• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA FARADITHA

4.1 Kepribadian Tokoh Utama

4.1.2 Struktur Kepribadian Ego (Das Ich ) Metta

Ego adalah sistem kepribadian yang bisa menentukan mana hal yang perlu

prioritaskan dalam kehidupan dan mana yang tidak. ego adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul dengan kebutuhan manusia untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego ini berpegang pada prinsip kenyataan dan berhubungan dengan proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan ini adalah

33

mencari objek yang tepat sesuai dengan kenyataan untuk mereduksi ketegangan yang timbul dalam diri. Proses sakunder adalah proses berpikir realistis, dengan menggunakan proses sekunder ego merumuskan sutau rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan untuk mengetahui apakah rencananya ini berhasil atau tidak. Berikut beberapa kutipan dari novel Sin yang menggambarkan kepribadian ego Metta.

Metta masih menduga-duga jika ini termasuk cara untuk mendapatkan perhatiannya. Namun sosok yang ia teriaki tadi malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan kembali berjalan, seolah tidak terjadi apa-apa. Mulut Metta terbuka lebar. Kedua tangannya mengepal keras.

Metta menyadari jika suatu perasaan tidak nyaman dihatinya ternyata terkoyak. Ia mengetahui perasaan itu berada di sana dalam waktu yang cukup lama. Hanya saja Metta seolah menguburnya dan bersikap acuh.

Dan cowok yang tidak di kenalnya itu berhasil melemparkan Metta pada satu realita naas, bahwa ia akan selalu mendapat pengabaian sepanjang hidupnya. (Faraditha 2017: 8)

Kutipan di atas menggambarkan Metta yang mengharapkan kata maaf dari Raga tidak di dapatkannya, hal itu membuat ia marah karna keinginnya tidak terlaksana.

ego Metta pada saat itu memerintah dia untuk menahan amarah dengan cara

mengepalkan tangannya. ego juga dalam hal ini mengingatkan Metta bahwa ia adalah ia adalah gadis yang akan selalu mendapat pengabain sepanjang hidupnya.

34

Metta tentu saja berbohong kepada Lala mengenai dirinya tidak pernah melihat Raga sejak kejadian malam itu. kenyataanya, ia acap kali melihat Raga dari ujung lorong ketika cowok itu baru saja tiba di pagi hari atau saat Raga sedang berada di lorong loker. Atau bahkan, saat di kantin pada saat jam istrahat kedua.

Jika Ammeta Rinjani, yang biasanya memiliki kepercayaan diri yang melebihi gunung, mampu mengangkat dagu setinggi-tinggiya ketika berhadapan dengan orang lain, tidak pernah memiliki rasa rendah diri sama sekali, kali ini Metta justru menemukan dirinya berlari menghindar saat melihat Raga. (Faraditha 2017: 26)

Kutipan di atas, menjelaskan tentang Metta yang biasanya memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi berubah menjadi Metta yang takut dan malu.

Kejadian di saat Metta memohon kepada Raga untuk memuaskan nafsunya pada malam itu sungguh membuatnya dirinya malu. Dalam hal ini ego mengendalikan Metta untuk menghindari Raga dalam menutupi rasa malu yang dirasakannya.

Di saat Metta masih terpaku, pegangan tangan cowok itu justru perlahan melonggar dan membuat Metta malah sukses jatuh terduduk di lantai. Ia terpekik melebih-lebihkan dan mendongak kesal, “lo!” tunjuknya “ kok biarin gue jatoh!”

“Salah sendiri tiba tiba nongal” Ucap Raga

Metta semakin cemberut tidak terima, namun menjulurkan tangan.

“Bantuin.” Alih-alih menerima uluran tangan Metta, Raga justru berlalu meninggalkannya. (Faraditha 2017: 38)

Kutipan di atas menggambarkan Metta yang jatuh karena Raga, namun lelaki tersebut tidak menolong dirinya. Hal ini membuat Metta kesal dan ingin marah tapi ego berhasil mengendalikan Metta untuk tidak melakukannya yang akhirnya

35

membuat Metta lebih memilih untuk meminta bantuan dengan mengulurkan tangannya, namun kenyataanya Raga tidak mau menolongnya.

