• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Ekonomi dan Pertumbuhan Sektoral

Dalam dokumen Indikator Ekonomi Kota Kotamobagu 2013 (Halaman 27-60)

Bab III. Pembahasan

3.3 Struktur Ekonomi dan Pertumbuhan Sektoral

4. Sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 12,54 persen 5. Sektor Pertanian sebesar 7,22 persen

6. Sektor Angkutan dan komunikasi sebesar 4,20 persen 7. Sektor Penggalian sebesar 2,28 persen

8. Sektor Industri Pengolahan sebesar 1,41 persen 9. Sektor Listrik dan Air bersih sebesar 0,29 persen.

Sektor Jasa sebagai penyumbang terbesar PDRB Kotamobagu sebagian  berasal dari subsektor pemerintahan sedangkan sisanya disumbangkan oleh

subsektor swasta dari jasa sosial kemasyarakatan dan jasa perorangan (Tabel 1). Kontribusi kesembilan sektoral dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok  primer, sekunder, dan tersier. Kelompok primer terdiri dari dua sektor, yaitu

sektor pertanian, serta sektor pertambangan dan penggalian.Kemudian kelompok sekunder terdiri dari tiga sektor, masing-masing sektor industri pengolahan, kemudian sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan. Selanjutnya, kelompok tersier terdiri dari empat sektor, yakni : sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan, persewaan dan jasa  perusahaan, serta sektor jasa-jasa.

Tabel 1 Kontribusi Sektoral PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 2010-2013

Sumber : BPS Kotamobagu

LAPANGAN USAHA/ INDUSTRI AL

ORIGIN  2010 2011 2012 2013

SEKTOR PRIMER/ PRIM ARY SECTOR  11,21 10,79 10,22 9,50

1. Pertanian/ Agriculture 8,47 8,26 7,80 7,22

2. Pertambangan&Penggalian/ Mining & Quarrying  2,74 2,53 2,42 2,28

SEKTOR SEKUNDER/ SECONDARY SECTOR  16,98 17,51 18,17 17,89 3. Industri Pengolahan/ Manufacturing Industry 1,66 1,57 1,49 1,41 4. Lstrik Gas & Air Bersih/  Electricity, Gas &

Water Supply 0,32 0,30 0,29 0,29

5. Bangunan/ Construction 15,00 15,64 16,39 16,19

SEKTOR TERSIER/ TERTI ARY SECTOR  71,81 71,70 71,61 72,62 6. Perdagangan, Hotel & Restoran/  Trade,

 Hotel,&Restaurant  14,25 14,46 14,11 13,81

7. Angkutan & Komunikasi/  Transportation&

Communication 4,12 4,06 4,05 4,20

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan/

 Finance, Owner& BusinessServices 12,73 12,53 12,72 12,54

9. Jasa-Jasa/ Services 40,71 40,66 40,73 42,07

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00

3.3.1 Sektor Primer 1. Sektor Pertanian

Kontribusi sektor ini dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu tidak  begitu besar, dimana tahun 2013 sebesar 7,22 persen dengan pertumbuhan sebesar

2,32 persen.

Pada sektor pertanian, Subsektor yang memberikan konstribusi terbesar dalam pembentukan PDRB tahun 2013 adalah sub sektor Tabama, yaitu sebesar 4,41 persen dengan pertumbuhan 1,21 persen. Sub sektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 1,39 persen dengan pertumbuhan 2,27 persen. Kemudian disusul masing-masing subsektor Peternakan dan hasil-hasilnya sebesar 0,73  persen, subsektor perkebunan sebesar 0,70 persen dengan pertumbuhannya masing-masing sebesar 4,70 persen, sedangkan untuk subsektor perkebunan  pertumbuhannya sebesar 6,06 persen.

Sedangkan subsektor Kehutanan tidak mempunyai kontribusi terhadap  pembentukan PDRB Kota Kotamobagu disebabkan tidak ada hutan di Kota

Kotamobagu.

