• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Konfrontatif dalam Kebijakan Luar Neger

Menurutperspektif strategi, tugas utama dari pengambilan keputus-an dalam kebijakan luar negeri adalah merancang suatu strategi dalam rangka berkompetisi secara efektif dalam percaturan politik internasional yang kompleks dan terkadang mematikan (Lovell, 1970:65). Walaupun istilah stra-tegi seringkali diartikan sebagai rancangan operas! militer dalam perang, istilah tersebut dapat pula diaplikasikan ke dalam pengertian yang lebih luas. Dapat diartikan sebagai pra desain dari seperangkat tindakan, serangkaian keputusan, dalam situasi kompetitif dimana hasil akhimya tidak hanya ber-gantung pada keberuntungan. Dalam pengertian yang luas strategi kebijakan luar negeri adalah rencana-rencana suatu negara untuk memaju-kan atau mencapai kepentingan nasionalnya dan mencegah negara-negara lain yang menghalangi pencapaian kepentingan nasional tersebut. (Lovell, 1970:68).

Strategi secara mendasar adalah rencana untuk mencapai sukses dalam suatu kontes: dalam kebijakan luar negeri, strategi adalah suatu rencana dimana penentu kebijakan berusaha untuk mencapai kepentingan negara-bangsanya, dimana secara bersamaan mencegah negara bangsa lainnya mengganggu kepentingan tersebut. Secara analitis, terdapat dua komponen strategi (Lovell, 1970:99), yaitu:

1. Komponen Ofensif{offensive component),yaitu desain untuk mencapai hasil. Komponen ofensif bukan hanya harus mengingatkan akan keuntungan yang mungkin bisa diraih dari aksi tertentu, tapi juga keberhasilan dan kerugian yang telah diperhitungkan sebelumnya. Komponen ofensif harus memperhitungkan tidak hanya kemungkinan

reward yang diperoleh, namun juga memper-hitungkan kesempatan sukses dan perkiraan biaya yang akan mengancam kepentingan yang telah digariskan, serta merespon ancaman-ancaman yang ada akibat

2. Komponen Defensif(defensive component),yaitu suatu rencana untuk aksi pencegahan suatu negara, karena kepentingannya terancam oleh negara lain, juga suatu rencana untuk merespon ancaman pada saat aksi pencegahan tersebut gagal. Stategi defensif didesain dalam hubungan the cost-gain estimates dengan negara lain. Deterrence

meliputi usaha untuk mempengaruhi pihak lain dengan mengguna-kan

cost-gain estimatesmereka dalam memper-timbangkan tindakan yang didesain untuk mencegah atau membuat alternatif tindakan yang didesain untuk mencegah atau membuat alternatif tindakan yang lebih atraktif. Dalam pernyataan yang sederhana,deterrence yang sukses berkaitan dengan tindakan 'sticks and carrots' untuk mempengaruhi tindakan aktor lain. (Lovell, 1970:68).

Ada dua hal yang mungkin terjadi dari perspektif strategi. Kemungkin-an pertama adalah ketika seorang pembuat kebijakan melihat bahwa strategi atau kebijakan dari negara lain mendukung kepentingan nasionalnya maka negara perespon melakukan leadership)ika kapabilitas negara tersebut lebih baik atau superior dari negara lain yang membuat strategi tadi, atau akan melakukan strategi concordance jika kapabilitas nasionalnya lebih burukatau inferior daripada negara lain yang membuat strategi tadi.

Kemungkinan kedua adalah ketika seorang pembuat kebijakan melihat bahwa strategi dari negara lain mengancam kepentingan nasional negara tersebut, maka negara perespon akan melakukan strategi

confrontativejika para pembuat kebijakan tersebut merasa bahwa kapabilitas negaranya adalah lebih baik atau superior dari negara yang mengancam tersebut, atau melakukan strategiaccomodationjika para pembuat kebijakan tersebut merasa bahwa kapabilitas negaranya adalah lebih buruk dari negara yang mengancam tersebut.