Sebenarnya, apa yang tengah Metta lakukan saat ini berada di luar kesadarannya. Cewek itu hanya tidak bisa menerima ketika Raga benar-benar tidak tertarik kepadanya. Dan Metta berniat mengubahnya, untuk itulah Metta berada di belakang motor raga saat ini. Lampu yang berubah menjadi hijau membuat Metta waspada untuk melihat ke mana arah tujuan Raga. (Faraditha 2017: 40)

Kutipan di atas menunjukan bahwa Metta berusaha untuk mengikuti Raga diam-diam. Ia tidak terima Raga terus menolak dirinya, inilah sebabnya ia melakukan hal yang tidak mungkin di tolak oleh Raga yaitu mengikutinya diam-diam untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Hal ini menunjukan ego Metta berhasil menunjukan cara yang dapat di lakukan Metta untuk memuaskan id-nya dengan cara yang tidak menyebabkan kekeliruan.

Gue bisa jalan sendiri.” Metta memperhatikan kakinya. “Udah gak kerasa sakit lagi malah.” Cewek itu mengedip-ngedipkan matanya tampak meyakinkan. “Lagian kalau gue sendiri di apartement gue suka gabut.”

Lanjut Metta. “Gue suka ngelakuin yang aneh-aneh tanpa sadar gitu. Kan gawat misalnya, gue pas nelpon teman-teman keceplosan ngomongin lo yang ternyata pemain tinju.”

“Lo!” Tunjuk Raga penuh peringatan. Cewek itu baru saja mengancamnya dan sekarang menampilkan senyuman lebar untuk Raga.

“iya?” Metta menatap penuh antusias

“jangan ngeluarin sepatah kata pun” Ucap Raga

“Oke!!” Sahut Metta semangat. (Faraditha 2017: 72)

36

Kutipan di atas menggambarkan Metta yang minta ikut dengan Raga. Awalnya Raga tidak ingin melakukannya, tapi ego dalam diri Metta mendorongnya untuk mengatakan sesuatu yang membuat Raga tidak bisa menolaknya. Metta mengancam Raga jika tidak membawanya keluar, maka ia akan membongkar pada teman-temannya bahwa Raga adalah petinju. Tentu saja Raga tidak ingin itu terjadi, akhirnya ia menuruti permintaan gadis itu demi menjaga rahasianya. Hal tersebut tentu saja membuat Metta bahagia, karna tanpa susah payah akhirnya Raga mau menuruti kemauannya.

Gue gak nyadar. Sakitnya gue tahan-tahan aja jadi kayak gitu.”

“Bego.” Ucap raga

Metta cemberut dan memukul bahu Raga. “Gue kan gak tau kalau bakal jadi bengkak!”

“Yang punya kaki siapa, gue tanya? Masa enggak bisa ngerasaain?” Ucap Raga

Metta hanya bisa cemberut, ia memperhatikan Raga yang tengah membalut kakinya dengan perban. Cowok itu lalu memasang kembali sendal jepit Metta dan membantunya bergeser masuk.”

(Faraditha 2017:78)

Kutipan di atas menceritakan tentang Metta yang di marahi Raga karna menahan rasa sakit pada kakinya. Metta berkata bahwa dia tidak menyangka akan bengkak seperti itu, ia berpikir itu hanya luka biasa. Raga pun mengobatinya, dan Metta hanya diam saja memperhatikan Raga yang sedang membalut lukanya, tak ada perlawanan dari dirinya meskipun awalnya Raga memarahinya. Sistem ego -lah yang menyuruh Metta tetap diam dan tidak melakukan perlawanan demi kebaikannya

37

“Raga! Metta merajuk. Ia mengambil tempat sambel di tengah meja dan membuka tutupnya. “kalo masih diam aja gue makan nih sambel.”