2. Sektor Pertambangan & Penggalian

Pada Kelompok Primer, sektor ini menempati urutan kedua dalam sisi  pertumbuhan yaitu sebesar 4,13 persen tahun 2012, namun konstribusinya dalam  pembentukan PDRB Kota Kotamobagu masih kecil hanya sebesar 2,42 persen dan hanya disumbang oleh sub sektor penggalian sedangkan subsektor  pertambangan belum ada konstribusinya terhadap pembentukan PDRB Kota

Kotamobagu.

Konstribusi Kelompok Primer terhadap pembentukan PDRB Tahun 2013 sebesar 9,5 persen. Sedangkan dibandingkan tahun 2012 sebesar 10,21 persen mengalami penurunan sebesar 0,71 persen. Kontribusi sektor primer dapat dilihat  pada gambar 4

Gambar 4. Kontribusi Sektor Primer terhadap PDRB Kotamobagu, 2013

3.3.2 Sektor Sekunder

1. Sektor Industri Pengolahan

Pertumbuhan sektor ini sebesar 4,31 persen tahun 2013 dengan konstribusi terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu hanya sebesar 1,41 persen. 2. Sektor Listrik dan Air Minum

Sektor ini konstribusinya pada pembentukan PDRB Kota Kotamobagu  paling kecil dibandingkan dengan sektor lain, yaitu hanya sebesar 0,29 persen dengan pertumbuhan sebesar 7,43 persen. Konstribusi yang terbesar dalam sektor ini diberikan oleh subsektor listrik sebesar 0,23 persen.

Sedangkan subsektor Air Bersih konstribusinya dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu lebih kecil yaitu sebesar 0,06 persen.

3. Sektor Bangunan

Pertumbuhan sektor ini selama tahun 2013 sebesar 9,24 persen, dengan konstribusi sebesar 16,19 persen dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu. Secara umum, konstribusi kelompok Sekunder terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu Tahun 2013 sebesar 17,89 persen. Bila dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 18,18 persen berarti mengalami penurunan sebesar 0,29  persen.

Gambar 5. Kontribusi Sektor Sekunder terhadap PDRB Kota Kotamobagu tahun 2013

3.3.3. Sektor Tersier

1. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

Konstribusi sektor ini selama tahun 2013 menempati urutan ketiga setelah sektor jasa-jasa dan bangunan dalam pembentukan PDRB Kota Kotamobagu yaitu sebesar 13,81 persen dengan pertumbuhan 6,50 persen.

Pada subsektor ini yang memberikan sumbangan terbesar dalam  pembentukan PDRB Kota Kotamobagu adalah Subsektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 12,13 persen dengan pertumbuhan 6,26 persen. Pertumbuhan subsektor ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan 2012. Sedangkan subsektor Hotel dan Restoran/rumah makan konstribusinya terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu relatif masih sangat kecil. Dimana subsektor Hotel hanya menyumbangkan sebesar 0,44persen dan subsektor Restoran/rumah makan menyumbangkan sebesar 1,25 persen. Pertumbuhan masing-masing subsektor 7,56 persen dan 7,98 persen.

2. Sektor Angkutan dan Komunikasi

Sektor ini selama tahun 2013 tumbuh sebesar 8,45 persen dengan konstribusi terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu sebesar 4,2 persen. Subsektor Angkutan memberikan konstribusi terbesar dalam pembentukan PDRB sektor ini sebesar 3,60 persen dengan pertumbuhan 8,28 persen, dimana Angkutan Darat memberikan sumbangan terbesar sebesar 3,5 persen. Subsektor Komunikasi konstribusinya dalam pembentukan PDRB tahun 2013 sebesar 0,59 persen, dengan pertumbuhan sebesar 9,64 persen.

3. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Konstribusi sektor ini terhadap pembentukan PDRB Kota Kotamobagu tahun 2012 sebesar 12,72 persen. Subsektor Bank memberikan konstribusi paling  besar pada pembentukan sektor ini yaitu sebesar 11,26 persen., kemudian disusul

subsektor real estate 1,31 persen, Jasa Perusahaan dan Lembaga Keuangan tanpa Bank masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,09 persen.

4. Sektor Jasa

 – 

 Jasa

Selama tahun 2013 sektor ini memberikan konstribusi terbesar dalam sektor tersier pada pembentukan PDRB Kota Kotamobagu yaitu sebesar 42,07  persen dengan pertumbuhan sebesar 8,56 persen.

Subsektor Pemerintahan Umum paling besar konstribusinya pada sektor ini sebesar 38,07 persen. Sedangkan subsektor Swasta hanya memberikan konstribusi sebesar 4,00 persen. Rinciannya dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Kontribusi Sektor Tersier terhadap PDRB Kotamobagu

SEKTOR PRIMER 10.21% SEKTOR SEKUNDER 18.18% Perdagangan, Hot e l & Restoran 14.11% Angkutan & Komunikasi 4.05% Keuangan, Per sewa

an & Jasa Perusahaan 12.72% Jasa-Jasa 40.73% SEKTOR TERSIER 71,61% tahun 2012

Terminologi Tipology Klassen digunakan untuk perencanaan ekonomi daerah termasuk kabupaten atau kota yang didasarkan kemampuan daerah dilihat dari wilayahnya seperti kawasan dan sektor di dalam PDRB, analisis ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang hubungan antara PDRB perkapita dengan  pertumbuhan ekonomi Kota Kotamobagu di bandingkan dengan kabupaten lain di Sulawesi Utara dan penentuan daerah masuk di kriteria salah satu yang di definisikan oleh Klassen.

Klasifikasi daerah dilakukan berdasarkan dua indikator utama, yaitu  pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto per kapita daerah, dengan alat analisis Tipologi Klassen. Sumbu horizontalnya (sumbu-x) adalah rata-rata produk domestik regional bruto per kapita, sedangkan sumbu vertikalnya (sumbu-y) adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi. Dengan dua indikator tersebut kemudian dilakukan klasifikasi daerah menjadi 4 kuadran dengan criteria sebagai  berikut :

Indikator Ekonomi Kotamobagu 2013

3.4.1 Daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh

Pada Gambar 7 daerah yang cepat maju dan cepat tumbuh adalah Manado, Minahasa Selatan dan Tomohon. Kondisi ini menunjukkan bahwa PDRB perkapita dan pertumbuhan ekonomi ketiga daerah tersebut di atas kabupaten/kota lainnya. Manado sebagai ibukota provinsi setiap tahunnya mengalami pertumbuhan di atas rata-rata, pembangunan infrastruktur dan  perdagangan maju pesat. Kota Manado sebagai daerah tujuan utama para wisatawan dan seringkali menjadi tuan rumah akan event-event skala nasional dan  bahkan internasional. Hal inilah yang mendrong pertumbuhan dan PDRB  perkapita Manado lebih tinggi dari daerah lainnya.

3.4.2 Daerah Maju Tapi Tertekan

Sedangkan di kuadran II yang digolongkan daerah maju tapi tertekan adalah minahasa dan Minahasa Utara. Kedua daerah ini memiliki pendapatan  perkapita di atas kabupaten/kota di Sulawesi Utara namun pertumbuhan ekonominya lebih kecil. Perkembangan ekonomi selama tahun 2009-2011 di kedua daerah tersebut relative lebih rendah di bandingkan daerah lain seperti Kotamobagu.

