• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.2 Struktur Lembaga

38 SUSUNAN BADAN EKSEKUTIF

YAYASAN PKPA PERIODE 2014-2016

Direktur Eksekutif : Misran Lubis

Manajer Unit : Sulaiman Zuhdi Manik

Manajer Kantor Cabang PKPA-Aceh : Sulaiman Zuhdi Manik Manajer Kantor Cabang PKPA-Nias : Chairidani Purnamawati Manajer Penggalangan dana dan Komunikasi : Sony Sucihati

Manajer Keuangan : Ema Gustia

Manajer Kantor : Ramlan

Koordinator Unit SKA : Camelia Nasution

Koordinator Unit PUSPA : Azmiati Zuliah

Koordinator Unit PIKIR : Intan Dirjalaila

Koordinator unit LITBANG : Rosmalinda

Koordinator Monitoring dan Evaluasi : Keumala Dewi

Koordinator Unit PEA : Ismail Marzuki

Monitoring & Evaluasi (M & E) : Keumala Dewi

Staf Indok : Ismail Marzuki

Staf Perpustakaan dan Admin PUSPA : Eliza Fitriany

Staf Akuntansi : Hardianto Amsyah

Staf Kasir : Devi Sartika

Staf Logistik : Hardianto Amsyah (Ex-officio)

Staf Admin : Vita Amalia Dalimunthe

Staf Penerjemah : Ramlan

Staf Teknologi Informasi /database : Ayu Lestari

HRD : Ratih Ayu Priyanti

39 4.3 Pelayanan Sosial yang Di berikan

Pelayanan Sosial yang diberikan oleh PKPA, meliputi : 1. Advokasi

PKPA berperan aktif dalam memberikan layanan dibidang hukum, akses terhadap keadilan bagi bagi anak-anak dan remaja, baik sebagai korban, saksi maupun pelaku pada berbagai kasus, seperti trafficking, eksplotasi seksual anak (ESA), anak yang dilacurkan (AYLA), kekerasan (fisik, seksual, dan psikis), dan perlakuan salah lainnya.

Selain melakukan advokasi langsung terhadap berbagai kasus anak, PKPA juga melakukan advokasi berbagai kebijakan yang berdampak kepada anak, baik tingkat lokal maupun nasional untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak sesuai standart hukum internasional yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak (KHA) 2. Pendidikan dan Pelatihan

Pengalaman yang cukup lama bekerja pada issu anak telah membuat PKPA memiliki kapasitas yang baik dalam melakukan berbagai pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat (institusi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, organisasi keagamaan, forum anak, dan lainnya) kelompok dunia usaha, dan pemerintah tentang perspektif perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

PKPA sendiri melakukan berbagai program dukungan dan pendampingan bagi anak-anak dari komunitas anak jalanan, miskin

40 kota, pekerja anak dan anak-anak dalam perlindungan khusus melalui pendidikan anak usia dini, bantuan beasiswa, ketrampilan hidup dan kewirausahaan bagi kelompok remaja putus sekolah dan orangtua anak dampingan.

Berbagai kapasitas pendidikan dan pelatihan yang dapat difasilitasi oleh PKPA, diantaranya terkait perlindungan dan hak anak, kebijakan dan prosedur perlindungan anak, inisiasi perlindungan anak, seksualitas dan kesehatan reproduksi, NAPZA, HIV/AIDS, gender, pendidik dan konselor sebaya, jurnalistik, cinematografi, fotografi, kewirausahaan, serta pendidikan dan pelatihan lainnya.

3. Kajian, Penelitian, Publikasi

Salah satu fokus utama PKPA dalam menjaga anak-anak Indonesia adalah dengan melakukan kajian-kajian. Kajian yang dilakukan kemudian diperdalam melalui penelitian untuk mendapatkan persoalan utama sehingga dapat diberikan solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi. Kajian-kajian yang dilakukan tidak hanya untuk menjawab berbagai permasalahan pada anak, namun juga dapat berupa keberhasilan dari pendekatan atau program yang dilakukan.