Other's Strategy Threatening Other's Strategy Supportive Accomodatio n Strategy Concordan ce Strategy

Own Capabilities Inferior

Sumber: Lovell (1970:99)

Kemudian kebijakan luar negeri tersebut akan digunakan untuk melindungi keamanan nasional dan kepentingan nasional negara tersebut dari ancaman yang datang dari dalam dan luarnegaranya (Buzan, 1991:271). Selanjutnya menurut Buzan dalam melakukan pertahanan tersebut biasanya digunakan hal-hal yang bersifat militer. Sehingga biasa dalam melakukan pertahanan adalah dengan cara memperkuat kekuatan militer dalam negeri.

Dalam menganalisis kebijakan luar negeri, perspektif srategi bertujuan untuk menjelaskan pola-pola yang terlihat dalam kalkulasi oleh para pengambil keputusan dalam mencapai tujuan tertentu. Walaupun banyak sekali tindakan-tindakan tersebut dalam rentang waktu yang panjang, namun terdapat pola yang dapat diidentifikasikan, dimana para analis mengasumsikan tindakan yang diambil merefleksikan sebuah rancangan yang terpola. Dalam mengidentifikasikan pola tersebut, ter-dapat variabel kunci pada saat tindakan diambil oleh pembuat keputusan. Adapun variabel kunci dalam rancangan strategi tersebut adalah:

1. Perkumpulan dan persekutuan, dalam perspektif strategi didalamnya terkandung koalisi. Koalisi ini merupakan suatu alat dimana setiap pihak dimungkinkan meningkatkan keuntungan yang dicapai - dalam bahasa game theorydisebut 'payoffs' - atau setidaknya mengurangi resiko

yang akan dimasukkan dalam koalisi; dan biaya yang hams dikeiuarkan (dalambahasagame theory disebutdengan'side-payments').

2. Resiko dalam game{stakes of the game).Seperti halnya pemain poker ataupun pemain sepakbola yang acapkali merubah strateginya untuk mencapai kemenangan, dalam politik internasional, negara-bangsa pun melakukan perubahan strategi untuk menggapai kepentingan nasionalnya. Secara jelas, variasi dalam resiko permainan politik internasional mengakibatkan variasi dalam strategi yang diterapkan tiap aktor. Resiko tersebut dikalkulasikan pada term prioritas pada penentu kebijakan dalam mengalokasikan kepentingan nasional dan tujuan serta dalam hal estimasi kepentingan pihak lain yang dinilai mengancam atau tidak kepentingan nasional negaranya. Dalam proses perubahan strategi ini, bangsa-bangsa seringkali mengalami kesulitan dalam melakukan kalkulasi yang akurat, dimana resiko yang ada selalu berubah setiap saat, resiko yang dihadapi setiap pemainpun berbeda- beda, dan keputusan para penentu kebijakan seringkali dilakukan secara implisit dibandingkan dengan secara eksplisit.

3. Mengenai estimasi kapabilitas, dengan melakukan estimasi ada kapabilitas relatif yang dimiliki, maka pemain tersebut dapat mengidentifikasikan kemungkinan strategi yang dimiliki, maka pemain tersebut dapat mengidentifikasikan kemungkinan strategi yang rasional bagi dirinya. Penentu kebijakan tidak secara total mempercayai formula dalam mengestimasi kapabilitas negara-bangsanya sendiri agar sukses dalam persaingan yang ada; para penentu kebijakan hanya dapat mengasumsikan faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan memiliki kapabilitas tinggi dibandingkan dengan kapabilitas yang dimiliki oleh pihak lain yang dianggap sebagai rivalnya.

4. Estimasi strategi pihak lain merupakan suatu tindakan yang mencoba memperkirakan strategi yang diterapkan oleh pihak lain. Melalui

rivalnya berusaha untuk mengaburkan prediksi/ perkiraan tersebut. 5. Terakhir adalah mengenai peraturan permainan, yang berarti bahwa dalam politik internasional, seperti halnya dalam permainan catur dan bola basket, strategi kebijakan luar negeri dibentuk dalam framework sekumpulan peraturan. Namun, peraturan ini sendiri secara garis besar sifatnya tidak tertulis dan informal, dan terkadang bergantung pada keinginan-keinginan pemain yang memiliki power.Walaupun begitu, penting untuk mengetahui strategi yang diterapkan mungkin saja terlihatjanggal. (Lovel, 1970:69-74).

