• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Jenis Herpetofauna

Dalam dokumen MOHAMMAD FARIKHIN YANUAREFA (Halaman 97-100)

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.4. Status Jenis Herpetofauna

 

tipe habitat. Hal tersebut dikarenakan tiap habitat mempunyai letak yang bersebelahan dan luasan habitat yang diteliti tidak terlalu luas.

5.3.3. Distribusi Spasial

Jumlah individu seluruh jenis herpetofauna yang dijumpai adalah 310 individu dari 52 jenis. Habitat hutan dataran rendah merupakan habitat yang mempunyai jumlah individu maupun jenis terbanyak untuk amfibi. Jumlah tersebut terdiri dari 75 individu dari 14 jenis amfibi. Sedangkan reptil, mempunyai jumlah jenis dan jumlah individu terbanyak pada habitat hutan pantai dengan 22 individu dari 8 jenis reptil. Jika dilihat pada Gambar 22 dan 23, maka distribusi spasial amfibi berbeda dengan distribusi spasial pada reptil. Distribusi spasial pada amfibi cenderung mengelompok pada daerah tertentu, sedangkan pada reptil cenderung acak. Hal tersebut terjadi karena adanya genangan-genangan air yang terdapat pada jalur pengamatan. Banyak jenis amfibi yang selalu ditemukan pada atau dekat dengan air, seperti Occidozyga sumatrana, Bufo quadriporcatus, Bufo biporcatus, Polypedates macrotis dan Polypedates leucomystax. Hal tersebut sesuai dengan sifat amfibi yang hidup selalu berasosiasi dengan air untuk menjaga permukaan kulitnya agar tetap lembab (Iskandar 1998). Sedangkan untuk reptil penyebarannya cenderung acak karena reptil mempunyai mobilitas yang lebih tinggi sehingga mempunyai daerah jelajah yang lebih luas dibandingkan dengan amfibi. Perbedaan distribusi spasial jenis herpetofauna yang dijumpai pada lokasi penelitian berkaitan dengan kondisi setiap tipe habitat. Setiap tipe habitat yang ada memiliki karakteristik tersendiri yang dapat mendukung dan menunjang kebutuhan hidup herpetofauna, baik berupa cover untuk berlindung maupun kemudahan memperoleh satwa mangsa (Purbatrapsila 2009).

5.2.4. Status Jenis Herpetofauna

Dari 52 jenis herpetofauna yang dijumpai, terdapat beberapa jenis yang masuk kedalam daftar CITES, IUCN dan PP no: 7 tahun 1999. CITES (The Convention on Inernational Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) adalah suatu kesepakatan bersama tingkat internasional yang dicanangkan pada tahun 1973 dan mulai diaktifkan peraturan konvensinya pada tanggal 1 Juli

   

1975 dalam hal perdagangan internasional hidupan liar (flora dan fauna). Perjanjian ini dibentuk setelah adanya kerisauan akan semakin menurunnya populasi hidupan liar akibat adanya perdagangan internasional. Sedangkan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) merupakan suatu organisasi profesi tingkat dunia yang memantau keadaan populasi suatu jenis hidupan liar (flora dan fauna) dan banyak memberikan rekomendasi dalam hal penanganan terhadap suatu jenis hidupan liar yang hampir punah. Sedangkan PP no: 7 tahun 1999 merupakan peraturan pemerintah Republik Indonesia yang berisi jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Jenis amfibi yang ditemukan tidak ada satupun yang masuk ke dalam daftar CITES (2009) dan PP no: 7 tahun 1999. Sedangkan menurut kategori IUCN (2009), amfibi yang ditemukan termasuk kedalam kategori Vulnerable (VU), Near Threatened (NT) dan Least Concern (LC). Vulnerable diterapkan pada takson yang tidak termasuk dalam kategori Critically Endangered (CR) atau Endangered (EN) namun mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat sehingga dapat digolongkan dalam Extinct in the wild (EW). Suatu taxon disebut Near Threatened setelah penilaian yang dilakukan tidak sesuai dengan criteria CE, E, atau VU pada masa sekarang tetapi lebih dekat untuk mengelompokkannya pada suatu kategori terancam di masa dekat mendatang. Sedangkan suatu taxon disebut Least Concern setelah penilaian yang dilakukan tidak sesuai dengan CE, E, atau VU dan NT pada masa sekarang. Pada kondisi kategori ini takson-takson tersebar luas dan melimpah (IUCN 2001). Terdapat 1 jenis amfibi yang termasuk ke dalam status VU yaitu Limnonectes macrodon. Status NT juga hanya terdapat 1 jenis amfibi yaitu Limnonectes blythii. Terdapat 4 jenis amfibi yang tidak termasuk kategori IUCN karena belum dievaluasi yaitu Microhylla palmipes, Microhylla sp, Rana nicobariensis dan Limnonectes crybetus. Sedangkan sisanya yang terdiri dari 13 jenis amfibi tergolong ke dalam status LC.