3.4.3 Daerah Berkembang Cepat

Kuadran III oleh Klassen digolongkan sebagai daerah yang berkembang cepat, Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun pendapatan perkapitanya masih relative rendah dari kabupaten/kota lain di Sulawesi Utara. Daerah Kotamobagu termasuk dalam kuadran III sebagai daerah yang berkembang cepat. Kabupaten/kota yang berada pada kuadran ini merupakan kabupaten/kota yang laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari laju pertumbuhan seluruh kabupaten di Sulawesi Utara, tetapi PDRB perkapitanya lebih rendah dari rata-rata kabupaten/kota di Sulawesi Utara. Artinya Kotamobagu mempunyai produktivitas yang lebih tinggi namun tingkat ekonominya masih relative rendah di bandingkan di Sulawesi Utara. Kotamobagu memerlukan investasi publik dan promosi untuk lebih mempercepat produktivitasnya sehingga tingkat ekonominya lebih tinggi. Menurut Klassen daerah dengan kriteria ini di sebut daerah “Growing Region” .

Kotamobagu perkembangannya cukup pesat sejak menjadi daerah  pemekaran sejak tahun 2008, sebelumnya Kotamobagu masih menjadi bagian dari Kabupaten Bolaang Mongondow. Infrastruktur jalan, gedung pemerintahan,  pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan lain-lain di bangun untuk mendukung

kegiatan perekonomian di Kotamobagu.

Kotamobagu juga sebagai kota penghubung antara kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan dan Bolaang Mongondow. Hal ini menjadikan Kotamobagu sangat berpeluang besar untuk dapat berkembang lebih maju lagi dibandingkan sekarang.

Salah satu faktor utama untuk membiayai jalannya roda pembangunan di suatu wilayah adalah dengan adanya Penerimaan daerah, yang bersumber dari  penerimaan pajak daerah, retribusi dan pendapatan lainnya serta dana  perimbangan dari pemerintahan pusat, baik melalui Bagi Hasil Pajak/Bukan

Pajak, DAU, DAK maupun dana perimbangan lainnya.

Realisasi penerimaan/pendapatan pemerintah Kota Kotamobagu pada Tahun 2013 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 penerimaan Kota Kotamobagu mencapai Rp 433,606 miliar, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 366,897 miliar, sehingga terjadi kenaikan sebesar 66,709 miliar atau sebesar 18,18 persen.

Kenaikan ini terutama bersumber dari pendapatan lain-lain yang sah yang  pada 2012 tidak diterima oleh pemerintah Kotamobagu. Selain itu, kenaikan  pendapatan transfer berupa dana perimbangan dan dana penyesuian menjadi salah satu faktor kenaikan tersebut. Meskipun sempat mengalami penurunan di tahun 2012, secara umum pendapatan daerah dari tahun 2009 sampai tahun 2013 mengalami kenaikan. Perkembangan pendapatan dapat dilihat dari gambar 8.

Gambar 8. Pendapatan Daerah beserta Komponennya tahun 2009-2013

Dari Gambar 8 terlihat bahwa pendapatan terbesar masih disumbangkan oleh pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi. Pada tahun 2009  pendapatan transfer dari pusat berupa dana perimbangan menyumbang 90,9  persen dari total pendapatan daerah. Hal ini dikarenakan Kotamobagu masih merupakan daerah pemekaran baru yang membutuhkan banyak dana untuk  pembangunan infrastruktur.

Porsi dana perimbangan terus menurun tiap tahunnya, sampai tahun 2013  porsi dana perimbangan dari pusat menjadi 83,99 persen dari total pendapatan. Ini sejalan dengan prinsip otonomi daerah yang menginginkan daerah sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan akan dana pemerintah pusat.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama tahun 2009 s.d. 2013 mengalami  peningkatan. Tahun 2009 PAD Kotamobagu sebesar 6,14 Milyar dan naik menjadi 14,52 Milyar di tahun 2013. Penerimaan terbesar berasal dari Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah sebesar 37,43 persen. Penerimaan terbesar kedua berasal dari Pajak Daerah sebesar 37,37 persen. Sedangkan sisanya adalah penerimaan PAD yang berasal retribusi daerah sebesar 25,19 persen.