Ada dua hal yang perlu diingat mengenai strategi. Pertama adalah bahwa suatu seri tindakan mungkin dilihat sebagai strategi dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan jangka pendek dan dapat pula diartikan sebagai taktik untuk jangka panjang. Kedua adalah dalam tujuan-tujuan tertentu, serangkaian interaksi yang telah ada dapat dilihat sebagai game itu sendiri, dan bagi tujuan lain, interaksi tersebut dapat pula dilihat sebagai salah satu fase dalam game yang lebih besar lagi.

Dalam perspektif strategi, keputusan tertentu dilihat dalam hubungannya dari tujuan strategi secara keseluruhan. Adapun tindakan taktis tersebut dapat didesain untuk:

1. Legitimasi, dimana tindakan taktis dirancang untuk melegitimasi

tindakan lain.

2. Memaksimalkan keuntungan taktis{exploitation of tactical advantage).

3. Meminimalkankerugian taktis(reduction of tactical advantage).

4. Meningkatkan posisi tawar(improvement of bargaining position).

5. Meningkatkan daya antisipasi dari ancaman yang datang dari lawan

kredibilitas dari deklarasi yang dilakukan. Sementara semakin spesifik janji dan ancaman, maka akan lebih tinggi lagi kredibilitas tekanan yang ingindiperlihatkan.

2. Demonstrasi kapabilitas(demonstration of capabilities).Demonstrasi kapabilitas ini kadangkala diambil dalam rangka meningkatkan posisi tawar dari negara yang terlibat atau melegitimasi bentuk kebijakan luar negerinya di dalam negeri.

3. Gertakan dan tantangan bagi gertakan tersebut(bluffs and chalanges to bluffs).Gertakan adalah taktik yang biasa dilakukan dalam banyak kompetisi untuk mempergunakan sumber daya secara efektif dengan cara mengaburkan prediksi dari lawan.

4. Penghargaan dan hukuman(reward and punishment).Tindakan ini diambil untuk memperkuat daya tangkal dengan meningkatkan

kredibilitas, meningkatkan legitimasi melalui demonstrasi kebenaran pemyataan dari salah satu pihak yang terlibat, dan memaksimalkan keuntungan taktis atau mengkompensasikan kerugian taktis. (Lovell, 1970:79-84).

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa perspektif strategi memiliki 4 hipotesis kemungkinan langkah mana yang hendak diambil oleh para pembuat kebijakan. Keempat hipotesis itu adalah concordance, leadership, accomodation,dan terakhir adalahconfrontative.

Didalam melakukan analisis kebijakan luar negeri suatu negara, Lovell memberikan acuan dasar, yaitu persepsi ancaman yang mungkin datang dari luar baik itu berupa tindakan langsung ataupun sebuah kebijakan yang tidak langsung menimbulkan efek atau pengaruh terhadap negara tersebut, dan juga estimasi kapabilitas negaranya dan negara lawannya. Kapabilitas ini pada umumnya melihat pada segi militer dan teknologinya, namun tidak

apakah itu merupakan suatu ancaman atau bukan ancaman. Jika telah diputuskan bahwa pergerakan dari pihak lawan adalah merupakan sebuah ancaman yang mengancam kepentingan nasional negaranya dan perlu ditanggapi, maka langkah kemudian adalah mengestimasi kapabilitas yang ada pada negaranya dan negara pihak lawan. Dari estimasi tersebut, maka akan terlihat kapabilitas relatif yang dimiliki oleh negaranya dan pihak lawan. Jika negara ini merasa kapabilitasnya lebih superior dari pada pihak lawannya, maka negara tersebut akan mengambil kebijakan berupa

confrontative strategy.

Dalam menjalankan confrontative strategy, sebuah negara akan mencari isu-isu yang lebih mendalam sehingga nantinya akan ditemui cara-cara yang menimbulkan konflik di pihak lawan. Hal ini dilakukan untuk memaksa pihak lawan agar merubah posisinya, kebijakan atau langkah yang telah diambilnya melalui pengakuan atau rekognisi terhadap kesuperioritas-an kapabilitas negara pertama. Dengan begitu maka diharapkan ancaman yang datang dari luar tersebut dapat dirubah menjadi tindakan yang mendukung atau sejalan dengan kepentingan negara pertama atau setidaknya netral.