• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab VI Kesimpulan dan Saran

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Strategi Pemasaran Yang Sudah Diterapkan

Strategi pemasaran yang sudah diterapkan oleh Pemerintah Wonosobo dapat dilihat dengan menganalisis segementasi, target dan posisi yang ditetapkan. Selain itu dilakukan juga analisis 8P yang menggambarkan strategi apa saja yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan di Wonosobo. Berikut hasil analisis yang telah dilakukan.

4.2.1 Analisis Segmentasi, Target dan Posisi Pasar Pemasaran 4.2.1.1. Segmenting

Pertama, berdasarkan geografis, wisatawan dapat dibedakan ke dalam asal negaranya dimana wistawan bisa berasal dalam negeri atau mancanegara. Awal mula perkembangan pariwisata di Wonosobo berawal pada tahun 1970 dimana saat itu wisatawan belum memiliki informasi yang jelas tentang pariwisata Wonosobo. Kondisi itu berakhir ketika terdapat sebuah restoran yang bernama Warung Dieng milik Pak Agus Lucas Tjugianto menjadi pusat informasi pariwisata di Wonosobo. Pak Agus pun secara tidak sengaja menjadi guide bagi

63 para wisatawan khususnya mancanegara yang kemudian datang berbondong-bondong ke destinasi khususnya Dieng hingga mencapai 40.000 wisatawan pada tahun 1980-1990. Hal ini diceritakan oleh Pak Agus Lucas Tjugianto melalui wawancara:

“Pada tahun 1970an, secara tidak sengaja saya menjadi guide bagi para turis,, awalnya mereka cuman datang untuk makan di warung saya,, mereka kemudian menanyakan tentang pariwisata yang ada di Wonosobo khususnya Dieng,, sejalan dengan itu, saya kemudian menjadi informasi lebih jauh tentang Dieng dan membuat map sendiri, dan memfoto-foto spot yang di Dieng saat itu lalu saya menempelkannya di diniding warung, sehinggga warung saya saat itu menjadi pusat informasi pariwisata di Wonosobo saat itu,, begitupun dengan akses untuk menuju kesana,, hingga pada tahun 1980 dan 1990 wisatawan asing yang datang ke Dieng sangat luar biasa hingga mencapai lebih dari 40rb orang,, ketika saya Tanya tentang alasan dia datang dan siapa yang memberi informasi,, mereka menjawab dari mulut ke mulut para wisatawan asing,,,”

Kemudian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo memberi informasi tentang perkembangan kunjungan wisatawan juga menjelaskan tentang segmentasi geografis wisatawan Wonosobo. Hal ini dapat dilihat dari data berikut:

Gambar 4.6. Audit Capaian Kinerja Pelayanan Bidang Pariwisata 2012-2015

Sumber: Laporan Akhir City Branding Kabupaten Wonosobo (BAPPEDA) 2012 2013 2014 2015 Wisnus 393,638 473,093 593,665 864,735 Wisman 19,089 10,335 7,291 5,056 Total 412,727 483,428 600,959 869,791 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000 900,000 1,000,000 Wisnus Wisman Total

64 Dari data di atas dapat kita ketahui bahwa wisatawan dalam negri mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata peningkatan 30,44%. Sedangkan wisatawan mancanegara mengalami penurunan dari tahun 2012 hingga tahun 2015. Kebanyakan dari pengunjung destinasi di Wonosobo berasal dari wisatawan dalam negri (Nusantara).

Wisatawan Wonosobo secara geografis juga dapat dikategorikan sebagai pengunjung dari Jawa Tengah dan pengunjung yang berasal dari luar jawa tengah. Hal ini dapat kita temui dari unggahan Badan Pusat Statistik Wonosobo melalui website Wonosobokab.bps.go.id. Dari data tersebut dapat kita ketahui perbandingan jumlah pengunjung yang berasal dari jawa Tengah dan di luar Jawa Tengah ke kawasan Pegunungan Dieng Wonosobo.