Ancaman Metta itu hanya mampu membuat Raga melirik ke arahnya

“ Gak sakit perut gue entar gimana. Siapa yang perhatiin gue. Lo aja cuek begini.” Metta mengaduk-aduk sambal dengan sendok.

(Faraditha 2017:85)

Kutipan di atas menceritakan bagimana Metta kesal dengan Raga karna tak kunjung dapat perhatian dari laki-laki itu. Ia mengancam Raga bahwa jika Raga masih diam saja, ia akan memakan sambel yang ada di depannya. Ia berpikir itu akan berhasil tapi ternyata tidak, Raga hanya melirik sekilas dan tak ada taguran keluar dari mulut laki-laki itu. tentu saja Metta kesal, namun struktur kepribadian ego Metta mengingatkan dia bahwa jika ia benar-benar mau makan sambal

tersebut ia akan mengalami sakit perut. Oleh sebab itu Metta berhenti dan tidak jadi memakan sambal itu, ia masih peduli dengan diri sendiri.

Sudah sejak tadi pagi Metta ingin sekali mengirim pesan kepada Raga, tapi tidak kunjung ia lakukan. Ia masih marah. Masih tidak terima dipulangkan menggunkan taksi. Tapi, disamping itu, keengganan Metta mengirimi pesan lebih kepada karena ia tidak ingin tergoda untuk meminta Raga cepat pulang dari rumah temannya itu.

Sebut saja ini berlebihan, apa pun itu, tapi bagi Metta ini adalah cara dia menjaga seseorang. Tidak ada yang mengajarinya untuk bersikap sopan, tentu tidak ada juga yang mengajarinya untuk berkompromi dalam hal pengertian.’ (Faraditha 2017 :115)

38

Kutipan di atas menunjukan bagaimana Metta yang berusaha untuk menahan diri untuk tidak mengirim pesan kepada Raga. Hal ini ia lakukan karna perlakuan Raga yang menyuruh dia pulang dengan taksi, ia tidak terima di perlakukan seperti itu. Penyebab lain ia tidak mau mengirim pesan pada laki-laki itu adalah ia tidak ingin tergoda untuk meminta Raga cepat pulang. Ia berpikir, dengan cara ini Raga akan tau bahwa ia sedang kesal dengan lelaki itu. Meskipun id Metta sangat menyukai Raga, namun ego mengingatkan Metta bahwa ia harus bisa menahan diri terhadap laki-laki itu karna sudah di perlakukan seperti demikian.

Dengan sekuat tenaga, Metta mengeraskan wajahnya untuk tidak tersenyum. “Mau apa,lo?!”

“Gue bilang kasih tau kalau udah sampai. Kenapa nggak ada line?!”

sahut Raga tak kalah galak.

“Su-su-ka gue,” Metta sedikit terkejut akan kemarahan Raga. “Gue lagi marah ya, nagpai lo juga ke sini. Bukannya mau kerja kelompok tuh sana!”

Jika Metta melipat tangan di dada dengan dagu terangkat, cowok itu justru medelik ke arahnya. Raga kemudian mendorong bahu Metta ke samping dan melewatinya masuk. Cowok itu meletakkan bungkusan putih di meja depan televisi kemudian duduk di sofa.

(Faraditha 2017 : 117)

Kutipan di atas menunjukan kembali bagaimana Metta mencoba untuk bersikap biasa saja di depan Raga, bahkan ia tidak mau tersenyum pada lelaki itu. salah satu caranya untuk menunjukan rasa kesalnya pada kutipan di atas adalah melipat tangannya di depan dada serta mengangkat dagu menunjukan kepada Raga bahwa ia juga perempuan yang bisa marah jika di perlakukan tidak baik. Dari sini, dapat

39

kita lihat ego yang di miliki Metta mengingatkannya bahwa perempuan itu harus bisa tegas kepada lelaki manapun sekalipun dia adalah orang yang kita sukai, walaupun ego Metta ingin ia tersenyum karena Raga datang, tapi ego mengendalikannya Metta mengeraskan wajahnya untuk tidak tersenyum, itu merupakan tuntutan dari ego.