• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.5 Stigma Sosial terhadap Penderita HIV/AIDS

4.5.2 Stigma pendamping terhadap Penderita HIV/AIDS

Sebagaimana dikatakan bahwa stigma dan diskriminasi telah menjadi hukuman sosial oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap pengidap HIV/AIDS yang bentuknya bermacam-macam antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang terkena HIV/AIDS. Banyak orang yang masih enggan untuk melakukan tes HIV/AIDS karena masih kentalnya stigma dari masyarakat, selain itu mereka juga merasa khawatir orang akan menilainya tidak baik ketika orang lain mengetahui bahwa telah positif HIV/AIDS.

Hal ini karena faktor resikop penyakit yang menyimpang dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya yang menyebabkan sebagian ODHA untuk berhati-hati kepada siapa akan bercerita bahwa dirinya telah terkena HIV/AIDS. Seperti yang diungkapkan salah seorang pendamping di Rumah Singgah yaitu Perisma Tarigan sebagai berikut :

Pernah ada seorang keluarga kan dekku, anaknya itu terkena HIV/AIDS, keluarganya itu tidak lagi peduli dengannya dia bilang begini... udahlah

bunda pokonya kan bunda tarok aja dia ke peti mati kuburkan aja, aku pun yang bayar uang peti matinya, makanya dulu aku sering sekali mengirimkan peti mati ke keluarga mereka, kadang menguburkannya, makanya dulu kan dek saya jadi tukang kubur juga (sambil tertawa), (wawancara Mei 2017).

Stigma dan diskriminasi tersebut masih sering terjadi terhadap ODHA, dimana mereka menganggap bahwa HIV adalah penyakit orang berprilaku jelek, dan juga adanya pengetahuan yang salah terhadap HIV/AIDS. Sehingga keluarga tidak mau menerimanya kembali.

Selama peneliti melakukan wawancara dengan tim pendamping atau pengurus di Rumah Singgah, mereka sama sekali tidak memberikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, karena menurutnya mereka juga berhak untuk hidup, tidak ada manusia yang sempurna semua penuh dengan kekurangan, dan juga tidak perlu membuat perlakukan yang berbeda terhapa mereka. Sebaiknya kita mengasihi mereka, peduli terhadap mereka, adanya rasa empati, memberikan kasih sayang, memberikan dukungan agar mereka tetap semangat untuk dapat sehat kembali, berumur panjang seperti manusia lainnya. Yang membedakan kita dengan ODHA yaitu di mereka ada virus HIV/AIDS tetapi dikita tidak. Seperti yang di ungkapkan Pdt. Monalisa br Ginting sebagai berikut :

HIV/AIDS itu bukanlah penyakit yang gampang penularannya, jadi kita tidak perlu memberikan stigma dan mendiskriminasi dan itu bisa kena siapa aja.... justru yang kami harapkan justru dengan kita mengasihi mereka, mereka akan lebih menghargai orang lain. Ada selalu prinsip yang kami lihat bahwa ada “dendam” di mereka itu cukup tinggi.jadi ketika kita

memusuhi mereka “dendam” mereka akan semakin tinggi dan niat mereka untuk menularkan itu tinggi juga tapi ketika kita mengasihi mereka, mereka akan bilang “cukup virus itu di akusaja jangan ada lagi yang tambah” gitu...karena mereka sudah melihat kasih itu gitu..(wawancara Mei 2017).

HIV dan AIDS masih memiliki citra yang menakutkan di kalangan masyarakat khususnya pada ODHA sendiri, selain karena faktor cara penularannya, AIDS dianggap sebagai vonis hukuman mati. Orang yang pertama kali terdiagnosis HIV dan AIDS seringkali merasa depresi, takut, gundah dan putus asa. Seperti yang dikatakan Pdt. Monalisa br Ginting yaitu :

Stigma dan diskriminasi itu lebih mematikan daripada virus HIVnya. Kalau virus HIV/AIDS kan minum ARV sudah aman, bisa dikendalikan. Kalau stigma dan diskriminasi bagaimana ? kita harus kuatkan ODHA, bahwa ODHA yang justru rapuh, jadi..jadi kita tidak boleh memberikan stigma kepada mereka...gitu (sambil tersenyum),(wawancara Mei 2017).

Dalam menghapus stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA memanglah tidak mudah. Komisi HIV/AIDS dan Napza GBKP terus berupaya untuk melakukan sosialisasi, edukasi kepada masyarakat walaupun terus mengalami beberapa kendala seperti yang diungkapkan oleh Pdt.Monalisa Ginting sebagai berikut :

Hambatannya banyak.. hambatan yang pernah kami alami justru di wilayah b.tagi, udah di buat kesepakatan bahwa pada tanggal tersebut kita akan melakukan kegiatan tersebut, tapi tidak ada yang datang, tak ada 1 orang pun yang datang. Yang jadi hambatannya ketidakpedulian masyarakat, jadi

ketidak pedulian ini apakah karena mereka takut atau mungkin karena budaya kita, budaya kita budaya karo yang tabu masalah berbicara masalah HIV/AIDS gitu.. karena pasti berbicara tentang seks, berbicara tentang sperma, vagina dsb, ada kesannya seperti itu. Ada juga yang merasa yang sejauh itu tidak ada dikeluargaku, aku aman-aman aja gitu... yang berikutnya banyak pimpinan yang tidak mau memfasilitasi jadi kami susah minta... misalnnya ayolah kita bikin sosialisasi di desa kalian, mereka tidak merespon, mau di folloe up tidak di respon itu hambatan yang kami alami (wawancara Mei 2017)

Walaupun demikian Komisi HIV/AIDS dan Napza GBKP terus melakukan serta mencari jalan keluar agar ada cara yang dapat digunakan untuk dapat mengurangi stigma negatidari masyarakat terhadap ODHA. Kegiatan yang dilakukan dengan mengadakan suatu pelatihan-pelatihan di sekolah, gereja dan di masyarakat dengan cara mencari orang-orang yang peduli terhadap masalah HIV/AIDS.

Melalui pelatihan-pelatihan, jadi melalui pelatihan ini kan lebih maksimal artinya waktunya lebih maksimal gitu... orangnya lebih fokus tapi kita mencari orang yang benar-benar care atau peduli terhadap masalah tersebut, jadi kammi manfaatkan orang-orang yang sungguh-sungguh, kita latih mereka dan kami berharap informasi itu tidak berhenti di mereka, mereka bisa menyampaikannya kepada orang lain. Itu yang akan kami perbanyak. Kalau ke pemerintah, kita bagi 2 yaitu klau khusus masalah pemerintah Kab.Karo itu untuk ke sekian kalinya kami melakukan rapat, tidak ada yang di respon mereka hanya bergerak masing-masing dan

kinerjanya tidak ada tetapi kalau dengan Provinsi, KPA Provinsi sudah ada terjalin kerjasama yang baik dan juga sudah kerjasama lama dengan mereka.

Dengan adanya kegiatan pelatihan-pelatihan yang di lakukan oleh Komisi HIV/AIDS dan Napza GBKP, ODHA sangat merasakan hasilnya dimana sudah banyak orang mengetahui tentang HIV/AIDS sehingga sudah banyak masyarakat yang mulai berani berinteraksi dan bergaul dengan ODHA.

Dokumen terkait