• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V STRUKTUR WACANA MITOS RATU KIDUL DI PESISIR BALI SELATAN

DI PESISIR BALI SELATAN

5.1 Struktur Formal

Struktur wacana mitos RK berbentuk satuan formal yang terdiri atas penggalan-penggalan (fabula) informasi atau tuturan verbal. Penggalan informasi itu difragmentasi, dikelompokkan, dan direkonstruksi menjadi teks sebagaimana yang sudah dilakukan pada bab IV di atas. Dalam mengkaji struktur, fungsi dan makna tekstual dilakukan pengutipan beberapa paragraf dari persepsi ketiga kelompok masyarakat yang berkaitan dengan topik bahasan. Sebelum membicarakan struktur formal wacana mitos RK di Pesisir Bali Selatan terlebih dahulu perlu dipahami tentang wacana. Wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif kompleks dan paling lengkap, meliputi satuan pendukung, seperti: fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh dan pada dasarnya merupakan unsur bahasa yang bersifat pragmatis. Oleh karenanya, kajian tentang wacana menjadi

“wajib” ada dalam proses pembelajaran bahasa, dengan tujuan untuk membekali pemakai bahasa agar dapat memahami dan memakai bahasa dengan baik dan benar (Mulyana, 2005:18).

Kajian wacana berkaitan dengan pemahaman tentang tindakan manusia yang dilakukan dengan bahasa (verbal) dan bukan bahasa (nonverbal). Hal ini menunjukkan, bahwa untuk memahami wacana dengan baik dan tepat diperlukan bekal pengetahuan kebahasaan. Sampai saat ini, penelitian tentang wacana masih

berkutat pada persoalan kebahasaannya secara internal dan gramatikal, seperti: aspek sintaksis, kohesi, koherensi, fungsi konteks, hubungan antar kalimat dalam satuan wacana, dan sejenisnya. Namun, belum banyak yang mencoba mengeksplorasi wacana dari segi eksternalnya tentang bagaimana hubungan wacana dengan persoalan sosial, lingkungan, ekonomi, sejarah, agama, antropologi, dan hubungan interdisipliner lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh pemikiran sempit dan statis yang menyatakan, bahwa lebih mudah mengkaji atau meneliti jenis wacana tulis. Banyak orang lupa, bahwa wacana yang sesungguhnya adalah wacana lisan, yaitu suatu tuturan yang langsung disampaikan secara verbal. Wacana tulis adalah wacana turunan yang mirip dengan ‘wacana dokumentasi.’Melalui analisis terhadap wacana lisan, diperoleh berbagai aspek yang masih melingkupinya. Misalnya, siapa yang bertutur, dimana tuturan tersebut terjadi, dalam situasi apa berlangsung, kapan terjadinya, dan untuk tujuan apa wacana dituturkan.

Wacana memiliki dua unsur pendukung utama, yaitu: unsur dalam (internal) yang membentuk struktur formal, dan unsur luar (eksternal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan yang terdiri atas satuan kata atau kalimat, teks, dan koteks. Teks adalah esensi wujud bahasa yang direalisasi (diucapkan) dalam bentuk wacana. Koteks adalah pertalian antara teks satu dengan teks lainnya. Keberadaan kotekslah, dalam suatu struktur wacana menunjukkan bahwa teks tersebut memiliki struktur yang saling berkaitan satu dengan yang lain dan menyebabkan sebuah wacana menjadi utuh dan lengkap. Koteks berfungsi sebagai alat bantu memahami dan menganalisis wacana (Mulyana, 2005:7).

Unsur internal suatu wacana juga terdiri atas satuan kata atau kalimat. Satuan

kata adalah kata yang berposisi sebagai kalimat atau disebut ‘kalimat satu kata’.

Untuk menjadi satuan wacana yang besar, satuan kata atau kalimat tersebut akan bertalian, dan bergabung membentuk wacana. Dalam konteks analisis wacana, kata atau kalimat yang berposisi sebagai wacana disyaratkan memiliki kelengkapan makna, informasi, dan konteks tuturan yang jelas dan mendukung. Dalam pandangan kewacanaan, setiap kalimat adalah bagian dari keseluruhan struktur yang lebih besar (Fokker, 1980:83). Teks, adalah esensi wujud bahasa atau teks direalisasi (diucapkan)

dalam bentuk ‘wacana’.

Banyak orang menukarkanistilah ‘teks’ dan ‘wacana’karena teks lebih dekat pemaknaannya dengan bahasa tulis (bersifat monolog non interaksi), sedangkan wacana pada bahasa lisan dan bersifat ‘dialog interaksi’. Perbedaan kedua istilah itu

terletak pada segi jalur pemakaiannya. Dari perbedaan penekanan, kemudian muncul

dua tradisi pemahaman di bidang linguistik, yaitu ‘analisis linguistik teks’ dan ‘analisis wacana’ (Mulyana, 2005:9). Istilah koteks (co-text), yaitu teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memilki hubungan dengan teks lainnya. Teks lain tersebut bisa berada di depan (mendahului) atau di belakang (mengiringi). Sehubungan dengan itu, maka dalam analisis struktur wacana mitos RK di pesisir Bali Selatan telah dikutip beberapa paragraf terkait dengan unsur yang akan dianalisis. Misalnya dalam teks panjang, sering terdapat kata yang harus dicarikan makna dari (informasi) nya pada kata (bagian) lainnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Kutipan (1):

“Di tepi goa Kelelawar Suci, terdapat pelinggihRatu Biang Saktiberbalut serba hijau yang juga dipercaya turut serta menjaga laut.Namainilah yang diyakini sebagai manifestasi Ratu Kidul. Namun karena ada aktifitas pembuatan tanggul,

beberapa mata air sulit ditemukan kembali.”(Mk.Suada, informan 10 )

Bentuk kata ‘nama’ pada kalimat kedua, mengacu pada nama Ratu Biang Sakti yang disebutkan sebelumnya. Penafsiran ini benar, karena didasarkan pada teks lain yang menjadi penjelas kata ‘nama’. Maka dalam hal ini ‘Ratu Biang Sakti’

adalah koteks bagi bentuk kata ‘nama’. Keberadaan koteks dalam suatu struktur

wacana menunjukkan bahwa teks tersebut memiliki struktur yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Dengan demikian struktur formal meliputi aspek internal kebahasaan. Selain itu, aspek internal kebahasaan wajib memiliki dua unsur pengutuh kalimat, yaitu aspek kohesi dan koherensi.

5.1.1 Aspek Kohesi

Kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Wacana yang baik dan utuh mensyaratkan kalimat-kalimat yang kohesif. Kohesi dalam wacana terbagi atas dua aspek, yaitu: kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal, meliputi: referensi, substitusi, elipsis, konjungsi. Kohesi leksikal, meliputi: sinonimi, antonimi, hiponimi, repetisi, kolokasi. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh.

Sehubungan dengan hal tersebut, HG Tarigan (1987:96) mengemukakan bahwa penelitian terhadap unsur kohesi menjadi bagian dari kajian aspek formal bahasa. Organisasi dan struktur kewacanaannya juga berkonsentrasi dan bersifat sintaktik-gramatikal. Dengan hubungan kohesif seperti itulah, suatu unsur dalam wacana dapat diinterpretasikan, sesuai dengan ketergantungannya dengan unsur- unsur lainnya. Hubungan kohesif dalam wacana sering ditandai oleh kehadiran pemarkah (penanda) khusus yang bersifat lingual-formal.

A. Kohesi Gramatikal