• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status PAUD yang Diselenggarakan Melalui Jalur Pendidikan

Dalam dokumen Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Menge (Halaman 40-43)

BAB III. PEMBAHASAN

A. Status PAUD yang Diselenggarakan Melalui Jalur Pendidikan

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 angka 14 yang menyebutkan bahwa “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”;1 maka berarti segala macam pendidikan, baik yang diberikan di rumah maupun di sekolah pada anak-anak usia 0-6 tahun dapat dimasukkan dalam kategori PAUD.

Kemudian sejalan dengan frase yang terdapat dalam bagian akhir dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 angka 14 “agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” dan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 28 ayat (2) bahwa “Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal”2 serta sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 28 ayat (3) bahwa “Pendidikan anak usia dini pada jalur formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat”;3 maka dapat diperoleh kesan yang kuat seakan-akan PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal adalah termasuk bagian dari jenjang pendidikan dasar sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

1Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam file pdf, hal. 3.

2Ibid, hal. 12.

HAR-PAUD-2012 31 Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 14 “Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi”.4

Akan tetapi apabila kemudian merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 28 ayat (1) bahwa “Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum pendidikan dasar”5 dan penjelasannya bahwa “Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”,6 juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 17 ayat (2) bahwa “Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat”;7 maka PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal adalah secara eksplisit tidak termasuk bagian dari jenjang pendidikan dasar. Dan menjadi amat menggalaukan pemikiran para pembaca ketika merujuk Peraruran Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan bab III pasal 60 : “Penyelenggaraan pendidikan formal meliputi: a. pendidikan anak usia dini; b. pendidikan dasar; c. pendidikan menengah; dan d. pendidikan tinggi”.8 Yang lazim terjadi di Indonesia bahwa kegalauan semacam ini menjadi sirna ketika Mahkamah Konstitusi menerbitkan keputusan tertentu mengenai hal itu setelah ada aduan masyarakat secara tertulis.

Menanggapi realitas ini, Erma Pawitasari --kandidat doktor Pendidikan Islam, juga direktur Eksekutif Andalusia Islamic Education and Management Services-- memasukkan status/posisi PAUD yang

4Ibid, hal 8.

5Ibid, hal. 12.

6Ibid, hal. 41.

7Ibid, hal. 8.

8Peraruran Pemerintah Republil Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan, dalam file pdf, hal. 43.

HAR-PAUD-2012 32 diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal sebagai kebijakan yang mengalami kerancuan.9 Menurut UNESCO, di Indonesia, PAUD bukan merupakan bagian dari sistem pendidikan formal, 10 sebagai jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Berarti selama ini, kebijakan pemerintah era reformasi mengenai status/posisi PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal semisal Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA) adalah kurang tegas (tidak konsisten), pada satu sisi diakui sebagai bagian dari jalur pendidikan formal, tetapi pada sisi lain tidak dimasukkan sebagai bagian dari jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar : Sekolah Dasar dan/atau Madrasah Ibtidaiyah). Percaya atau tidak percaya, realitas ini terjadi dalam pemerintahan era reformasi.

Kendati demikian, oleh karena yang dititik-beratkan dalam PAUD adalah “peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini”;11 maka apresiasi positif dari masyarakat terhadap PAUD pada jalur pendidikan formal memang semakin terjadi, masyarakat Indonesia telah memperlihatkan menyediakan pondasi yang kuat bagi penyelenggaraan PAUD sebagai bagian dari kultur bangsa, mengingat bahwa “Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak.”.12 Dalam pandangan

9 Vide, “Jumlah Topik Harian Paud”, online : http://www.suara-islam.com/

tabloid.php?tab_id=101 – diakses 30-12-2013.

10 Vide, UNESCO, hal. 18.

11 “Pendidikan Anak Usia Dini”, online, http://id.wikipedia.org/ - diakses

02-02-2011.

12 Dida, “Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia”, online,

HAR-PAUD-2012 33 Nani Susilawati (Staf Pengajar FISIP USU), “PAUD memegang peranan penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, sebab merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak”.13 Bagi masa depan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, eksistensi PAUD amat penting jika dihubungkan dengan pembentukan karakter manusia Indonesia seutuhnya, dan memang PAUD yang terjadi pada masa usia keemasan (the golden age) dapat menjadi basis penentu pembentukan karakter manusia Indonesia.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman, bahwa status PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dalam pemerintahan era reformasi semisal Taman Kanak-kanak (TK) dan

Raudatul Athfal (RA) adalah kurang tegas (tidak konsisten, dalam kerancuan), pada satu sisi diakui sebagai bagian dari jalur pendidikan formal, tetapi pada sisi lain tidak dimasukkan sebagai bagian dari jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar).

Dalam dokumen Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Menge (Halaman 40-43)