hasil kondensasi (pengembunan) uap yang dipakai pada Stasiun Pengupan dan Stasiun Masakan.

Pada saat-saat tertentu mempergunakan Deep Wheel yang sudah melalui Water Treatment / Water Softener, apabila:

- Pada awal giling atau dalam keadaan darurat

- Sistem pengaman penyaluran air Condensat terjadi ganguan - Jumalah air Condensat kurang

c Uap

Uap yang dihasilkan diharapkan dengan tekanan 20 kg/cm2 dan temperaturnya 3250C. Uap yang dihasilkan disalurkan ke :

- Turbin Uap Boiler : Feed Water Pump ; FD. Fan dan ID. Fan

- Stasiun Gilingan untuk Turbin Uap : Cane Cutter, SemiHammerShredder dan Mill

- Stasiun Listrik untuk Turbin Uap : Generator

- Stasiun Boiling untuk krengsengan, Sugar Dryer, tekanan uap diturunkan melalui PressureReducer dari 20 kg/cm2 menjadi 3 kg/cm2

- Sistem Suplai uap untuk proses melalui : Pressure Reducer tekanan uap diturunkan dari 20 kg/cm2 menjadi 1 kg/cm2 dan melalui Desuperheater dengan dibantu air dari FeedWater, tempertur uap diturunkan dari 160 0C menjadi 130 0C

d Abu

- Abu kasar dan abu halus yang ditangkap oleh Dust Collector serta kotoran hasil pembakaran dikirim ke lahan tebu.

e Udara

Udara yang diperlukan untuk pembakaran didapat dari udara luar yang dipanaskan dalam suatu alat pemanas udara

4.1.2.2.8 Stasiun Listrik

1 Pada saat operasi normal dalam masa giling, tenaga listrik yang dipakai dihasilkan dari Turbin Generator. Pada saat awal giling atau dalam keadaan darurat, misalnya ada ganggunan pada Turbin Generator, tenaga listrik yang diperlukan diperoleh dari Diesel Generator.

2 Diluar masa giling, sumber tenaga listrik dihasilkan dari Diesel Generator 3 Tenaga listrik yang dihasilkan disalurkan untuk:

- Memenuhi seluruh keperluan tenaga listrik dalam pabrik

- Bengkel Induk

- Penerangan Jalan

- Perumahan

4 Tenaga listrik yang dihasilkan dari Turbin / Diesel Generator adalah 6000 Volt, kemudian ditransformasikan menjadi 380 / 220 Volt

4.2 Ergonomi Mikro

4.2.1 Pecahayaan

4.2.1.1 Shift Pagi

Tabel 9 Illuminasi pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift pagi

No Stasiun Illuminasi (lux)

PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 36 - 19206 49.86 - 20000 2. Pemurnian 260.6 - 345.60 6.642 - 651.7 3. Penguapan 119.84 - 308.7 25.88 - 33.45 4. Masakan 255.1 - 332.3 19.224 - 51.19 5. Puteran 51.68 - 1293.10 11.28 - 49.86 6. Power House 21.736 - 46.02 14.916 - 30.66 7. Boiler 20.7 - 661.60 96.33 - 454.9

Dari hasil pengukuran illuminasi (lux) seperti tampak pada Tabel 9, diperoleh bahwa illuminasi (lux) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang pada shift pagi memiliki kisaran antara 20.7 - 19206 lux, dengan tingkat pencahyaan terendah terjadi di stasiun power house dan tertinggi

di stasiun gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 6.642 - 20000 lux. Dengan illuminasi terendah terdapat di stasiun pemurnian dan illuminasi tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.1.2 Shift Siang

Tabel 10 Illuminasi pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift siang

No Stasiun Illuminasi (lux)

PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 31.3 - 20000 71.8 - 20000 2. Pemurnian 52.72 - 1164 9.024 - 646.9 3. Penguapan 39.94 - 298.3 3.157 - 10.931 4. Masakan 72.93 - 135.4 4.788 - 20.15 5. Puteran 48.66 - 144.8 3.937 - 47.96 6. Power House 20.72 - 27.53 2.517 - 68.88 7. Boiler 29.53 - 98.48 5.274 - 16.44