Hasil kajian dan penelitian menjadi sangat penting untuk dijadikan pembelajaran bersama bagi berbagai pihak, untuk itu

41 PKPA akan terus berupaya mendokumentasikan hasil-hasil tersebut dan mempublikasikannya

4. Promosi Hak Anak

Satu dari empat prinsip dasar hak anak yang terkandung dalam Konferensi Hak Anak adalah Penghargaan terhadap pendapat anak. PKPA terus mendorong agar prinsip ini semakin kuat berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga PKPA selalu melakukan kemitraan dengan berbagai pihak untuk berperan serta mempromosikan hak yang harus diperoleh anak.

Bentuk promosi dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui kegiatan anak, pembuatan media komunikasi, informasi, dan edukasi, serta jejaring sosial. PKPA memberikan ruang-ruang apresiasi anak dengan penyelenggaraan festival film anak (FFA), festival teater anak (ffa), jambore anak, hari anak nasional dan internasional, dan forum diskusi anak lainnya.

5. Kebencanaan

Situasi bencana menjadi bagian yang sangat mendorong PKPA untuk melakukan berbagai intervensi kegiatan, dimana dalam situasi bencana seringkali kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak menjadi korban utama. Anak-anak sangat trauma dengan terjadinya bencana, selain itu berbagai akses layanan yang bersentuhan dengan anak seringkali tidak diberikan secara maksimal.

42 Anak-anak dalam situasi bencana memiliki resiko yang lebih dibanding dengan kelompok lainnya, anak-anak dapat mengalami berbagai tindakan kekerasan (fisik, psikis dan seksual), penelantaran dan perlakuan salah lainnya. Untuk itu diperlukan antisipasi cepat tanggap yang harus dilakukan.

PKPA memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam melakukan respon-respon kebencanaan. Untuk memperkuat program bersama anak-anak di situasi kebencanaan, PKPA mengusung konsep Kawasan Ramah Anak (child frendly spaces), serta memperkuat masyarakat di kawasan bencana dengan melakukan kesiapsiagaan berbasis sekolah.

Beberapa intervensi PKPA pada kebencanaan skala lokal maupun nasional adalah banjir bandang Bahorok-Sumatera Utara (2003), Gempa dan Tsunami Nias – Sumatera Utara dan Aceh (2004), gempa Nias (2005), gempa di Klaten-Jawa Tengah (2006) dan gempa di Sumatera Barat (2009), erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara (2010) dan (2013, 2014, 2015)

43 BAB V

ANALISIS DATA 5.1 Pengantar

Pada bab ini data-data yang telah didapatkan dan dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif-kualitatif, dimana data yang disajikan berupa deskripsi mengenai peristiwa dan pengalaman penting dari kehidupan seseorang. Data-data yang didapatkan diperoleh peneliti dengan menggunakan teknik wawancara dengan informan.

Dalam penelitian ini, informan yang digunakan sebanyak 10 orang, dengan komposisi 6 informan utama yang terdiri dari 3 korban kekerasan seksual dan 3 pelaku kekerasan seksual, 1 informan kunci yaitu pihak PUSPA yang di wakili oleh koordinator PUSPA dan 3 informan tambahan. Pada setiap informan, peneliti melakukan wawancara mendalam untuk memperoleh data mengenai faktor-faktor penyebab kekerasan seksual.

5.2 Hasil Temuan

5.2.1 Informan Utama I : Korban Kekerasan Seksual

Nama : YL

Jenis Kelamin : Perempuan Usia Sekarang : 17 Tahun

Usia Saat Kejadian : 15 Tahun

44 YL adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Ayah YL bekerja sebagai supir truk dan Ibu YL bekerja sebagai tukang cuci. Orang tua YL hanya tamatan SMA.

Keluarga YL juga tidak tergolong keluarga berada. Penghasilan Ayah dan Ibu YL cukup untuk pendidikan anak-anaknya dan makan sehari-hari. Berikut penuturan YL :

“Keluarga kami bukan keluarga kaya, kak. Ayah cuma supir truk, mamak tukang cuci. Berapalah gaji mereka, nggak pala banyak.

Itupun mamak nyucinya nggak di satu tempat aja, kak. Ada tiga tempatlah dia nyuci dirumah orang. Kadang nggak cuma nyuci, gosok pun ada. Kalau gitu lumayan banyak lah dikasih orang.

Kalau Ayah lumayan lah, makanya kami bisa sekolah. Tapi ya gitu, Ayah pulangnya jarang, sekali dua hari, kadang udah seminggu baru pulang.”

