Bab V Pembahasan Hasil Penelitian: Menyajikan pembahasan dan diskusi terhadap temuan-temuan hasil pengujian hipotesis penelitian, serta hasil
Proposisi 2: Perilaku Oportunistik Manajerial
2.1.12 Struktur Corporate Governance dan Kebijakan Dividen
Shleifer dan Vishny (1986) dan Allen, Bernardo, dan Welch (2000) mencatat bahwa investor lembaga lebih suka memiliki saham-saham dari perusahaan yang membuat pembayaran-pembayaran dividen secara regular, dan berpendapat bahwa investor-investor kelembagaan (institutional ownership) yang besar itu adalah lebih mau dan mampu memonitor manajemen perusahaan dibanding dengan investor-investor kelembagaan yang lebih kecil dan kepemilikan-kepemilikan yang tersebar. Sebagai hasilnya, kebijakan-kebijakan dividen perusahaan dapat dikhususkan untuk
menarik investor-investor lembaga, yang pada gilirannya mungkin memperkenalkan praktek corporate governance (Kowalewski et al., 2007)
Data menyatakan suatu hubungan yang positif antara dividend payouts dan praktek corporate governance, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan akan membayar dividen-dividen lebih tinggi apabila hak-hak pemegang saham dilindungi dengan lebih baik. Hasil penelitian yang telah dilakukan mendukung hipotesis bahwa di dalam perusahaan yang menyediakan hak-hak pemegang saham minoritas yang kuat, kekuasaan sering digunakan untuk mengusahakan suatu pembayaran dividen, terutama ketika peluang investasi bersifat lemah. Sebagai suatu hasil, perusahaan dengan hak-hak pemegang saham yang lemah akan membayar dividen dengan kurang bermurah hati (dividen tidak dibayarkan atau dibayarkan dengan payout ratio yang kecil) dibandingkan dengan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan standar-standar corporate governance yang tinggi (Kowalewski et al., 2007).
Kowalewski, Stetsyuk, dan Talavera (2007) melakukan studi dengan tujuan untuk menjelajah faktor penentu dari kebijakan dividen dan untuk menguji apakah praktek-praktek mekanisme corporate governance menentukan kebijakan dividen. Studi dilakukan terhadap 110 perusahaan yang tercatat di Warsaw Stock Exchange (WSE) di Polandia antara tahun 1998 sampai dengan tahun 2004. Untuk mengukur kekuatan dari corporate governance pada tingkat perusahaan, Kowalewski et al., (2007) menggunakan konsep Transparancy Disclosure Index (TDI). Hasil dari studi ini, untuk faktor penentu dari kebijakan dividen, menyimpulkan bahwa
perusahaan-perusahaan yang lebih besar dalam ukuran assets dan perusahaan-perusahaan-perusahaan-perusahaan yang lebih profitable tanpa peluang-peluang investasi yang bagus membayar dividends lebih tinggi. Perusahaan-perusahaan yang lebih berisiko dan berhutang (indebted) lebih menyukai untuk membayar dividends lebih rendah. Selanjutnya hasil studi dari Kowalewski, Stetsyuk, dan Talavera (2007) memberikan bukti bahwa perusahaan-perusahaan yang tercatat di Polandia dimana praktek-praktek corporate governance adalah tinggi dan sebagai suatu konsekuensinya adalah hak-hak pemegang saham adalah kuat, maka payout dividends adalah lebih tinggi. Hasil penelitian ini adalah sejalan dengan anggapan bahwa ketika para pemegang saham mempunyai hak-hak yang lebih tinggi, mereka dapat menggunakan kekuatan mereka untuk mempengaruhi kebijakan dividen.
Jiraporn dan Ning (2006) melakukan penelitian dengan tujuan; pertama, untuk mengungkap apakah biaya keagenan sebagai suatu faktor penentu dari kebijakan dividen dan; kedua, untuk menguji bagaimana dividends berhubungan dengan kekuatan dari hak-hak pemegang saham. Studi ini menggunakan sampel yang terbatas pada tahun di mana Investor Responsibility Research Center (IRRC) mempunyai data atas corporate governance. Jiraporn dan Ning (2006) menggunakan data dari tahun 1993, 1995, 1998, 2000, dan 2002. Menghapus perusahaan-perusahaan yang data akuntansinya tidak tersedia di dalam COMPUSTAT, serta perusahaan-perusahaan keuangan dengan kode SIC antara 6000 dan 6999 mereka dikeluarkan karena mempunyai perbedaan karakteristik akuntansi dan keuangan. Dengan demikian sampel akhir hanya terdiri dari 3732 perusahaan-tahun yang
diamati. Bukti menunjukkan suatu hubungan yang terbalik antara dividend payouts dan hak-hak pemegang saham, misalkan perusahaan-perusahaan membayar
dividends yang lebih tinggi ketika hak-hak pemegang saham lebih dalam tekanan.