Dari 32 jenis reptil yang ditemukan terdapat 8 jenis yang masuk dalam kategori CITES. Tiga jenis yaitu Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata dan Lepidochelys olivacea yang termasuk kedalam golongan penyu laut masuk ke dalam kategori Appendix I. Sedangkan 5 jenis lainnya yaitu Python reticulatus,

   

Varanus salvator, Varanus rudicolis, Crocodylus porossus dan Cuora amboinensis masuk ke dalam kategori Appendix II. Jenis yang termasuk kedalam Apendiks I yaitu jenis yang jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah. Perdagangan komersial untuk jenis-jenis yang termasuk kedalam Appendix I ini sama sekali tidak diperbolehkan. Sedangkan kategori Appendix II yaitu semua jenis kehidupan liar walau tidak dalam kondisi terancam dari kepunahan, tetapi mempunyai kemungkinan untuk terancam punah jika perdagangannnya tidak diatur (Soehartono dan Mardiastuti 2003). Diantara 32 jenis reptil, terdapat 4 jenis yang dilindungi menurut PP No:7 Tahun 1999, yaitu Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata dan Lepidochelys olivacea dan Crocodylus porossus.

Terdapat 4 jenis reptil yang masuk ke kategori dalam IUCN (IUCN 2009). Reptil yang ditemukan termasuk kedalam kategori Vulnerable (VU), Endangered (EN) dan Critically Endangered (CR). Reptil yang masuk kategori VU terdapat 2 jenis yaitu Cuora amboinensis dan Lepidochelys olivacea. Chelonia mydas masuk ke dalam kategori ED dan Eretmochelys imbricata masuk ke dalam kategori CE. Endangered diterapkan pada takson yang tidak termasuk dalam kategori CR namun mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dan dimasukkan ke dalam kategori EW jika dalam waktu dekat tindakan perlindungan yang cukup berarti terhadap populasinya tidak dilakukan. Sedangkan kategori Critically Endangered diterapkan pada takson yang mengalami resiko kepunahan yang sangat ekstrim di alam dan dimasukkan ke dalam kategori EW jika dalam waktu dekat tindakan perlindungan yang cukup berarti terhadap populasinya tidak dilakukan (IUCN 2001).

6.1. Kesimpulan

1. Komposisi jenis herpetofauna berbeda pada setiap tipe habitat baik, namun memiliki kesamaan pola. Pada daerah inti, jumlah total herpetofauna tertinggi di hutan dataran rendah dilanjutkan dengan hutan pantai dan kebun. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah individu yang dijumpai. Sementara jumlah jenis dan jumlah individu yang dijumpai pada daerah peralihan lebih sedikit daripada daerah inti.

2. Perbedaan tipe habitat tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis herpetofauna kecuali pada keanekaragaman jenis amfibi di hutan pantai dengan hutan dataran rendah dan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah dengan hutan dataran rendah.

3. Terdapat perbedaan distribusi antara amfibi dan reptil. Amfibi banyak

Dalam dokumen MOHAMMAD FARIKHIN YANUAREFA (Halaman 97-100)