YL mengakui ia terkadang tidak betah di rumah. Ketika Ayahnya tidak pulang kerumah, ia bermain bersama teman-temannya sampai malam. Sebelum menjadi korban kekerasan seksual, YL sempat mengecap pendidikan SMA di daerah Pinang Baris. Pergaulan YL dan cara berpakaian sehari-hari sama dengan remaja di lingkungannya yaitu tidak tertutup auratnya. Berikut penuturan YL :

“ Dulu sebelum kejadian itu awak samalah kak kayak lajang- lajang disini. Kadang suka pake celana pendek juga kalau main sama kawan. Belum berjilbab. Kadang suka keluar malam juga, main dekat futsal sana. Dulu pernah keluar malam,terus

45 pulangnya udah kemalaman kali, dimarah ayah sampai awak dipukuli. Sekarang dirumah aja kalau pakai baju sama celana yang pendek-pendek,kalau keluar pakai jilbab kak.”

Perjumpaan YL dengan pelaku sebenarnya tergolong singkat karena ia mengaku, ia dan pelaku sebelumnya tidak saling mengenal sama sekali. Berikut penuturan YL :

“ Sebelumnya awak main tempat kawan kak, terus diajak kawan ke tempat futsal lihat orang main futsal. Beberapa hari habis itu, ada kawan awak, yang awak kenal tempat futsal dia bawa kawannya, si pelaku itu kak. Nah, disitu lah awak dikenalkan sama dia.”

Setelah perkenalan tersebut, YL terus berhubungan dengan pelaku.

Bahkan, orang tua YL sendiri tidak mengetahui hubungan YL dengan pelaku. YL dan pelaku juga sering bertemu. Hubungan mereka terus berlanjut sampai akhirnya YL dibawa kabur oleh pelaku. Berikut penuturan YL :

“ Awal mulanya kami memang sering jumpa gitu, kak.

Berhubunganlah. Udah lama, habis itu awak dibawa kak sama dia. Janjinya mau ngantarin pulang tapi malah di bawa ke siantar.

Empat bulan awak dtahan sama dia nggak boleh pulang. Nah, disanalah kejadiannya kak.”

YL mengakui bahwa ia di sekap oleh pelaku di daerah Siantar. Selama penyekapan YL mengaku sering diperlakukan tidak senonoh oleh pelaku. YL sering diancam oleh pelaku untuk tidak menceritakan kejadian tersebut kepada

46 orang tuanya. Hingga akhirnya YL berhasil kabur dari pelaku setelah empat bulan di sekap. Berikut penuturan YL :

“ Awak pulang kak, kabur tanpa sepengetahuan dia. Udah nggak tahan lagi awak digituin sama dia. Tapi pas pulang itu awak nggak langsung kerumah. Awak tempat tante, takut sama Ayah.

Takut dimarahi karena udah empat bulan nggak pulang- pulang.Waktu tempat tante itu, udah agak lama, awak SMS Mamak bilang awak tempat saudara. Disitulah awak dijemput Mamak. ”

Orang yang pertama kali mengetahui peristiwa yang terjadi pada YL adalah tantenya. YL sempat menceritakan apa yang ia alami selama empat bulan saat disekap di Siantar. Ketika YL menghilang selama empat bulan, orang tua YL sudah melapor kepada pihak PKPA. Berikut penuturan YL :

“ Waktu awak di Siantar selama empat bulan itu kak, karena awak nggak pulang-pulang jadi orang Mamak langsung ngelapor ke PKPA. Pas awak pulang, langsung diproses sama orang PKPA kak. Sampai dia masuk penjara.”

Keluarga pelaku sempat minta damai kepada keluarga YL agar pelaku tidak di penjarakan. Keluarga pelaku bersedia memberikan uang sebanyak Rp.

25.000.000 (Dua puluh lima juta rupiah) asal pelaku tidak di masukan ke penjara.

Namun, keluarga YL menolak untuk berdamai karena kasus YL dan pelaku sudah di proses di kepolisian oleh pihak PUSPA, PKPA. Berikut penuturan YL :

47

“ Keluarganya sempat datang beberapa kali ke rumah, minta damai. Mohon-mohon sama kami sekeluarga supaya dia jangan di penjarakan. Tapi Ayah sama Mamak nggak mau berdamai karena kasus kami udah di proses. Ayah pun bersikeras dia harus di penjara karena awak udah diginiin.”