Dari hasil pengukuran illuminasi (lux) pada shift siang seperti tampak pada Tabel 10, diperoleh bahwa illuminasi (lux) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang pada shift siang memiliki kisaran antara 20.72 - 20000 lux, dengan iluminasi terendah terjadi di stasiun power house dan tertinggi di stasiun gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 2.517 - 20000 lux. Dengan illuminasi terendah terdapat di stasiun power house dan illuminasi tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.1.3 Shift Malam

Tabel 11 Illuminasi pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift malam

No Stasiun Illuminasi (lux)

PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 21.23 - 302.5 49.09 - 7710 2. Pemurnian 4.89 - 20.63 5.639 - 117.8 3. Penguapan 9.29 - 12.73 8.302 - 15.33 4. Masakan 10.6 - 14.99 5.089 - 36.17 5. Puteran 41.39 - 65.8 4.611 - 79.02 6. Power House 19.21 - 20.09 74.31 - 75.94 7. Boiler 7.2 - 33.93 12.726 - 24.75

Pada shift malam (Tabel 11) illuminasi (lux) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 4.89 – 302.5 lux, dengan iluminasi terendah terjadi di stasiun pemurnian dan tertinggi di stasiun gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 4.611 - 7710

lux. Dengan illuminasi terendah terdapat di stasiun puteran dan illuminasi tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.2 Suhu

4.2.2.1 Shift Pagi

Tabel 12 Temperatur udara pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift pagi

No Stasiun Temperatur udara (

0 C) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 28.63 – 31.13 36.12 - 37.70 2. Pemurnian 34.6 – 35.3 37 - 38.60 3. Penguapan 32.9 – 33 36.18 - 37.49 4. Masakan 35.17 – 35.7 32.99 - 37.29 5. Puteran 34.71 – 35.80 37.3 - 37.90 6. Power House 35.38 – 35.88 33.9 - 34.57 7. Boiler 30.8 – 32.4 29.39 - 32.39

Dari hasil pengukuran temperatur udara (0C) (Tabel 12), temperatur udara untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 28.63 – 35.88 0C , dengan temperatur udara terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di stasiun power house. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 29.39 – 38.60 0C. Dengan temperatur udara terendah terdapat di stasiun boiler dan temperatur udara tertinggi terdapat di stasiun pemurnian.

4.2.2.2 Shift Siang

Tabel 13 Temperatur udara pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift siang

No Stasiun Temperatur udara (

0 C) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 34.5 - 36.91 35.6 - 36.11 2. Pemurnian 35.4 - 36.7 36.4 - 39.7 3. Penguapan 35.1 - 35.2 29.3 - 29.6 4. Masakan 35.5 - 36 29.19 - 29.6 5. Puteran 36.71 - 36.88 29.2 - 30.6 6. Power House 35.6 - 35.7 30.59 - 31.69 7. Boiler 33.9 - 35.69 27.68 - 28.7

Dari hasil pengukuran temperatur udara (0C) (Tabel 13), temperatur udara pada shift siang untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 34.5 – 36.91 0C , dengan temperatur

udara terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di stasiun gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 27.68 – 39.7 0C. Dengan temperatur udara terendah terdapat di stasiun boiler dan temperatur udara tertinggi terdapat di stasiun pemurnian.

4.2.2.3 Shift Malam

Tabel 14 Temperatur udara pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift malam

No Stasiun Temperatur udara (

0 C) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 28.93 - 30.4 29.6 - 30.3 2. Pemurnian 32.18 - 32.6 29.4 - 30.09 3. Penguapan 31.7 - 31.91 30.01 - 30.5 4. Masakan 31.8 - 31.8 29.2 - 30.6 5. Puteran 31.69 - 31.71 30.71 - 31.3 6. Power House 31.1 - 31.42 28.2 - 28.39 7. Boiler 29.64 - 30 28.1 - 28.6

Pada shift malam (Tabel 14) temperatur udara (0C) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 28.93 – 32.6 0C, dengan temperatur udara terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di stasiun pemurnian. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 28.1 – 31.3 0C. Dengan temperatur udara terendah terdapat di stasiun boilerdan temperatur udara tertinggi terdapat di stasiun puteran.