Pemerintah Kotamobagu selama tahun 2009-2013 berhasil menaikkan PAD yang berasal dari pajak daerah. Tahun 2009 penerimaan yang berasal dari  pajak daerah sebesar 1,7 Milyar dan naik sampai dengan 5,4 Milyar di tahun

2013, walaupun pada tahun 2010 sempat turun hanya sampai 212,469 juta. Perkembangan PAD Kota Kotamobagu dapat dilihat dari Gambar 9.

Belanja daerah terbagi menjadi Belanja Operasional, Modal dan Belanja Tak Terduga. Realisasi belanja terbesar selama 2009-2013 diserap oleh belanja operasional, tahun 2009 sebesar 53,88 persen dan tahun 2013 sebesar 73,01  persen. Sedangkan belanja modal pada tahun 2013 sebesar 26,99 persen. Belanja

modal terbesar adalah belanja jalan, irigasi, dan jaringan sebanyak 61,45 Milyar, sedangkan belanja terkecil untuk modal berupa tanah yang hanya sebesar 96,025 Juta. Secara ringkas pengeluaran Pos Belanja disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2 Pos Belanja APBD Tahun 2009-2013 (dalam Milyar Rupiah)

Pengeluaran 2009 2010 2011 2012 2013

Belanja Total 286.1984 362.1792 380.6097 367.9955 430,7587 Belanja Operasional 154.2256 211.1862 264.0298 280.3045 314,4995 Belanja Modal 131.9728 149.6448 116.5799 87.53346 116,2592

Belanja Tak Terduga 0 1.348176 0 0.1575 0

Sumber: DPPKAD Kota Kotamobagu

Belanja operasional terdiri dari Belanja pegawai, belanja barang, belanja hibah, belanja bantuan sosial dan belanja bantuan keuangan. Belanja operasional untuk belanja pegawai adalah yang terbesar, belanja pegawai menyerap 72,57  persen dari total belanja operasional pada tahun 2013. Sedangkan belanja bantuan sosial mempunyai porsi paling kecil dari pos belanja operasional yaitu sebesar 525,5 Juta rupiah atau sekitar 0,17 persen.

Gambar 10. Belanja Pemerintah Kotamobagu tahun 2013

Pembangunan manusia merupakan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia ( penduduk ) sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitu tercapainya penguasaan atas sumber daya ( pendapatan untuk mencapai hidup layak ), peningkatan derajat kesehatan (usia hidup panjang dan sehat) dan meningkatkan pendidikan (kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat dan kegiatan ekonomi).

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf,  pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia (bisa juga

digunakan untuk Daerah). IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara (daerah) adalah negara (daerah) maju, negara (daerah)  berkembang atau negara (daerah) terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Indeks ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel india Amartya Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom Pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program pembangunan PBB pada laporan IPM tahunannya.

Semakin baik IPM menggambarkan tingkat kesejahteraan yang makin baikpada daerah tersebut demikian pula sebaliknya semakin rendah IPM berartisemakin tertinggal pembangunan suatu daerah. Berdasarkan Standar yang digunakan UNDP, skala IPM berkisar 0-100 dengan jabaran sebagai berikut:

 < 50 artinya terbelakang (kesejahteraan rendah)  50-65, artinya kesejahteraan menengah ke bawah  65-80, artinya kesejahteraan menengah ke atas  80 kesejahteraan tinggi

Salah satu data komparatif kota atau wilayah sekitar yang bisa diperoleh dalam analisis ini adalah perbandingan IPM antara kabupaten/kota di Sulawesi Utara, sebagaimana disajikan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 3. IPM Kota Kotamobagu dan Kabupaten/Kota Pembanding di Sulawesi Utara tahun 2009-2013

Kabupaten Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

2009 2010 2011 2012 2013

Kab. Bolaang Mongondow 72.52 72.99 73.47 73.83 74.22

Kab. Minahasa 75.28 75.74 76.12 76.69 77.06

Kab. Kepulauan Sangihe 75.21 75.58 76.07 76.42 76.79 Kab. Kepulauan Talaud 74.83 75.30 75.76 76.14 76.47 Kab. Minahasa Selatan 74.18 74.68 75.1 75.46 75.82 Kab. Minahasa Utara 75.57 76.08 76.54 76.91 77.23 Bolaang Mongondow Utara 72.27 72.63 73.08 73.48 73.94

