• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA MENURUT HUKUM NASIONAL DAN INTERNASIONAL

B. Status Islamic State of Iraq and Syria

Menurut Ian Brownlie, subyek hukum internasional merupakan entitas yang menyandang hak-hak dan kewajiban-kewajiban internasional, dan mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hak-haknya dengan mengajukan klaim-klaim internasional.6 Dengan mempunyai hak-hak dan kewajiban, maka yang menjadi subyek hukum internasional bisa melakukan suatu hubungan hukum. Adapun subjek-subjek hukum Internasional:7

1. Negara (States)

2. Tahta Suci (Vatican/The Holy Emperor); 


3. Organisasi Internasional (International Organizations); 


4. Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross);


5. Kaum pemberontak (Belligerents;Insurgents); 


6. Individu (Individual); 


7. Perusahaan Multinasional (Multinational Corporations) / Perusahaan Transnasional (Transnational Corporations); 


8. Organisasi Non-Pemerintah (Non-Governmental Organizations). 


Berdasarkan subjek-subjek hukum internasional tersebut, ISIS tidak termasuk kategori sebuah negara meskipun terdapat frasa state (negara) dalam namanya, melainkan termasuk kedalam kategori organisasi teroris sesuai dengan definisi resolusi Dewan Keamanan PBB 2178/2014.8 Adapun dasar tidak termasuknya ISIS sebagai sebuah negara berdasarkan syarat-syarat suatu negara melaui Konvensi Montevideo:

1. Memenuhi unsur pemerintahan yang berdaulat, 2. Wilayah tertentu,

6 Ian Brownlie. Principles of Public International Law, 8th Edition. Oxford University Press:Oxford. 1977. h.386

7 Mochtar Kusumaatmadja & Etty R. Agoes. Pengantar Hukum Internasional. Edisi ke-2, Cetakan ke-1, P.T. Alumni:Bandung. 2003. h. 95-112.

8 S/RES/2178 (2014), h.1

3. Rakyat yang hidup teratur sebagai suatu bangsa (nation), dan

4. Pengakuan dan negara-negara lain. Suatu negara tidak hanya membutuhkan rakyat, wilayah, dan pemerintahan tetapi juga pengakuan secara de jure untuk bisa melakukan hubungan internasional.9

ISIS memenuhi unsur pertama yaitu pemerintahan. Pemerintahan ISIS mengatur dua wilayah utama yaitu Irak dan Suriah yang maisng-masing terdapat pemimpinnya yang disebut sebagai deputi. Kemudian, dibawah dua deputi terdapat dua belas gubernur yang mengatur masing-masing urusan daerah yang disebut dengan Dewan:

1. Dewan Keuangan. Dewan ini bertugas untuk mengatur senjata-senjata, dan penjualan minyak

2. Dewan Kepemimpinan. Dewan ini mengatur peraturan hukum, dan kebijakan-kebijakan.

3. Dewan Militer. Dewan ini yang menjaga dan membela ISIS

4. Dewam Hukum. Dewan ini bertugas untuk menetapkan eksekusi dan rekruitmen anggota

5. Dewan Pejuang Bantuan. Dewan ini bertugas dalam membantu pejuang (Foreign Terrorist Fighter)

6. Dewan Keamanan. Dewan ini bertujuan mengatur kebijakan didalam ISIS terutama jika terdapat sengketa antar anggota

7. Dewan Intelijen. Dewan ini yang bertugas mencari informasi terkait musuh ISIS

8. Dewan Media. Dewan ini bertugas mengatur publikasi media sosial.10 Kemudian, ISIS juga memenuhi unsur kedua yaitu wilayah. ISIS memiliki dua wilayah utama yaitu Irak dan Suriah, dan memiliki wilayah

9 Montevideo Convention on the Rights and Duties of States, h.3, Article 1

10 El Renova Ed Siregar, Kedudukan Islamic State Of Iraq And Syria Dalam Hukum Internasional. Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2016. Hlm. 57-58. URL:

https://studylibid.com/doc/329697/“kedudukan-islamic-state-of-iraq-and-syria--isis--dalam

29

administratif (Al-Barakah) yang bertempat di provinsi Al-Hasakah, Suriah.11 Unsur ketiga adalah rakyat. ISIS memiliki pengikut-pengikutnya yang tidak hanya di wilayah kekuasaannya tetapi juga tersebar di berbagai wilayah di dunia. Adapun penduduk-penduduk di Raqqah, Suriah12 dan Mosul, Irak13 yang wilayahnya diduduki oleh ISIS yang menjadikan mereka secara tidak langsung hidup dibawah pemerintah ISIS. Untuk unsur keempat yaitu pengakuan oleh negara lain secara de facto dan de jure ditandai dengan adanya hubungan diplomatik.