Tabel 4.2. Jumlah Wisatawan di Kawasan Pegunungan Dieng

Tahun Jumlah Wisatawan (Jiwa) Jawa Tengah Luar Jawa Tengah

2010 38562 69786 2011 38776 59322 2012 50924 81611 2013 72563 105548 2014 99114 162237 Total 299939 478504 Sumber: BPS Wonosobo

Tabel di atas juga menunjukkan bahwa adanya peningkatan kunjungan wisatawan yang terjadi terus menerus setiap tahunnya baik dari Jawa Tengah maupun di luar Jawa Tengah. Dari data itu juga kita dapat mengetahui bahwa pengunjung yang berasal dari luar provinsi Jawa Tengah lebih besar dibandingkan pengunjung dari Jawa Tengah.

65 Kedua, berdasarkan psikografi, wisatawan dibagi berdasarkan minat khusus dan moda transportasi yang digunakan. Berdasarkan minat khusus seperti minat budaya, touring, fotografi, pecinta alam dan kegiatan lain yang sesuai dengan hobi wisatawan mampu disediakan oleh destinasi di Wonosobo. Minat khusus seperti komunitas Honda CRV yang melakukan touring dari Cirebon ke Wonosobo, setelah itu lanjut ke Semarang dan Jogjakarta. Begitupun dengan para fotografi yang mengambil gambar di kawasan Pegunungan Dieng seperti puncak sikunir, telaga warna, gunung prau dan lain sebagainya.

Saat ini, gunung prau menjadi destinasi yang begitu favorit di Wonosobo. Tribunjateng.com menjelaskan melalui hasil wawancaranya dengan salah satu pengelola basecamp gunung prau pada tanggal 8 juni 2018 bahwa pada malam minggu dibulan biasa, jumlah pengunjung atau pendaki gunung prau yang melalui Patakbanteng Kejajar Wonosobo mencapai 1000 orang. Pada hari yang sama di bulan ramadhan ini, pendaki yang naik hanya berkisar 150 orang. Hal yang senada tentang maraknya pengunjung gunung Prau diungkapkan oleh Pak Agus Purnomo:

“…justru akhir-akhir ini, saya mendapat laporan bahwa yang tinggi nilai jualnya dan banyak dikunjungi oleh orang-orang yaitu gunung prau,,, karena kita tau kalau disana itu menyajikan keindahan alam yang sungguh luar biasa, sehingga banyak yang suka mendaki dan berfoto datang ke sana…mungkin sekitar seribuan orang yang kesana setiap akhir pekan…”

66

Gambar 4.7. Kepadatan Pengunjung Gunung Prau Sumber: Tribunjateng.com

Sedangkan untuk moda transportasi yang digunakan untuk mengunjungi destinasi wisata di Wonosobo itu bervariasi. Kebanyakan wisatawan yang datang menggunakan mobil pribadi, akan tetapi jika dilihat dari jumlah unit kendaraan, motor wisatawan yang paling banyak digunakan untuk datang ke destinasi khususnya kawasan Pegunungan Dieng. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Agus Purnomo:

“..orang-orang biasanya datang dengan menggunakan kereta (kereta identik digunakan oleh orang Wonosobo sebagai bahasa pengganti dari sepeda motor),, kebanyakan dengan itu, karena mungkin akses menuju Dieng agak sempit dan menghindari kemacetan karena mobil pribadi dan bus yang mengangkut para pengunjung juga banyak…”

Data dari BAPPEDA juga menunjukkan tentang moda transportasi yang digunakan wisatawan untuk berkunjung ke destinasi wisata di Wonosobo. Dari data tersebut juga menggambarkan bahwa mobil pribadi menjadi sarana transportasi yang mendatangkan banyak wisatawan. Berikut penelitian yang dilakukan oleh BAPPEDA:

67 Gambar 4.8. Moda Transportasi Wisatawan Kab. Wonosobo

Sumber: Laporan Akhir City Branding Kabupaten Wonosobo (BAPPEDA)

Tabel di atas merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh BAPPEDA yang bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma yang diselenggarakan pada saat perumusan city branding Wonosobo. Grafik tersebut terdiri dari hasil kuesioner yang berjumlah 100 orang wisatawan yang dibagi secara acak pada lokasi destinasi wisata. Hasilnya menujukkan bahwa sebanyak 26 orang yang berkunjung ke Wonosobo menggunakan mobil pribadi sebagai jumlah terbanyak dalam hal moda transportasi.

Ketiga, berdasarkan perilaku, wisatawan dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu lama tinggal wisatawan dan motivasi wisatawan. Dari ketiga hal itu akan menjelaskan tentang sikap, pengetahuan hingga tanggapan wisatawan terhadap destinasi pariwisata yang dikunjungi.

Lama tinggal wisatawan yang bekunjung ke Wonosobo khususnya Dieng biasanya dipengaruhi oleh akses menuju lokasi yang lumayan jauh. Hal ini terjadi

26 23 18 11 6 3 0 5 10 15 20 25 30 Mobil Pribadi Bus Kendaraan Sewa Sepeda Motor Angkutan Umum Lain-lain

Moda Transportasi

68 pada wisatawan yang memulai perjalanan pariwisatanya di luar Jawa Tengah. Selain itu jumlah akomodasi/penginapan juga yang sangat terbatas di Wonosobo. Ini juga yang membuat perusahaan travel yang melayani perjalanan menentukan untuk tidak menginap di Wonosobo. Ada pula hal lain yang menjadi pertimbangan perusahan travel yaitu tidak adanya tempat lain yang bisa dikunjungi di Wonosobo selain kawasan Pegunungan Dieng. Hal ini diutarakan oleh salah satu pengelolah Aria Touris Sercive di jalan Prawirotaman Mas Adi:

“…biasanya wisatawan langsung balik,,, karena kami memberi paket perjalanan Borobudur ke Dieng… cuman belakangan ini kami tidak mengambil Dieng karena terakhir mobil kami ke sana ada kendala persoalan akses ke Wonosobo… ada juga wisatawan yang nginap jika dia mau ke sikunir karena memang harus bermalam di Dieng, jadi kami memberi biaya tambahan karena mobil harus kembali ke jogja nanti mereka akan di jemput kembali…”

Mas Cahyo dari Vocation Travel mengatakan:

“…kalau persoalan nginap di Wonosobo itu 50:50 sih mas,, ada yang nginap ada yang langsung pulang,, tapi itu tergantung dari yang di kunjungi sih… kalau dia mau ke gunung prau dan puncak sikunir pasti nginap cuman semalam,, cuman biasanya kami beri biaya tambahan sih,,, cuman uang transprotasi saja… sedangkan untuk kendala untuk ke Dieng sendiri sih,, pasti aksesnya,, karena kemarin sempat jembatannya jebol karena longsor juga…”

Data yang didapatkan dari BAPPEDA juga menyatakan bahwa lama tinggal wisatawan sebagian besar adalah satu hari yang menggambarkan bahwa 51% wisatwan tidak menginap di Wonosobo. Berikut gambar 4.9 dan gambar 4.10 menjelaskan hal tersebut:

69 Gambar 4.9. Lama Tinggal Wisatawan Kab. Wonosobo

Sumber: Laporan Akhir City Branding Kabupaten Wonosobo (BAPPEDA)

Gambar 4.10. Akomodasi/Penginapan Wisatawan Kab. Wonosobo Sumber: Laporan Akhir City Branding Kabupaten Wonosobo

(BAPPEDA)

Alasan wisatawan yang datang ke Wonosobo sebagai motivasi mereka kebanyakan untuk menikmati wisata alam. Wisata alam yang ada di Wonosobo seperti puncak sikunir, telaga warna, gunung prau dan lain-lainnya. Seperti yang dikatakan oleh Mas Cahyo:

“…mereka (wisatwan) beralasan ingin ke Dieng karena ingin menikmati keindahan alam di sana,, mereka kemudian memilih untuk camping di gunung prau..”