YL mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan pelaku setelah dipenjarakan. YL mengatakan tidak ingin lagi bertemu dengan pelaku. Ia merasa trauma dengan perlakuan buruk yang dilakukan pelaku kepadanya. YL menuturkan ingin melanjutkan hidupnya dengan baik tanpa di sangkut pautkan lagi dengan pelaku. Berikut penuturan YL :

“Nggak pernah lagi jumpa sama dia, Kak. Untuk apalagi jumpai dia. Udah trauma awak. Kalau jumpa dia lagi, jadi ingat lagi apa yang udah dibuat dia sama awak. Sekarang awak pengen jalani hidup dengan baiklah. Ya, semoga aja nggak ada lagi orang yang bernasib sama kayak awak.”

Setelah kejadian yang menimpa YL, YL lebih banyak berdiam diri di rumah ketimbang bermain bersama teman-temanya. Sesekali ia berkunjung ke rumah saudara bersama ibunya. Ia merasa malu dan dikucilkan oleh teman-teman sebayanya karena kejadian yang menimpanya. Berikut penuturan YL :

“ Awak lebih banyak dirumah sekarang kak. Palingan kalau di ajak mamak tempat saudara, awak ikut. Malu awak jumpa sama kawan-kawan disini, kak. Mereka pun agak lain sekarang.

48 Makanya awak bagus dirumah aja. Kalau nggak diajak mamak keluar, dirumah aja.”

5.2.2 Infoman Utama II : Korban Kekerasan Seksual

Nama : APR

Jenis Kelamin : Perempuan Usia Sekarang : 12 Tahun

Usia Saat Kejadian : 9 Tahun

APR merupakan siswi SDN (Sekolah Dasar Negeri) kelas 6 disalah satu SDN di Pinang Baris. Ia memiliki 2 orang kakak laki dan 2 orang adik laki-laki. Ayah APR bekerja sebagai supir angkot dan Ibu APR bekerja di sebuah rumah makan khas minang di daerah Sunggal yang merupakan usaha keluarga dari keluarga Ibu APR.

Keluarga APR sangat mengenal pelaku yang melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap APR. Sebelum kejadian, pelaku dan keluarga APR sangat dekat. Dikarenakan rumah pelaku dan rumah keluarga APR bersebelahan.

Berikut penuturannya :

“ Kami memang dekat kali sama pelaku itu, Kak karena toko kami bersebelahan.Udah macam keluarga sendiri karena sangking dekatnya.”

49 Kedekatan mereka dimanfaatkan pelaku untuk melakukan tindakan kekerasan seksual kepada APR. Sayangnya, keterangan tentang kejadian ini banyak peneliti dapatkan dari Ibu APR. APR sendiri tidak mau memberikan keterangan disebabkan trauma yang ia derita. APR merasa malu jika apa yang menimpa dirinya di ketahui oleh orang banyak. Penulis banyak mendapatkan informasi dari Ibu APR sendiri.

5.2.3 Informan utama III : Korban Kekerasan Seksual

Nama : KRN

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia Sekarang : 8 Tahun Usia Saat Kejadian : 7 Tahun

KRN merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Orang tua KRN bekerja sebagai pedagang. Mereka memiliki warung makan di depan kampus UISU (Universitas Islam Sumatera Utara) di daerah Sisingamaharaja. KRN sendiri masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 3 di daerah Simpang Limun.

Keseharian KRN selain sekolah, ia juga diwajibkan les disore hari oleh orang tuanya . Cara berpakaiannya pun sama seperti anak-anak seusianya.

Saat bermain di luar rumah, KRN selalu ikut dengan abangnya, A.

Sewaktu kejadian KRN mengaku ia terpisah dari abangnya karena mengejar belalang. Berikut penuturannya :

50

“ Kemarin itu awak nangkap belalang di dekat mesjid sana. Abang A main sama kawannya, D agak jauh dari awak. Datanglah dia menghampiri awak, kak. Di lihatnya awak garuk-garuk karena gatal-gatal kena belalang. Abis itu, diajak dia ke belakang mesjid.”

