BAB II. TELAAH PUSTAKA
A. Landasan Teori
3. Stock Split
Stock split merupakan pemecahan nilai nominal saham ke dalam nilai nominal yang lebih kecil (Sartono, 2006). Atau dengan kata lain stock split adalah pemecahan nominal saham menjadi nominal yang lebih kecil, misalnya dari nominal Rp 1.000 per saham menjadi nominal Rp 500 per saham. Pemecahan nominal saham ini mengakibatkan jumlah lembar saham menjadi banyak (Basir dan Fakhrudin, 2005). Dengan demikian, jumlah saham yang beredar akan meningkat proporsional dengan penurunan nilai
nominal saham. Tujuan stock split adalah untuk menempatkan harga pasar saham dalam trading range tertentu. Pemecahan saham dapat terdiri atas berbagai ukuran, yaitu pemecahan saham dua untuk satu, tiga untuk satu, satu untuk setengah, atau berapapun (Brigham and Houston, 2006).
Pada dasarnya ada dua jenis pemecahan saham yang dapat dilakukan yaitu pemecahan naik (split up) dan pemecahan turun (split down atau reverse split). Pemecahan turun adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar. Misalnya pemecahan turun dengan faktor pemecah 1:2; 1:3; dan 1:4. Pemecahan naik adalah penurunan nilai nominal perlembar saham yang mengakibatkan bertambahnya jumlah saham yang beredar. Misalnya pemecahan saham dengan faktor pemecah 2:1; 3:1; dan 4:1. Perbandingan antara jumlah lembar saham yang bernominal lama dengan jumlah lembar saham yang bernominal baru disebut dengan rasio stock split. Misalnya 2:1 berarti 1 lembar saham nominal lama dipecah menjadi 2 lembar saham nominal baru (Basir dan Fakhrudin, 2005).
Pemecahan saham (stock split) adalah memecah selembar saham menjadi n lembar saham. Harga per lembar saham baru setelah stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya. Dengan demikian, sebenarnya stock split tidak menambah nilai dari perusahaan atau dengan kata lain stock split tidak mempunyai nilai ekonomis. Tetapi jika stock splits tidak mempunyai nilai ekonomis, mengapa perusahaan emiten melakukannya? Kemungkinan alasannya adalah berhubungan dengan likuiditas harga
sekuritas dan yang berhubungan dengan sinyal yang akan disampaikan oleh perusahaan ke publik (Jogiyanto, 2008).
Dengan pemecahan saham, semua saham lama dihancurkan dan saham baru (dengan nominal baru) diterbitkan. Jumlah saham baru biasanya lebih besar 25% atau lebih dibandingkan jumlah saham lama yang beredar. McGrough (1993) mengatakan bahwa pasar modal Amerika Serikat yang diwakili oleh New York Stock Exchange (NYSE) juga mengatur kebijakan mengenai pemecahan saham. NYSE membedakan pemecahan saham menjadi dua, yaitu :
1) Pemecahan saham sebagian (partial stock split), yaitu tambahan distribusi saham yang beredar sebesar 25% atau lebih tetapi kurang dari 100% dari jumlah saham lama.
2) Pemecahan saham penuh (full stock split), yaitu tambahan distribusi saham yang beredar sebesar 100% atau lebih dari jumlah saham lama.
Proses pemecahan stock split ini dengan cara menukarkan saham dengan nilai nominal lama yang dimiliki dengan saham baru dengan nominal baru. Pemecahan saham ini tidak mempengaruhi modal yang disetor penuh, karena tidak terjadi penambahan modal disetor, tetapi yang terjadi hanyalah pemecahan nilai nominal yang lebih kecil sehingga banyaknya saham menjadi meningkat. Harga teoritis saham setelah pemecahan saham harus dihitung, sebab harga ini harus mengadakan penyesuaian sehubungan dengan nilai nominal baru dan harganya secara
otomatis akan mengalami penyesuaian. Dengan meningkatnya jumlah saham yang beredar, maka harga dasar saham akan mengalami penyesuaian agar angka indeks tidak berubah.
Untuk itu, perlu dilakukan penghitungan harga teoritis saham yang diakibatkan adanya peristiwa stock split. Penghitungan stock split dari nominal a menjadi nominal b adalah sebagai berikut.
HT = n HAS
Dimana :
HT : harga teoritis
HAS : harga akhir saham dengan nilai nominal lama
n : baru nominal nilai lama nominal nilai : b a (faktor split)
Penyesuaian jumlah saham akibat split saham sehingga nilai nominal saham berubah dari Rp a menjadi Rp b.
c = t n Dimana :
c : jumlah saham setelah split t : jumlah saham sebelum split n : factor split (
b a )
Penyesuaian nilai dasar karena adanya split. NDB : NPS NDS C Hx NPS( ) Dimana :
NDB : nilai dasar baru
NPS : nilai pasar sebelumnya
Hx : selisih antara harga teoritis dengan harga pembulatannya C : jumlah saham setelah split
NDS : nilai dasar sebelumnya
Beberapa pelaku pasar khususnya para emiten berpendapat bahwa aktivitas split diyakini dapat memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan. McGrough (1993) mengemukakan manfaat pada umumnya yang diperoleh dari split, yaitu menurunkan harga saham yang kemudian akan membantu meningkatkan daya tarik investor, membuat saham lebih likuid untuk diperdagangkan dan mengubah investor odd lot (investor yang membeli saham di bawah 1 lot/ 500 lembar) menjadi investor round lot (investor yang membeli saham minimal 1 lot/ 500 lembar).