Minahasa Tenggara 72.31 72.71 72.7 73.42 73.79

Kep. Siau Tagulandang Biaro 72.86 73.30 73.09 74.06 74.56 Bolaang Mongondow Selatan 70.03 70.63 70.87 71.63 72.27 Bolaang Mongondow Timur 71.85 72.27 72.97 73.82 73.75

Kota Manado 77.79 78.02 78.57 78.92 79.34 Kota Bitung 75.00 75.52 75.96 76.30 76.66 Kota Tomohon 75.65 76.09 76.39 76.92 77.82 Kota Kotamobagu 74.46 75.03 75.53 76.03 77.05 Sulawesi Utara 75.16 75.68 76.09 76.54 77.36 Sumber : BPS, diolah

Dengan melihat tabel diatas, nampak bahwa IPM Kota Kotamobagu, masih jauh lebih baik ketimbang beberapa wilayah atau kota kabupaten  pembandingnya dalam wilayah Sulawesi Utara, diantaranya seperti Kota Bitung,

Kabupaten Sangihe, Kabupaten seluruh Bolaang Mongondow Raya, dan Kabupaten lainnya. Sementara itu jika kita bandingkan dengan Provinsi Sulawesi

Utara, rata-rata IPM Kota Kotamobagu memang berada dibawah rata-rata IPM Sulawesi Utara yang nilainya antara 75-76. Kondisi ini merefleksikan bahwa  pertumbuhan IPM Kota Kotamobagu masih di bawah pertumbuhan IPM Provinsi

Sulawesi Utara.

Jika diurutkan berdasarkan peringkat IPM maka Kota Kotamobagu tahun 2013 masih sama dari tahun lalu yaitu menjadi peringkat ke 5 dari 15 Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara, dapat dilihat dari ta bel berikut:

TAbel 4 Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara

Kabupaten/Kota 2010 2011 2012 2013

Kab. Bolaang Mongondow 11 10 11 11

Kab. Minahasa 4 4 4 4

Kab. Kepulauan Sangihe 5 5 6 6

Kab. Kepulauan Talaud 8 8 8 8

Kab. Minahasa Selatan 9 9 9 9

Kab. Minahasa Utara 3 3 3 3

Bolaang Mongondow Utara 13 12 13 13

Minahasa Tenggara 12 14 14 14

Kep. Siau Tagulandang Biaro 10 11 10 10

Bolaang Mongondow Selatan 15 15 15 15

Bolaang Mongondow Timur 14 13 12 12

Kota Manado 1 1 1 1

Kota Bitung 7 7 7 7

Kota Tomohon 2 2 2 2

Kota Kotamobagu 6 6 5 5

Sumber : BPS, diolah

Sejak tahun 2009 hingga tahun 2013, Kota Kotamobagu mengalami  perkembangan peringkat IPM. Pada tahun 2009 Kota Kotamobagu berada d  peringkat ke 7 dari 15 Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara. Kemudian tahun 2010 naik menjadi peringkat 6 sampai tahun 2011. Tahun 2012 sampai 2013 peringkat IPM Kota Kotamobagu menjadi peringkat ke-5.

IPM terdiri dari 3 indeks yaitu indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Kemampuan daya beli, yang masing-masing dapat digambarkan dari indikator berikut.

1. Angka Usia Harapan Hidup (Indeks Kesehatan)

Angka Usia Harapan Hidup adalah ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat yang mendiami suatu wilayah yang dilihat dari peluang umur panjang dan sehat. Sering digunakan untuk menggambarkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Peningkatan kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas  pelayanan kesehatan. Capaian usia harapan hidup di tahun 2013 sebesar 72.34 tahun. Usia harapan hidup di Kota Kotamobagu secara umum lebih rendah dari usia harapan hidup di Sulawesi Utara yang mencapai 72,62 tahun di tahun 2013.  Namun demikian dari tahun ke tahun usia harapan hidup menujukkan perbaikan.