1 HARI 2 HARI 3 HARI > 3 HARI

Series1 51 28 18 3 0 10 20 30 40 50 60

Lama Tinggal (Length of Stay)

51 23 18 5 2 1 0 20 40 60 Akomodasi/Penginapan

70 Pak Salim juga mengatakan:

“…saya pernah mendapat alas an yang cukup unik dari salah satu pengunjung Wonosobo Dieng,, dia datang hanya untuk menghirup udara segar bahkan menikmati sentuhan embun yang mengenai kulitnya…” Informasi tentang motivasi kunjungan wisatawan datang ke Wonosobo dapat dilihat dari laporan akhir city branding Wonosobo oleh BAPPEDA. Dimana wisata alam dan budaya merupakan motivasi utama wisatawan untuk berkunjung ke Wonosobo:

Gambar 4.11. Motivasi Kunjungan Wisatawan Kab. Wonosobo Sumber: Laporan Akhir City Branding Kabupaten Wonosobo

(BAPPEDA)

Dari semua segmentasi yang dapat dianalisis tentunya ada yang menjadi pertimbangan khusus yang perlu dilakukan oleh pemangku kebijakan dan para akademisi dalam pengembangan pariwisata di Wonosobo. Salah satu dari segmentasi pasar wisatawan yang cukup kuat yaitu besarnya keinginan masyarakat untuk menikmati kualitas alam yang dimiliki oleh Wonosobo. Hal ini kemudian menjadi perhatian agar kualitas alam tetap terjaga maka unsur-unsur sustainable atau keberlanjutan dilakukan untuk setiap destinasi. Unsur keberlanjutan ini dapat menjadi Unique Selling Proposition (USP) bagi destinasi

74 20 13 12 11 5 3 3 1 1 0 20 40 60 80 Motivasi Kunjungan

71 destinasi Wonosobo. Hal ini diharapkan menjadi bahan untuk mengidentifikasi segmentasi pasar menurut minat wisatawan untuk menentukan target yang tepat. 4.2.1.2. Targeting

Untuk saat ini, pariwisata di Wonosobo belum memilik target yang secara spesifik dan tertulis. Hal ini dikarenakan belum adanya publikasi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA). Target wisatawan Wonosobo yang saat ini dilakukan hanya berfokus pada wisatawan yang memiliki minat khusus. Minat khusus wisatawan yang datang ke Wonosobo tergantung pada jenis atraksi yang ada di destinasi yang ada di Wonosobo.

Masing-masing destinasi memiliki target dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dengan motivasi yang berbeda. Seperti target destinasi puncak sikunir berbeda dengan desa wisata yang ada di Wonosobo. Begitupun dengan wisatawan yang datang ke kebun teh tambi atau wisatawan yang suka highing tentunya akan ke gunung prau. Oleh karena itu, pengelola daya tarik wisata dan penyedia jasa wisata harus fokus dan mengenali targetnya sehingga fasilitas ditempat itu sesuai dengan kebutuhan wisatwan sebagai konsumennya. Pariwisata secara umum harus memenuhi standar sadar wisata dan sapta pesona. Karena denga hal itu, akan selalu menjadi daya tarik wisatawan untuk datang berkunjung ke Wonosobo. Seperti yang dikatakan oleh Pak Lucas Agus:

“..setelah saya mendapat gelar duta pariwisata di Wonosobo, saya baru sadar ternyata yang telah saya lakukan selama ini terhadap pariwisata Wonosobo sudah memenuhi standar sapta pesona begitupun dengan memberi pemahaman kepada masyarakat akan sadar wisata…”