KRN mengaku, ia tidak mengenal si pelaku. Saat pelaku mengajak KRN ke belakang mesjid, pelaku memaksa KRN untuk mau ikut dengannya. Ketika KRN mau diajak olehnya, pelaku membawa KRN ke dalam kamar mandi mesjid dan melakukan perbuatannya disana. Berikut penuturan KRN :

“ Awalnya awak ga mau, kak. Di paksa-paksa dia. Terakhirnya awak ikut ajalah. Diajaknya keliling mesjid, lihat-lihat belakang mesjid. Abis itu di tariknya tangan awak masuk kamar mandi mesjid. Di kuncinya pintu dari dalam. Habis itu dibukanya celana awak, dibukaknya celana dia. Di cium-ciumnya kemaluan awak, kak. Dipegang-pegangnya juga awak. Terus ditunjukinya kemaluan dia sama awak. Awak nangis lah. Kak.”

KRN mengaku saat kejadian, ia merasa takut. Suara tangis KRN terdengar oleh abangnya, A. Kemudian A mendobrak pintu kamar mandi tersebut dan menarik KRN keluar. Saat itu, A menyaksikan sendiri celana KRN masih terbuka.

Abang KRN, A membawa lari KRN ke rumah temannya, D untuk kabur dari pelaku. Berikut penuturan KRN :

51

“Suara tangis awak sampai keluar kamar mandi itu, Kak.

Kedengaran sama bang A, di dobraknya pintu kamar mandinya.

Dia udah pakai celana, awak belum. Abis itu disuruh abang pakai celana terus dibawanya awak kabur ke rumah kawannya, si D. Si pelaku ini ngikuti kami memang, kak. Tapi dia nggak tau kalau kami di rumahnya kawan abang. Sampai nggak nampak lagi dia, baru kami lari ke rumah. Kak.”

Setelah kejadian, teman abang KRN, Dimas langsung menceritakan kejadian tersebut kepada Ibunya KRN. KRN sendiri saat ditanya hanya diam karena ketakutan. Berikut penuturan KRN :

“Sampai rumah, kawan abang ini dikasih taunya mamak. Mamak nanya awak, nggak awak jawab karena masih ketakutan, Kak.”

Menurut penuturan KRN, pada hari itu juga orang tua KRN langsung mendatangi rumah pelaku karena tidak terima anaknya dilecehkan. KRN juga ikut bersama orang tua nya untuk memberikan keterangan kepada orang tua pelaku.

Menurut warga setempat, pelaku juga tidak sekali itu saja melakukan tindakan asusila tersebut. Namun, sebelumnya sudah pernah melakukan hal yang sama kepada orang lain. Tetapi tidak dituntut keluarga korban karena malu kalu kejadian seperti itu diketahui oleh masyarakat. Setelah mendatangi rumah pelaku, keesokan harinya Ibu KRN langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian. Berikut penuturan KRN :

52

“ Abis kejadian itu mamak, ayah, awak sama abang datangi rumah si pelaku itu. Awalnya di tanya dianya betul ngapain awak atau nggak. Ayah ngamuk disitu karena dengar yang dibilang dia, Kak.

Ada juga ibuk-ibuk yang bilang waktu kami pulang dari rumah dia kalau dia kayak gitu udah sering karena sebelum awak ada juga yang di apain dia. Habis itu besoknya mamak langsung lapor ke polisi sama awak.”

Setelah kejadian, teman-teman satu kelasnya menjauhi KRN. Bahkan ia pernah dipanggil ke ruang guru karena laporan orang tua murid yang mengatakan KRN menceritakan apa yang ia alami kepada anak mereka. Berikut penuturan YL :

“ Kalau dirumah main sama abang sama kawannya juga , si D.

Kalau di sekolah nggak ada kawan. Kemarin itu pernah dipanggil Ibuk guru juga awak, dimarahi gara-gara awak cerita-cerita sama kawan di kelas tentangyang kemarin itu. Padahal kawan-kawan itu yang nanya sama awak. Ya awak jawab lah. Mamak pun disuruh kesekolah sama ibuk guru.”

5.2.4 Informan Utama IV : Pelaku Kekerasan Seksual Nama : NS

Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 20 Tahun

53 Status : Belum menikah

Pekerjaan : -

NS merupakan pelaku kekerasan seksual. Sebelum menjadi tahanan, NS ingin melanjutkan sekolahnya dengan jalur paket karena sekolahnya sempat berhenti. Ayahnya bekerja sebagai petani dan Ibu NS seorang ibu rumah tangga.