Tabel 5 Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara Tahun 2010-2013

Kab/Kota 2010 2011 2012 2013

Kab. Bolaang Mongondow 71.58 71.7 71.83 72.06

Kab. Minahasa 72.47 72.54 72.61 72.80

Kab. Kepulauan Sangihe 73.01 73.19 73.37 73.55

Kab. Kepulauan Talaud 71.89 72.12 72.35 72.57

Kab. Minahasa Selatan 72.28 72.41 72.54 72.76

Kab. Minahasa Utara 72.60 72.73 72.87 73.09

Bolaang Mongondow Utara 69.91 70.06 70.16 70.42

Minahasa Tenggara 70.03 68.71 73.42 70.34

Kep. Siau Tagulandang Biaro 68.62 70.1 68.81 69.00

Bolaang Mongondow Selatan 71.29 71.34 71.39 71.47

Bolaang Mongondow Timur 71.35 71.42 71.48 71.51

Kota Manado 72.64 72.7 72.77 72.96

Kota Bitung 70.50 70.59 70.67 70.90

Kota Tomohon 72.62 72.78 72.95 73.13

Kota Kotamobagu 71.80 71.96 72.12 72.34

Sulawesi Utara 72.22 72.33 72.44 72.62

Sumber : BPS Sulawesi Utara, diolah

Pada tahun 2013 Kota Kotamobagu untuk indeks harapan hidup berada di  peringkat 8 dari seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara. Ini menandakan

masih sangat diperlukan perhatian dari pemerintah khususnya dibidang kesehatan agar indeks harapan hidup dapat lebih ditingkatkan.

2. Indeks Pendidikan

Indeks pendidikan terdiri dari dua indikator dengan penilaian bobot yang  berbeda. Indikator Melek huruf dan Indikator lama sekolah menjadi penyusun

Indeks pendidikan. Angka melek huruf sering digunakan untuk menggambarkan kualitas SDM. Peningkatan wawasan pengetahuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca dan menulis.

Peringkat Angka melek huruf Kota Kotamobagu di peringkat 7, ji ka dibandingkan dengan rata-rata seluruh Sulawesi Utara, angka ini lebih besar dari Sulawesi Utara.

Tabel 6 Tingkat Melek Huruf Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara tahun 2013

Kabupaten/Kota 2013 Peringkat

Manado 99.93 1

Minahasa 99.90 2

Kota Tomohon 99.88 3

Minahasa Selatan 99.87 4

Kep. Siau Tagulandang Biaro 99.82 5

Minahasa Utara 99.79 6

Kota Kotamobago 99.68 7

Kepulauan Talaud 99.60 8

Bolaang Mongondow Timur 99.59 9

Minahasa Tenggara 99.56 10

Kota Bitung 99.44 11

Bolaang Mongondow Selatan 99.09 12

Kep.Sangihe Talaud 98.78 13

Bolaang Mongondow Utara 98.68 14

Bolaang Mongondow 98.34 15

Sulawesi Utara 99.56

Sumber BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah

Komponen penyusun lainnya adalah indikator rata-rata lama sekolah. Rata-rata Lama Sekolah ( Indeks Pendidikan) untuk Kota Kotamobagu mengalami  peningkatan dari tahun ke tahun. Secara rangking, pada komponen IPM yaitu komponen Rata-Rata Lama Sekolah ini, Kota Kotamobagu berada pada rangking ke-4 pada tahun 2013. Rata-rata Lama sekolah di Kotamobagu sekitar 9,54 tahun, lebih tinggi dari rata-rata di Sulawesi Utara, artinya untuk pendidikan dasar di Kotamobagu sudah memenuhi namun untuk sampai ke pendidikan menengah masih kurang. Idealnya Rata-rata Lama Sekolah adalah 15 tahun.