Kesimpulan dari hasil penelitian Jiraporn dan Ning (2006) adalah konsisten dengan
substitution hypothesis (La Porta, Lopez-De Salinas, Shleifter, Vishney 2000), yang
berpendapat bahwa perusahaan dengan hak-hak pemegang saham yang lemah membutuhkan untuk membuat suatu reputasi bukan untuk mengeksploitasi para pemegang saham. Sebagai suatu hasil, perusahaan-perusahaan itu membayar
dividends lebih bermurah hati daripada yang dilakukan perusahaan-perusahaan
dengan hak-hak pemegang saham yang kuat. Dengan kata lain, dividends merupakan substitusi untuk hak-hak pemegang saham. Lebih lanjut, ada beberapa bukti bahwa peraturan mempengaruhi hubungan antara dividends dan hak pemegang saham.
Mehar (2006) melakukan studi dengan tujuan untuk menguji pengaruh
corporate governance yang diwakili oleh variabel-variabel independen, yaitu net current assets, net profit after tax, kepemilikan oleh manajemen, pajak perusahaan,
bonus saham, dan variabel dummy untuk perusahaan kimia atau farmasi, terhadap kebijakan dividen, yaitu dividen yang diumumkan dalam setahun. Teknik ordinary
least square diterapkan dalam studi ini, dan digunakan untuk mengestimasi melalui pooled data terhadap laporan keuangan tahunan yang telah diaudit dari 180
perusahaan yang tercatat pada Karachi Stock Exchange (KSE) di Pakistan. Laporan keuangan yang dianalisis meliputi periode dari tahun 1981 sampai tahun 2002 memberi Mehar (2006) sebanyak 3960 observasi. Hasil penelitian Mehar (2006) ini
adalah dapat mengungkapkan bahwa tingkat likuiditas berpengaruh negatif terhadap pembayaran dividen, dalam jangka panjang hanya 23% keuntungan yang dibayarkan sebagai dividen, pembayaran dividen pada sektor farmasi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lain, dan konsentrasi kepemilikan merupakan suatu faktor penting dari pembayaran dividen. Selanjutnya hasil studi mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan memulai untuk membayar dividen setelah suatu tingkat tertentu dari pertumbuhan, dan untuk tahap awal perusahaan-perusahaan lebih berkonsentrasi pada laba ditahan.
Mitton (2004) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh mekanisme corporate governance terhadap kebijakan dividen. Untuk mengukur kekuatan dari corporate governance pada tingkat perusahaan Mitton (2004) menggunakan penilaian corporate governance yang dikembangkan oleh
Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA, 2001), penilaian para analis CLSA tentang
kinerja dari perusahaan-perusahaan emerging market pada 57 permasalahan dalam tujuh wilayah dari corporate governance. Penilaian ini telah digunakan dalam beberapa studi untuk menguji dampak dari corporate governance pada kinerja perusahaan. Dalam menilai perusahaan-perusahaan, para analis hanya membutuhkan tanggapan secara binary (yes/no) untuk masing-masing dari permasalahan, dalam suatu upaya untuk mengurangi subyektivitas. Perusahaan-perusahaan kemudian diberi suatu gabungan penilaian berdasarkan pada skor-skor mereka dalam wilayah
management discipline, transparancy, independency, accountability, responsibility, fairness, dan social responsibility. Enam wilayah pertama mempunyai suatu bobot
15% dalam skor gabungan, dan social responsibility mempunyai suatu bobot 10%. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 365 perusahaan dari 19 negara yang mempunyai pasar modal yang sedang berkembang, dengan menggunakan data keuangan periode tahun 2001. Hasil penelitian Mitton (2004) memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan corporate governance yang lebih kuat mempunyai dividend payout yang lebih tinggi, hal ini konsisten dengan model-model keagenan dari dividen. Sebagai tambahan, hubungan negatif antara
dividend payout dan kesempatan pertumbuhan adalah lebih kuat diantara
perusahaan-perusahaan dengan governance yang lebih baik. Mitton (2004) juga memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan governance yang lebih kuat adalah lebih
profitable, tetapi profitability yang lebih besar itu dijelaskan hanya sebagian dari
dividen yang lebih tinggi. Hubungan positif antara corporate governance dan
dividend payout adalah terbatas terutama pada negara-negara dengan proteksi kuat
terhadap para investornya, disarankan bahwa tingkatan dari corporate governance perusahaan dan tingkatan proteksi negara terhadap investor adalah bersifat komplementer dari pada sebagai substitusi.
2.1.13 Kepemilikan Saham dan Keanggotaan Dewan Komisaris sebagai