BAB II ANALISIS STRUKTUR AKTANSIAL SERIAL PETUALANGAN
2.1 Struktur Aktansial Seri Rio dan Kakek Kerdil
Cerita Rio dan Kakek Kerdil bermula dengan adanya Nenek Sihir yang suka menculik anak nakal untuk dijadikan budak di istananya. Ia menculik Rio dari Bumi dan membawanya ke istana. Rio yang sangat takut hanya bisa pasrah dengan keadaannya dan berharap bisa pulang ke Bumi. Kedatangan Kakek Panji yang sudah lebih dulu menjadi budak memberikan kekuatan kepada Rio karena Kakek Panji bersedia membantunya keluar dari Istana Awan Hitam. Misi pelarian diri ini penuh dengan tantangan dan membuat Rio jatuh bangun agar bisa selamat dari Nenek Sihir dan bertemu Bidadari Mayangsari yang bisa menolongnya untuk kembali ke Bumi.
Setelah mengamati cerita Rio dan Kakek Kerdil, dapat dipahami bahwa hal pertama yang terjadi adalah Nenek Sihir menculik Rio karena Rio nakal, lalu Rio menyesali perbuatannya dan menginginkan kebebasan. Ditilik dari keadaannya, penulis menganggap bahwa Nenek Sihirlah yang menjadi penggerak cerita. Ia menginginkan Rio agar menjadi budaknya. Sedangkan Rio menempati fungsi subjek sekaligus objek. Akan tetapi objek yang ingin dicapai subjek bukanlah untuk memenuhi keinginan pengirim yaitu untuk
PENGIRIM (sender) Nenek Sihir OBJEK (object) Kebebasan Rio PENERIMA (receiver)
Rio dan Kakek Panji
PEMBANTU (helper) - Kakek Panji - Permadani terbang - Awan Raksasa - Bidadari Mayangsari SUBJEK (subject) Rio PENENTANG (opponent) - Raksasa Awan - Burung Gagak - Nenek Sihir
menjadi budak, melainkan ingin kebebasan. Jadi subjek mencari objek agar keinginan pengirim tidak terpenuhi. Fungsi-fungsi aktan yang terdapat pada cerita Rio dan Kakek Kerdil dapat dilihat pada skema di bawah ini.
Gambar 4
Skema Aktansial seri Rio dan Kakek Kerdil
Berdasarkan skema aktansial di atas (lihat Gambar 4), fungsi atau kedudukan masing-masing aktan adalah sebagai berikut.
2.1.1 Pengirim
Pengirim atau sender dalam cerita ini adalah Nenek Sihir. Nenek Sihir suka menculik dan membawa anak-anak nakal ke istana miliknya. Tujuan dari penculikan ini adalah untuk menjadikan anak-anak nakal
tersebut sebagai budak di Istana Awan Hitam. Tindakan Nenek Sihir inilah yang menjadi pengirim dan penggerak cerita karena memberikan kekuatan atau keinginan kepada subjek untuk mendapatkan objek.
“Biasanya anak yang diculik Nenek Sihir adalah anak yang nakal, yang suka melawan orang tua, yang tidak mau mendengar nasihat orang tua, yang suka bermusuhan dengan temannya, atau anak-anak yang suka berbohong.” (Supangkat, 2002: 3).
“Kalau kamu tidak nakal, kamu tidak mungkin terbawa oleh tongkat ajaibku,” kata Nenek Sihir lagi.” (Supangkat, 2002: 5).
2.1.2 Objek
Objek (object) yang dicari dalam narasi ini adalah kebebasan Rio. Ia diculik Nenek Sihir karena kenakalannya. Rio sudah menyesal dan tidak mau menjadi budak karena Istana Awan Hitam sangat mengerikan. Selain itu jika dirinya melakukan kesalahan maka ia akan dihukum dengan cara dicambuk oleh Nenek Sihir. Para budak juga tidak mendapatkan makanan yang sebenarnya, mereka hanya mendapatkan gumpalan awan yang berbentuk makanan dan rasanya sangat tidak enak. Maka dari itu, Rio berusaha kabur dengan pertolongan Kakek Panji, ia ingin menyelamatkan dirinya. Setelah mendapatkan jalan untuk pulang, Rio juga ingin Kakek Panji bebas dari perbudakan Nenek Sihir.
“Sesampainya di istana Nenek Sihir, Rio dicambuki sampai badannya sakit semua. Sesudah itu ia dikurung di dalam kamar yang terkunci” (Supangkat, 2002: 24). “Rio melirik makanan yang dibawa oleh Kakek Panji. Ternyata hanya segumpal awan yang bentuknya
menyerupai roti pisang. Ketika ia mencicipi makanan itu, rasanya sama sekali tidak enak.” (Supangkat, 2002: 9).