4.2.3 Kelembaban

4.2.3.1 Shift Pagi

Tabel 15 Kelembaban udara pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift pagi

No Stasiun Kelembaban (%) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 45.05 - 86.67 43.22 - 71.44 2. Pemurnian 43.93 - 53.93 35.28 - 60.11 3. Penguapan 50.16 - 52.07 41.34 - 43.84 4. Masakan 40.39 - 43.77 40.7 - 49.30 5. Puteran 20.16 - 58.04 38.1 - 61.54 6. Power House 36.77 - 40.69 44.25 - 45.17 7. Boiler 27.67 - 55.24 51.56 - 70.17

Pada shift pagi (Tabel 15) kelembaban udara (%) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 20.16-

86.67 % dengan kelembaban udara terendah terjadi di stasiun puteran dan

tertinggi di stasiun gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 35.28-71.44%. Dengan kelembaban udara terendah terdapat di stasiun

pemurniandan kelembaban udara tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.3.2 Shift Siang

Tabel 16 Kelembaban udara pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift siang

No Stasiun Kelembaban (%) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 29.67 - 46.2 43.12 - 64.48 2. Pemurnian 34.22 - 40.81 31.46 - 49.98 3. Penguapan 35.72 - 42.2 64.39 - 67.84 4. Masakan 34.27 - 38.29 63.76 - 67.98 5. Puteran 21.28 - 40.23 56.22 - 68.17 6. Power House 34.64 - 36.54 44.87 - 49.95 7. Boiler 20.02 - 38.33 58.78 - 70.65

Pada shift siang (Tabel 16) kelembaban udara (%) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 20.02-46.2 % dengan kelembaban udara terendah terjadi di stasiun boiler dan

tertinggi di stasiun gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 31.46-70.65%. Dengan kelembaban udara terendah terdapat di stasiun

pemurniandan kelembaban udara tertinggi terdapat di stasiun boiler.

4.2.3.3 Shift Malam

Tabel 17 Kelembaban udara pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift malam

No Stasiun Kelembaban (%) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 54.53 - 91.64 70.1 - 83.23 2. Pemurnian 58.26 - 71.56 67.3 - 71.2 3. Penguapan 60.83 - 66.75 67.18 - 69.58 4. Masakan 60.55 - 64.96 67.4 - 74.11 5. Puteran 29.42 - 67.8 53.77 - 65.86 6. Power House 58.43 - 59.42 64.66 - 68 7. Boiler 33.11 - 70.47 62.45 - 66.9

Pada shift malam (Tabel 17) kelembaban udara (%) untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 29.42-91.64 % dengan kelembaban udara terendah terjadi di stasiun puteran dan

53.77-83.23%. Dengan kelembaban udara terendah terdapat di stasiun puteran dan kelembaban udara tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.4 Kebisingan

4.2.4.1 Shift Pagi

Tabel 18 Kebisingan pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift pagi

No Stasiun Kebisingan (dB) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 70.07- 98.54 69.21 - 93.51 2. Pemurnian 83.76 - 86.94 87.54 - 96.07 3. Penguapan 101.65 - 85.5 87.57 - 90.91 4. Masakan 81.7 - 85.58 89.34 - 93.86 5. Puteran 70.8 - 89.52 91.02 - 97.24 6. Power House 85.1 - 100.33 94.62 - 96.33 7. Boiler 75.99 - 87.08 89.4 - 94.64

Kebisingan (dB) pada shift pagi untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 70.07-100.33 dB dengan kebisingan terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di power house. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 69.21-97.24 dB. Dengan kebisingan terendah terdapat di stasiun gilingandan kebisingan tertinggi terdapat di stasiun puteran.

4.2.4.2 Shift Siang

Tabel 19 Kebisingan pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift siang

No Stasiun Kebisingan (dB) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 72.7 - 98.74 69.43 - 94.35 2. Pemurnian 80.58 - 87.52 88.31 - 97.02 3. Penguapan 87.64 - 87.98 86.11 - 90.75 4. Masakan 82.41 - 83.05 86.76 - 88.41 5. Puteran 78.8 - 87.85 87.11 - 92.25 6. Power House 87.65 - 97.34 97.33 - 97.67 7. Boiler 77.18 - 102.89 89.23 - 96.24

Kebisingan (dB) pada shift siang untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 72.7-102.89 dB dengan kebisingan terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di boiler. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 69.43-97.67 dB. Dengan

kebisingan terendah terdapat di stasiun gilingandan kebisingan tertinggi terdapat di stasiun power house.