Pentingnya pengakuan oleh negara lain diperlukan untuk sebuah negara tidak hanya untuk hubungan diplomasi tapi juga keterlibatan di organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga untuk kerjasama lainnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya untuk kepentingan negara tersebut. Karena, negara layaknya manusia yang tidak bisa berdiri sendiri, negara membutuhkan negara lainnya untuk bekerjasama memenuhi kebutuhan rakyatnya. ISIS tidak memenuhi unsur keempat karena adanya Resolusi Dewan Keamanan PBB 2178 (2014)14, yang mana isi dari resolusi tersebut adalah kesepakatan negara-negara yang tergabung di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan bahwasannya ISIS adalah organisasi teroris internasional yang dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sehingga, dengan tidak terpenuhinya salah satu unsur tersebut maka ISIS tidak dikategorikan sebagai sebuah negara.

Menurut Black’s Law Dictionary, terorsisme didefinisikan sebagai kegiatan yang melibatkan unsusr kekerasan atau yang menimbulkan efek

14 S/RES/2178 (2014), h.1. URL : https://documents-dds-ny.un.org/doc/UNDOC/GEN/N14/547/98/PDF/N1454798.pdf?OpenElement

bahaya bagi kehidupan manusia.15 Terorisme di kategorikan sebagai perbuatan melanggar hukum, terutama dengan hukum pidana karena menyangkut unsur-unsur di dalam pidana sendiri. Unsur terorisme dalam Black’s Law Dictionary di jabarkan sebagai berikut;

a. Mengintimidasi penduduk sipil 
 b. Memengaruhi kebijakan pemerintah 


c. Memengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan. 


Menurut pendapat Thomas Weigend, terorisme adalah kejahatan yang spesifik (khusus) dan dapat dibedakan dari kejahatan biasa lainnya karena memiliki unsur:

a. Kelompok teroris memiliki maksud dan tujuan untuk melakukan kejahatan yang biasa, seperti pembunuhan, pengeboman, serangan, ancaman atau kekerasan terhadap orang lain.16

b. Kelompok-kelompok teroris tersebut mengancam sebuah kelompok atau sebuah penduduk secara keseluruhan atau memaksa yang sebagian lainnya untuk melakukan tindakan, misalnya, melepaskan tahanan-tahanan politik.

c. Teroris tersebut memiliki motivasi politik atau ideology yang tersembunyi, misalnya untuk mengacaukan pemerintahan yang ada untuk mengalahkan saingannya yang bersifat religious atau ideology. Walaupun teroris-teroris tersebut memiliki motivasi-motivasi politik atau ideologi yang tersembunyi, kebanyakan definisi-definisi terorisme yang terdapat di dalm banyaknya konvensi-konvensi tidak memerlukan unsur tujuan politik. Yang

15 Black’s Law Dictonary, edisi 8, 2004. h. 4604.

16 Aulia Rosa Nasution. Terorisme Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Perspektif Hukum Internasional Dan Hak Asasi Manusia. Kencana Media Group:Jakarta. 2012.

h.77

31

diperlukan adalah maksud dan tujuan dari pelaku kejahatan yang mengancam dan memaksa.17

Kemudian, menurut Sukawarsini Djelantik bahwa terorisme tumbuh dan berkembang karena didukung situasi masyarakat yang tengah mengalami tekanan politik, ketidak adilan sosial dan terdapatnya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin. Terorisme diyakini sebagai bentuk strategi politik dari kelompok yang lemah menghadapi pemerintah yang kuat dan berkuasa.18

Dalam pembahasan ini, ISIS memenuhi semua unsur-unsur yang didefinisikan kata terorisme. Dalam beberapa penaklukannya di negara-negara Timur Tengah, mereka banyak mengintimidasi penduduk sipil. ISIS juga mempengaruhi kebijakan pemerintah terutama di Irak dan Suriah karena maraknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh anggota ISIS kepada penduduk sipil. Namun tidak hanya mengintimidasi penduduk sipil, ISIS pun juga melakukan tindakan pidana seperti menculik, membunuh, dan kekerasan seksual.19 Hal ini pula yang menguatkan tidak dikategorikannya ISIS sebagai sebuah negara karena bertentangan dengan eksistensi negara untuk melindungi segenap bangsanya dengan tujuan mensejahterakan rakyatnya.

C. Islamic State of Iraq and Syria dalam Peraturan Perundang-Undangan di