Ketika kontestasi pemilihan umum dijadi-kan instrumen meraih kekuasaan dan proses pembuatan kebijakan menuntut aktor dan pu-blik ikut terlibat di dalamnya, maka kemam-puan merumuskan strategi menjadi salah satu variabel penting. Strategi yang diterapkan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari sumber-sumber daya yang dimiliki sang aktor. Seba-gaimana telah diuraikan, hasil Survei PWD 2013 menunjukkan bahwa sumber daya eko-nomi merupakan basis pijakan penting bagi aktor dominan dalam upaya meraih kekuasaan
dan memperoleh pengaruh, sedangkan sum-ber daya kultural merupakan modal yang paling sedikit dijadikan sandaran oleh aktor dominan. Lebih lanjut, hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa sumber daya sosial merupakan basis pijakan utama aktor alter-natif, sedangkan sumber daya ekonomi dinilai relatif sedikit dimanfaatkan oleh aktor alternatif sebagai basis dan modal utama.
Bila data tersebut dikaitkan dengan hasil survei yang menunjukkan bahwa 72,7 persen informan menyatakan aktor dominan tidak mengalami kesulitan untuk menjadi pimpinan politik yang legitimate dan otoritatif dibanding-kan dengan aktor alternatif, maka argumen yang mendukung kemudahan aktor dominan menjadi pemimpin politik yang legitimate dan otoritatif ditengarai terletak pada sumber daya ekonomi yang dijadikan basis dan modal meraih kekuasaan. Argumen itu memang perlu ditelaah lebih mendalam karena kedua aktor tersebut juga bersandar pada sumber daya sosial; aktor dominan memanfaatkannya sebagai basis no-mor dua (31,8%) setelah sumber daya ekonomi dan basis utama (52,5%) bagi aktor alternatif.
Hal itu sekaligus mempertegas argumen bahwa sumber daya ekonomi berpengaruh signifikan terhadap kemudahan seseorang untuk menjadi pemimpin politik yang legitimate dan otoritatif.
Sebaliknya, sumber daya sosial dinilai tidak terlalu berpengaruh dalam konteks kemudahan untuk menjadi pemimpin politik.
Selain harus mempertimbangkan sumber daya, perumusan strategi juga harus memper-timbangkan karakter publik yang mempunyai hak suara dalam kontestasi elektoral serta perumusan kebijakan publik. Dengan kata lain, untuk memperoleh dukungan penuh, para aktor harus mendekatkan diri dan memahami kehendak massa. Salah satu karakter menonjol di tengah kehidupan masyarakat saat ini adalah kentalnya relasi komunal dalam kerangka emo-sional-tradisional berbasis identitas etnis, suku, serta agama. Relasi itulah yang kemudian dipolitisasi untuk meraih dukungan dan me-menangi kontestasi pemilihan dengan
mem-bangun patronase.18 Dalam konteks kontestasi pemilihan, hubungan patronase itu bisa diter-jemahkan sebagai pertukaran keuntungan, baik berupa uang, barang, dan jasa maupun keun-tungan ekonomi lainnya.19 Dengan demikian, dalam merumuskan strategi kontestasi diper-lukan keterampilan meramu sumber daya de-ngan mempolitisasi identitas dan membangun patronase demi memenangi pemilu dan mem-pertahankan pengaruh.
Hasil Survei PWD 2013 juga menunjukkan bahwa 16,4 persen informan menyatakan stra-tegi yang paling sering diterapkan aktor do-minan berwujud tindak sosialisasi program melalui media, sedangkan 15,7 persen informan menempatkan tindakan populis-karismatik seba-gai strategi aktor dominan, terutama saat me-ngangkat isu-isu pelayanan publik. Sebagai strategi, tindakan populis-karismatik dilakukan sekaligus bersama kegiatan sosialisasi program.