4.2.4.3 Shift Malam

Tabel 20 Kebisingan pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift malam

No Stasiun Kebisingan (dB) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 66.68 - 89.87 70.48 - 91.98 2. Pemurnian 83.76 - 89.25 84.03 - 90.85 3. Penguapan 85.61 - 88.64 86.02 - 87.3 4. Masakan 83.58 - 84.19 86.4 - 90.74 5. Puteran 73.98 - 88.44 89.47 - 96.34 6. Power House 90.8 - 92.96 96.14 - 96.325 7. Boiler 78.65 - 104.08 89.24 - 93.31

Kebisingan (dB) pada shift malam untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 66.68-104.08 dB dengan kebisingan terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di boiler. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 70.48-96.34 dB. Dengan kebisingan terendah terdapat di stasiun gilingandan kebisingan tertinggi terdapat di stasiun puteran.

4.2. 5 Getaran

4.2.5.1 Shift Pagi

Tabel 21 Getaran pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift pagi

No Stasiun Getaran (m/s 2 ) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 0.148 - 2.63 0.876 - 7.63 2. Pemurnian 0.539 - 3.26 0.603 - 1.48 3. Penguapan 0.627 - 1.971 0.435 - 1.56 4. Masakan 1.026 - 1.788 0.563 - 1.98 5. Puteran 0.145 - 1.61 1.28 - 2.56 6. Power House 0.327 - 0.84 1.3 - 1.584 7. Boiler 0.285 - 2.15 0.332 - 0.35

Getaran (m/s2) pada shift pagi untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 0.145-3.26 m/s2 dengan getaran terendah terjadi di stasiun puteran dan tertinggi di pemurnian. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 0.332-7.63 m/s2. Dengan getaran terendah terdapat di boilerdan getaran tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.5.2 Shift Siang

Tabel 22 Getaran pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift siang

No Stasiun Getaran (m/s 2 ) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 0.12 - 3.925 0.842 - 8.103 2. Pemurnian 0.371 - 3.615 0.747 - 2.658 3. Penguapan 0.475 - 1.317 0.224 - 1.104 4. Masakan 0.441 - 0.679 0.56 - 1.758 5. Puteran 0.447 - 2.156 1.67 - 2.578 6. Power House 0.342 - 0.878 1.318 - 1.608 7. Boiler 0.4 - 1.864 0.19 - 0.489

Getaran (m/s2) pada shift siang untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 0.12-3.925 m/s2 dengan getaran terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 0.19-8.103 m/s2. Dengan getaran terendah terdapat di boilerdan getaran tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.2.5.3 Shift Malam

Tabel 23 Getaran pada tujuh stasiun untuk PG Bungamayang dan PG Jatitujuh pada shift malam

No Stasiun Getaran (m/s 2 ) PG Bungamayang PG Jatitujuh 1. Gilingan 0.104 - 4.752 0.851 - 8.319 2. Pemurnian 0.46 - 3.471 1.131 - 2.037 3. Penguapan 0.318 - 1.5578 0.21 - 1.917 4. Masakan 0.511 - 0.828 0.58 - 1.757 5. Puteran 0.116 - 0.699 1.488 - 3.51 6. Power House 0.347 - 0.946 1.1495 - 1.674 7. Boiler 0.209 - 1.04 0.19 - 0.37

Getaran (m/s2) pada shift malam untuk tujuh stasiun pada proses produksi pabrik PG Bungamayang memiliki kisaran antara 0.104-4.752 m/s2 dengan getaran terendah terjadi di stasiun gilingan dan tertinggi di gilingan. Sedang pada PG Jatitujuh memiliki kisaran antara 0.19-8.319 m/s2. Dengan getaran terendah terdapat di boiler dan getaran tertinggi terdapat di stasiun gilingan.

4.3 Ergonomi Makro

4.3.1 Pabrik Gula Jatitujuh

Dokumen terkait