Tabel 7 Rata-rata Lama Sekolah Kebupaten/Kota di Sulawesi Utara t ahun 2013 Kabupaten/Kota 2013 Peringkat Bolaang Mongondow 7.48 12 Minahasa 9.55 3 Kep.Sangihe Talaud 7.76 11 Kepulauan Talaud 8.82 7 Minahasa Selatan 8.80 8 Minahasa Utara 9.42 6

Bolaang Mongondow Utara 7.44 13

Kep. Siau Tagulandang Biaro 8.65 9

Minahasa Tenggara 8.43 10

Bolaang Mongondow Selatan 7.32 15

Bolaang Mongondow Timur 7.50 14

Manado 10.92 1

Kota Bitung 9.47 5

Kota Tomohon 10.30 2

Kota Kotamobagu 9.54 4

Sulawesi Utara 9.09

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah 3. Indeks Daya Beli (Purchasing Power Parity)

Indeks daya beli adalah Komponen standar hidup layak atau dikenal (Purchasing Power Parity/PPP) sebagai nilai konsumsi riil perkapita yang disesuaikan meriupakan ukuran tingkat daya beli masyarakat yang diasumsikan  jika daya beli semakin baik atau pola konsumsi meningkat dapat mencerminkan kualitas hidup masyarakat semakin baik sebab pola konsumsi mencerminkan pola alokasi pendapatan kepada berbagai macam pengeluaran yang berbentuk makanan dan non makanan.

Tabel 8 Pengeluaran riil perkapita Kabupaten /Kota di Sulawesi Utara tahun 2013 (dalam ribu rupiah)

Kabupaten/Kota 2013 Peringkat Bolaang Mongondow 628.58 11 Minahasa 635.56 9 Kep.Sangihe Talaud 647.10 2 Kepulauan Talaud 637.53 6 Minahasa Selatan 627.05 12 Minahasa Utara 637.33 7

Bolaang Mongondow Utara 636.06 10

Kep. Siau Tagulandang Biaro 639.39 5

Minahasa Tenggara 622.70 13

Bolaang Mongondow Selatan 606.76 15

Bolaang Mongondow Timur 622.45 14

Manado 650.81 1 Kota Bitung 646.31 3 Kota Tomohon 635.90 8 Kota Kotamobagu 639.49 4 Sulawesi Utara 646.19 Sumber : BPS. Di olah

Peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat dipengaruhi oleh pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat, capaian daya beli masyarakat di tahun 2013 sebesar 636 ribu rupiah perkapita pertahun. Indeks daya beli di Kaota Kotamobagu secara umum cukup baik, dari seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara peringkat ke-4 dan peringkat pertama untuk wilayah Bolaang Mongondow Raya (Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan). Hal ini menunjukkan tingkat daya beli masyarakat Kota Kotamobagu masih lebih tinggi dibandingkan daerah hasil  pemekaran di wilayah Bolaang Mongondow dan sekitarnya.

Beberapa indikator dapat menggambarkan keadaan Kotamobagu dari sisi ekonominya antara lain :

1. Pertumbuhan ekonomi Kotamobagu naik dari 7,55 persen menjadi 7,78  persen pada tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi sebesar 7,78 persen berada diatas pertumbuhan ekonomi Sulut yang sebesar 7,45 persen. Namun  pertumbuhan ekonomi Kotamobagu masih berada di atas rata-rata  pertumbuhan ekonomi di kabupaten/kota lainnya.

2. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita tahun 2013 sebesar 12.380.787 rupiah, sedangkan nilai PDRB perkapita Atas Dasar Harga Konstan tercatat sebesar 5.063.201 rupiah. Nilai PDRB perkapita baik PDRB

Dalam dokumen Indikator Ekonomi Kota Kotamobagu 2013 (Halaman 27-60)

Dokumen terkait