II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Strategi Bertahan Hidup
Dalam kehidupan manusia akan mengalami tahapan-tahapan perkembangan tertentu. Di setiap tahap perkembangan setiap orang memiliki tugas tersendiri. Tahap perkembangan dimulai dan masa konsepsi, kemudian kelahiran, anak-anak, remaja dewasa hingga akhir hayatnya. Kajian yang akan diteliti kali ini adalah guru honorer yang berada pada tahap perkembangan dewasa awal yang memiliki rentang usia antara 20-40 tahun (Santrock, 2004). Salah satu tugas perkembangan seseorang yang telah memasuki masa dewasa adalah memasuki dunia kerja dan karier. Seseorang mulai mengeksplorasi kemungkinan karier yang ada dan harus siap untuk menentukan kaner yang tepat bagi dirinya. Setelah menemukan karier yang tepat, seseorang berusaha dan bekerja keras untuk membangun dan bergerak menaiki tangga karier serta meningkatkan posisi keuangan. Demikian pula guru honorer di Asosiasi Guru Honor Indonesia (AGHI) kota Campang menentukan pilihan untuk bekerja sebagai guru karena merasa profesi sebagai guru tepat bagi dinnya.
Menurut Simon, Fisher (2001) bahwa strategi adalah serangkaian langkah yang saling terkait secara logis ke arah seluruh tujuan Anda, yang dapat Anda uji dan ubah sesuai dengan perkembangan situasinya. Teori di perjelas oleh Harry Waluyo
(1994) bahwa strategi adalah cara terbaik untuk mencapai beberapa sasaran. Untuk menentukan mana yang terbaik tersebut akan tergantung dari kriteria yang digunakan. Sedangkan taktik adalah pilihan-pilihan yang dimiliki dalam mengimplementasikan sebuah strategi. Pilihan-pilihan ini akan bekerja atau tidak bekerja tergantung dari kriteria yang digunakan dan pilihan-pilihan tersebut adalah yang berlangsung lama, tidak mudah diubah dan mencakup situasi yang sangat terstuktur. Keberadaan strategi tidak untuk mendikte tujuan, sebaliknya tujuan dan sasaran harus dipengaruhi oleh peluang yang tersedia.
Strategi memperhatikan hubungan antara pelaku (orang yang melakukan tindakan) dengan dunia luar. Strategi menyebutkan satu persatu hubungan penyebab dan hasil antara apa yang dilakukan pelaku dan bagaimana dunia luar menanggapinya. Menurut Anharudin (2006) bahwa strategi disebut efektif jika hasil yang dicapai seperti yang diinginkan. Karena kebanyakan situasi yang memerlukan analisa stratejik tidak statis melainkan interaktif dan dinamis, maka hubungan antara penyebab dan hasilnya tidak tetap atau pasti.
Keputusan strategi tidak berarti apa-apa tanpa implementasi. Strategi tergantung pada kemungkinan dan taktik yang potensial. Keputusan strategik harus dapat mencapai tujuannya. Strategi diartikan sebagai petunjuk umum dimana suatu organisasi merencanakan untuk mencapai tujuannya. Menurut Harry Waluyo (1994:43) beberapa macam strategi yang perlu dilakukan adalah strategi aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah-tamah dan strategi ketenangan. Akan tetapi beberapa strategi yang dipaparkan tersebut diatas merupakan strategi penunjang kehidupan keluarga honorer, karena ada beberapa strategi yang lebih utama
diantaranya adalah strategi pangan/konsumsi, strategi pekerjaan/pendapatan, strategi tempat tinggal dan strategi untuk kesehatan serta pendidikan anak-anak.
Tidak semua guru honorer memiliki aset (harta) kekayaan yang mampu dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan hidup individu beserta keluarganya. Apalagi biasanya sifat kekeluargaan di dalam kehidupan masyarakat sangat kuat. Permasalahan utama yang dialami oleh guru honorer yaitu kepemilikan tanah yang tidak bebas. Sehingga butuh strategi bertahan hidup yang harus diatur sedemikian rupa karena walaupun keluarga honorer memiliki lahan garapan akan tetapi mereka tidak merasa bebas untuk mengelolanya. Berikut adalah salah satu strategi yang dilakukan oleh keluarga honorer yang diungkapkan oleh Jan Breman (1986:54) tentang:
Pemegang hak milik tetap sipenggarap namun dalam nama belaka. Tak ada pada mereka kemungkinan untuk menggarap tanah mereka dengan bebas. Penciutan basis kehidupan itu memaksa kaum tani semakin berada dalam kedudukan bertahan. Agar supaya tetap bisa mempertahankan hidup mereka terpaksa meminjam uang, dan sebagai jaminan untuk pinjamannya itu mereka harus menyerahkan untuk sementara tanahnya sampai beberapa lama kemudian. Maka mulailah gerak garis spiral menurun dari kemiskinan, kelibatan hutang dan terus kehilangan hak tanah.