Sinergisitas penerapan dua strategi itu tampak dalam wujud upaya para aktor mendekatkan diri dengan massa melalui gerakan populis-karis-matik dan pada saat bersamaan diinformasikan sekaligus dijanjikan kepada publik segala hal tentang pemenuhan pelayanan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan jaminan sosial.20
1 8Tentang relasi emosional-tradisional berbasis identitas (etnis, suku, dan agama) berperan penting sebagai instrumen untuk merengkuh atau memobilisasi dukungan; lihat, Edward Aspinall,.”Democratization and Ethnic Politics in Indonesia: Nine Theses”, dalam Journal of East Asian Studies, Vol. 11, No. 2, 2011, hal. 289.
1 9Patronase memiliki banyak varian, misalnya, vote buying, individual gift, pelayanan dan aktivitas, club goods, dan proyek-proyek “gentong babi.”
Bahkan, praktik patronase telah menembus aras akar rumput; lihat, Aspinall dan Sukmajati (eds.), Politik Uang di Indonesia…, hal. 22.
2 0Sebagai contoh, Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada 2012. Mereka blusukan ke sejumlah kawasan di Jakarta, yang jarang disentuh oleh aparatur dan elite pemerintahan sebelumnya, sambil menawar-kan program-program unggulan, seperti pendi-dikan dan layanan kesehatan.
Dalam penerapan strategi tersebut, seba-gian besar aktor akan mengangkat isu-isu pela-yanan publik dalam program yang disosiali-sasikan sekaligus, baik eksplisit maupun impli-sit, menebar janji untuk segera merealisasikan-nya bila kekuasaan telah digenggam. Pada posisi itu, aktor akan menawarkan sejumlah program serta “mengumbar” janji dan publik menanggapi dengan memberi dukungan mela-lui suara yang mereka masukkan ke kotak suara. Hal tersebut tampaknya sejalan dengan keinginan publik tentang pentingnya kesejah-teraan, pendidikan, dan kesehatan serta pela-yanan publik sebagai isu-isu penting yang perlu segera diperbaiki dan diwujudkan oleh elite/
aktor pemerintah.
Penerapan strategi-strategi tersebut tidak bisa dilepaskan dari sumber-sumber daya uta-ma, yakni sumber daya ekonomi (45,5%) dan sumber daya sosial (31,8%) yang “dimiliki” aktor dominan. Sumber daya ekonomi dalam wujud kekayaan material dan sumber daya sosial dalam bentuk kepemilikan jejaring dapat dinya-takan tepat untuk menopang penerapan stra-tegi-strategi tersebut. Sumber daya ekonomi dan sumber daya sosial yang memadai setidak-nya akan menjadikan aktor lebih leluasa melaku-kan improvisasi dan memperluas jangkauan sosialisasi program-program populis.
Sementara itu, hasil Survei PWD 2013 menunjukkan bahwa 23,8 persen informan menyatakan strategi yang paling banyak dite-rapkan aktor alternatif berwujud penguatan organisasi, jaringan, dan basis dukungan, serta 20,4 persen informan menempatkan kampanye melalui berbagai media sebagai strategi aktor alternatif. Strategi yang diterapkan aktor alter-natif sedikit banyak terkait dengan sumber daya utama yang dijadikan basis pijakan mereka, yakni sumber daya sosial (52,5%) dan sumber daya kultural (25%). Dua jenis sumber daya yang “dimanfaatkan” oleh aktor alternatif itu dinilai tepat dalam menopang penerapan stra-tegi penguatan organisasi, jaringan, dan basis dukungan. Menjadikan kampanye sebagai stra-tegi juga mensyaratkan sumber daya sosial dan
sumber daya kultural yang kuat. Dengan demi-kian, pengaruh aktor alternatif ditentukan oleh kemampuan mereka memperluas jejaring de-ngan sesama aktor alternatif sembari mem-bangun kepercayaan publik melalui program-program advokasi.