72 1. Alam

Keindahan alam Wonosobo sangat beragam, hal ini dikarenakan keberadaannya yang dekat dengan kawasan pegunungan sindoro dan gunung sumbing. Bagi wisatawan yang menyukai ketinggian dan menikmati udara dingin hingga terbitnya matahari semua ada di kawasan Dieng Plateau. Dieng plateuau atau dataran tinggi Dieng berada pada ketinggian 2093 mdpl. Di sana menjadi akses utama wisatawan untuk mengunjungi destinasi seperti puncak sikunir, gunung prau, kawah sikidang, batu ratapan angin dan telaga warna dan beberapa destinasi lainnya yang berada di kawasan Pegunungan Dieng. Selain itu juga di Wonosobo juga dapat kita temukan wisata alam lainnya seperti telaga menjer, sumur jalatunda dan beberapa agrowisata seperti perkebunan the tambi, permandian kalianget dan lainnya. Sedangkan di desa Sembungan salah satu desa di Wonosobo dapat kita temukan air terjun seperti sikarim, seloka dan sirawe, dan juga terdapat telaga seperti swiwi, nila dan dringo.

2. Budaya

Kebudayaan yang sangat terkenal di Wonosobo yaitu rambut gembel. Rambut gembel adalah sebuah ritual yang dilakukan di kawasan Pegunungan Dieng tepatnya candi arjuna. Selain itu ada juga tradisi kebudayaan lain yang dimiliki seperti festival budaya selokromo, pengambilan air tujuh sumber, pawitan budaya jawi dan unduh-unduhan, boyong kedathon dan prosesi ritual birat sengkala, tari missal 5000 topeng lengger, tradisi larung sukerto serta tradisi Rakanan Giyanti. Untuk Rakanan Giyanti sendiri, Wonosobo sedang gencar melakukan pemasaran dan melakukan festival yang diharapkan menjadi

73 referensi lain bagi Wonosobo. Nama kegiatan festifal tersebut yaitu ‘The Legend Of Lengger Giyanti’.

4.2.1.3. Positioning

Positioning berkaitan dengan bagaimana suatu brand diposisikan dalam pikiran target wisatawan. Dalam istilah psikologi disebut mental conception, yaitu bagaimana orang memiliki persepsi yang kuat di alam bawah sadarnya akan suatu objek, dalam hal ini wisatawan. Sebelum menentukan positioning, pemerintah dan beberapa pemangku kepentingan pariwisata Wonosobo dalam hal ini sebagai pemasar harus menentukan segmentasi dan target pasar terlebih dahulu. Hal ini nantinya akan bertujuan untuk mendatangkan wisatawan sebanyak mungkin ke destinasi.

Untuk menentukan positioning, maka diperlukan branding terhadap destinasi pariwisata di Wonosobo. Karena dengan adanya perumusan city branding oleh suatu daerah, selain mendatangkan wisatawan juga akan menggerakkan perekonomian masyarakat karena adanya implikasi terhadap investasi dan perdagangan di Wonosobo. Hal tersebut di sampaikan oleh Ibu Ike Janita Dewi dalam sebuah Fucus Group Discusion pertama bersama para pemangku kepentingan pariwisata di Wonosobo.

“…Selain dari tujuan untuk mendatangkan wisatawan, branding juga membantu daerah maupun masyarakat untuk menentukan jenis investasi, karakteristik wisatawan atau pengunjung dan perdagangan yang ingin di tarik ke Kabupaten Wonosobo. Satu hal yang tidak kalah penting adalah sebuah brand juga mencerminkan cita-cita dan inspirasi suatu daerah maupun masyarakat….”