Lebih khusus Parsons dalam Sriati (2005: 4) agar dapat bertahan dan berkembang suatu masyarakat harus mempunyai empat perangkat atau subsistem fungsional tertentu, yaitu: (1) Adaptasi (A), (2) Goal Attainment (G), (3) Integrasi (I), dan (4) Lantency (L). Pada sistem sosial empat subsistem tersebut (A-G-I-L) diemban oleh
institusi-institusi sosial. Subsistem pencapaian tujuan diemban oleh institusi hukum dan kontrol sosial serta sistem pemeliharaan pola dijalankan oleh institusi pendidikan, agama dan keluarga. Melalui identifikasi persyaratan fungsional sistem sosial tersebut. maka sistem pengembangan pertanian dapat diidentifikasi dengan kerangka A-G-I-L sebagai berikut:
1. Subsistem Adaptasi diemban oleh lembaga ekonomi desa (lembaga agribisnis) 2. Subsistem pencapaian tujuan (Goal) diemban oleh pemerintah (aparat
pertanian)
3. Subsistem integrasi diemban oleh petani (proses produksi, lembaga usaha tani) 4. Subsistem pemeliharaan pola (Latency) diemban oleh lembaga pendidikan
Strategi yang dilakukan selain melihat dari subsistem fungsional, yang perlu diperbaiki adalah basis-basis kelompok masyarakat pada setiap areal dengan pertimbangan bahwa kelompok itu timbul atas keinginan dan kebutuhan dari dalam masyarakat sendiri, komunikasi antar anggota dalam satu kelompok akan menjadi lebih lancar pula. Kelompok guru honorer perlu merencanakan dan mentargetkan konsumsi pangan seperti yang dijelaskan oleh Bustanul Arifin (2001: 51) bahwa ketersediaan dan kecukupan pangan juga mencakup kuantitas dan kualitas bahan pangan agar setiap individu dapat terpenuhi, standar kebutuhan kalori dan energi untuk menjalankan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Pada kondisi yang lain, seseorang juga memiliki strategi seperti yang disampaikan oleh Fokkins (1902-1903, 1:52) dalam Jan, Breman (1986):
Hampir menjadi kebiasaan di mana-mana untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga honorer memang bayak cara yang dilakukan. Selain dengan cara pola
penghematan, dan cara pengolahannya. Keluarga honorer juga memiliki strategi yang umum dilakukan oleh orang yang dalam keadaan "kekurangan" termasuk masyarakat perkotaan yang modern sekalipun. Strategi yang dimaksud pada kalimat diatas adalah "berhutang", hutang yang berbentuk uang, biasanya dilakukan dalam menghadapi masalah serius. misalnya untuk keperluan sekolah anak, ketika anak-anak sekolah hendak ujian; ataupun pada saat "bagi lapor" atau kondisi sedang sakit.
Biasanya guru honorer jka menjalani kekurangan melakukan hutang dengan tetangga maupun dengan saudaranya yang kaya disekitar itu maka untuk itu harus mampu melakukan hubungan secara vertikal maupun secara horizontal. Hubungan yang dilakukan vertikal yaitu hubungan baik yang dilakukan dengan keluarga kaya ataupun yang mempunyai kedudukan lebih tinggi didaerah tersebut. Adanya hubungan yang baik antara keduanya akan dapat percaya meminjamkan atau memberikan bantuan kepada guru honorer yang dimaksudkan. Sedangkan untuk hubungan horizontal adalah hubungan yang dilakukan sesama anggota masyarakat yang mempunyai kedudukan dan status sama. Hubungan baik yang telah terjalin akan menciptakan rasa solidaritas yang tinggi sesama keluarga honorer yang dalam satu kawasan konflik. Setidaknya saling merasakan senasip dan seperjuangan.