NS merupakan anak pertama dari empat bersaudara.

NS dan korban saling mengenal satu sama lain. Korban merupakan pacar dari NS. NS mengakui bahwa, ia mengetahui tentang prilaku seksual dari temannya. Kebetulan, NS sendiri sering bermain game online di warnet. Berikut penuturan NS :

“ Saya sama korban itu pacaran, baru jalan 6 bulan. Tau

melakukan hubungan suami istri itu dari teman. Kalau saya sendiri nggak pernah nonton film porno. Ke warnet itu cuma untuk main game online aja.”

NS mengaku tempat kejadian perkara saat itu sepi sehingga ia dapat melakukan tindakan kekerasan seksual itu kepada korban. Ia memaksa korban agar mau berhubungan seksual dengannya. Saat kejadian korban memakai pakaian yang sopan namun NS tetap tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan korban. NS mengaku hanya sekali mereka melakukan hubungan seksual dengan korban .

54 Mereka tidak menceritakan apa yang mereka lakukan kepada orang lain.

Tetapi, tante korban mengetahui hal tersebut dikarenakan korban diintrograsi oleh tantenya. Berikut penuturan NS :

”Saya merasa khilaf melakukan itu. Karena kami punya hubungan makanya saya merasa biasa aja awalnya. Saya melakukan itu juga nggak ada yang nyuruh, emang kemauan sendiri. Nggak kepikiran kalau bisa masuk kesini dan nggak mikir dampak kedepannya gimana. Keluarga korban melaporkan saya ke polisi sebab yang kami lakukan. Korban di intrograsi oleh tantenya karena kayaknya tante dia udah curiga gitu. Akhirnya dia ngaku.“

NS sendiri sudah mengalami masa tahan selama 4 bulan di Lapas Tanjung Kusta. Seperti yang NS utarakan sebelumnya, NS menyesal atas perbuatannya.

NS tidak bisa melanjutkan sekolahnya melalui paket karena harus mendekam di penjara. Berikut penuturan NS :

“ Kalau ditanya menyesal atau nggak, ya nyesal lah.

Rencana mau lanjut sekolah lagi udah nggak bisa karena udah tinggal disini. Orang tua saya pun udah palak kali sama saya.

Waktu ngelakuin itu mana ada kepikiran dia bakal hamil atau nggak, dipenjarakan, bayanginnya yang enak aja.”

NS mengakui bahwa korban pernah sekali mengunjunginya di Lapas ketika NS baru masuk. Namun, selanjutnya korban tidak pernah lagi mengunjungi NS. NS mengatakan bahwa keluarga korban sangat menjaga korban agar \tidak

55 bertemu dengan NS karena perbuatan mereka yang menurut keterangan NS membuat keluarga korban malu. Berikut penuturan NS :

“ Korban pernah mengunjungi sekali kesini waktu saya baru masuk. Tapi setelah itu udah nggak pernah lagi karna dilarang keluarganya. Saya maklum aja, memang udah nggak senang keluarga dia sama saya karna anaknya saya gituin.”

5.2.5 Informan Utama V : Pelaku Kekerasan Seksual Nama : GS

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 25 tahun

Status : Belum Menikah

Pekerjaan : tidak bekerja

GS merupakan anak lima dari lima bersaudara. Ayah GS sudah hampir dua tahun meninggal dunia. Tiga orang sauadara GS sudah berkeluarga dan GS tinggal bersama Ibu dan Kakaknya. Ibu GS bekerja sebagai karyawan swasta. GS sering ditinggal oleh ibu dan kakaknya sehingga ia sering dirumah sendirian.

GS adalah pelaku kekerasan seksual yang sudah berstatus tahanan di Lapas Tanjung Kusta. Sudah hampir 2 bulan GS mendekam di penjara karena kasus kekerasan seksual. Hubungan GS dengan korban adalah tetangga. GS dan

56 keluarga korban bisa dikatakan akrab. Keluarga korban tidak menyangka kalau GS tega melakukan tindakan tersebut kepada korban.

Awal mula terjadinya kekerasan seksual pada korban adalah saat GS mulai sering menonton film porno di youtube. Hal ini membuat GS terpancing untuk

Awal mula terjadinya kekerasan seksual pada korban adalah saat GS mulai sering menonton film porno di youtube. Hal ini membuat GS terpancing untuk

Dokumen terkait