Wonosobo sendiri sudah melakukan City Branding yang launching pada tanggal 24 Agustus 2018 yaitu “The Soul of Java”. Tagline ini memiliki arti yang

74 sangat filosofis dan diputuskan secara bersama-sama dalam sebuah forum FGD yang diselenggarakan oleh BAPPEDA. Hal ini disampaikan oleh Pak Salim Bawazier sebagai ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia di Wonosobo:

“..Wonosobo sendiri memiliki kebudayaan dan kearifan lokal yang sangat kuat,, Wonosobo memiliki arti sesuai dengan branding Wonosobo, the soul of java,, wonososbo,, sobo dalam arti bahasa jawa artinya berkunjung,, dan secara mendalam artinya berkunjung yang terjadi berkali-kali, sedangkan wono artinya ada apa,,, jadi secara filosofis sangat bermakna ketika mengartikan wonososbo, ada apa sehingga orang datang berkunjung..? jadi kenapa orang datang kesini sejak jamn dahulu, karena di sini ada soul, ada interest di kabupaten ini,, jadi ini menjadikan branding Wonosobo menjadi sangat pas..”

Gambar 4.12. Logo City Branding Pariwisata Kabupaten Wonosobo Sumber: www,bappeda.Wonosobokab.go.id

Sudah banyak hal yang direncanakan dan sedang dilakukan oleh para pemangku kepentingan pariwisata Wonosobo setelah dilakukannya city branding. Dikutip dari Sindonews.com dalam sebuah wawancara dengan Bapak Bupati Wonosobo Eko Purnomo pada tanggal 20 November 2018 menutarakan:

“…Setidaknya ada enam objek wisata unggulan daerah, yakni Dieng, Sindoro Sum bing, Panto Domas Sapuran, Serayu serta Winong sari Kaliwiro yang tengah di kembangkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. Tak hanya itu, potensi desa-desa wisata serta tumbuhnya industri ekonomi kreatif juga didorong agar sektor pariwisata di daerah dengan city branding “The Soul of Java” ini kian mendunia…. Seiring tuntutan wisatawan yang kini mulai mengarah ke destinasi wisata alam, kami terus bergerak mendorong desa-desa untuk berbenah demi optimalisasi potensi alam mereka. Sampai saat ini ada 22 desa yang tengah mengembangkan potensi wisata alamnya…”

75 Hal ini juga disampaikan oleh Pak Salim:

“Sejak berkembangnya destinasi wisata (pasca city branding), banyak yang kemudian mulai belajar menjadi guide, berbahasa iunggris dan lainnya.. saat ini dengan banyaknya desa wisata, mereka sekarang berlomba-lomba menjadikan desa mereka sebagai desa wisata,, karena sekarang mereka sadar, dengan menjadi desa wisata akan memebawa banyak manfaat bagi desa,,, mereka kemudian kembali menjunjung kearifan lokal, kebudayaan, melestariakan alam mereka,,,”

Dengan melihat situasi pariwisata Wonosobo, para pemangku kepentingan dapat menentukan segmen, target dan positioning wisatawan sebagai konsumen. Sudah adanya branding yang di miliki pariwisata Wonosobo sudah sangat membantu dalam hal pengembangan destinasi pariwisata di Wonosobo.

Strategi pemasaran dari situasi ini kemudian dapat diimplementasikan ke dalam analisis bauran pemasaran yang terdiri dari product, place, price, promotion, people, program, packaging dan partnership. Dari analisis STP yang sudah dilakukan oeh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya tentang pariwisata Wonosobo dapat kita simpulkan sebagai berikut:

Tabel 4.3 Ringkasan Analisis STP

Segmenting • Segmen geografis terutama mancanegara dan segmen minat

khusus wisatawan.

• Dinas Pariwisata mengidentifikasi perilaku wisatawan khususnya mengenai keberlangsungan destinasi (ekowisata) sehingga dapat menentukan target yang tepat.

Targeting • Target wisatawan yang berbeda-beda, hal ini tergantung atraksi

yang ditawarkan.

• Pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya di Wonosobo sebaiknya mengetahui karakteristik target wisatawan.