Strategi bertahan hidup dilakukan oleh keluarga honorer ketika dirasa pada kondisi yang miskin, maka bersedia bekerja apasaja. Sri Budiyati (nttp://www.smeru.or.id/newslet/20061lfield3.html) mengatakan bahwa:
bekerja "serabutan" atau "mengambil upahan" dilakukan sekedar untuk bertahan hidup. Konsekuensinya, penghasilan mereka juga tidak tetap. Umumnya upah yang
mereka terima hanya cukup untuk uang makan keluarga hari itu, atau kadang-kadang habis untuk membayar hutang. Ketidakpastian ini memaksa mereka setiap saat harus memikirkan cara agar dapat memperoleh pekerjaan.
Menurut Kusnadi (2000) bekerja serabutan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah bekerja apa saja dan siapa saja yang bisa mengerjakannya. Artinya seluruh anggota keluarga memiliki tanggungjawab untuk dapat berusaha mencari penghasilan untuk keperluan makan.
Tanggungjawab yang dimaksud adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh kaum istri misalnya menanam beberapa jenis sayur di pekarangan rumah, sehingga ketika tidak ada sayur untuk dimasak maka sesekali dapat memetik hasil tanaman tersebut. Walaupun tanaman itu tidak banyak, setidaknya dapat memenuhi kebutuhan sayur untuk sehari atau dua hari. Tanaman itu biasanya sengaja ditanam, dan ada juga yang tumbuh dengan sendirinya kemudian dipelihara hingga tumbuh besar.
Bekerja serabutan merupakan bentuk diversifikasi usaha atau alih usaha yang dilakukan guru honorer. Diversifikasi usaha yang dilakukan adalah usaha lain di luar kegiatan cocok tanam. Walaupun mereka memiliki lahan garapan sendiri, keluarga honorer beserta keluarganya mencari pekerjaan lain. Karena waktu tunggu panen bagi keluarga honorer seusai musim tanam culcup lama, tergantung jenis tanaman yang ditanam. Diversifikasi usaha yang dimaksud contohnya berdagang dipasar atau mengumpulkan kayu bakar dan dijual kepasar. Strategi diversifikasi usaha membantu mencukupi kebutuhan harian keluarga guru honorer sampai dengan waktu panen tiba.
Bagi guru honorer yang berada di kawasan konflik, bentuk strategi bertahan hidup yang dilakukan yaitu mengadakan perlawanan kepada pihak pemerintah ataupun perusahaan yang terlibat dalam konflik tersebut. Bentuk perlawanan yang dilakukan dapat bersifat terbuka dan sembunyi-sembunyi. Secara terbuka bentuk perlawanan yang dilakukan yaitu berupa aksi protes secara langsung. Aksi protes ini dilakukan dengan cara bersama-sama secara terencana. Sedangkan perlawanan secara sembunyi-sembunyi misalnya penebangan ranting-ranting kayu hutan untuk dijadikan kayu bakar. Penebangan kayu hutan tersebut dapat juga dibuat bahan dasar membangun tempat tinggal atau dijual untuk memperoleh pendapatan.
Pada saat kondisi guru honorer dalam syarat minimum, ketika tidak memiliki alternatif lain untuk bertahan hidup, maka dapat saja menjual aset atau harta yang mereka miliki untuk mencukupi kebutuhan mereka. Seperti yang diungkapkan oleh John MacDougall bahwa ada beberapa cara atau upaya strategi bertahan hidup yang dilakukan oleh ibu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan yaitu menjual aset seperti sepeda motor, sepeda, emas dan lainnya atau aset investasi seperti sawah. Sehingga, jika sawah yang mereka miliki terjual maka akan mengakibatkan kemiskinan secara struktur. Karena terjualnya lahan atau sawah yang mereka miliki, berarti hilangnya modal sebagai mata pencaharian mereka dan kemudian menjadi tenaga buruh. (Soerjono Soekanto, 2001: 237)
Strategi-strategi yang dilakukan tersebut diatas dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar, yaitu sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sandang atau pakaian terpenuhi karena adanya momen tertentu seperti hari raya, dan atau ketika ada saudara dekat yang melakukan hajatan/syukuran besar.