Paparan di atas, sebagaimana telah diurai-kan, memperkuat temuan bahwa aktor dominan menyandarkan diri pada sumber daya ekonomi dan sumber daya sosial, sedangkan aktor alternatif lebih banyak bertumpu pada sumber daya sosial dan sumber daya kultural sebagai pijakan untuk beraktivitas. Dalam konteks perumusan dan penerapan strategi untuk tam-pil sebagai pemenang dalam kontestasi pe-milihan umum, sumber-sumber daya utama itu dipakai sebagai basis pijakan. Penerapan stra-tegi tersebut juga membawa dampak positif.
Kehidupan demokrasi menjadi lebih baik ada-lah saada-lah satu dampak positif dari strategi yang diterapkan old elite (10%) dan new elite (12,9%).
Artinya, dampak strategi muncul lebih dikarena-kan konten dan penerapan strategi itu sendiri, bukan karena latar belakang aktor yang memi-liki atau tidak memimemi-liki keterkaitan dengan rezim Orde Baru.
Adanya dampak strategi aktor berupa kehi-dupan demokrasi menjadi lebih baik memberi secercah harapan bagi terwujudnya kehidupan yang demokratis. Namun, hasil Survei PWD 2013 juga menunjukkan masih ada sederet tan-tangan yang bisa mengganjal keberlangsungan proses demokratisasi. Tantangan paling menon-jol bagi perkembangan demokrasi terkait de-ngan sikap masyarakat terhadap proses demo-kratisasi. Hal itu bisa disimak dari dampak lain penerapan strategi aktor. Sebanyak 9,5 persen informan menyatakan bahwa strategi aktor dominan membuat warga semakin pasif dan pragmatis. Sebaliknya, strategi yang dijalankan aktor alternatif, menurut 9,6 persen informan, justru menjadikan warga lebih aktif sekaligus membuka akses partisipasi lebih luas.
Adanya kontradiksi tersebut dapat ditelu-suri melalui posisi aktor yang menerapkan stra-tegi tertentu. Dampak “positif” atau “negatif”
yang ditimbulkan tidak bisa dilepaskan dari sumber daya yang dijadikan basis oleh aktor bersangkutan. Sebagaimana telah dipaparkan, ditemukan aktor dominan (8,9%) yang sandar pada sumber daya koersif dalam ber-aktivitas, baik ketika merumuskan maupun menerapkan strategi. Hal tersebut diduga menjadi salah satu penyebab warga bersikap pasif dan pragmatis. Sebaliknya, jumlah aktor alternatif yang memanfaatkan sumber daya koersif jauh lebih sedikit (2,8%). Sebagaimana diketahui, aktor dominan yang memiliki banyak akses langsung cenderung ingin memastikan pengaruhnya atas proses pembuatan kebijakan, sedangkan aktor alternatif yang tidak memiliki akses langsung diduga tidak terlalu terbebani dalam memengaruhi proses penyusunan kebi-jakan dan pengambilan keputusan.
Keberlangsungan demokratisasi juga menghadapi kendala terkait kentalnya praktik-praktik patronase dan populis yang pada giliran-nya mempertebal pengaruh politik berwarna personalistik. Praktik patronase yang mengha-dirkan aktor sebagai figur yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan publik justru menghambat terbangunnya sistem politik ber-corak demokratis yang mengharuskan keha-diran kontrol publik berdasarkan persamaan, sebagaimana diungkapkan David Beetham.21 Praktik patronase yang disertai tawar-menawar program berkarakter populis tidak jarang me-ngabaikan aturan main dan menabrak bangunan institusi demokrasi demi keberlangsungan dan keberhasilan program itu sendiri.
Beragam tantangan tersebut dapat dimini-malisasi dalam konteks membangun kondisi yang kondusif bagi keberlangsungan proses demokratisasi. Hal itu bisa dilakukan antara lain dengan mendorong warga untuk lebih menya-dari hak dan kewajiban yang melekat pada diri mereka yang pada gilirannya diharapkan dapat menghapus sikap pasif dan pragmatis. Selain itu, untuk meminimalisasi praktik-praktik
patro-nase dan populis, perlu diinisiasi pembentukan institusi-institusi demokrasi yang diharapkan dapat berfungsi optimal.