2.1.3 Subjek
Subjek (subject) dalam cerita ini adalah Rio, anak nakal yang diculik oleh Nenek Sihir. Aktan pahlawan ini bertugas untuk menyelamatkan objek dari pengirim. Situasi yang sedang dihadapi oleh Rio membuatnya berpikir harus melarikan diri dari Nenek Sihir karena ia tidak mau berada di Istana Awan Hitam sebagai budak. Selain itu, ia merindukan rumahnya yang hangat dan kedua orang tuanya yang tidak pernah menghukumnya, tidak seperti Nenek Sihir yang selalu memukul bahkan mencambuki dirinya jika ia melakukan kesalahan ketika sedang melakukan pekerjaannya. Atas dasar itulah Rio tidak pantang menyerah dalam berusaha menemukan kebebasan. Walaupun usahanya sering gagal, Rio tetap terus berusaha untuk melarikan diri dari Istana Awan Hitam untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
“Rio menangis tersedu-sedu di kamarnya. Badannya masih sakit akibat pukulan Nenek Sihir. Kembali Rio teringat akan orangtuanya. Mereka selalu sayang kepadanya. Tidak pernah sekali pun mereka memukul Rio meskipun ia nakal. ...” (Supangkat, 2002: 11). “Usahakan besok kamu jangan membuat jengkel Nenek Sihir. Biasaya, kalau hatinya senang dia akan banyak tidur. Nah, kalau dia tidur, kita bisa mengambil permadani terbangnya dan lari ke Istana Awan Putih.” (Supangkat, 2002:18).
“... Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Rio untuk melarikan diri. Maka tanpa pikir panjang lagi Rio segera berlari meninggalkan istana Nenek Sihir. ...” (Supangkat, 2002:21).
2.1.4 Penolong
Penolong atau helper adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang membantu usaha Rio sebagai subjek untuk mendapatkan objek. Dalam cerita ini aktan penolong ada 4, yaitu Kakek Panji, permadani terbang, Raksasa Awan, dan Bidadari Mayangsari. Dalam mendapatkan objek, subjek mendapat pertolongan dari keempat aktan tersebut. Penolong pertama yaitu Kakek Panji yang sudah lama menjadi budak Nenek Sihir. Berkat pengalamannya, ia berhasil membantu Rio untuk melarikan diri dari Nenek Sihir. Penolong kedua adalah permadani terbang yang mengantarkan Rio dan Kakek Panji menuju istana Awan Putih. Penolong ketiga yaitu Raksasa Awan yang menghembuskan angin kencang sehingga Nenek Sihir tidak bisa menangkap Rio dan Kakek Panji. Penolong keempat adalah Bidadari Mayangsari. Walaupun Bidadari tidak mengambil andil dalam misi pelarian dari Nenek Sihir, Bidadari mempunyai andil dalam memberikan jalan pulang menuju ke Bumi kepada Rio dan Kakek Panji.
“Kalau kamu ingin melarikan diri, nanti Kakek bantu,” kata Kakek Panji.” (Supangkat, 2002: 18).
“Bim bam bim, antarkan aku ke istana Awan Putih!” kata Kakek Panji. Permadani itu pun terus terbang ke istana Awan Putih” (Supangkat, 2002: 28).
“Kakek Panji segera membangunkan Rakasasa Awan untuk meminta bantuan” (Supangkat, 2002: 29). “Bagus. Kalau kamu bohong da sampai diculik Nenek Sihir untuk kedua kalinya, aku tidak akan menolongmu lagi. Kau mengerti?” Tanya Bidadari” (Supangkat, 2002:34).
2.1.5 Penentang
Penentang (opponent) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menghalangi usaha subjek untuk mendapatkan objek. Dalam cerita ini yang menjadi penentang adalah Raksasa Awan, Burung Gagak, dan Nenek Sihir. Raksasa Awan mematuhi perintah siapapun yang meminta bantuannya. Ketika Nenek Sihir memintanya meniup awan-awan agar Nenek Sihir tahu di mana Rio bersembunyi, Raksasa Awan mengabulkannya. Penentang kedua adalah Burung Gagak, ia sebagai peliharaan Nenek Sihir membantu Nenek Sihir dalam mengawasi Rio dan Kakek Panji. Ketika Rio dan Kakek Panji melakukan pelarian, Burung Gagak memberitahu Nenek Sihir. Penentang ketiga adalah Nenek Sihir, ia menggunakan berbagai cara agar Rio dan Kakek Panji tidak bisa keluar dari istananya.
“Tiba-tiba Nenek Sihir mengacungkan tongkat ajaibnya ke depan sambil berteriak keras, “Raksasa Awan, aku butuh pertolonganmu!” (Supangkat, 2002:22).
“Ketika melihat Kakek Panji dan Rio berlari keluar istana sambil membawa permadani terbang, burung gagak kesayangan Nenek Sihir segera memberi tanda.” (Supangkat, 2002:27).
“... Ternyata Nenek Sihir sudah ada di belakang mereka. Bahkan ia sudah berhasil mengaitkan kailnya ke permadani terbang yang ditumpangi Rio dan Kakek Panji. ...” (Supangkat, 2002:9).
2.1.6 Penerima
Penerima (receiver) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang menerima objek yang diusahakan atau dicari oleh subjek. Dalam cerita
ini aktan penerima adalah Rio dan Kakek Panji. Mereka berdua berhasil kembali ke Bumi setelah meyakinkan Bidadari Mayangsari jika mereka berdua sudah bertobat dan tidak akan nakal lagi.
“Ya, Bidadari. Dulu dia memang nakal seperti saya sehingga bisa diculik Nenek Sihir. Tapi, sekarang dia sudah menyesal dan berjanji akan menjadi anak yang baik. Saya harap Bidadari mau menunjukkan jalan pulang kepadanya,” pinta Kakek Panji” (Supangkat, 2002:33).
“Karena sekarang Kakek Panji sudah menjalani hukumannya sangat lama. Apakah Kakek Panji belum pantas untuk dimaafkan? Rio balik bertanya” (Supangkat, 2002:38).