Positioning • Kepariwisataan Wonosobo sudah memiliki city branding yaitu

‘The Soul of Java’.

76 branding untuk menentkuan positioning destinasi pariwisata Wonosobo.

4.2.2. Analisis Bauran Pemasaran 4.2.2.1. Product

Komponen produk pariwisata terdiri dari 3A, yaitu atraksi, aksesibilitas dan amenitas. Analisis dilakukan pada tiga komponen utama produk pariwisata di Wonosobo. Wonosobo memiliki banyak produk pariwisata, namun belum semua destinasi dapat dipasarkan dengan baik karena masih dalam tahap pengembangan khususnya dalam hal infrastruktur seperti jalan, penginapan dan fasilitas umum yang lainnya. Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus Purnomo sebagai mantan Kepala Dinas Pariwisata Wonosobo dan saat ini sebagai pengawas Himpunan Pramuwisata Indonesia:

“…Saat ini masyarakat Dieng mulai menggantungkan hidupnya di pariwisata. Mereka sudah mulai membuat hotel warung makan hingga restaurant. Bahkan setiap hari bisa kita lihat puluhan truk membawa pasir, batu semen ke arah Dieng…”

Kepala Bina Marga Bapak Nuruddin Ardiyanto juga menyampaikan:

“terkait dengan jalan infrastruktur ke wisata, dinas PU telah melakukan penggaran pembangunan jalan alternative menuju kawasan Pegunungan Dieng… Pegunungan Dieng juga bagian dari prioritas pembangunan infrastruktur jalan sebab Dieng adalah wisata nasional…”

Dari analisis STP dapat kita temukan bahwa kecenderungan wisatawan dalam menentukan destinasi di Wonosobo harus dilandasi dengan unsur-unsur sustainability. Dominannya wisatawan untuk menikmati alam yang secara natural sehingga menjadi perhatian pemangku kepentingan untuk menjada dan melestarikan keindahan alam di Wonosobo. Keuntungan secara ekonomi (profit) bukan semata-mata yang dicari, akan tetapi adanya keterlibatan masyarakat lokal

77 melalui pemberdayaan, menjunjung tinggi kearifan lokal dan menjaga kelestarian lingkungan (alam). Sebuah destinasi harus menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial dan lingkungan agar terjadi sebuah pariwisata yang berbasis ekowisata sebagai salah satu cara untuk mencapai sustainable. Seperti yang dikatakan oleh ketua HPI Pak Salim Bawazier:

“…kami inginnya pariwisata Wonosobo itu sesuai dengan branding,, dan ini harus digerakkan secara bersama-sama, baik secara pribadi, oleh pemerintah dan masyarakat yang memang mereka yang mengerti tentang lingkungan dan kebudayaannya yang saat ini kita jadikan sebagai destinasi,,, dan ketika hal itu terjadi maka akan terus berlanjut secara jangka panjang… dan secara pribadi saya akan terus mendidik orang-orang Wonosobo tentang penting pariwisata …”

Berbicara tentang produk pariwisata di Wonosobo selain dari objek wisata oleh alam. Wonosobo memiliki produk yang sangat kuat dalam hal kuliner dan kerajinan tangan seperti ‘carica’ dan ‘purwaceng’. Pengembangan kuliner dan kerajinan (UMKM) saat ini masih bekerjasama dengan dinas pariwisata. Hal ini mengimplikasikan upaya pembinaan secara langsung belum dapat dilakukan secara maksimal. Ada sebuah komunitas yang bernama KOKI (pelaku usaha kuliner) yang terbentuk dari asosiasi pelaku usaha kuliner di Wonosobo. Komunitas KOKI sering mengikuti pameran dan perayaan lain tentang kuliner dengan membawa ciri khas Wonosobo. Komunitas ini aktif dalam berkreasi dan berinovasi dengan dorongan diri dan semangat organisasi itu sendiri. Potensi

Dokumen terkait