McNichols & Dravid (1990) menemukan bahwa secara statistik terjadi kenaikan EPS yang signifikan pada perusahaan setelah pengumuman stock split. Berdasarkan penemuan tersebut, yaitu bahwa harga saham meningkat setelah pengumuman split, satu keterangan yang didapatkan adalah bahwa perusahaan memecah sahamnya untuk mensinyalkan informasi mengenai laba masa depan. Ada dua hipotesis yang ditujukan
untuk menerangkan abnormal return yang berhubungan dengan stock splits. Hipotesis yang pertama yaitu hipotesis pensinyalan (signaling hypothesis). Menurut hipotesis ini, stock splits berhubungan dengan pengumuman abnormal return yang positif karena manajer menggunakan stock splits untuk menyampaikan informasi privat yang menguntungkan mengenai prospek masa depan perusahaan. Dalam hipotesis ini dinyatakan bahwa stock split memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return masa depan yang substantial. Return yang meningkat tersebut dapat diprediksi dan merupakan sinyal tentang laba jangka pendek dan jangka panjang. Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh manajemen kepada publik bahwa perusahaan mempunyai prospek yang bagus di masa depan.
Hipotesis yang kedua yaitu trading range hypothesis, yaitu split dilakukan untuk menyesuaikan harga saham ke tingkat yang “optimal”. Hipotesis ini menyatakan bahwa stock split akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Hal ini disebabkan oleh harga saham yang terlalu tinggi yang menyebabkan kurang aktifnya saham tersebut diperdagangkan. Dengan adanya stock split, harga saham menjadi tidak terlalu tinggi sehingga akan banyak investor yang mampu bertransaksi.
Ada beberapa alasan yang mendasari dilakukannya stock split, yaitu alasan yang berhubungan dengan likuiditas saham dan alasan yang berhubungan dengan sinyal yang diberikan split. Alasan pertama bahwa stock splits dilakukan karena akan dapat meningkatkan likuiditas harga
sahamnya sudah dibantah oleh Copeland (1979). Copeland dalam Jogiyanto menemukan hal yang sebaliknya dengan alasan ini, yaitu likuiditas pasar akan semakin rendah setelah stock split, yaitu volume perdagangan menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya, biaya transaksi pialang secara proporsi meningkat dan bid – ask – spread (selisih harga bid yang diajukan oleh pembeli dan harga ask yang diminta oleh penjual) juga lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Indah Kurniawati (2003) yang dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terjadi penurunan likuiditas setelah pengumuman pemecahan saham.
Alasan yang kedua yaitu alasan yang berhubungan dengan sinyal yang akan disampaikan oleh perusahaan ke publik. Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang positif karena manajer perusahaan akan menyampaikan prospek masa depan yang baik dari perusahaan ke publik yang belum mengetahuinya. Alasan sinyal ini didukung dengan kenyataannya bahwa perusahaan yang melakukan stock split merupakan perusahaan yang mempunyai kinerja yang baik. Jika pasar bereaksi pada waktu pengumuman stock split, bukan berarti bahwa pasar bereaksi karena informasi stock split tersebut yang tidak mempunyai nilai ekonomis, tapi bereaksi karena mengetahui prospek perusahaan di masa depan yang disinyalkan melalui stock split.
Agar suatu sinyal dianggap valid dan dapat dipercaya oleh pasar, maka tidak semua perusahaan dapat melakukannya. Hanya perusahaan yang benar-benar mempunyai kondisi yang sesuai yang disinyalkan yang akan
mendapatkan reaksi positif. Perusahaan yang memberikan sinyal tidak valid akan mendapatkan dampak yang negatif. Sesuai yang ditemukan oleh Copeland bahwa stock split mengandung biaya yang harus digunakan maka hanya perusahaan yang mempunyai prospek bagus saja yang mampu menanggung biaya ini dan sebagai akibatnya pasar bereaksi positif terhadapnya. Sebaliknya, perusahaan yang tidak mempunyai prospek yang baik yang mencoba memberikan sinyal tidak valid lewat stock split akan meningkatkan harga sekuritasnya, tetapi akan menurunkannya jika pasar cukup canggih untuk mengetahui.
Menurut Scott, Martin, Petty dan Keown (1999) dalam Rohana (2003) ada beberapa alasan mengapa manajer perusahaan melakukan stock split antara lain yaitu:
1. Agar saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham,
2. Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan,
3. Untuk membawa informasi mengenai kesempatan berinvestasi yang berupa peningkatan laba dan dividen kas.